Share

Rusa kutub

Author: Azitung
last update Last Updated: 2026-01-10 15:02:35

Lembayung senja telah sepenuhnya tenggelam saat Hasa menginjakkan kaki di penginapan. Udara pegunungan yang menusuk tulang memaksanya merapatkan jaket tebal yang membungkus tubuh. Ia melangkah ke balkon, membiarkan uap napasnya menari di udara yang dingin sebelum akhirnya memutuskan turun ke ruang makan saat perutnya mulai menuntut janji.

"Silahkan Nona!" ucap seorang pelayan dengan ramah sembari meletakkan sepiring spageti yang masih mengepul di hadapannya.

Hasa mengedarkan pandangan ke sekeli
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Ending

    55​Salju turun semakin lebat, membungkus penginapan kayu di lereng Windham Mountain dengan selimut putih yang tebal. Di dalam kamarnya, Hasa duduk di tepi ranjang, menatap jemarinya yang masih terasa dingin. Suara deru angin di luar sana seolah menyuarakan kekacauan yang berkecamuk di dadanya. Kehadiran Dama yang tiba-tiba telah merobek ketenangan yang baru saja ia bangun susah payah bersama Luke selama tiga hari terakhir.​Ketukan lembut di pintu mengejutkannya. Hasa menarik napas dalam, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu berjalan membukakan pintu. Luke berdiri di sana, masih mengenakan jaket musim dinginnya yang tebal, membawa nampan berisi teh herbal hangat dan beberapa keping biskuit.​"Aku pikir kau butuh sesuatu untuk menghangatkan sarafmu," ujar Luke dengan senyum tipis yang menenangkan.​Hasa mempersilakannya masuk. Luke meletakkan nampan itu di meja kayu kecil dekat jendela. Kehadiran pria itu entah bagaimana selalu berhasil menurunkan suhu ketegangan di sekit

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Waktumu sudah habis

    54Hening yang menyesakkan menyelimuti sudut pondok kayu itu. Aroma kayu manis yang tadinya menenangkan kini terasa mencekik bagi Hasa. Ia berdiri mematung, menatap Dama yang tampak begitu asing di bawah cahaya temaram lampu gantung. Pria di depannya bukanlah Dama yang biasanya rapi dan terkendali. Rambutnya berantakan, dan ada guratan keletihan yang amat sangat di bawah matanya, seolah ia baru saja melintasi badai yang lebih hebat dari sekadar salju di luar sana.​"Dama, jangan lakukan ini. Jangan di sini," bisik Hasa, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.​Dama menarik napas panjang, mencoba mengatur detak jantungnya yang berpacu liar. "Aku tidak punya pilihan lain, Hasa. Kau pergi tanpa memberi celah bagiku untuk bernapas. Kau menutup semua pintu, dan aku hampir gila mencari kuncinya."​Hasa memalingkan wajah, menatap ke jendela besar yang memperlihatkan sosok Luke di kejauhan. Luke berdiri di dekat pembatas kayu, membelakangi mereka, memberinya ruang meski Hasa tahu pria itu te

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Dama datang

    53Angin dingin Windham Mountain berembus lebih kencang, menerbangkan butiran salju halus yang menerpa wajah Hasa. Namun, rasa dingin itu seolah menguap, digantikan oleh sengatan keterkejutan yang menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Ia menatap telapak tangan Luke yang masih menggantung di udara, menunggu sambutan darinya. Nama itu, HL, bukan sekadar inisial bagi siapa pun yang berkecimpung di dunia kerajinan keramik dan porselen. Ia adalah legenda hidup, maestro muda yang karya-karyanya hanya bisa dilihat di galeri kelas atas atau dilelang dengan harga fantastis.​Hasa perlahan mengulurkan tangannya, menyentuh jemari Luke yang terasa hangat meski di tengah badai salju. Genggaman itu terasa mantap dan penuh makna.​"Jadi... kau adalah Luke Han? Pria yang membuat koleksi 'The Frozen Soul' itu?" suara Hasa nyaris tenggelam oleh deru angin, namun matanya membelalak tak percaya.​Luke terkekeh, sebuah tawa rendah yang terdengar merdu. "Nama itu terdengar sangat formal jika kau yang men

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Han Luke

    ​Suasana kafe yang tenang mendadak ceria saat Rene mengangkat tangan tinggi-tinggi, melambaikan jemarinya dengan semangat ke arah pintu masuk.​"Julian!"​Suara Rene memecah keheningan tipis di sana. Julian, yang tampil necis dengan kemeja rapi yang pas di badannya, membalas dengan senyum lebar. Langkahnya mantap mendekat, namun binar matanya sedikit meredup, berubah menjadi sorot penuh tanya saat menyadari ada pria lain yang duduk satu meja dengan kekasihnya.​"Duduklah, dia sudah mau pergi," kata Rene, mencoba mencairkan ketegangan yang belum sempat terbentuk. Julian menarik kursi kayu di samping Rene, mendaratkan tubuhnya di sana sembari tetap menjaga pandangan pada pria di depannya.​"Dama Huston!" Julian menyebutkan nama itu dengan nada yang sulit diartikan. Di seberang meja, Dama mendongak, merasa familiar dengan suara tersebut.​"Kau mengenalku?" tanya Dama heran.​"Siapa yang tidak mengenalmu, pengusaha muda yang sukses. Aku Julian, teman dekatnya Rene." Julian mengulurkan tan

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Mencari Hasa

    Pintu salah satu ruangan terbuka pelan, menampakkan Nenek Mori dan temannya yang berjalan keluar sambil berbincang hangat. Rania yang menyadari kehadiran mereka segera memberikan isyarat kecil pada putranya agar bersiap menyapa.​"Ternyata kau sudah pulang, kenapa tidak langsung masuk saja? Perkenalkan, ini teman nenek." Nenek Mori menarik Nenek Lingye mendekat dengan raut wajah bangga.​"Ini cucumu?" Nenek Lingye tersenyum lebar, memandang Dama dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Tidak heran dia tumbuh segagah ini, waktu kecilnya saja sudah sangat tampan," pujinya tulus.​"Bagaimana menurutmu? Apa Yinhe kira-kira akan menolaknya?" Nenek Mori bertanya dengan nada penuh semangat, seolah sedang memamerkan barang berharga.​Perasaan Dama mulai tidak enak. Aura di sekitarnya mendadak terasa menyesakkan, membuatnya refleks menggaruk tengkuk yang tidak gatal.​"Kurasa tidak ada perempuan yang bisa menolak pria setampan dia, haha..." Nenek Lingye tertawa renyah sambil melirik penuh arti ke

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Angkat   Luka batin

    ​Dama melangkah memasuki rumah dengan bahu yang tampak lebih berat dari biasanya. Namun, alih-alih ketenangan, ia justru disambut oleh seringai tipis Willy. Adiknya itu sedang merapikan jaket, bersiap untuk pergi.​"Sudah menikah bukannya bahagia, tapi malah sebaliknya," celetuk Willy tanpa basa-basi. Kalimat itu menghantam Dama tepat di ulu hati.​Dama menghentikan gerakannya, menatap sang adik dengan tatapan kosong. "Apa sejelas itu?" Ia seolah butuh cermin untuk melihat seberapa hancur wajahnya saat ini.​Willy mengetuk dagunya, berpura-pura berpikir. "Hem, seperti kehilangan hal paling berharga dalam hidupmu." Ia menjeda sejenak, menatap kakaknya dengan iba yang tertahan. "Bahkan ini jauh lebih menyedihkan dibandingkan patah hati karena Clarissa dulu."​"Sudahlah, pergi sana. Aku ingin istirahat," potong Dama cepat. Ia menunduk, melepas sepatunya dengan gerakan kasar, berusaha mengusir rasa sesak yang mulai naik ke tenggorokan.​Willy belum beranjak. Senyumnya kini berubah menjadi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status