LOGINDalam sebuah misi pembasmian zombi, aku tak sengaja terinfeksi virus zombi saat berusaha melindungi tim. Namun, Kirana Nismara, pacarku yang juga menjabat sebagai kapten tim, berdalih ingin menghindari tuduhan pilih kasih, lalu memberikan satu-satunya obat penawar kepada seorang anggota tim yang kabur diam-diam lalu terinfeksi. Dengan mata memerah, dia meyakinkanku, "Arya, percayalah padaku. Selama tiga hari masa inkubasi virus ini, aku pasti akan mencarikan obat penawar lagi untukmu." Aku menahan rasa sakit yang terasa membakar di dalam tubuh dan mengangguk. Keesokan harinya, dia benar-benar membawa pulang satu dosis obat penawar. Namun, tepat satu detik sebelum obat itu disuntikkan ke pembuluh darahku, anggota tim yang tidak pernah sekalipun keluar dari markas, Juna Baskara, tiba-tiba mengerutkan kening. "Kirana, kepalaku sangat sakit … aku takut jangan-jangan sudah terinfeksi." Di hadapan semua orang, Kirana tanpa ragu memberikan obat penawar itu kepada Juna. "Juna adalah anggota tim kita, kalau terjadi sesuatu padanya, itu berarti aku sudah gagal menjalankan tugas sebagai Kapten." "Arya, kau adalah Wakil Kapten, terlebih lagi, kau adalah pacarku. Aku tidak boleh sampai pilih kasih." Aku melihat kilatan kemenangan yang sekilas muncul di sorot mata Juna serta ekspresi Kirana yang tidak memberi ruang untuk dibantah, aku pun tertawa sinis karena kesal. Tidak boleh pilih kasih? Baiklah. Dia akan segera mengerti tentang sesuatu. Bahwa tanpaku, tim ini sama sekali tidak mungkin bisa bertahan hingga sekarang. Karena aku adalah Evolusioner Sempurna, yang tingkat kemunculannya di dunia pasca-apokaliptik hanya nol koma satu persen.
View MoreJuna ingin melarikan diri, tetapi kakinya yang patah justru memperlambat langkahnya.Seekor zombi menerjang ke arahnya dan menggigit lehernya.Darah segar memercik ke segala arah.Kirana tertegun sesaat, lalu berbalik dan langsung berlari.Namun, dia tidak mampu berlari lebih cepat dari zombi-zombi itu.Tiga zombi mengepungnya.Dia bersandar pada dinding reruntuhan, mengangkat senjata yang sudah kosong, lalu menarik pelatuknya dengan sia-sia.Klik. Klik. Klik.Zombi-zombi itu pun menerjangnya.Aku mengalihkan pandangan."Perlu dicatat dalam laporan?" tanya orang yang duduk di kursi depan."Tidak usah. Ayo, kita lanjutkan perjalanan."Konvoi itu meninggalkan reruntuhan, meninggalkan jeritan dan darah di belakang.Malam itu, Rara datang menemuiku."Pemukiman di wilayah Zona Polaris mengirim kabar. Efektivitas serumnya sangat baik. Dari tiga puluh orang yang terinfeksi, dua puluh sembilan orang telah pulih. Satu orang lainnya sudah terinfeksi terlalu lama jadi tidak dapat diselamatkan, ta
Satu, dua, lima, sepuluh … akhirnya hanya Kirana dan Juna yang masih berdiri di tempat semula.Rian menghampiriku, lalu menundukkan kepala sambil berkata, "Wakil Kapten … maafkan aku. Saat itu aku tidak berani bicara ….""Sekarang sudah berani?" tanyaku.Dia mengangguk, "Aku sudah sadar. Ada orang-orang yang memang tidak layak untuk diikuti."Aku menepuk bahunya, lalu berkata, "Naik ke mobil."Saat rombongan mobil bersiap berangkat, Kirana tiba-tiba berlari menghampiri dan mencengkeram lenganku. "Arya … bawa aku pergi. Kumohon."Aku menatap tangannya, tangan yang dulu menjadi seluruh kepercayaan dan ketergantunganku.Sekarang, aku hanya merasa muak."Lepaskan," kataku.Dia tidak mau melepaskannya. Air mata mengalir di wajahnya."Aku tahu aku salah … Aku benar-benar tahu sudah salah … Beri aku kesempatan sekali lagi, untuk terakhir kalinya..."Aku melepaskan tangannya."Kirana, aku sudah memberimu kesempatan. Tiga kali kesempatan. Pertama, kau bilang untuk menghindari tuduhan pilih kas
"Evakuasi?" Kirana tertegun, "Ke mana?" "Zona Arunika. Itu pun kalau kalian bersedia untuk ditampung."Mata Kirana langsung berbinar.Namun seketika itu juga, Juna berlari keluar dari mal, dan begitu melihatku, wajahnya langsung pucat pasi."Wakil … Wakil Kapten Arya?" dia tergagap, "Kau … kau tidak mati?"Aku menatapnya.Hanya dengan tatapan itu saja, Juna ketakutan hingga mundur dua langkah dan hampir terjatuh."Aku tidak mati. Kau kecewa?""Tidak … bukan …." Juna menggeleng keras-keras, lalu bersembunyi di belakang Kirana, "Kirana, dia … bagaimana dia …."Kirana melindungi Juna, lalu menatapku. "Arya, soal kejadian sebelumnya … aku minta maaf. Tapi saat itu aku juga terpaksa, aku harus memikirkan seluruh tim ….""Aku tahu." Aku memotong pembicaraannya, "Untuk menghindari sikap pilih kasih, kan?"Wajah Kirana langsung pucat."Tapi sekarang tidak perlu lagi." Aku melanjutkan, "Aku bukan anggota timmu lagi, jadi kau tidak perlu lagi khawatir bersikap pilih kasih untukku."Aku berbali
Rara menatapku, lalu bertanya, "Wakil Kapten itu, adalah kau kan?"Aku tidak menjawab, hanya berbalik dan berjalan menuju rak senjata."Kau mau pergi?" tanya Rara.Aku mengambil sebuah senjata yang sudah dimodifikasi, memeriksa magasinnya sambil menjawab, "Bukan untuk menyelamatkannya.""Lalu, untuk apa?""Menonton pertunjukan." Aku memasang magasin, gerakanku lancar seolah sudah melakukannya ribuan kali, "Dan sekalian, untuk membalas sedikit dendam."...Konvoi melaju kencang di tengah reruntuhan.Rara memimpin langsung, bersama dua puluh pemilik kemampuan khusus yang tangguh dan bersenjata lengkap.Aku duduk di kursi penumpang depan pada mobil terdepan, memandangi reruntuhan yang melintas dengan cepat di luar jendela.Setelah garis abu-abu pucat itu menghilang, penglihatanku menjadi sangat tajam.Aku bisa melihat dengan jelas belatung di rongga mata zombi yang berjarak tiga ratus meter, serta rumput liar yang berjuang tumbuh di celah-celah reruntuhan.Aku juga bisa melihat asap hitam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.