Share

5. Orang Yang Setia

Penulis: SashiArumi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-04 12:26:29

"Kalian saling kenal?"

Zalina tidak menjawab. Membiarkan suaminya memikirkan balasan atas pertanyaan tersebut. Sekaligus dia ingin tahu, apakah Arya berani membongkar hubungan mereka atau tidak.

"Iya."

"Dimana?"

"Jangan banyak tanya!"

Zalina mendengus. Dalam hati menertawakan kebodohannya. Dibutakan oleh cinta membuat dia tidak masalah disembunyikan. Astaga, mau-maunya dulu dia tidak diakui istri di depan orang lain. Sungguh bodoh!

"Tapi kamu merasa, kan kalau dia mirip Alana."

Leher Zalina bergerak dengan cepat ketika nama itu disebutkan. Dia lantas menatap pria asing itu dengan kening berkerut dalam. Nama itu lagi. Kecurigaannya bertambah besar kala melihat suaminya mendelik tajam.

"Pergi sana! Temani klien kita!" Arya mendorong temannya tanpa basa-basi, menyebabkan Aji hampir saja terjerembab. Tatapannya masih tajam dan penuh peringatan, hingga tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Aji.

"Kenapa kamu di sini?" geram Arya ketika hanya berdua dengan Zalina.

Amarahnya jelas meningkat. Selain karena keberadaan Zalina yang tiba-tiba berada di depan matanya, juga akibat pertemuan mereka dengan Aji. Ditambah mulut berbahaya temannya itu hampir membocorkan rahasianya.

"Mau makan," jawab Zalina tenang sambil tersenyum manis, guna menutupi hatinya yang bergemuruh hebat.

Ternyata bertemu laki-laki aneh itu tidak buruk juga. Setidaknya ada sedikit jalan sebab ada orang lain yang tahu mengenai sosok Alana tersebut.

"Pulang lah. Makan di rumah!"

"Oke." Masih mempertahankan senyumnya, Zalina pun berbalik tanpa pemberontakan. Namun, yang tidak diketahui Arya adalah ekspresi Zalina yang langsung berubah. Tidak ada lagi senyum, tapi matanya memancarkan amarah yang besar.

Setelah memastikan istrinya keluar dari restoran, Arya bergabung kembali dengan klien dan temannya. Melanjutkan perbincangan mengenai bisnis mereka, sampai setengah jam kemudian tinggal lah dia dan Aji.

"Sumpah, ya perempuan tadi mirip banget sama Alana."

"Diam!" seru Arya. Suaranya pelan, tapi penuh penekanan. Jemarinya sibuk mengirim pesan pada sopirnya, menanyakan keberadaan Zalina yang untungnya sudah dalam perjalanan ke rumah.

"Kamu pasti juga merasa, kan? Apa karena itu kamu mengenalnya? Menganggap dia seperti Alana," ujar Aji yang tidak peduli pada kemarahan temannya. Rasa penasarannya lebih besar.

"Kamu mau pulang, kan? Aku harus balik ke kantor sekarang." Arya berdiri sama sekali tidak memedulikan temannya yang hari ini sebenarnya sedang cuti, tapi karena dia butuh bantuan maka menyuruh Aji menyusul ke pusat perbelanjaan tersebut.

"Kamu kenal sama dia, jadi punya nomer telfonya, kan? Aku minta."

Arya menghentikan langkahnya, lalu menatap laki-laki yang berada di sampingnya. Terus saja bicara hingga membuatnya kesal. Pasalnya, apa yang dibahas Aji bukanlah hal yang dia sukai.

Selama ini dia berhasil menyembunyikan Zalina dengan baik, tapi entah ada apa dengan hari ini tiba-tiba saja rahasianya hampir terbongkar. Tidak! Dia tak akan membiarkan istrinya tahu mengenai apa yang terjadi.

"Nggak punya." Arya kembali melangkah. Kali ini lebih lebar, menyebabkan orang yang berpasasan dengannya memilih menyingkir daripada kena tabrak. Arya jika sedang marah auranya sungguh menyeramkan.

"Jangan bohong. Aku lihat tadi kalian sempat bicara sebentar."

"Memangnya untuk apa kamu minta nomernya?"

"Hanya ingin mengenalnya lebih jauh."

Arya melirik tajam sahabat sekaligus bawahannya di kantor. "Jangan harap!"

"Jadi benar kamu mengenalnya?"

Bukannya memberi jawaban, Arya malah meninggalkan Aji semakin jauh. Suasana hatinya memburuk total, jika tetap disana dan mendengarkan ocehan temannya dia tidak yakin bisa menahan emosi, lalu berakhir memukul Aji.

***

Zalina duduk di ruang tengah dengan televisi di depannya yang menyala, menayangkan sebuah acara gosip. Namun, alih-alih menyaksikan berita viral tersebut dia malah mengedarkan pandangan. Mengamati rumahnya sendiri.

"Bagaimana caranya aku masuk ke ruang kerja itu tanpa terlihat CCTV?" gumamnya sambil menatap kamera yang terletak di pojok ruangan.

Keamanan merupakan salah satu prioritas Arya selama ini, karena itu setiap ruang diberi kamera pengawas. Kecuali ruang pribadi seperti kamar dan ruang kerja laki-laki itu.

"Nggak mungkin, kan aku ngajak dia bercint4 lagi di sana?" lanjut Zalina. "Tapi aku muak sekali dengannya."

Menyandarkan punggungnya, Zalina menatap langit-langit rumah yang tak ada orang lain di dalamnya, selain dia. Suaminya memang menempatkan para pekerja di bangunan lain agar privasi mereka terjaga, katanya.

Namun, sekarang Zalina tahu jika hal itu semata-mata dilakukan agar dia tak mengetahui apapun. "Dasar br3ngsek!"

"Siapa yang br3ngsek?"

Zalina tersentak. Tubuhnya mendadak tegang. Dengan perlahan, dia menengok ke belakang. Matanya terbuka lebar mendapati Arya berdiri di belakangnya.

"Siapa yang membuatmu sampai mengumpat seperti itu?"

Harusnya Zalina bisa dengan lantang mengatakan kamu, tapi karena tak punya bukti apapun yang dia lakukan adalah tersenyum lebar guna menyambut kepulangan suaminya.

Berapa lama dia melamun? Sampai-sampai tak menyadari kehadarian Arya. Bodoh sekali.

"Tumben sudah pulang, Mas?" Zalina berdiri lalu mengambil tas yang dibawa oleh suaminya.

"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"

Zalina berusaha sebaik mungkin tidak berdecak atau memutar bola matanya. Bagaimana pun dia harus bisa membuat suasana hati Arya tetap bagus agar rencananya berjalan lancar.

"Itu artis yang selingkuh," jawab Zalina sembari memperhatikan ekspresi suaminya yang masih datar. Tidak ada perubahan apapun.

"Jangan melihat acara tidak bermutu seperti itu."

"Aku hanya penasaran. Ingin mendengar klarifikasi si pria yang ketangkap basah selingkuh itu."

Pasangan itu kini sama-sama berdiri di belakang sofa, menyaksikan bagaimana artis laki-laki yang namanya cukup terkenal menangis sambil mengucapkan permintaan maaf. Yang paling menyebalkan adalah, artis itu masih mencari pembelaan dengan mengatakan kurang mendapat perhatian dari sang istri.

"Bener-bener br3ngsek!" tanpa sadar Zalina kembali mengumpat. Bukan lagi kesal pada Arya, melainkan kepada artis yang tengah memojokkan sang istri.

"Zalina!" tegur Arya. Matanya mendelik, tidak menyangka istrinya bisa berkata sekasar itu. Padahal selama ini Zalina jika bicara sangat sopan dan lembut.

"Maaf, Mas. Tapi aku jengkel. Bisa-bisanya melakukan pembelaan. Namanya selingkuh tetap saja salah, mau pakai alasan apapun," omel Zalina seolah sosok yang dimarahi berada di hadapannya.

"Tidak usah terlalu dipikirkan. Itu urusan mereka."

"Oh, jadi Mas Arya tipe orang yang mendukung perselingkuhan?" Zalina tak lagi menatap layar televisi, tapi memiringkan tubuh agar bisa berhadapan dengan suaminya.

"Aku tidak bilang seperti itu, hanya saja untuk apa kita mengurusi hal yang tak penting?"

"Bukan mengurusi, aku merasa berempati pada perempuan yang diduakan itu. Heran, kenapa orang selingkuh segala? Bukannya kalau tidak cocok harusnya bilang saja?"

"Entahlah. Aku tidak mengerti hal seperti itu, karena aku adalah orang yang setia."

"Ah, setia ya?" Zalina mengangguk-angguk, seolah percaya ucapan suaminya. Padahal aslinya ingin muntah. 'Lihat saja nanti, jika aku telah menemukan bukti tersebut apa kamu masih bisa membanggakan diri menjadi orang setia?' ujarnya dalam hati.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pembalasan Istri Bayangan   8. Nomor Aji

    Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S

  • Pembalasan Istri Bayangan   7. Bertanya Pada Mama

    "Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende

  • Pembalasan Istri Bayangan   6. Menemukan Bukti

    Gila!Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang.Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya.Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya."Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya."Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu."Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penu

  • Pembalasan Istri Bayangan   5. Orang Yang Setia

    "Kalian saling kenal?"Zalina tidak menjawab. Membiarkan suaminya memikirkan balasan atas pertanyaan tersebut. Sekaligus dia ingin tahu, apakah Arya berani membongkar hubungan mereka atau tidak."Iya.""Dimana?""Jangan banyak tanya!"Zalina mendengus. Dalam hati menertawakan kebodohannya. Dibutakan oleh cinta membuat dia tidak masalah disembunyikan. Astaga, mau-maunya dulu dia tidak diakui istri di depan orang lain. Sungguh bodoh!"Tapi kamu merasa, kan kalau dia mirip Alana."Leher Zalina bergerak dengan cepat ketika nama itu disebutkan. Dia lantas menatap pria asing itu dengan kening berkerut dalam. Nama itu lagi. Kecurigaannya bertambah besar kala melihat suaminya mendelik tajam."Pergi sana! Temani klien kita!" Arya mendorong temannya tanpa basa-basi, menyebabkan Aji hampir saja terjerembab. Tatapannya masih tajam dan penuh peringatan, hingga tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Aji."Kenapa kamu di sini?" geram Arya ketika hanya berdua dengan Zalina. Amarahnya jelas menin

  • Pembalasan Istri Bayangan   4. Pertemuan Tak Terduga

    "Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?""Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya. "Baiklah. Jangan lama-lama."Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya.Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup."Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?"Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik AryaSenyumnya oto

  • Pembalasan Istri Bayangan   3. Permintaan Maaf

    "Zalina buka pintunya!"Pura-pura menulikan telinga, Zalina malah semakin menenggelamkan tubuh pada selimut besar di kamar tersebut. Aroma percintaan mereka bahkan masih tersisa, tapi bukannya berakhir indah seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka tidur sambil bepelukan. Kini pasangan suami istri justru sama-sama dikuasai amarah.Ketukan pintu semakin keras, sampai Zalina takut jika benda tersebut menjadi jebol. Hingga beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar apapun. Sempat mengira jika suaminya pergi, tapi ternyata kembali ada suara yang masuk ke dalam gendang telinga Zalina."Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya. Tapi, besok pagi aku mau semua kembali seperti semula."Tidak ada bujukan. Tidak ada kata-kata manis. Seperti biasa, ancaman lah yang Zalina dapatkan.Menyembunyikan wajah pada bantal, Zalina mulai menangis dengan keras. Mengeluarkan semua sesak yang mendera akibat skenario buruk yang bersarang di otaknya.Dia tidak bisa baik-baik saja setelah suaminya mengucapkan n

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status