LOGINGila!
Satu kata yang menggambarkan aksi nekat Zalina saat ini. Bagaimana tidak, setelah menyingkirkan rasa malu dia memasuki ruang kerja Arya sambil memakai lingerie yang dibalut jubah panjang. Tidak hanya itu, lipstik merah yang digunakan semakin tampak menggoda bagi siapapun yang melihat, termasuk Arya yang langsung terpaku di depan meja kerjanya. Setiap langkah Zalina tidak luput dari perhatian Arya. Dokumen yang berserakan di meja tak lagi menarik minatnya, di matanya hanya ada sang istri. Bibir merah, rambut tergerai indah, lekuk tubuh yang terlihat ketika Zalina menggerakkan tubuh sungguh menganggu fokusnya. "Masih lama, Mas?" Zalina menyandarkan satu tangan di atas meja. Tubuhnya sedikit membungkuk agar wajahnya semakin dekat dengan suaminya. "Kenapa?" Arya menatap tepat di mata sang istri, meski rasanya ingin langsung menyerang perempuan yang sedang memamerkan kulit yang mulus itu. "Tidak apa-apa, hanya saja aku nggak bisa tidur makanya menyusul ke sini." Zalina tersenyum penuh godaan, meski dalam hati ingin muntah mendengarkan suaranya sendiri. "Masih lama, Mas?" Arya berdeham sebagai jawaban. Menolak mengakui jika dirinya tidak bisa lagi fokus gara-gara ulah Zalina. Pasalnya, selama ini istrinya tidak pernah memakai baju kurang bahan itu atas inisiatif sendiri. Selalu dia yang meminta. Dan apa sekarang? Zalina menggunakannya tanpa perintah. Tiba-tiba datang padanya dengan pakaian yang menyebabkan tubuh Arya panas dingin. "Capek, nggak?" Zalina beralih ke belakang suaminya. Mengusap pelan bahu lebar yang dulu sangat dia sukai. Kalau di pikir-pikir tubuh Arya memang proposional. Tidak sekekar binaragawan memang, tapi cukup mampu membuat wanita tergila-gila. Termasuk Zalina yang dengan bodohnya rela saja memperoleh perlakuan yang sebenarnya tidak baik. "Aku pijat, ya." "Terserah!" Arya mengeram pelan kala merasakan pijatan lembut Zalina. Entah berapa lama tindakan itu dilakukan sang istri, yang jelas Arya mulai kewalahan mengendalikan diri. Lalu dengan sekuat tenaga menarik tangan Zalina. Membawa perempuan itu duduk di pangkuannya. Tanpa membiarkan Zalina mencerna apa yang terjadi, Arya langsung menyerang. Bahkan tak melepaskan tautan mereka walaupun sang istri memukul bahunya, memberi kode jika ingin menarik nafas lebih dulu. Barulah setelah puas, dia merenggangkan jarak di antara mereka. Arya tidak bisa menahannya lagi ketika melihat wajah istrinya yang merah padam dan bibir bengkak karena ulahnya, tapi saat akan kembali memupus jarak tubuhnya ditahan oleh tangan mungil Zalina. "Kenapa?" erangnya tidak terima. "Jangan di sini. Pindah ke sofa saja. Badanku sakit kalau di kursi ini." Tidak butuh waktu lama dan tanpa mendebat, Arya pun mengangkat tubuh sang istri. Membaringkannya di sofa lalu menjalankan aksinya. Arya melakukannya seperti orang yang baru pertama kali merasakan surga dunia, sebab dia seolah tidak puas ingin lagi dan lagi. Sementara itu Zalina memilih memejamkan mata agar tidak melihat wajah Arya yang membuatnya muak. Keinginan mendorong suaminya menjauh tentu ada, tapi dia menahan sekuat mungkin. Entah berapa lama permainan itu berlangsung, yang pasti Arya tertidur selepas ambruk di atas Zalina beberapa menit lalu. "Astaga, berat banget," desis Zalina kesal sambil berusaha melepaskan tangan dan kaki Arya yang membelitnya. Begitu berhasil melepaskan diri Zalina sontak berdecak merasakan tubuhnya yang sangat pegal. Mengambil jubah untuk menutupi tubuh polosnya karena lingerie yang tadi dia pakai telah tercecer mengenaskan di atas lantai akibat disobek oleh Arya. Berjalan mengendap-endap agar tidak membangunkan sang suami, Zalina bergerak cepat mencari kunci yang beberapa waktu dia lihat di dekat kotak bolpoin Arya. Namun, kali ini tidak ada di sana. "Di mana dia menyimpannya?" gerutu Zalina mulai panik. Lalu dia bisa bernafas lega saat menemukan benda tersebut menempel di laci paling bawah. Memutar kunci tersebut lantas Zalina menarik laci dengan sangat pelan. "Mari kita lihat apa yang kamu sembunyikan, Mas?" Walaupun sangat penasaran, nyatanya Zalina pun ketakutan pada kenyataan yang akan dia dapatkan. Bagaimanapun diselingkuhi itu bukan hal yang menyenangkan. Pasti rasanya sangat menyakitkan. Karena sekarang pun belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, hatinya telah merasa nyeri. "Eh, kok aku fotoku?" gumam Zalina. Lalu mengeluarkan pigura kecil itu dari laci. Namun, tidak hanya satu ada banyak foto di sana. Bahkan ada juga potret Arya yang tersenyum lebar sambil merangkulnya. "Eh, ini beneran aku? Tapi kenapa aku nggak pernah merasa foto seperti ini?" Zalina terus memperhatikan foto-foto tersebut satu per satu sembari menggali ingatan. Mencari tahu kapan tepatnya potret tersebut diambil. "Aku benar-benar nggak ingat, lagipula sejak kapan Mas Arya bisa tersenyum selebar itu? Selama ini juga kalau diajak foto mukanya datar kayak triplek." Suara erangan pelan yang terdengar jelas karena ruangan itu benar-benar sepi, menyebabkan Zalina panik dan gegas merapikan kembali barang-barang suaminya. Tidak lupa mengambil satu foto lalu menyimpannya dalam saku. Setelah itu kembali bergabung bersama Arya di sofa sempit yang menjadi saksi bisu kegiatan panas mereka. "Darimana?" Jantung Zalina seolah mau copot kala mendengar suara serak itu. Tubuhnya mendadak kaku. Tidak mungkin, kan Arya tahu jika dirinya tadi sempat pergi? Zalina baru bisa tenang ketika Arya kembali tertidur sambil memeluknya erat. Sepertinya suaminya itu tengah bermimpi. Mengubah posisi menjadi miring, Zalina tatap laki-laki yang tengah tertidur pulas itu. Tampak polos dibandingkan ketika bangun yang terlihat menyeramkan. "Sebenarnya itu foto siapa, Mas? Tidak mungkin aku, kan karena aku tak pernah merasa foto seperti itu. Tapi kalau bukan aku, siapa dia?""Apa alasanmu memotong rambut? Dan kenapa tiba-tiba kamu memakai celana pendek dan kaos kedodoran seperti itu?""Karena aku suka," jawab Zalina mantap. Bukannya apa, sebelum menikah gayanya memang seperti itu. Jadi sekarang dia nyaman-nyaman saja."Itu tidak cocok untukmu!""Kan, itu pendapat kamu, Mas. Menurutku cocok saja. Aku kelihatan lebih fresh. Kalau kamu nggak percaya bagaimana jika kita tanya orang lain tentang penampilanku?""Jangan macam-macam!" Membayangkan ada orang lain yang menatap Zalina dengan penampilan seperti itu membuat amarahnya yang tadi mereda, kini timbul kembali. "Besok kita ke salon! Kita buat rambut kamu jadi panjang lagi."Zalina mengerjap. Jadi tadi dirinya ditarik seperti binatang hanya karena mau dibawa ke salon? Luar biasa sekali suaminya! Namun, kali ini dia tidak akan menyerah semudah itu. "Aku nggak mau! Ini tubuhku, kamu nggak berhak ngatur!""Aku suamimu!""Terus kenapa?" tantang Zalina."Kamu harus menurut padaku!""Kurang menurut apa aku selama
"Ada yang salah? Kenapa kamu marah-marah, Mas?" tanya Zalina polos. Pura-pura tidak mengerti alasan kemarahan suaminya."Kamu!" Arya menunjuk Zalina menggunakan jari telunjuknya sebelum membanting paper bag yang dia bawa. Tidak peduli jika isi di dalamnya menjadi rusak. Zalina? Tentu saja kaget. Walaupun bisa menduga jika suaminya pasti mengamuk, tapi tetap saja ada rasa takut yang sebisa mungkin dia sembunyikan.Bahkan Zalina sampai bersedekap agar suaminya tidak tahu bahwa tangannya mulai bergetar. Karena hari ini kemarahan Arya tidak seperti yang dulu-dulu."Apa yang kamu lakukan, Zalina?!""Tenang, Mas. Coba jelaskan pelan-pelan."Tangan Arya terkepal erat. Kejutan yang diberikan istrinya sudah membuat jantungnya hampir lepas. "Kenapa kamu memotong rambut?" tanya dingin dan penuh penekanan."Oh, ini?" Alana memegang rambutnya yang dipangkas hingga bahu. Tidak rapi, tapi memang tujuannya bukan untuk terlihat cantik melainkan ingin membuat Arya marah. "Gimana cantikkan?" tanyanya s
"Arya kurang ajar!" Zalina mengusap pipinya dengan kasar. Padahal dia telah berusaha kuat menahannya, tapi air mata sialan itu tetap saja keluar. Ya, ternyata dia sekuat itu. Lagipula siapa yang tidak sakit hati saat tahu hanya dijadikan pelarian?"Sial! Jadi selama ini dia menganggapku Alana saat kami berhubungan badan?" Umpatan terus keluar dari bibir tipis Alana, mengingat beberapa kali suaminya pernah menyebut nama perempuan itu setelah mereka baru saja saling berbagi peluh.Bodohnya kala itu Zalina percaya saja saat Arya berkata dirinya salah dengar. Sungguh, cinta telah membuatnya buta selama ini.Melempar bantal untuk menyalurkan rasa kesal, Zalina lantas berjalan ke arah lemari setelah sukses mengacak-acak tempat tidur.Tatapannya sangat nanar saat menyaksikan baju-bajunya yang tersusun rapi. "Jadi selama ini maksud kamu menyuruhku memakai baju-baju yang terkesan feminim karena ingin membuatku menjadi seperti Alana? Benar-benar kurang ajar!"Membanting pintu lemari hingga menc
"Tapi, bu ... bagaimana kalau Pak Arya tahu?""Makanya saya bilang tadi, rahasikan masalah ini. Tenang saja Mas Arya tidak akan tahu kalau bapak tidak bilang."Zalina tersenyum penuh ketegasan, berusaha meyakinkan sopirnya bahwa semua akan baik-baik saja. Meski sebenarnya dia ketar-ketir juga, tapi dalam hati berdoa semoga sang suami tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Lagipula meski punya usaha sendiri dan menjadi bos di perusahannya, sang suami bukan old money yang menghamburkan uang untuk menyewa orang yang bisa mengikutinya. Zalina bisa sedikit tenang dengan kenyataan tersebut."Kalau saya dipecat bagaimana, bu?""Saya nanti yang tanggung jawab. Jangan khawatir, saya tidak akan membiarkan Mas Arya pecat bapak. Cuma sebentar, pak saya janji."Zalina akhirnya bisa bernafas lega setelah sopir yang ditugaskan Arya untuk mengantarnya kemanapun mengangguk pelan, walau keraguan masih tampak di wajah laki-laki paruh baya tersebut.Tidak membuang-buang waktu lagi, Zalina berjalan cep
Nafas Sinta tercekat. Dia jelas tahu siapa sosok perempuan dalam foto tersebut. Semirip apapun perempuan itu dengan Zalina, dia tetap bisa membedakannya.Menarik nafas panjang, Sinta berusaha mengubah ekspresinya menjadi datar seperti sedia kala. "Bukankah itu kamu?" tanyanya ingin menguji sejauh mana sang menantu tahu apa yang terjadi."Mirip banget, ya Ma?" Zalina balik bertanya. Tadi dirinya bisa melihat bagaimana raut terkejut lawan bicaranya meski hanya sesaat. Dari itu dia bisa menyimpulkan jika mertuanya tahu sesuatu. "Tapi, itu bukan saya. Lagipula saya merasa tidak pernah berfoto dengan Mas Arya di tempat itu.""Lalu darimana kamu mendapatkannya?"Zalina mengedikkan bahu. Enggan menjawab. "Jadi? Mama tahu atau tidak siapa perempuan itu?""Mama tahu." Sinta mengangguk pelan, mengaku. Sudut hatinya merasa tidak tega jika terus menyembunyikan rahasia tersebut. Pandangannya bertemu dengan mata Zalina yang tidak terbaca. Apa mungkin perubahan menantunya gara-gara hal tersebut?"S
"Siapa perempuan itu?" Pertanyaan kesekian yang Zalina lontarkan untuk dirinya sendiri, tapi belum juga menemukan jawaban. "Itu bukan aku," gumamnya penuh keyakinan. "Tapi kenapa mirip?" Zalina mengacak rambutnya kesal. "Lama-lama bisa gila aku jika seperti ini terus," lanjutnya sembari menatap foto yang berada di tangannya.Larut dalam pikiran yang tak kunjung memperoleh pencerahan, Zalina dikagetkan oleh ketukan pintu. Dengan cepat dia menyimpan foto tersebut agar tidak sampai diketahui oleh Arya."Ada apa?" tanya Zalina pada pelayan yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Tampak perempuan paruh baya di depannya menunduk takut. Suasana hatinya sedang buruk, hingga untuk tersenyum pun enggan."Ada Bu Sinta di bawah.""Lalu?"Pelayan yang awalnya bekerja pada Sinta lalu diminta Arya bekerja di rumah itu terlihat gelagapan. "Bukannya selama ini kalau Bu Sinta datang kemari, saya disuruh memberitahu ibu?"Zalina mengela nafas panjang. Biasanya memang seperti itu karena dia ingin mende







