Mag-log inRaja tersenyum melihat ke dua perempuan itu pergi, dia merasa jika Raline adalah perempuan yang menarik. Walau terkesan jutek dan galak, tapi dia adalah orang yang baik. Terbukti, dia begitu protektif terhadap Rani. Raja sedikitnya tahu, masalah apa yang telah Rani hadapi. Dia merasa jika Raline bersikap begitu, hanya untuk melindungi Rani. Dan dia merasa kagum kepadanya. Raja pulang dengan perasaan bahagia, bisa mengenal perempuan cantik bernama Raline. Yang kebetulan adalah sahabat dari teman masa kecilnya dulu. ***** Sementara itu, Rani dan Raline yang berada dalam satu mobil sedang mengobrol dengan santai. Lebih tepatnya Rani lah yang bersikap santai, tapi Raline masih banyak marah dan kesal kepada Raja. "Lu gak usah marah-matah begitu kali, jangan terlalu benci sama orang, ntar yang ada lu jatuh cinta sama dia lagi." Ucap Rani mengingatkan Raline. "Apaan, gak mungkin lah gue suka sama cowok yang begituan, lagian kayaknya dia suka sama elu deh Ran." Raline asal meneba
"Alhmdulillah, acaranya berjalan dengan lancar." Ucap Rani Raline masih berkaca-kaca melihat penampilan sahabatnya. "Selamat ya, akhirnya lu jadi diri lu sendiri tanpa harus menutupi siapa jati diri lu yang sebenernya." "Iya, gue juga gak nyangka akhirnya bisa nunjukin jati diri gue. Dulu harus menutupi apa yang gue miliki, sampai harus pura-pura miskin." Rani menghela nafas. Raline langsung memanyunkan bibirnya. "Demi cowok yang gak punya apa-apa, lu harus pura-pura miskin, dan harus hemat bahkan nahan diri buat belanja makanan doang." Rani tersenyum dan mencubit pipi Raline. "Udah, sekarang kan udah lepas dari dia. Gue udah bisa jadi diri gue sendiri, gak perlu lagi berurusan sama mereka." Setelah acara selesai dan mereka berdua bersiap untuk pulang, Raja menghampiri dengan membawa buket bunga mawar berwarna merah muda. "Rani, selamat ya, kamu hebat banget bisa jadi designer terkenal." Rani sedikit terkejut saat melihat Raja, "Kamu tahun dari mana aku ada di sini?"
Pagi itu Rani bersiap untuk pergi ke kantor, seperti biasa dia mandi dan bersiap, mampir di tepi jalan untuk kembali sarapan. Semenjak mertuanya meninggal, perasaan Rani menjadi tidak sama lagi. Dia sudah melepas semua dendam kepada Tedi dan juga Indi, walaupun rasa bencinya terhadap Indi masih melekat, karena Indi masih saja menuduhnya ingin mendekati Tedi. Padahal jika diberi secara GRATIS pun Rani tidak akan pernah mau memungut sampah bekas orang lain. Jika ingat hal itu, maka perut Rani akan merasa mual. Karena sikap menjijikan dari Indi, terlalu berlebihan. Pekerjaan nya tidak bisa dia tinggalkan, apalagi semenjak bekerja sama dengan perusahaan asing yang luar biasa. Rani begitu sibuk dalam beberapa minggu, setelah semua kesepakatan tercapai, dan design sudah diluncurkan dan sudah berhasil diproduksi, perayaan kerja sama pun disiarkan langsung di televisi. Pada saat itu, Rani memutuskan untuk menunjukan diri sebagai seorang designer muda yang berbakat, yang dulunya se
Seketika tubuh Indi menegang, wajah yang ada di dalam televisi, adalah wajah yang dulu pernah dia hina. Ternyata identisan Rani yang sebenarnya sangat luar biasa, tidak sesederhana yang dia kira. Dulu Indi pikir kalau dia akan dengan gampang, mengalahkan Rani, karena dia hanyalah ibu rumah tangga biasa. Perempuan yang tidak punya penghasilan, juga tidak bisa memberikan keturunan. Tapi ternyata, semua dugaan nya sangat salah. Rani bukan orang sembarangan, bahkan tidak bisa dia jangkau sedikitpun. Kedudukan nya jauh sangat berbeda, bagaikan langit dan bumi. Rani mempunyai karir yang gemilang, kekayaan nya juga tidak dapat mereka bayangkan. Tedi mulai gemetar, dia merasa langit telah runtuh. Sudah mendapat kejutan saat tahu bahwa Rani pemilik pabrik, dan sekarang, bahkan identitas tersembunyi Rani lebih menghebohkan lagi. Rani bahkan tidak pernah mengatakan semua itu, dia terus menyembunyikan nya selama bersama Tedi. "Kenapa aku gak pernah tahu kalau arani sehebat itu?
Tedi membawa Indi ke rumah yang telah kontrak, saat dia bekerja menjadi kuli bangunan. Kontrakan kecil yang sering disebut rumah petakan. Indi melihat kontrakan yang akan dia tempati, dan langsung mundur beberapa langkah. Dia pikir kalau dia akan tinggal di rumah yang dulu pernah mereka tempati. Tapi saat sampei di tempat, ternyata hanya rumah petak kecil yang bahkan tidak ada ruang tamu, tapi langsung kamar dan di belakang ada dapur kecil, juga kamar mandi. "Mas, kamu gak salah kan bawa aku ke sini?" "Ya gak lah, ini tempat aku tinggal selama ini. Setelah ayah kamu ngehina aku, aku pergi gak balik ke rumah ibu, tapi aku ngontrak di sini." Indi terdiam, dia tidka Terima harus hidup susah kembali seperti dulu. "Mas, kenapa kita gak tinggal di rumah ibu kamu aja? Di sana kan gak perlu bayar, rumahnya juga lumayan luas lagi." Tedi hanya bisa menahan rasa kesalnya. "Kalau kita tinggal di sana, yang ada kamu terus nyari masalah sama Tari. Adik kandung aku aja kamu cemburuin,
Tari masih tidak percaya bahwa ternyata Rani itu orang kaya, kalau dia ingat-ingat, wajar jika Rani orang kaya. Tubuh indah, wajah cantik dan kulit mulus Rani memang sudah dia punya sejak gadis, tapi biasanya jika sudah menikah, apalagi dengan laki-laki yang gaji nya hanya sekedar cukup untuk makan saja, tidak mungkin dia bisa tetap mempertahankan kecantikan nya itu. Rani juga tidak pernah kekurangan uang, malah selalu membantu mereka. Jualan online tidak mungkin bisa dengan gampang mengeluarkan uang puluhan juta, karena pasti mengumpulkan nya pun akan cukup banyak usaha. Setiap uang yang dikeluarkan Rani untuk dia dan ibunya, memang melebihi gaji kakak nya. Tapi dia dan kakak nya tidak pernah sadar akan kelebihan Rani selama ini, ternyata latar belakang Rani bukan orang biasa. "Mas, kamu rugi besar, soalnya udah ngelepas CEO cantik, buat buruh pabrik jelek. Hahahahaha.. " Tawa Tari mengundang tanya untuk Indi. 'Kenapa perempuan itu tertawa sendirian? Jangan-jangan dia gil







