แชร์

7. Bertanya Pada Mama

ผู้เขียน: SashiArumi
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-01 09:46:57

"Siapa perempuan itu?"

Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan.

"Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.

Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya.

"Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan.

"Ada Bu Sinta di bawah."

"Lalu?"

Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"

Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mendekatkan diri pada mertuanya. Namun, saat dia sedang malas melakukan itu. Hatinya belum siap karena masalah yang menimpa, yang ada dia bisa tersulut emosi jika mendapat perlakuan dingin dari mertuanya.

"Ya sudah biarkan saja mama mau berbuat apapun. Saya sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa, Bi."

"Oh, baik bu," balas pelayan itu terkejut. Pasalnya selama ini nyonya rumahnya selalu antusias menyambut mertua. "Saya permisi dulu."

"Iya." Zalina menutup pintu kamarnya. Lalu kembali mendudukkan diri pada pinggir tempat tidur. Kembali bergelut dengan pikirannya yang ruwet.

Cukup lama otaknya sibuk berpikir, sampai kemudian sebuah kemungkinan hadir di sana. "Apa mama tahu siapa perempuan itu? Apa aku tanyakan saja? Tapi bagaimana caranya? Selama ini mama bersikap tidak baik padaku."

Tidak lagi duduk Zalina kini berdiri sambil berjalan mondar-mandir, seolah dengan itu misteri mengenai foto yang membuatnya sangat penasaran berhasil terpecahkan. "Sudah lah, lebih baik aku tanya pada mama. Soal dijawab atau tidak urusan nanti, yang penting aku sudah berusaha. Daripada pusing sendiri memikirkan hal ini."

Berganti baju lebih sopan karena siang itu Zalina hanya membalut tubuh dengan celana pendek dan kaos, dia pun lantas keluar kamar. "Dasar Arya kurang ajar! Bisa-bisanya mencari selingkuhan yang mirip denganku," gerutunya dengan hati yang semakin panas.

Ya, kemungkinan itu lah yang ada di pikiran Zalina. Namun, dia tidak bisa bergerak serampangan. Takut Arya bersikap manipulatif, hingga bukannya dapat bukti yang ada dia yang disalahkan.

***

"Terjadi sesuatu padanya?"

"Maksud, Bu Sinta?"

Sinta mengela nafas panjang. "Apa Zalina sedang ada masalah? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini," ujarnya pelan sambil menatap ke lantai atas. Tempat dimana kamar anak dan menantunya berada.

Sedingin apapun sikapnya, Zalina tidak pernah sekalipun menghindar. Selalu menyapanya dengan ramah. Hal yang menyebabkan dia lama-lama tidak tega pada menantunya itu.

Jujur, Sinta sebenarnya tidak benci pada Zalina hanya belum bisa menerima kenyataan jika perempuan itu menjadi menantunya. Belum lagi dia sangat kesal dengan sikap Arya yang membuat keputusan tanpa melibatkannya. Padahal Sinta tahu jika putranya tak benar-benar menyukai Zalina.

"Saya kurang tahu, Bu. Tapi belakangan Bu Zalina memang lebih banyak diam. Bahkan tidak terlalu semangat ketika menyiapkan keperluan bapak."

Sinta mengela nafas panjang. Rumit sekali kisah cinta putranya. Namun, itu semua karena pilihan Arya sendiri. Si keras kepala yang tidak mau mendengar omongannya. "Kalau ada apa-apa bilang sama saya, ya, Bi."

Perempuan yang telah mengabdi lama pada Sinta sebelum diminta menemani keluarga kecil Arya itu mengangguk pelan. Bagaimanapun dia sangat menghormati sang majikan yang selama ini selalu berbuat baik padanya.

Seperti biasanya, Sinta tidak lama berada di rumah berlantai dua tersebut. Hanya itu mengantarkan makanan kesukaan Arya. Ya, sekesal apapun dia pada sang putra tetap saja masih sering memberi perhatian.

Namun, ketika akan meninggalkan dapur langkahnya tertahan oleh sosok yang menyita perhatiannya. Sosok yang sedang menuruni tangga.

"Mau pulang, Ma?"

Sinta mengangguk pelan. Pandangannya tak lepas dari Zalina yang tampak tidak seceria biasanya. Ada yang berbeda dari cara perempuan muda itu menatapnya.

"Sebelum mama pulang, bisa kita bicara sebentar?" pinta Zalina tanpa basa-basi. Otaknya sudah penuh jika harus memulai dengan hal tak penting dulu, lebih baik langsung ke tujuannya.

Lagi-lagi Sinta mengangguk.

"Di teras belakang, tidak apa-apa, kan?"

"Terserah kamu."

Zalina menatap asisten rumah tangga yang selama ini menemaninya, hingga tak merasa terlalu kesepian di rumah akibat Arya yang melarangnya keluar tanpa ijin. "Saya bicara sama mama dulu, ya, Bi. Kalau tidak ada yang penting jangan diganggu."

"Baik, bu."

Halaman kecil yang hanya dihiasi rumput tanpa bunga-bunga cantik itu, menjadi pemandangan Zalina dan Sinta. Hembusan angin tipis yang menerpa mereka memberi sedikit kesejukan ditengah teriknya cuaca.

"Saya tahu selama ini tidak dianggap menantu oleh mama. Bahkan keberadaan saya juga tidak dianggap. Tapi bisakah sekali ini saja mama membantu saya?" Zalina menarik nafas panjang, menghalau rasa gugup yang tiba-tiba menyerang.

"Apa yang kamu inginkan?" tanya Sinta tanpa menatap menantunya. Mencegah Zalina tahu jika dirinya sedang dilanda rasa penasaran yang tinggi. Terlalu aneh ketika mendengar menantunya meminta sesuatu.

"Apa mama kenal siapa perempuan di foto ini?" tanya Zalina sambil meletakkan potret yang di dapatkan dari ruang kerja sang suami, ke atas meja.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pembalasan Istri Bayangan   8. Nomor Aji

    Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S

  • Pembalasan Istri Bayangan   7. Bertanya Pada Mama

    "Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende

  • Pembalasan Istri Bayangan   6. Menemukan Bukti

    Gila!Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang.Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya.Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya."Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya."Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu."Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penu

  • Pembalasan Istri Bayangan   5. Orang Yang Setia

    "Kalian saling kenal?"Zalina tidak menjawab. Membiarkan suaminya memikirkan balasan atas pertanyaan tersebut. Sekaligus dia ingin tahu, apakah Arya berani membongkar hubungan mereka atau tidak."Iya.""Dimana?""Jangan banyak tanya!"Zalina mendengus. Dalam hati menertawakan kebodohannya. Dibutakan oleh cinta membuat dia tidak masalah disembunyikan. Astaga, mau-maunya dulu dia tidak diakui istri di depan orang lain. Sungguh bodoh!"Tapi kamu merasa, kan kalau dia mirip Alana."Leher Zalina bergerak dengan cepat ketika nama itu disebutkan. Dia lantas menatap pria asing itu dengan kening berkerut dalam. Nama itu lagi. Kecurigaannya bertambah besar kala melihat suaminya mendelik tajam."Pergi sana! Temani klien kita!" Arya mendorong temannya tanpa basa-basi, menyebabkan Aji hampir saja terjerembab. Tatapannya masih tajam dan penuh peringatan, hingga tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Aji."Kenapa kamu di sini?" geram Arya ketika hanya berdua dengan Zalina. Amarahnya jelas menin

  • Pembalasan Istri Bayangan   4. Pertemuan Tak Terduga

    "Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?""Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya. "Baiklah. Jangan lama-lama."Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya.Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup."Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?"Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik AryaSenyumnya oto

  • Pembalasan Istri Bayangan   3. Permintaan Maaf

    "Zalina buka pintunya!"Pura-pura menulikan telinga, Zalina malah semakin menenggelamkan tubuh pada selimut besar di kamar tersebut. Aroma percintaan mereka bahkan masih tersisa, tapi bukannya berakhir indah seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka tidur sambil bepelukan. Kini pasangan suami istri justru sama-sama dikuasai amarah.Ketukan pintu semakin keras, sampai Zalina takut jika benda tersebut menjadi jebol. Hingga beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar apapun. Sempat mengira jika suaminya pergi, tapi ternyata kembali ada suara yang masuk ke dalam gendang telinga Zalina."Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya. Tapi, besok pagi aku mau semua kembali seperti semula."Tidak ada bujukan. Tidak ada kata-kata manis. Seperti biasa, ancaman lah yang Zalina dapatkan.Menyembunyikan wajah pada bantal, Zalina mulai menangis dengan keras. Mengeluarkan semua sesak yang mendera akibat skenario buruk yang bersarang di otaknya.Dia tidak bisa baik-baik saja setelah suaminya mengucapkan n

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status