Share

6. Menemukan Bukti

Author: SashiArumi
last update Last Updated: 2025-12-08 08:32:44

Gila!

Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang.

Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya.

Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya.

"Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya.

"Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu.

"Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penuh godaan, meski dalam hati ingin muntah mendengarkan suaranya sendiri. "Masih lama, Mas?"

Arya berdeham sebagai jawaban. Menolak mengakui jika dirinya tidak bisa lagi fokus gara-gara ulah Zalina. Pasalnya, selama ini istrinya tidak pernah memakai baju kurang bahan itu atas inisiatif sendiri. Selalu dia yang meminta.

Dan apa sekarang? Zalina menggunakannya tanpa perintah. Tiba-tiba datang padanya dengan pakaian yang menyebabkan tubuh Arya panas dingin.

"Capek, nggak?" Zalina beralih ke belakang suaminya. Mengusap pelan bahu lebar yang dulu sangat dia sukai.

Kalau di pikir-pikir tubuh Arya memang proposional. Tidak sekekar binaragawan memang, tapi cukup mampu membuat wanita tergila-gila. Termasuk Zalina yang dengan bodohnya rela saja memperoleh perlakuan yang sebenarnya tidak baik.

"Aku pijat, ya."

"Terserah!" Arya mengeram pelan kala merasakan pijatan lembut Zalina.

Entah berapa lama tindakan itu dilakukan sang istri, yang jelas Arya mulai kewalahan mengendalikan diri. Lalu dengan sekuat tenaga menarik tangan Zalina. Membawa perempuan itu duduk di pangkuannya.

Tanpa membiarkan Zalina mencerna apa yang terjadi, Arya langsung menyerang. Bahkan tak melepaskan tautan mereka walaupun sang istri memukul bahunya, memberi kode jika ingin menarik nafas lebih dulu. Barulah setelah puas, dia merenggangkan jarak di antara mereka.

Arya tidak bisa menahannya lagi ketika melihat wajah istrinya yang merah padam dan bibir bengkak karena ulahnya, tapi saat akan kembali memupus jarak tubuhnya ditahan oleh tangan mungil Zalina. "Kenapa?" erangnya tidak terima.

"Jangan di sini. Pindah ke sofa saja. Badanku sakit kalau di kursi ini."

Tidak butuh waktu lama dan tanpa mendebat, Arya pun mengangkat tubuh sang istri. Membaringkannya di sofa lalu menjalankan aksinya. Arya melakukannya seperti orang yang baru pertama kali merasakan surga dunia, sebab dia seolah tidak puas ingin lagi dan lagi.

Sementara itu Zalina memilih memejamkan mata agar tidak melihat wajah Arya yang membuatnya muak. Keinginan mendorong suaminya menjauh tentu ada, tapi dia menahan sekuat mungkin.

Entah berapa lama permainan itu berlangsung, yang pasti Arya tertidur selepas ambruk di atas Zalina beberapa menit lalu.

"Astaga, berat banget," desis Zalina kesal sambil berusaha melepaskan tangan dan kaki Arya yang membelitnya.

Begitu berhasil melepaskan diri Zalina sontak berdecak merasakan tubuhnya yang sangat pegal. Mengambil jubah untuk menutupi tubuh polosnya karena lingerie yang tadi dia pakai telah tercecer mengenaskan di atas lantai akibat disobek oleh Arya.

Berjalan mengendap-endap agar tidak membangunkan sang suami, Zalina bergerak cepat mencari kunci yang beberapa waktu dia lihat di dekat kotak bolpoin Arya. Namun, kali ini tidak ada di sana.

"Di mana dia menyimpannya?" gerutu Zalina mulai panik. Lalu dia bisa bernafas lega saat menemukan benda tersebut menempel di laci paling bawah.

Memutar kunci tersebut lantas Zalina menarik laci dengan sangat pelan. "Mari kita lihat apa yang kamu sembunyikan, Mas?"

Walaupun sangat penasaran, nyatanya Zalina pun ketakutan pada kenyataan yang akan dia dapatkan. Bagaimanapun diselingkuhi itu bukan hal yang menyenangkan. Pasti rasanya sangat menyakitkan. Karena sekarang pun belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, hatinya telah merasa nyeri.

"Eh, kok aku fotoku?" gumam Zalina. Lalu mengeluarkan pigura kecil itu dari laci. Namun, tidak hanya satu ada banyak foto di sana. Bahkan ada juga potret Arya yang tersenyum lebar sambil merangkulnya. "Eh, ini beneran aku? Tapi kenapa aku nggak pernah merasa foto seperti ini?"

Zalina terus memperhatikan foto-foto tersebut satu per satu sembari menggali ingatan. Mencari tahu kapan tepatnya potret tersebut diambil. "Aku benar-benar nggak ingat, lagipula sejak kapan Mas Arya bisa tersenyum selebar itu? Selama ini juga kalau diajak foto mukanya datar kayak triplek."

Suara erangan pelan yang terdengar jelas karena ruangan itu benar-benar sepi, menyebabkan Zalina panik dan gegas merapikan kembali barang-barang suaminya. Tidak lupa mengambil satu foto lalu menyimpannya dalam saku. Setelah itu kembali bergabung bersama Arya di sofa sempit yang menjadi saksi bisu kegiatan panas mereka.

"Darimana?"

Jantung Zalina seolah mau copot kala mendengar suara serak itu. Tubuhnya mendadak kaku. Tidak mungkin, kan Arya tahu jika dirinya tadi sempat pergi?

Zalina baru bisa tenang ketika Arya kembali tertidur sambil memeluknya erat. Sepertinya suaminya itu tengah bermimpi.

Mengubah posisi menjadi miring, Zalina tatap laki-laki yang tengah tertidur pulas itu. Tampak polos dibandingkan ketika bangun yang terlihat menyeramkan. "Sebenarnya itu foto siapa, Mas? Tidak mungkin aku, kan karena aku tak pernah merasa foto seperti itu. Tapi kalau bukan aku, siapa dia?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Istri Bayangan   8. Nomor Aji

    Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S

  • Pembalasan Istri Bayangan   7. Bertanya Pada Mama

    "Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende

  • Pembalasan Istri Bayangan   6. Menemukan Bukti

    Gila!Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang.Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya.Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya."Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya."Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu."Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penu

  • Pembalasan Istri Bayangan   5. Orang Yang Setia

    "Kalian saling kenal?"Zalina tidak menjawab. Membiarkan suaminya memikirkan balasan atas pertanyaan tersebut. Sekaligus dia ingin tahu, apakah Arya berani membongkar hubungan mereka atau tidak."Iya.""Dimana?""Jangan banyak tanya!"Zalina mendengus. Dalam hati menertawakan kebodohannya. Dibutakan oleh cinta membuat dia tidak masalah disembunyikan. Astaga, mau-maunya dulu dia tidak diakui istri di depan orang lain. Sungguh bodoh!"Tapi kamu merasa, kan kalau dia mirip Alana."Leher Zalina bergerak dengan cepat ketika nama itu disebutkan. Dia lantas menatap pria asing itu dengan kening berkerut dalam. Nama itu lagi. Kecurigaannya bertambah besar kala melihat suaminya mendelik tajam."Pergi sana! Temani klien kita!" Arya mendorong temannya tanpa basa-basi, menyebabkan Aji hampir saja terjerembab. Tatapannya masih tajam dan penuh peringatan, hingga tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut Aji."Kenapa kamu di sini?" geram Arya ketika hanya berdua dengan Zalina. Amarahnya jelas menin

  • Pembalasan Istri Bayangan   4. Pertemuan Tak Terduga

    "Mas mandi dulu sana, sarapannya sudah disiapkan sama Bi Siti."Arya mengangguk. Dengan terpaksa dia lepaskan pelukannya pada sang istri. Rasanya masih ingin berduaan, tapi benar apa yang dikatakan Zalina ada pekerjaan yang telah menunggu. "Bajuku sudah kamu siapkan?""Mas duluan saja, setelah ini aku siapkan. Mau ambil gelas kotor itu." Zalina menunjuk meja kerja Arya. "Baiklah. Jangan lama-lama."Zalina mengangguk. Matanya tak lepas dari setiap pergerakan sang suami, sampai kemudian begitu pintu tertutup dia langsung berlari ke arah meja kerja dengan tumpukan dokumen di atasnya.Tidak seperti apa yang dia katakan sebelumnya, tujuan utamanya bukan gelas kotor. Melainkan empat laci yang semuanya tertutup."Sial!" umpatnya ketika mencoba membuka laci, tapi hasilnya nihil. Semuanya terkunci rapat. "Dimana Mas Arya meletakkan kuncinya?"Dengan gesit Zalina mencari benda yang dibutuhkannya di atas meja. Bahkan sampai membuka semua dokumen dan menyingkirkan laptop milik AryaSenyumnya oto

  • Pembalasan Istri Bayangan   3. Permintaan Maaf

    "Zalina buka pintunya!"Pura-pura menulikan telinga, Zalina malah semakin menenggelamkan tubuh pada selimut besar di kamar tersebut. Aroma percintaan mereka bahkan masih tersisa, tapi bukannya berakhir indah seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka tidur sambil bepelukan. Kini pasangan suami istri justru sama-sama dikuasai amarah.Ketukan pintu semakin keras, sampai Zalina takut jika benda tersebut menjadi jebol. Hingga beberapa saat kemudian tidak lagi terdengar apapun. Sempat mengira jika suaminya pergi, tapi ternyata kembali ada suara yang masuk ke dalam gendang telinga Zalina."Oke. Kalau kamu tidak mau membukanya. Tapi, besok pagi aku mau semua kembali seperti semula."Tidak ada bujukan. Tidak ada kata-kata manis. Seperti biasa, ancaman lah yang Zalina dapatkan.Menyembunyikan wajah pada bantal, Zalina mulai menangis dengan keras. Mengeluarkan semua sesak yang mendera akibat skenario buruk yang bersarang di otaknya.Dia tidak bisa baik-baik saja setelah suaminya mengucapkan n

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status