Mag-log in"Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."
Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?" "Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya. "Baiklah. Jangan lama-lama." Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya. Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup. "Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?" Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik Arya Senyumnya otomatis terbentuk, kala menemukan empat buah kunci yang dijadikan satu dalam gantungan berbentuk patung singa kecil. Tangan Zalina hampir meraih kunci tersebut ketika tiba-tiba saja dia mendengar suara ketukan pintu. "Bu? Ibu didalam?" "Ah, iya Bi." Zalina menatap nanar kunci yang terletak di wadah pensil. Semoga benda itu tetap berada di sana, supaya ketika ada kesempatan lagi dia tak susah mencari. Dengan cangkir yang berada dalam genggaman, Zalina membuka pintu ruang kerja suaminya. "Ada apa, Bi?" "Itu, saya dengar bapak manggil-manggil ibu." "Oh, iya. Minta tolong bawa ini ke dapur, ya." Zalina berlalu begitu saja setelah cangkir di tangannya berpindah tempat. Berjalan dengan cepat, dalam hati Zalina tak henti merutuki diri sendiri akibat terlalu lama mencari kunci. Pastinya sang suami kesal karena tak menemukan keberadaannya. "Dari mana kamu?" Nah, benar, kan? Zalina langsung memperoleh pertanyaan tajam dan juga pelototan suaminya begitu membuka pintu. "Tadi habis naruh gelas kotor, aku kebelet buang air jadi ke kamar mandi yang dekat dapur dulu." "Siapkan bajuku." "Iya." Lemari di depannya terbuka. Namun, bukannya langsung mencari baju untuk sang suami, Zalina justru diam sebentar. Menarik nafas panjang guna meredakan debaran jantungnya yang berdetak terlalu kuat. Baru satu hari menjalankan rencana, tapi dia dibuat berdebar ketakutan berkali-kali akibat takut ketahuan. Bagaimana caranya menjalankan rencana selanjutnya? Menyingkirkan sementara mengenai misinya, Zalina gegas mengambilkan kemeja serta perlengkapan suaminya yang lain. Sebelum kena semprot lagi karena terlalu lama. "Mas, apa nanti aku boleh ke supermarket?" Zalina merapikan dasi yang baru saja dipasangkan pada kerah kemeja suaminya. "Mau ngapain?" "Ada beberapa kebutuhan rumah yang sudah habis." Arya tak langsung menjawab, melainkan menatap lekat wajah istrinya terlebih dahulu. "Baiklah, jangan lama-lama." Zalina meringis. Setiap apapun yang akan dilakukan selalu saja perintah jangan lama-lama dikeluarkan oleh Arya. Padahal selama ini seringnya juga di rumah, tapi suaminya itu bersikap seolah takut dirinya akan kabur. "Terima kasih, Mas." *** Diantar oleh sopir yang memilih menunggu di dalam mobil, Zalina berjalan sendiri menyusuri deretan rak yang berisi perlengkapan rumah sambil mendorong troli. Sejujurnya, tidak ada harus Zalina beli sekarang. Kalau pun sabun cuci sudah mau habis masih bisa dibuat untuk akhir bulan. Namun, dia sedang ingin menghirup udara segar jadilah memakai alasan tersebut. Selepas mengambil beberapa barang, Zalina tidak langsung ke kasir untuk membayar. Melainkan menuju rak yang memajang aneka jajanan. "Bingung milih yang mana, ya mbak?" Zalina tersentak. Lalu menatap kesal sosok di sampingnya yang tiba-tiba saja mengajaknya bicara. "Oh, maaf. Bukannya sok akrab. Tapi saya lihat mbak nya berdiri di sini cukup lama, jadi tanya seperti itu." "Tidak apa-apa," jawab Zalina. Namun, wajahnya masih menunjukkan kekesalan. "Kalau begitu saya permisi, mau ambil keripik yang ada di depan itu." Zalina menyingkir. Membiarkan laki-laki yang mungkin lebih muda darinya itu mengambil keripik kentang. Camilan favoritnya yang sangat ingin dibelinya, tapi karena Arya melarang dia makan sesuatu yang tak sehat jadinya setelah menikah dia tak pernah menikmati makanan tersebut. Tunggu! Kalau di pikir-pikir hidupnya menyedihkan sekali. Apa-apa dilarang. Semua harus sesuai aturan Arya. Menyedihkan sekali, bukan? "Mau beli ini juga, mbak?" Zalina berdecak sebab lagi-lagi diajak bicara pria sok akrab di sampingnya. "Maaf mbak. Saya ganggu banget, ya?" "Iya," jawab Zalina ketus. Alih-alih takut, laki-laki yang trolinya penuh aneka camilan itu malah tertawa. "Maaf, karena kamu mirip banget dengan seseorang jadinya saya penasaran. Dan ingin mengobrol sama kamu." "Tapi, tidak sopan bersikap sok akrab begitu," balas Zalina yang suasana hatinya benar-benar buruk. "Maaf." "Berhenti minta maaf!" Mengambil tiga bungkus keripik yang diinginkan, Zalina lalu meninggalkan laki-laki yang menatap kepergiannya dengan penasaran. *** Zalina tahu, ada banyak kebetulan yang terjadi di dunia. Namun, di antara banyaknya kemungkinan yang terjadi bisa-bisanya dia bertemu Arya yang sedang makan siang bersama beberapa orang yang tidak dikenalnya. Tentu saja tidak dikenal, sebab pernikahan mereka itu seolah disembunyikan. Dulu mereka menikah hanya dihadiri saksi yang merupakan asisten Arya. Bahkan mertuanya saja tak datang. Saking bucinnya, Zalina percaya saja ketika Arya bilang hal itu demi keselamatannya sebab suaminya itu punya banyak musuh. Namun, sekarang pikirannya baru terbuka dan menyadari jika tindakan Arya sangat aneh. "Eh, kita bertemu lagi." Zalina yang baru saja memutar tumit, ingin keluar dari restoran sebab tak mau bertemu dengan sang suami malah berjumpa dengan pria menyebalkan yang tadi terus mengajaknya bicara. "Permisi." Zalina berdecak kesal saat langkahnya tertahan gara-gara pria di depannya ikut menggerakkan tubuh. "Saya mau lewat," ujarnya penuh penekanan. "Oke, tapi sebelumnya boleh saya tahu nama kamu?" Zalina tak bersuara. Namun, tatapannya yang tajam sudah menunjukkan jawabannya. "Sumpah, saya tidak maksud aneh-aneh. Tapi kamu benar-benar mirip seseorang yang saya kenal." "Dan itu bukan urusan saya." "Aji? Apa yang kamu lakukan di sini? Aku sudah menunggumu dari tadi." Zalina memejamkan mata. Bukan lagi karena kesal pada laki-laki yang asing yang menanyakan namanya. Namun, karena sebuah suara yang begitu familiar di telinganya. "Oh, kebetulan kamu ke sini." Zalina berjalan dua langkah, berniat meninggalkan dua manusia yang sedang bicara tersebut, tapi tangannya tiba-tiba dicekal. Refleks dia menepis dengan sekuat tenaga. "Jangan sentuh saya!" desisnya tajam. Rasanya sungguh risi. Bukannya apa, laki-laki di depannya itu hanya orang asing tapi malah bertindak kurang ajar dengan menyentuhnya. "Zalina?" Mengela nafas panjang, akhirnya Zalina berbalik sambil tersenyum tipis pada laki-laki yang mengetahui keberadaannya, gara-gara baru saja dia mengeluarkan suara cukup kencang. "Hai, Mas.""Apa alasanmu memotong rambut? Dan kenapa tiba-tiba kamu memakai celana pendek dan kaos kedodoran seperti itu?""Karena aku suka," jawab Zalina mantap. Bukannya apa, sebelum menikah gayanya memang seperti itu. Jadi sekarang dia nyaman-nyaman saja."Itu tidak cocok untukmu!""Kan, itu pendapat kamu, Mas. Menurutku cocok saja. Aku kelihatan lebih fresh. Kalau kamu nggak percaya bagaimana jika kita tanya orang lain tentang penampilanku?""Jangan macam-macam!" Membayangkan ada orang lain yang menatap Zalina dengan penampilan seperti itu membuat amarahnya yang tadi mereda, kini timbul kembali. "Besok kita ke salon! Kita buat rambut kamu jadi panjang lagi."Zalina mengerjap. Jadi tadi dirinya ditarik seperti binatang hanya karena mau dibawa ke salon? Luar biasa sekali suaminya! Namun, kali ini dia tidak akan menyerah semudah itu. "Aku nggak mau! Ini tubuhku, kamu nggak berhak ngatur!""Aku suamimu!""Terus kenapa?" tantang Zalina."Kamu harus menurut padaku!""Kurang menurut apa aku selama
"Ada yang salah? Kenapa kamu marah-marah, Mas?" tanya Zalina polos. Pura-pura tidak mengerti alasan kemarahan suaminya."Kamu!" Arya menunjuk Zalina menggunakan jari telunjuknya sebelum membanting paper bag yang dia bawa. Tidak peduli jika isi di dalamnya menjadi rusak. Zalina? Tentu saja kaget. Walaupun bisa menduga jika suaminya pasti mengamuk, tapi tetap saja ada rasa takut yang sebisa mungkin dia sembunyikan.Bahkan Zalina sampai bersedekap agar suaminya tidak tahu bahwa tangannya mulai bergetar. Karena hari ini kemarahan Arya tidak seperti yang dulu-dulu."Apa yang kamu lakukan, Zalina?!""Tenang, Mas. Coba jelaskan pelan-pelan."Tangan Arya terkepal erat. Kejutan yang diberikan istrinya sudah membuat jantungnya hampir lepas. "Kenapa kamu memotong rambut?" tanya dingin dan penuh penekanan."Oh, ini?" Alana memegang rambutnya yang dipangkas hingga bahu. Tidak rapi, tapi memang tujuannya bukan untuk terlihat cantik melainkan ingin membuat Arya marah. "Gimana cantikkan?" tanyanya s
"Arya kurang ajar!" Zalina mengusap pipinya dengan kasar. Padahal dia telah berusaha kuat menahannya, tapi air mata sialan itu tetap saja keluar. Ya, ternyata dia sekuat itu. Lagipula siapa yang tidak sakit hati saat tahu hanya dijadikan pelarian?"Sial! Jadi selama ini dia menganggapku Alana saat kami berhubungan badan?" Umpatan terus keluar dari bibir tipis Alana, mengingat beberapa kali suaminya pernah menyebut nama perempuan itu setelah mereka baru saja saling berbagi peluh.Bodohnya kala itu Zalina percaya saja saat Arya berkata dirinya salah dengar. Sungguh, cinta telah membuatnya buta selama ini.Melempar bantal untuk menyalurkan rasa kesal, Zalina lantas berjalan ke arah lemari setelah sukses mengacak-acak tempat tidur.Tatapannya sangat nanar saat menyaksikan baju-bajunya yang tersusun rapi. "Jadi selama ini maksud kamu menyuruhku memakai baju-baju yang terkesan feminim karena ingin membuatku menjadi seperti Alana? Benar-benar kurang ajar!"Membanting pintu lemari hingga menc
"Tapi, bu ... bagaimana kalau Pak Arya tahu?""Makanya saya bilang tadi, rahasikan masalah ini. Tenang saja Mas Arya tidak akan tahu kalau bapak tidak bilang."Zalina tersenyum penuh ketegasan, berusaha meyakinkan sopirnya bahwa semua akan baik-baik saja. Meski sebenarnya dia ketar-ketir juga, tapi dalam hati berdoa semoga sang suami tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Lagipula meski punya usaha sendiri dan menjadi bos di perusahannya, sang suami bukan old money yang menghamburkan uang untuk menyewa orang yang bisa mengikutinya. Zalina bisa sedikit tenang dengan kenyataan tersebut."Kalau saya dipecat bagaimana, bu?""Saya nanti yang tanggung jawab. Jangan khawatir, saya tidak akan membiarkan Mas Arya pecat bapak. Cuma sebentar, pak saya janji."Zalina akhirnya bisa bernafas lega setelah sopir yang ditugaskan Arya untuk mengantarnya kemanapun mengangguk pelan, walau keraguan masih tampak di wajah laki-laki paruh baya tersebut.Tidak membuang-buang waktu lagi, Zalina berjalan cep
Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S
"Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende







