Masuk"Siapa perempuan itu?"
Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya. Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya. "Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan. "Ada Bu Sinta di bawah." "Lalu?" Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?" Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mendekatkan diri pada mertuanya. Namun, saat dia sedang malas melakukan itu. Hatinya belum siap karena masalah yang menimpa, yang ada dia bisa tersulut emosi jika mendapat perlakuan dingin dari mertuanya. "Ya sudah biarkan saja mama mau berbuat apapun. Saya sedang tidak ingin bertemu siapa-siapa, Bi." "Oh, baik bu," balas pelayan itu terkejut. Pasalnya selama ini nyonya rumahnya selalu antusias menyambut mertua. "Saya permisi dulu." "Iya." Zalina menutup pintu kamarnya. Lalu kembali mendudukkan diri pada pinggir tempat tidur. Kembali bergelut dengan pikirannya yang ruwet. Cukup lama otaknya sibuk berpikir, sampai kemudian sebuah kemungkinan hadir di sana. "Apa mama tahu siapa perempuan itu? Apa aku tanyakan saja? Tapi bagaimana caranya? Selama ini mama bersikap tidak baik padaku." Tidak lagi duduk Zalina kini berdiri sambil berjalan mondar-mandir, seolah dengan itu misteri mengenai foto yang membuatnya sangat penasaran berhasil terpecahkan. "Sudah lah, lebih baik aku tanya pada mama. Soal dijawab atau tidak urusan nanti, yang penting aku sudah berusaha. Daripada pusing sendiri memikirkan hal ini." Berganti baju lebih sopan karena siang itu Zalina hanya membalut tubuh dengan celana pendek dan kaos, dia pun lantas keluar kamar. "Dasar Arya kurang ajar! Bisa-bisanya mencari selingkuhan yang mirip denganku," gerutunya dengan hati yang semakin panas. Ya, kemungkinan itu lah yang ada di pikiran Zalina. Namun, dia tidak bisa bergerak serampangan. Takut Arya bersikap manipulatif, hingga bukannya dapat bukti yang ada dia yang disalahkan. *** "Terjadi sesuatu padanya?" "Maksud, Bu Sinta?" Sinta mengela nafas panjang. "Apa Zalina sedang ada masalah? Tidak biasanya dia bersikap seperti ini," ujarnya pelan sambil menatap ke lantai atas. Tempat dimana kamar anak dan menantunya berada. Sedingin apapun sikapnya, Zalina tidak pernah sekalipun menghindar. Selalu menyapanya dengan ramah. Hal yang menyebabkan dia lama-lama tidak tega pada menantunya itu. Jujur, Sinta sebenarnya tidak benci pada Zalina hanya belum bisa menerima kenyataan jika perempuan itu menjadi menantunya. Belum lagi dia sangat kesal dengan sikap Arya yang membuat keputusan tanpa melibatkannya. Padahal Sinta tahu jika putranya tak benar-benar menyukai Zalina. "Saya kurang tahu, Bu. Tapi belakangan Bu Zalina memang lebih banyak diam. Bahkan tidak terlalu semangat ketika menyiapkan keperluan bapak." Sinta mengela nafas panjang. Rumit sekali kisah cinta putranya. Namun, itu semua karena pilihan Arya sendiri. Si keras kepala yang tidak mau mendengar omongannya. "Kalau ada apa-apa bilang sama saya, ya, Bi." Perempuan yang telah mengabdi lama pada Sinta sebelum diminta menemani keluarga kecil Arya itu mengangguk pelan. Bagaimanapun dia sangat menghormati sang majikan yang selama ini selalu berbuat baik padanya. Seperti biasanya, Sinta tidak lama berada di rumah berlantai dua tersebut. Hanya itu mengantarkan makanan kesukaan Arya. Ya, sekesal apapun dia pada sang putra tetap saja masih sering memberi perhatian. Namun, ketika akan meninggalkan dapur langkahnya tertahan oleh sosok yang menyita perhatiannya. Sosok yang sedang menuruni tangga. "Mau pulang, Ma?" Sinta mengangguk pelan. Pandangannya tak lepas dari Zalina yang tampak tidak seceria biasanya. Ada yang berbeda dari cara perempuan muda itu menatapnya. "Sebelum mama pulang, bisa kita bicara sebentar?" pinta Zalina tanpa basa-basi. Otaknya sudah penuh jika harus memulai dengan hal tak penting dulu, lebih baik langsung ke tujuannya. Lagi-lagi Sinta mengangguk. "Di teras belakang, tidak apa-apa, kan?" "Terserah kamu." Zalina menatap asisten rumah tangga yang selama ini menemaninya, hingga tak merasa terlalu kesepian di rumah akibat Arya yang melarangnya keluar tanpa ijin. "Saya bicara sama mama dulu, ya, Bi. Kalau tidak ada yang penting jangan diganggu." "Baik, bu." Halaman kecil yang hanya dihiasi rumput tanpa bunga-bunga cantik itu, menjadi pemandangan Zalina dan Sinta. Hembusan angin tipis yang menerpa mereka memberi sedikit kesejukan ditengah teriknya cuaca. "Saya tahu selama ini tidak dianggap menantu oleh mama. Bahkan keberadaan saya juga tidak dianggap. Tapi bisakah sekali ini saja mama membantu saya?" Zalina menarik nafas panjang, menghalau rasa gugup yang tiba-tiba menyerang. "Apa yang kamu inginkan?" tanya Sinta tanpa menatap menantunya. Mencegah Zalina tahu jika dirinya sedang dilanda rasa penasaran yang tinggi. Terlalu aneh ketika mendengar menantunya meminta sesuatu. "Apa mama kenal siapa perempuan di foto ini?" tanya Zalina sambil meletakkan potret yang di dapatkan dari ruang kerja sang suami, ke atas meja."Apa alasanmu memotong rambut? Dan kenapa tiba-tiba kamu memakai celana pendek dan kaos kedodoran seperti itu?""Karena aku suka," jawab Zalina mantap. Bukannya apa, sebelum menikah gayanya memang seperti itu. Jadi sekarang dia nyaman-nyaman saja."Itu tidak cocok untukmu!""Kan, itu pendapat kamu, Mas. Menurutku cocok saja. Aku kelihatan lebih fresh. Kalau kamu nggak percaya bagaimana jika kita tanya orang lain tentang penampilanku?""Jangan macam-macam!" Membayangkan ada orang lain yang menatap Zalina dengan penampilan seperti itu membuat amarahnya yang tadi mereda, kini timbul kembali. "Besok kita ke salon! Kita buat rambut kamu jadi panjang lagi."Zalina mengerjap. Jadi tadi dirinya ditarik seperti binatang hanya karena mau dibawa ke salon? Luar biasa sekali suaminya! Namun, kali ini dia tidak akan menyerah semudah itu. "Aku nggak mau! Ini tubuhku, kamu nggak berhak ngatur!""Aku suamimu!""Terus kenapa?" tantang Zalina."Kamu harus menurut padaku!""Kurang menurut apa aku selama
"Ada yang salah? Kenapa kamu marah-marah, Mas?" tanya Zalina polos. Pura-pura tidak mengerti alasan kemarahan suaminya."Kamu!" Arya menunjuk Zalina menggunakan jari telunjuknya sebelum membanting paper bag yang dia bawa. Tidak peduli jika isi di dalamnya menjadi rusak. Zalina? Tentu saja kaget. Walaupun bisa menduga jika suaminya pasti mengamuk, tapi tetap saja ada rasa takut yang sebisa mungkin dia sembunyikan.Bahkan Zalina sampai bersedekap agar suaminya tidak tahu bahwa tangannya mulai bergetar. Karena hari ini kemarahan Arya tidak seperti yang dulu-dulu."Apa yang kamu lakukan, Zalina?!""Tenang, Mas. Coba jelaskan pelan-pelan."Tangan Arya terkepal erat. Kejutan yang diberikan istrinya sudah membuat jantungnya hampir lepas. "Kenapa kamu memotong rambut?" tanya dingin dan penuh penekanan."Oh, ini?" Alana memegang rambutnya yang dipangkas hingga bahu. Tidak rapi, tapi memang tujuannya bukan untuk terlihat cantik melainkan ingin membuat Arya marah. "Gimana cantikkan?" tanyanya s
"Arya kurang ajar!" Zalina mengusap pipinya dengan kasar. Padahal dia telah berusaha kuat menahannya, tapi air mata sialan itu tetap saja keluar. Ya, ternyata dia sekuat itu. Lagipula siapa yang tidak sakit hati saat tahu hanya dijadikan pelarian?"Sial! Jadi selama ini dia menganggapku Alana saat kami berhubungan badan?" Umpatan terus keluar dari bibir tipis Alana, mengingat beberapa kali suaminya pernah menyebut nama perempuan itu setelah mereka baru saja saling berbagi peluh.Bodohnya kala itu Zalina percaya saja saat Arya berkata dirinya salah dengar. Sungguh, cinta telah membuatnya buta selama ini.Melempar bantal untuk menyalurkan rasa kesal, Zalina lantas berjalan ke arah lemari setelah sukses mengacak-acak tempat tidur.Tatapannya sangat nanar saat menyaksikan baju-bajunya yang tersusun rapi. "Jadi selama ini maksud kamu menyuruhku memakai baju-baju yang terkesan feminim karena ingin membuatku menjadi seperti Alana? Benar-benar kurang ajar!"Membanting pintu lemari hingga menc
"Tapi, bu ... bagaimana kalau Pak Arya tahu?""Makanya saya bilang tadi, rahasikan masalah ini. Tenang saja Mas Arya tidak akan tahu kalau bapak tidak bilang."Zalina tersenyum penuh ketegasan, berusaha meyakinkan sopirnya bahwa semua akan baik-baik saja. Meski sebenarnya dia ketar-ketir juga, tapi dalam hati berdoa semoga sang suami tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Lagipula meski punya usaha sendiri dan menjadi bos di perusahannya, sang suami bukan old money yang menghamburkan uang untuk menyewa orang yang bisa mengikutinya. Zalina bisa sedikit tenang dengan kenyataan tersebut."Kalau saya dipecat bagaimana, bu?""Saya nanti yang tanggung jawab. Jangan khawatir, saya tidak akan membiarkan Mas Arya pecat bapak. Cuma sebentar, pak saya janji."Zalina akhirnya bisa bernafas lega setelah sopir yang ditugaskan Arya untuk mengantarnya kemanapun mengangguk pelan, walau keraguan masih tampak di wajah laki-laki paruh baya tersebut.Tidak membuang-buang waktu lagi, Zalina berjalan cep
Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S
"Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende







