Share

3. Permintaan Maaf

Author: SashiArumi
last update Huling Na-update: 2025-11-21 15:22:49

"Zalina buka pintunya!"

Pura-pura menulikan telinga, Zalina malah semakin menenggelamkan tubuh pada selimut besar di kamar tersebut. Aroma percintaan mereka bahkan masih tersisa, tapi bukannya berakhir indah seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka tidur sambil bepelukan. Kini pasangan suami istri justru sama-sama dikuasai amarah.

Ketukan pintu semakin keras, sampai Zalina takut jika benda tersebut menjadi jebol. Hingga beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar apapun. Sempat mengira jika suaminya pergi, tapi ternyata kembali ada suara yang masuk ke dalam gendang telinga Zalina.

"Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya. Tapi, besok pagi aku mau semua kembali seperti semula."

Tidak ada bujukan. Tidak ada kata-kata manis. Seperti biasa, ancaman lah yang Zalina dapatkan.

Menyembunyikan wajah pada bantal, Zalina mulai menangis dengan keras. Mengeluarkan semua sesak yang mendera akibat skenario buruk yang bersarang di otaknya.

Dia tidak bisa baik-baik saja setelah suaminya mengucapkan nama perempuan lain. Rasanya sangat sakit. Mau berpikir positif seperti apapun sulit sekali.

"Menangis lah. Menangis lah sampai puas," ujar Zalina terbata-bata. Memberi semangat pada diri sendiri. "Karena besok kamu harus berdiri tegak untuk mencari tahu sebuah kebenaran."

Di tempat lain, tepatnya ruangan penuh buku yang merupakan ruang kerja Arya di rumah, laki-laki itu menopang kepalanya dengan tangan yang sikunya berada di atas meja.

Sama seperti Zalina, otak Arya pun terasa penuh. Memikirkan perubahan istrinya yang sangat mendadak.

Selama ini Zalina begitu patuh, tak pernah melawannya. Namun, apa tadi? Setiap kalimatnya selalu dibalas. Parahnya, sang istri berani mengunci kamar mereka hingga membuatnya tak bisa masuk.

Bisa saja dia mendobrak pintu atau memaksa Zalina membukanya. Akan tetapi, seperti ada sesuatu yang menahannya. Sebuah ketakutan jika perempuan itu akan semakin marah padanya.

Arya menggeleng saat sadar pikirannya mulai aneh. "Pasti karena aku masih membutuhkan perempuan itu dihidupku. Tidak mungkin aku sepeduli itu padanya."

Memutar kunci pada laci paling bawah yang berada di meja kerjanya, Arya lantas menariknya. Mengambil sebuah figura kecil yang membuat senyumnya mengembang sempurna.

"Apa kabar sayang? Mas, rindu." Arya mengusap potret yang berada di sana. Seorang perempuan cantik yang tersenyum lebar ke arah kamera. "Kenapa kamu pergi begitu cepat? Kenapa kamu meninggalkanku sendirian?"

***

Zalina bangun dengan kepala yang terasa berat. Sesuatu yang wajar mengingat semalam dia menangis selama berjam-jam.

Pergi ke kamar mandi, dia meringis melihat betapa buruk penampilannya. Rambut acak-acakan serta wajah sembab dan mata yang sangat merah. "Astaga, jelek sekali diriku."

Memutar kran air, dia lantas membasuh wajah. Meskipun tidak bisa menghilangkan bengkak di wajah dan mata setidaknya dia merasa lebih segar.

Butuh waktu beberapa menit untuknya membersihkan diri, dan keluar kamar mandi dengan perasaan yang jauh lebih lega. Sedih itu tentu masih ada, tapi Zalina sudah bisa berpikir jernih termasuk mengenai sebuah rencana yang akan dia kerjakan secepatnya.

Membuka lemari, pilihannya jatuh pada dress kuning dengan motif bunga-bunga kecil. Baju favorit suaminya, dimana dia akan selalu dipuji cantik ketika memakainya.

Ya, dia memutuskan untuk menyingkirkan egonya sejenak. Menjadi orang yang pertama kali mengajak suaminya berdamai.

Dengan rambut panjang yang tergerai indah serta make up tipis yang menghiasi wajah, Zalina berjalan penuh percaya diri. Senyumnya begitu manis, memberi kesan jika hari itu sedang bahagia. Akting yang sungguh luar biasa.

"Mau sarapan apa, bu?"

"Roti saja. Tolong siapkan, ya bi."

"Baik, bu."

Kembali melanjutkan langkah, Zalina menarik nafas panjang begitu sampai di depan ruang kerja suaminya. Diketuknya perlahan pintu tersebut. Tiga kali melakukan, tapi belum ada sahutan membuatnya nekat membukanya.

Sang suami yang sedang meringkuk di sofa adalah pemandangan pertama yang dilihatnya. Ada rasa kasihan yang terbesit, tapi saat mengingat bagaimana semalam dia dibentak amarah itu kembali hadir.

Bersimpuh, Zalina tatap wajah Arya yang tampak polos ketika tidur. "Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Mas? Apa Alana itu selingkuhan kamu?"

Zalina mendongak. Mencegah air matanya keluar. Membayangkan suaminya punya perempuan lain, berhasil menciptakan luka yang tadi disingkirkannya demi sebuah misi yang telah dia rencanakan.

"Aku harap itu tidak benar, tapi seandainya itu yang terjadi aku tak akan pernah memaafkan kamu, Mas." Zalina mengusap pipi sang suami menggunakan telunjuknya.

"Mas, bangun," panggilnya sembari menepuk-nepuk pelan pipi Arya. "Mas, kamu harus kerja, kan?"

"Jam berapa ini?" Arya mengucek matanya menggunakan tangan kiri, sementara tangan satunya digunakan untuk menggenggam istrinya. Laki-laki itu seolah belum sadar hingga bersikap demikian.

"Jam lima."

"Sebentar lagi." Arya menjadikan tangan istrinya sebagai bantalan pipi ketika dirinya memiringkan badan untuk kembali tidur. Tidur terlalu larut semalam, menyebabkan rasa kantuk masih menguasai.

"Maaf, ya Mas."

Mata Arya tidak jadi terpejam, melainkan terbuka dengan sempurna mendengar ucapan istrinya. Detik itu juga dia kembali mengingat pertengkaran mereka semalam. Namun, alih-alih menunjukkan kemarahan dengan menjauhi Zalia dia justru mengeratkan genggaman pada tangan mereka.

"Harusnya aku nurut sama ucapan kamu. Tidak membantah, bahkan sampai melawan. Maafkan aku, Mas," ujar Zalina lirih. Ekspresinya tampak sendu, menunjukkan dia benar-benar merasa bersalah.

Arya menarik nafas panjang. Sungguh, dia benci ketika sang istri bersikap seperti kemarin. Dirinya menyukai Zalina yang lemah lembut serta penurut. "Jangan diulangi!"

Zalina mengangguk. "Mas Arya memaafkanku?"

"Iya."

"Terima kasih."

Arya melihat itu. Melihat bagaimana senyum cantik Zalina terbentuk, menyebabkan mata bulat itu sedikit menyipit. Hingga lesung pipi yang terdapat di pipi kiri tampak sangat jelas. Hal yang tidak dipunya oleh Alana. Namun, entah mengapa dia menyukai senyum itu.

Didorong sebuah perasaan yang bahkan dia tidak tahu apa namanya, Arya membawa Zalina dalam pelukannya. Memeluk erat perempuan yang tampak kaget itu. Mungkin tidak menyangka dengan tindakannya. "Kemarin adalah terakhir kalinya aku mendengar kamu membantah perkataanku. Jangan melakukan itu lagi."

"Baik, Mas." Zalina membalas pelukan suaminya. Mengusap punggung lebar yang sering kali dia jadikan tempat bersandar.

Namun, raut wajahnya tiba-tiba berubah begitu mengingat rencana yang tersusun rapi di otaknya. Tidak ada lagi senyum manis, tapi kini bibir yang dipoles lisptik berwarna merah muda memperlihatkan senyum sinis yang tidak diketahui oleh Arya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembalasan Istri Bayangan   12. Sakit

    "Apa alasanmu memotong rambut? Dan kenapa tiba-tiba kamu memakai celana pendek dan kaos kedodoran seperti itu?""Karena aku suka," jawab Zalina mantap. Bukannya apa, sebelum menikah gayanya memang seperti itu. Jadi sekarang dia nyaman-nyaman saja."Itu tidak cocok untukmu!""Kan, itu pendapat kamu, Mas. Menurutku cocok saja. Aku kelihatan lebih fresh. Kalau kamu nggak percaya bagaimana jika kita tanya orang lain tentang penampilanku?""Jangan macam-macam!" Membayangkan ada orang lain yang menatap Zalina dengan penampilan seperti itu membuat amarahnya yang tadi mereda, kini timbul kembali. "Besok kita ke salon! Kita buat rambut kamu jadi panjang lagi."Zalina mengerjap. Jadi tadi dirinya ditarik seperti binatang hanya karena mau dibawa ke salon? Luar biasa sekali suaminya! Namun, kali ini dia tidak akan menyerah semudah itu. "Aku nggak mau! Ini tubuhku, kamu nggak berhak ngatur!""Aku suamimu!""Terus kenapa?" tantang Zalina."Kamu harus menurut padaku!""Kurang menurut apa aku selama

  • Pembalasan Istri Bayangan   11. Tarik Menarik

    "Ada yang salah? Kenapa kamu marah-marah, Mas?" tanya Zalina polos. Pura-pura tidak mengerti alasan kemarahan suaminya."Kamu!" Arya menunjuk Zalina menggunakan jari telunjuknya sebelum membanting paper bag yang dia bawa. Tidak peduli jika isi di dalamnya menjadi rusak. Zalina? Tentu saja kaget. Walaupun bisa menduga jika suaminya pasti mengamuk, tapi tetap saja ada rasa takut yang sebisa mungkin dia sembunyikan.Bahkan Zalina sampai bersedekap agar suaminya tidak tahu bahwa tangannya mulai bergetar. Karena hari ini kemarahan Arya tidak seperti yang dulu-dulu."Apa yang kamu lakukan, Zalina?!""Tenang, Mas. Coba jelaskan pelan-pelan."Tangan Arya terkepal erat. Kejutan yang diberikan istrinya sudah membuat jantungnya hampir lepas. "Kenapa kamu memotong rambut?" tanya dingin dan penuh penekanan."Oh, ini?" Alana memegang rambutnya yang dipangkas hingga bahu. Tidak rapi, tapi memang tujuannya bukan untuk terlihat cantik melainkan ingin membuat Arya marah. "Gimana cantikkan?" tanyanya s

  • Pembalasan Istri Bayangan   10. Permainan Dimulai

    "Arya kurang ajar!" Zalina mengusap pipinya dengan kasar. Padahal dia telah berusaha kuat menahannya, tapi air mata sialan itu tetap saja keluar. Ya, ternyata dia sekuat itu. Lagipula siapa yang tidak sakit hati saat tahu hanya dijadikan pelarian?"Sial! Jadi selama ini dia menganggapku Alana saat kami berhubungan badan?" Umpatan terus keluar dari bibir tipis Alana, mengingat beberapa kali suaminya pernah menyebut nama perempuan itu setelah mereka baru saja saling berbagi peluh.Bodohnya kala itu Zalina percaya saja saat Arya berkata dirinya salah dengar. Sungguh, cinta telah membuatnya buta selama ini.Melempar bantal untuk menyalurkan rasa kesal, Zalina lantas berjalan ke arah lemari setelah sukses mengacak-acak tempat tidur.Tatapannya sangat nanar saat menyaksikan baju-bajunya yang tersusun rapi. "Jadi selama ini maksud kamu menyuruhku memakai baju-baju yang terkesan feminim karena ingin membuatku menjadi seperti Alana? Benar-benar kurang ajar!"Membanting pintu lemari hingga menc

  • Pembalasan Istri Bayangan   9. Jawaban dari Aji

    "Tapi, bu ... bagaimana kalau Pak Arya tahu?""Makanya saya bilang tadi, rahasikan masalah ini. Tenang saja Mas Arya tidak akan tahu kalau bapak tidak bilang."Zalina tersenyum penuh ketegasan, berusaha meyakinkan sopirnya bahwa semua akan baik-baik saja. Meski sebenarnya dia ketar-ketir juga, tapi dalam hati berdoa semoga sang suami tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Lagipula meski punya usaha sendiri dan menjadi bos di perusahannya, sang suami bukan old money yang menghamburkan uang untuk menyewa orang yang bisa mengikutinya. Zalina bisa sedikit tenang dengan kenyataan tersebut."Kalau saya dipecat bagaimana, bu?""Saya nanti yang tanggung jawab. Jangan khawatir, saya tidak akan membiarkan Mas Arya pecat bapak. Cuma sebentar, pak saya janji."Zalina akhirnya bisa bernafas lega setelah sopir yang ditugaskan Arya untuk mengantarnya kemanapun mengangguk pelan, walau keraguan masih tampak di wajah laki-laki paruh baya tersebut.Tidak membuang-buang waktu lagi, Zalina berjalan cep

  • Pembalasan Istri Bayangan   8. Nomor Aji

    Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S

  • Pembalasan Istri Bayangan   7. Bertanya Pada Mama

    "Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status