Share

Bab 3

Penulis: Gumiho
Saat terbangun waktu itu, Kirana berkata padaku.

"Arya, kalau kau berani mati lebih dulu, aku akan mengejarmu sampai ke akhirat dan menghajarmu sampai kau hidup kembali."

Saat itu, sorot matanya dipenuhi rasa sakit hati dan ketakutan akan kehilangan diriku.

Lalu, sekarang?

Dia menatapku dengan pandangan dingin.

"Misi hari ini sangat penting, aku tidak punya waktu untuk bertengkar denganmu. Juna, bersiaplah untuk berangkat."

Juna segera mengangguk, sambil menyeka darah dari hidungnya dan berjalan keluar. Saat melewatiku, dia melemparkan tatapan menantang.

Aku mencengkeram pergelangan tangan Kirana, dan bertanya, "Kau mau membawanya?"

Kirana melepaskan tanganku dengan kasar dan menjawab, "Dia hafal medan di Zona Kronos."

"Arya, dengan keadaanmu sekarang, bagaimana aku bisa tenang menyerahkan tim padamu?"

"Kau tunggu saja di markas, aku akan membawa pulang penawar racunnya."

Dia merapikan perlengkapan, lalu pergi tanpa menoleh sedikit pun.

Aku berdiri terpaku di tempat, menatap ruangan yang kosong dan selimut yang masih menyisakan kehangatan tubuh mereka berdua.

Kekuatan di dalam tubuhku tiba-tiba bergolak hebat, garis abu-abu pucat itu seketika merambat hingga ke dada.

Kulitku terasa seolah akan pecah, rasa terbakar nyaris menelanku sepenuhnya.

Namun, aku menahannya.

Aku mengepalkan tangan erat-erat hingga kuku-kukuku menancap ke telapak tangan, darah menetes dari sela-sela jariku.

Kirana, kali ini kau memilihnya lagi.

Kalau begitu, hubungan kita berakhir sampai di sini.

Aku terhuyung-huyung kembali ke ruang isolasi, lalu bersandar di dinding sambil terengah-engah.

Aku sudah sangat yakin bahwa infeksi ini tidak normal.

Suara mesin yang dinyalakan terdengar dari luar jendela.

Aku berjalan ke dekat jendela, dan melihat tiga kendaraan medan berat yang telah dimodifikasi meninggalkan gerbang markas.

Kirana duduk di kursi penumpang mobil paling depan, sedangkan Juna duduk tepat di belakangnya.

Juna memiringkan kepala dan berbisik sesuatu kepada Kirana, dan Kirana pun tersenyum, sebuah senyuman yang santai dan tanpa kewaspadaan.

Sudah lama sekali aku tidak melihatnya tersenyum seperti itu.

Konvoi itu menghilang di ujung reruntuhan.

Aku memejamkan mata.

Kirana, jika kau tidak kembali tepat waktu sebelum matahari terbenam hari ini.

Kau akan menyesali pilihanmu hari ini.

...

Aku menahan rasa sakit yang membakar hingga malam tiba.

Beberapa orang berbisik-bisik bahwa mereka melihat jejak pergerakan gerombolan zombi dalam jumlah besar yang tidak biasa.

Sedangkan aku, hanya bisa menonton dengan pasrah, berharap Kirana segera membawa pulang penawarnya.

Matahari tenggelam di balik cakrawala, lampu darurat mulai menyala di markas.

Akhirnya, terdengar deru mesin dari kejauhan.

Tiga kendaraan, tidak ada satu pun yang tertinggal.

Jantungku berdebar kencang.

Dia kembali.

Aku bergegas menuruni tangga, dan berlari menuju tengah markas.

Pintu kendaraan terbuka, Kirana melompat keluar lebih dulu, disusul anggota tim lainnya, lalu Juna menjadi yang terakhir.

Tatapanku terpaku erat pada tangan mereka.

Tangan Kirana kosong, begitu pula tangan Juna.

Anggota tim menurunkan beberapa kotak persediaan, tetapi tidak ada obat penawar.

Napasku terhenti sejenak.

"Mana obat penawarnya?"

Aku mendengar suaraku sendiri terdengar sangat serak.

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi.

Mata Kirana berkedip sejenak, lalu mengalihkan pandangannya dariku.

"Obat penawarnya, kami … sudah mendapatkannya."

Hatiku seketika dipenuhi harapan.

Lalu, dia mengatupkan bibirnya.

"Tapi di perjalanan pulang, kami bertemu gerombolan zombi. Juna tidak sengaja tercakar saat melindungi kendaraan pengangkut persediaan."

"Situasinya mendesak, jadi aku terpaksa memberikan penawar racun itu kepadanya lebih dulu."

Aku menatap Juna.

Dia segera mengangkat tangannya yang dibalut perban, dengan raut wajah penuh penyesalan.

"Wakil Kapten, maaf, aku benar-benar tidak sengaja …."

"Tangan yang mana?" tanyaku.

Juna terkejut, "A ... apa?"

Aku melangkah mendekat dan kembali bertanya, "Seberapa dalam lukanya? Seberapa banyak darah yang keluar?"

"Apa sudah ada tanda-tanda infeksi?"

Juna tampak panik, lalu menoleh ke arah Kirana.

Kirana berdiri di depan Juna untuk melindunginya, "Arya, dia sudah terluka, kenapa kau masih menanyainya seperti itu?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 11

    Juna ingin melarikan diri, tetapi kakinya yang patah justru memperlambat langkahnya.Seekor zombi menerjang ke arahnya dan menggigit lehernya.Darah segar memercik ke segala arah.Kirana tertegun sesaat, lalu berbalik dan langsung berlari.Namun, dia tidak mampu berlari lebih cepat dari zombi-zombi itu.Tiga zombi mengepungnya.Dia bersandar pada dinding reruntuhan, mengangkat senjata yang sudah kosong, lalu menarik pelatuknya dengan sia-sia.Klik. Klik. Klik.Zombi-zombi itu pun menerjangnya.Aku mengalihkan pandangan."Perlu dicatat dalam laporan?" tanya orang yang duduk di kursi depan."Tidak usah. Ayo, kita lanjutkan perjalanan."Konvoi itu meninggalkan reruntuhan, meninggalkan jeritan dan darah di belakang.Malam itu, Rara datang menemuiku."Pemukiman di wilayah Zona Polaris mengirim kabar. Efektivitas serumnya sangat baik. Dari tiga puluh orang yang terinfeksi, dua puluh sembilan orang telah pulih. Satu orang lainnya sudah terinfeksi terlalu lama jadi tidak dapat diselamatkan, ta

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 10

    Satu, dua, lima, sepuluh … akhirnya hanya Kirana dan Juna yang masih berdiri di tempat semula.Rian menghampiriku, lalu menundukkan kepala sambil berkata, "Wakil Kapten … maafkan aku. Saat itu aku tidak berani bicara ….""Sekarang sudah berani?" tanyaku.Dia mengangguk, "Aku sudah sadar. Ada orang-orang yang memang tidak layak untuk diikuti."Aku menepuk bahunya, lalu berkata, "Naik ke mobil."Saat rombongan mobil bersiap berangkat, Kirana tiba-tiba berlari menghampiri dan mencengkeram lenganku. "Arya … bawa aku pergi. Kumohon."Aku menatap tangannya, tangan yang dulu menjadi seluruh kepercayaan dan ketergantunganku.Sekarang, aku hanya merasa muak."Lepaskan," kataku.Dia tidak mau melepaskannya. Air mata mengalir di wajahnya."Aku tahu aku salah … Aku benar-benar tahu sudah salah … Beri aku kesempatan sekali lagi, untuk terakhir kalinya..."Aku melepaskan tangannya."Kirana, aku sudah memberimu kesempatan. Tiga kali kesempatan. Pertama, kau bilang untuk menghindari tuduhan pilih kas

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 9

    "Evakuasi?" Kirana tertegun, "Ke mana?" "Zona Arunika. Itu pun kalau kalian bersedia untuk ditampung."Mata Kirana langsung berbinar.Namun seketika itu juga, Juna berlari keluar dari mal, dan begitu melihatku, wajahnya langsung pucat pasi."Wakil … Wakil Kapten Arya?" dia tergagap, "Kau … kau tidak mati?"Aku menatapnya.Hanya dengan tatapan itu saja, Juna ketakutan hingga mundur dua langkah dan hampir terjatuh."Aku tidak mati. Kau kecewa?""Tidak … bukan …." Juna menggeleng keras-keras, lalu bersembunyi di belakang Kirana, "Kirana, dia … bagaimana dia …."Kirana melindungi Juna, lalu menatapku. "Arya, soal kejadian sebelumnya … aku minta maaf. Tapi saat itu aku juga terpaksa, aku harus memikirkan seluruh tim ….""Aku tahu." Aku memotong pembicaraannya, "Untuk menghindari sikap pilih kasih, kan?"Wajah Kirana langsung pucat."Tapi sekarang tidak perlu lagi." Aku melanjutkan, "Aku bukan anggota timmu lagi, jadi kau tidak perlu lagi khawatir bersikap pilih kasih untukku."Aku berbali

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 8

    Rara menatapku, lalu bertanya, "Wakil Kapten itu, adalah kau kan?"Aku tidak menjawab, hanya berbalik dan berjalan menuju rak senjata."Kau mau pergi?" tanya Rara.Aku mengambil sebuah senjata yang sudah dimodifikasi, memeriksa magasinnya sambil menjawab, "Bukan untuk menyelamatkannya.""Lalu, untuk apa?""Menonton pertunjukan." Aku memasang magasin, gerakanku lancar seolah sudah melakukannya ribuan kali, "Dan sekalian, untuk membalas sedikit dendam."...Konvoi melaju kencang di tengah reruntuhan.Rara memimpin langsung, bersama dua puluh pemilik kemampuan khusus yang tangguh dan bersenjata lengkap.Aku duduk di kursi penumpang depan pada mobil terdepan, memandangi reruntuhan yang melintas dengan cepat di luar jendela.Setelah garis abu-abu pucat itu menghilang, penglihatanku menjadi sangat tajam.Aku bisa melihat dengan jelas belatung di rongga mata zombi yang berjarak tiga ratus meter, serta rumput liar yang berjuang tumbuh di celah-celah reruntuhan.Aku juga bisa melihat asap hitam

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 7

    "Sempurna … sangat sempurna …," gumam Prof. Linus pada dirinya sendiri."Konsentrasi antibodinya tiga ratus kali lipat dari penyintas biasa, dan masih terus diproduksi. Arya, apa kau tahu artinya ini?""Apa artinya?" tanyaku."Artinya kita bisa memproduksi serum secara massal," jawabnya. Mata Prof. Linus tampak berbinar."Bukan sekadar obat penekan, tapi serum yang sesungguhnya! Setelah disuntikkan, serum ini dapat membersihkan virus di dalam tubuh dalam waktu dua puluh empat jam, menyembuhkan total pasien dengan gejala ringan, dan menghentikan kondisi orang yang terinfeksi parah agar tidak semakin memburuk!"Rara berdiri di sampingku, lalu berkata, "Kami membutuhkan kerja samamu. Kau perlu menjalani pengambilan darah secara berkala dan membantu dalam penelitian. Tapi tentu saja, kau juga berhak menolak."Aku menatapnya, lalu membalas, "Bagaimana kalau aku menolak?""Kami akan menghormati pilihanmu," kata Rara dengan ekspresi tenang."Tapi kalau kau bersedia membantu, kami bisa memprod

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 6

    Saat terbangun, aku mendapati diriku terbaring di atas ranjang rumah sakit yang bersih.Sinar matahari menyinari dari luar jendela, udara dipenuhi aroma cairan disinfektan.Aku masih hidup.Aku langsung duduk tegak, lalu menunduk melihat lenganku.Garis abu-abu pucat itu telah hilang. Kulitku kembali utuh seperti semula, bahkan lebih halus dan kuat daripada sebelumnya.Aku mengepalkan tangan, dan bisa merasakan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya mengalir di dalam darahku.Itu bukanlah sekadar perasaan kemampuan spesialku yang pulih.Itu adalah evolusi."Kau sudah sadar."Suara seorang wanita terdengar dari ambang pintu.Aku mengangkat kepala dan melihat seorang wanita bertubuh tinggi ramping berdiri di dekat pintu.Dia mengenakan seragam tempur sederhana, rambut hitam panjangnya diikat, wajahnya cantik, dan tatapannya tajam seperti pisau.Di belakangnya ada dua penjaga, tetapi dia hanya melambaikan tangan, menyuruh mereka mundur."Namaku Rara Qistina."Dia masuk dan duduk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status