Share

Bab 4

Author: Gumiho
Aku membuka kerah baju, memperlihatkan guratan-guratan abu-abu pucat yang memenuhi dadaku.

"Kirana, lihatlah aku. Paling lama aku hanya bisa bertahan sampai tengah malam."

"Sedangkan Juna, anggota timmu yang terluka itu, masih bisa bicara dengan suara lantang dan penuh tenaga, dan tatapan matanya tetap jernih. Itu yang kau sebut terinfeksi?"

Beberapa anggota tim menundukkan kepala.

Seorang anggota tim bernama Rian Lesmana bergumam pelan, "Sebenarnya Juna bisa saja menghindarinya …."

"Rian!" Kirana menegur dengan suara keras.

Tetapi, sudah terlambat.

Aku akhirnya memahami semuanya.

Juna sengaja melakukannya.

Kirana kembali memberikan penawar itu kepadanya, di hadapan seluruh tim, sekali lagi dia memilih Juna.

Aku berkata pelan, "Kirana, sekali lagi kau mengorbankanku demi dia."

Wajah Kirana memucat, lalu buru-buru membantah, "Aku tidak mengorbankanmu! Aku cuma …."

Aku tersenyum, lalu berbicara pelan, kelelahan dalam suaraku mengalahkan kemarahan yang kurasakan.

"Hanya karena sebagai kapten, kau harus bertanggung jawab atas setiap anggota tim? Berusaha agar tidak pilih kasih?"

"Atau aku memang sudah lama tidak ada lagi di hatimu?"

Dia membuka mulut, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.

Juna mencengkeram lengan kapten, suaranya bergetar seperti hendak menangis.

"Kirana, apa Wakil Kapten tidak percaya padaku? Aku benar-benar terinfeksi, lihat saja …."

Dia berpura-pura hendak membuka perbannya.

Kirana menahannya, "Jangan!"

Lalu, dia menoleh ke arahku, dengan tatapan penuh kekecewaan.

"Arya, kau benar-benar mengecewakanku. Juna itu anggota tim, dan dia terluka. Apa aku salah karena menolongnya?"

"Apa kau baru puas kalau aku membiarkannya mati begitu saja?"

"Iya. Kau sudah melakukan hal yang benar. Seorang kapten memang harus seperti itu, adil dan tidak memihak."

Kirana terdiam kaget.

Aku melihat caranya melindungi Juna, melihat tatapan puas yang dilemparkan Juna dari balik punggungnya, serta tatapan para anggota tim di sekelilingku yang sebagian penuh simpati dan sebagian lagi sengaja menghindar.

Kekuatan di dalam diriku tiba-tiba mulai bergolak.

Tetapi, aku masih mampu menahannya.

Aku melanjutkan, suaraku terdengar datar dan hampa seperti air yang tergenang.

"Jadi, sekarang aku juga adalah ‘anggota tim’ ini, yang sudah hampir bermutasi. Bagaimana Kapten akan bertanggung jawab?"

Suasana di tempat itu mendadak sunyi senyap.

Semua tatapan tertuju pada Kirana.

Wajahnya berubah-ubah, lalu dengan menggertakkan gigi dia berkata.

"Aku akan terus cari, di Zona Polaris masih ada satu .…"

"Sudah terlambat." Aku memotong pembicaraannya.

Dia terdiam.

Juna berbicara pelan, suaranya cukup keras agar semua orang bisa mendengarnya.

"Kirana, kondisi Wakil Kapten sudah terlalu berbahaya. Bagaimana kalau dia tiba-tiba bermutasi …."

Tubuh Kirana menegang.

Aku menatap matanya, sepasang mata yang dulu dipenuhi cinta, namun kini justru dipenuhi pergulatan dan keraguan.

Kekuatan di dalam tubuhku kembali bergolak.

Kali ini, aku hampir tak bisa menahannya lagi.

...

"Arya."

Kirana akhirnya berbicara dengan suara serak.

Dia menegakkan punggungnya, dan berkata, "Kau Wakil Kapten, kau tahu aturannya."

"Orang yang terinfeksi harus meninggalkan markas sebelum bermutasi, atau … ditangani langsung oleh Kapten."

Ditangani langsung.

Kata-kata itu terdengar begitu ringan, namun terasa seperti pisau yang menusuk hatiku.

Anggota tim di sekitar mulai gelisah. Ada yang tidak tega dan memalingkan wajah, ada yang mundur diam-diam, dan ada pula yang tangannya sudah berada di atas senjatanya.

Juna menempel erat pada Kirana, lalu berbisik.

"Kirana, kau harus memikirkan seluruh tim … kondisi Wakil Kapten sudah seperti ini, bagaimana kalau dia tiba-tiba …."

"Diam!" Aku menatapnya tajam.

Juna tersentak ketakutan, lalu bersembunyi di belakang Kirana.

Kirana menarik napas dalam-dalam.

"Kuberi kau pilihan. Pertama, pergi dari sini sekarang."

"Kedua," Tangannya bergerak ke arah belati di pinggangnya, "Aku yang akan membantumu."

Membantuku mati.

Aku menatap lekat tangannya yang menggenggam belati itu, tangan yang pernah menggandengku menyusuri jalan setapak di bawah naungan pohon di akademi militer, tangan yang pernah mencengkeramku erat-erat pada malam pertama kiamat dan menolak untuk melepaskanku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 11

    Juna ingin melarikan diri, tetapi kakinya yang patah justru memperlambat langkahnya.Seekor zombi menerjang ke arahnya dan menggigit lehernya.Darah segar memercik ke segala arah.Kirana tertegun sesaat, lalu berbalik dan langsung berlari.Namun, dia tidak mampu berlari lebih cepat dari zombi-zombi itu.Tiga zombi mengepungnya.Dia bersandar pada dinding reruntuhan, mengangkat senjata yang sudah kosong, lalu menarik pelatuknya dengan sia-sia.Klik. Klik. Klik.Zombi-zombi itu pun menerjangnya.Aku mengalihkan pandangan."Perlu dicatat dalam laporan?" tanya orang yang duduk di kursi depan."Tidak usah. Ayo, kita lanjutkan perjalanan."Konvoi itu meninggalkan reruntuhan, meninggalkan jeritan dan darah di belakang.Malam itu, Rara datang menemuiku."Pemukiman di wilayah Zona Polaris mengirim kabar. Efektivitas serumnya sangat baik. Dari tiga puluh orang yang terinfeksi, dua puluh sembilan orang telah pulih. Satu orang lainnya sudah terinfeksi terlalu lama jadi tidak dapat diselamatkan, ta

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 10

    Satu, dua, lima, sepuluh … akhirnya hanya Kirana dan Juna yang masih berdiri di tempat semula.Rian menghampiriku, lalu menundukkan kepala sambil berkata, "Wakil Kapten … maafkan aku. Saat itu aku tidak berani bicara ….""Sekarang sudah berani?" tanyaku.Dia mengangguk, "Aku sudah sadar. Ada orang-orang yang memang tidak layak untuk diikuti."Aku menepuk bahunya, lalu berkata, "Naik ke mobil."Saat rombongan mobil bersiap berangkat, Kirana tiba-tiba berlari menghampiri dan mencengkeram lenganku. "Arya … bawa aku pergi. Kumohon."Aku menatap tangannya, tangan yang dulu menjadi seluruh kepercayaan dan ketergantunganku.Sekarang, aku hanya merasa muak."Lepaskan," kataku.Dia tidak mau melepaskannya. Air mata mengalir di wajahnya."Aku tahu aku salah … Aku benar-benar tahu sudah salah … Beri aku kesempatan sekali lagi, untuk terakhir kalinya..."Aku melepaskan tangannya."Kirana, aku sudah memberimu kesempatan. Tiga kali kesempatan. Pertama, kau bilang untuk menghindari tuduhan pilih kas

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 9

    "Evakuasi?" Kirana tertegun, "Ke mana?" "Zona Arunika. Itu pun kalau kalian bersedia untuk ditampung."Mata Kirana langsung berbinar.Namun seketika itu juga, Juna berlari keluar dari mal, dan begitu melihatku, wajahnya langsung pucat pasi."Wakil … Wakil Kapten Arya?" dia tergagap, "Kau … kau tidak mati?"Aku menatapnya.Hanya dengan tatapan itu saja, Juna ketakutan hingga mundur dua langkah dan hampir terjatuh."Aku tidak mati. Kau kecewa?""Tidak … bukan …." Juna menggeleng keras-keras, lalu bersembunyi di belakang Kirana, "Kirana, dia … bagaimana dia …."Kirana melindungi Juna, lalu menatapku. "Arya, soal kejadian sebelumnya … aku minta maaf. Tapi saat itu aku juga terpaksa, aku harus memikirkan seluruh tim ….""Aku tahu." Aku memotong pembicaraannya, "Untuk menghindari sikap pilih kasih, kan?"Wajah Kirana langsung pucat."Tapi sekarang tidak perlu lagi." Aku melanjutkan, "Aku bukan anggota timmu lagi, jadi kau tidak perlu lagi khawatir bersikap pilih kasih untukku."Aku berbali

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 8

    Rara menatapku, lalu bertanya, "Wakil Kapten itu, adalah kau kan?"Aku tidak menjawab, hanya berbalik dan berjalan menuju rak senjata."Kau mau pergi?" tanya Rara.Aku mengambil sebuah senjata yang sudah dimodifikasi, memeriksa magasinnya sambil menjawab, "Bukan untuk menyelamatkannya.""Lalu, untuk apa?""Menonton pertunjukan." Aku memasang magasin, gerakanku lancar seolah sudah melakukannya ribuan kali, "Dan sekalian, untuk membalas sedikit dendam."...Konvoi melaju kencang di tengah reruntuhan.Rara memimpin langsung, bersama dua puluh pemilik kemampuan khusus yang tangguh dan bersenjata lengkap.Aku duduk di kursi penumpang depan pada mobil terdepan, memandangi reruntuhan yang melintas dengan cepat di luar jendela.Setelah garis abu-abu pucat itu menghilang, penglihatanku menjadi sangat tajam.Aku bisa melihat dengan jelas belatung di rongga mata zombi yang berjarak tiga ratus meter, serta rumput liar yang berjuang tumbuh di celah-celah reruntuhan.Aku juga bisa melihat asap hitam

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 7

    "Sempurna … sangat sempurna …," gumam Prof. Linus pada dirinya sendiri."Konsentrasi antibodinya tiga ratus kali lipat dari penyintas biasa, dan masih terus diproduksi. Arya, apa kau tahu artinya ini?""Apa artinya?" tanyaku."Artinya kita bisa memproduksi serum secara massal," jawabnya. Mata Prof. Linus tampak berbinar."Bukan sekadar obat penekan, tapi serum yang sesungguhnya! Setelah disuntikkan, serum ini dapat membersihkan virus di dalam tubuh dalam waktu dua puluh empat jam, menyembuhkan total pasien dengan gejala ringan, dan menghentikan kondisi orang yang terinfeksi parah agar tidak semakin memburuk!"Rara berdiri di sampingku, lalu berkata, "Kami membutuhkan kerja samamu. Kau perlu menjalani pengambilan darah secara berkala dan membantu dalam penelitian. Tapi tentu saja, kau juga berhak menolak."Aku menatapnya, lalu membalas, "Bagaimana kalau aku menolak?""Kami akan menghormati pilihanmu," kata Rara dengan ekspresi tenang."Tapi kalau kau bersedia membantu, kami bisa memprod

  • Pembalasan Dendam Sang Penyelamat Dunia   Bab 6

    Saat terbangun, aku mendapati diriku terbaring di atas ranjang rumah sakit yang bersih.Sinar matahari menyinari dari luar jendela, udara dipenuhi aroma cairan disinfektan.Aku masih hidup.Aku langsung duduk tegak, lalu menunduk melihat lenganku.Garis abu-abu pucat itu telah hilang. Kulitku kembali utuh seperti semula, bahkan lebih halus dan kuat daripada sebelumnya.Aku mengepalkan tangan, dan bisa merasakan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya mengalir di dalam darahku.Itu bukanlah sekadar perasaan kemampuan spesialku yang pulih.Itu adalah evolusi."Kau sudah sadar."Suara seorang wanita terdengar dari ambang pintu.Aku mengangkat kepala dan melihat seorang wanita bertubuh tinggi ramping berdiri di dekat pintu.Dia mengenakan seragam tempur sederhana, rambut hitam panjangnya diikat, wajahnya cantik, dan tatapannya tajam seperti pisau.Di belakangnya ada dua penjaga, tetapi dia hanya melambaikan tangan, menyuruh mereka mundur."Namaku Rara Qistina."Dia masuk dan duduk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status