Beranda / Rumah Tangga / Pembalasan Istri Bayangan / 4. Pertemuan Tak Terduga

Share

4. Pertemuan Tak Terduga

Penulis: SashiArumi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-24 15:04:34

"Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."

Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?"

"Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya.

"Baiklah. Jangan lama-lama."

Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya.

Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup.

"Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?"

Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik Arya

Senyumnya otomatis terbentuk, kala menemukan empat buah kunci yang dijadikan satu dalam gantungan berbentuk patung singa kecil. Tangan Zalina hampir meraih kunci tersebut ketika tiba-tiba saja dia mendengar suara ketukan pintu.

"Bu? Ibu didalam?"

"Ah, iya Bi." Zalina menatap nanar kunci yang terletak di wadah pensil. Semoga benda itu tetap berada di sana, supaya ketika ada kesempatan lagi dia tak susah mencari.

Dengan cangkir yang berada dalam genggaman, Zalina membuka pintu ruang kerja suaminya. "Ada apa, Bi?"

"Itu, saya dengar bapak manggil-manggil ibu."

"Oh, iya. Minta tolong bawa ini ke dapur, ya."

Zalina berlalu begitu saja setelah cangkir di tangannya berpindah tempat. Berjalan dengan cepat, dalam hati Zalina tak henti merutuki diri sendiri akibat terlalu lama mencari kunci. Pastinya sang suami kesal karena tak menemukan keberadaannya.

"Dari mana kamu?"

Nah, benar, kan? Zalina langsung memperoleh pertanyaan tajam dan juga pelototan suaminya begitu membuka pintu. "Tadi habis naruh gelas kotor, aku kebelet buang air jadi ke kamar mandi yang dekat dapur dulu."

"Siapkan bajuku."

"Iya." Lemari di depannya terbuka. Namun, bukannya langsung mencari baju untuk sang suami, Zalina justru diam sebentar. Menarik nafas panjang guna meredakan debaran jantungnya yang berdetak terlalu kuat.

Baru satu hari menjalankan rencana, tapi dia dibuat berdebar ketakutan berkali-kali akibat takut ketahuan. Bagaimana caranya menjalankan rencana selanjutnya?

Menyingkirkan sementara mengenai misinya, Zalina gegas mengambilkan kemeja serta perlengkapan suaminya yang lain. Sebelum kena semprot lagi karena terlalu lama.

"Mas, apa nanti aku boleh ke supermarket?" Zalina merapikan dasi yang baru saja dipasangkan pada kerah kemeja suaminya.

"Mau ngapain?"

"Ada beberapa kebutuhan rumah yang sudah habis."

Arya tak langsung menjawab, melainkan menatap lekat wajah istrinya terlebih dahulu. "Baiklah, jangan lama-lama."

Zalina meringis. Setiap apapun yang akan dilakukan selalu saja perintah jangan lama-lama dikeluarkan oleh Arya. Padahal selama ini seringnya juga di rumah, tapi suaminya itu bersikap seolah takut dirinya akan kabur. "Terima kasih, Mas."

***

Diantar oleh sopir yang memilih menunggu di dalam mobil, Zalina berjalan sendiri menyusuri deretan rak yang berisi perlengkapan rumah sambil mendorong troli.

Sejujurnya, tidak ada harus Zalina beli sekarang. Kalau pun sabun cuci sudah mau habis masih bisa dibuat untuk akhir bulan. Namun, dia sedang ingin menghirup udara segar jadilah memakai alasan tersebut.

Selepas mengambil beberapa barang, Zalina tidak langsung ke kasir untuk membayar. Melainkan menuju rak yang memajang aneka jajanan.

"Bingung milih yang mana, ya mbak?"

Zalina tersentak. Lalu menatap kesal sosok di sampingnya yang tiba-tiba saja mengajaknya bicara.

"Oh, maaf. Bukannya sok akrab. Tapi saya lihat mbak nya berdiri di sini cukup lama, jadi tanya seperti itu."

"Tidak apa-apa," jawab Zalina. Namun, wajahnya masih menunjukkan kekesalan.

"Kalau begitu saya permisi, mau ambil keripik yang ada di depan itu."

Zalina menyingkir. Membiarkan laki-laki yang mungkin lebih muda darinya itu mengambil keripik kentang. Camilan favoritnya yang sangat ingin dibelinya, tapi karena Arya melarang dia makan sesuatu yang tak sehat jadinya setelah menikah dia tak pernah menikmati makanan tersebut.

Tunggu! Kalau di pikir-pikir hidupnya menyedihkan sekali. Apa-apa dilarang. Semua harus sesuai aturan Arya. Menyedihkan sekali, bukan?

"Mau beli ini juga, mbak?"

Zalina berdecak sebab lagi-lagi diajak bicara pria sok akrab di sampingnya.

"Maaf mbak. Saya ganggu banget, ya?"

"Iya," jawab Zalina ketus.

Alih-alih takut, laki-laki yang trolinya penuh aneka camilan itu malah tertawa. "Maaf, karena kamu mirip banget dengan seseorang jadinya saya penasaran. Dan ingin mengobrol sama kamu."

"Tapi, tidak sopan bersikap sok akrab begitu," balas Zalina yang suasana hatinya benar-benar buruk.

"Maaf."

"Berhenti minta maaf!" Mengambil tiga bungkus keripik yang diinginkan, Zalina lalu meninggalkan laki-laki yang menatap kepergiannya dengan penasaran.

***

Zalina tahu, ada banyak kebetulan yang terjadi di dunia. Namun, di antara banyaknya kemungkinan yang terjadi bisa-bisanya dia bertemu Arya yang sedang makan siang bersama beberapa orang yang tidak dikenalnya.

Tentu saja tidak dikenal, sebab pernikahan mereka itu seolah disembunyikan. Dulu mereka menikah hanya dihadiri saksi yang merupakan asisten Arya. Bahkan mertuanya saja tak datang.

Saking bucinnya, Zalina percaya saja ketika Arya bilang hal itu demi keselamatannya sebab suaminya itu punya banyak musuh. Namun, sekarang pikirannya baru terbuka dan menyadari jika tindakan Arya sangat aneh.

"Eh, kita bertemu lagi."

Zalina yang baru saja memutar tumit, ingin keluar dari restoran sebab tak mau bertemu dengan sang suami malah berjumpa dengan pria menyebalkan yang tadi terus mengajaknya bicara.

"Permisi." Zalina berdecak kesal saat langkahnya tertahan gara-gara pria di depannya ikut menggerakkan tubuh. "Saya mau lewat," ujarnya penuh penekanan.

"Oke, tapi sebelumnya boleh saya tahu nama kamu?"

Zalina tak bersuara. Namun, tatapannya yang tajam sudah menunjukkan jawabannya.

"Sumpah, saya tidak maksud aneh-aneh. Tapi kamu benar-benar mirip seseorang yang saya kenal."

"Dan itu bukan urusan saya."

"Aji? Apa yang kamu lakukan di sini? Aku sudah menunggumu dari tadi."

Zalina memejamkan mata. Bukan lagi karena kesal pada laki-laki yang asing yang menanyakan namanya. Namun, karena sebuah suara yang begitu familiar di telinganya.

"Oh, kebetulan kamu ke sini."

Zalina berjalan dua langkah, berniat meninggalkan dua manusia yang sedang bicara tersebut, tapi tangannya tiba-tiba dicekal. Refleks dia menepis dengan sekuat tenaga. "Jangan sentuh saya!" desisnya tajam.

Rasanya sungguh risi. Bukannya apa, laki-laki di depannya itu hanya orang asing tapi malah bertindak kurang ajar dengan menyentuhnya.

"Zalina?"

Mengela nafas panjang, akhirnya Zalina berbalik sambil tersenyum tipis pada laki-laki yang mengetahui keberadaannya, gara-gara baru saja dia mengeluarkan suara cukup kencang. "Hai, Mas."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Istri Bayangan   8. Nomor Aji

    Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S

  • Pembalasan Istri Bayangan   7. Bertanya Pada Mama

    "Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende

  • Pembalasan Istri Bayangan   6. Menemukan Bukti

    Gila!Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang.Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya.Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya."Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya."Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu."Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penu

  • Pembalasan Istri Bayangan   5. Orang Yang Setia

    "Kalian saling kenal?"Zalina tidak menjawab. Membiarkan suaminya memikirkan balasan atas pertanyaan tersebut. Sekaligus dia ingin tahu, apakah Arya berani membongkar hubungan mereka atau tidak."Iya.""Dimana?""Jangan banyak tanya!"Zalina mendengus. Dalam hati menertawakan kebodohannya. Dibutakan oleh cinta membuat dia tidak masalah disembunyikan. Astaga, mau-maunya dulu dia tidak diakui istri di depan orang lain. Sungguh bodoh!"Tapi kamu merasa, kan kalau dia mirip Alana."Leher Zalina bergerak dengan cepat ketika nama itu disebutkan. Dia lantas menatap pria asing itu dengan kening berkerut dalam. Nama itu lagi. Kecurigaannya bertambah besar kala melihat suaminya mendelik tajam."Pergi sana! Temani klien kita!" Arya mendorong temannya tanpa basa-basi, menyebabkan Aji hampir saja terjerembab. Tatapannya masih tajam dan penuh peringatan, hingga tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Aji."Kenapa kamu di sini?" geram Arya ketika hanya berdua dengan Zalina. Amarahnya jelas menin

  • Pembalasan Istri Bayangan   4. Pertemuan Tak Terduga

    "Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?""Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya. "Baiklah. Jangan lama-lama."Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya.Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup."Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?"Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik AryaSenyumnya oto

  • Pembalasan Istri Bayangan   3. Permintaan Maaf

    "Zalina buka pintunya!"Pura-pura menulikan telinga, Zalina malah semakin menenggelamkan tubuh pada selimut besar di kamar tersebut. Aroma percintaan mereka bahkan masih tersisa, tapi bukannya berakhir indah seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka tidur sambil bepelukan. Kini pasangan suami istri justru sama-sama dikuasai amarah.Ketukan pintu semakin keras, sampai Zalina takut jika benda tersebut menjadi jebol. Hingga beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar apapun. Sempat mengira jika suaminya pergi, tapi ternyata kembali ada suara yang masuk ke dalam gendang telinga Zalina."Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya. Tapi, besok pagi aku mau semua kembali seperti semula."Tidak ada bujukan. Tidak ada kata-kata manis. Seperti biasa, ancaman lah yang Zalina dapatkan.Menyembunyikan wajah pada bantal, Zalina mulai menangis dengan keras. Mengeluarkan semua sesak yang mendera akibat skenario buruk yang bersarang di otaknya.Dia tidak bisa baik-baik saja setelah suaminya mengucapkan n

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status