Teilen

Bab 3

Keisha
Saat Arizo mengangkat kepala dan melihat perempuan yang berdiri di depan pintu, dia sempat tertegun sejenak, tidak langsung mengenalinya. Baru setelah Elara membuka mulut dan menyapa "Profesor Arizo", Arizo menahan ekspresinya, lalu berkata, "Kamu sudah datang."

Elara melepas masker dan masuk ke kantor. "Profesor Arizo, lama nggak bertemu."

Arizo tersenyum lembut. "Lama nggak bertemu. Hampir saja aku nggak mengenalimu."

Elara tersenyum getir dan berkata, "Dengan kondisiku sekarang ini, aku sendiri saja merasa malu menemuimu."

Arizo bangkit, berjalan mengitari meja kerjanya, lalu berkata, "Saat hamil, bentuk tubuh berubah itu wajar. Setelah melahirkan nanti akan membaik. Duduklah."

Elara duduk di sofa.

Arizo menuangkan segelas air hangat dan menyerahkannya kepadanya. "Hangatkan badan."

Elara menerimanya. "Terima kasih."

Arizo melirik perutnya yang membuncit dan bertanya, "Sudah berapa bulan?"

Elara menjawab, "Enam bulan satu minggu."

Arizo berkata, "Kalau begitu, saat mulai kuliah akhir Januari tahun depan, kamu baru sampai waktu perkiraan melahirkan."

Elara memohon, "Aku ingin minta bantuan Profesor. Apa aku bisa menunda waktu masuk kuliah?"

Melahirkan adalah hal yang tidak bisa dihindari, tetapi dia benar-benar tidak ingin melewatkan kesempatan ini.

Arizo bertanya dengan serius, "Kenapa ingin pergi?"

Elara menunduk dan berkata, "Setelah anak ini lahir, Deon berencana menceraikanku. Hubungan keliru ini juga nggak ingin kulanjutkan lagi. Aku ingin memulai kembali hidupku sendiri."

Enam bulan itu tidak bisa dibilang panjang, juga tidak pendek. Namun baginya, rasanya seperti menjalani seumur hidup.

Alis Arizo tak kuasa berkerut. Gadis yang dulu ceria dan manis itu telah berubah drastis dalam waktu singkat, cukup untuk membayangkan betapa berat penderitaan fisik dan batin yang telah dia alami.

"Aku sangat lega kamu akhirnya bisa berpikir jernih dan bangkit kembali. Kamu dan Deon memang nggak cocok. Ke depannya, kamu pasti bisa bertemu orang yang benar-benar mencintaimu."

Elara menunduk dan mengangguk pelan. Dulu, Arizo sebenarnya tidak setuju Elara bekerja di sisi Deon sebagai asisten, tetapi Elara bersikeras. Pada akhirnya, dia yang menderita sendiri.

Tiba-tiba, dia bertanya lagi, "Di mata Profesor Arizo, sebenarnya Deon itu orang seperti apa?"

Arizo terdiam sejenak, lalu berkata perlahan, "Seseorang yang demi mencapai tujuan, nggak segan menggunakan cara apa pun, mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Orang seperti itu kemungkinan besar nggak punya cinta."

"Begitu ya?"

Namun, kelembutan Deon pada gadis itu tidak mungkin palsu. Mungkin hanya jika mencintai setengah mati barulah dia mau merendahkan diri seperti itu. Memang hanya perempuan cantik yang pantas berdiri di sisinya.

Elara tidak bertanya lagi.

"Karena kamu sudah memutuskan, nanti aku akan membantumu mengajukan penundaan masuk kuliah."

"Terima kasih, Profesor."

Arizo memintanya mengisi satu formulir permohonan. Setelah Elara selesai mengisinya ....

"Setelah anak itu lahir, dia akan tinggal di rumah Keluarga Atmadja?" tanya Arizo tiba-tiba.

Elara tersenyum pahit. Sekalipun dia ingin membawa anak itu pergi, hal itu mustahil. Dia hanya bisa merasa bersalah pada anak tersebut. "Keluarga Atmadja seharusnya akan merawatnya dengan baik."

Arizo tidak bertanya lebih lanjut. "Kebetulan aku butuh satu asisten. Cukup satu bulan saja. Mau coba?"

Elara langsung menyetujuinya tanpa ragu. "Baik."

Sejak dia hamil, pihak Deon memindahkannya ke posisi yang nyaris tak berarti di bagian sekretariat. Dalam semalam, dia jatuh dari posisi asisten presdir menjadi figur tak terlihat. Semua usahanya seolah-olah lenyap menjadi gelembung.

Kini, dia memang membutuhkan pekerjaan baru untuk mengalihkan perhatian dan membuat hidupnya kembali berjalan. Kebetulan, ini bisa dijadikan persiapan sebelum berangkat studi lanjut.

Karena hari itu dia memang sudah mengambil cuti, Elara pun tinggal dan mulai bekerja sebagai asisten profesor. Dia sendiri adalah murid Arizo, ditambah sebelumnya pernah bekerja intens di sisi Deon. Meskipun sempat terpuruk, dia segera beradaptasi dan menangani pekerjaan dengan sangat lancar.

Saat itu, Elara seperti menemukan kembali dirinya yang dulu, menemukan kembali nilai keberadaan dirinya yang sesungguhnya.

Seperti kata Arizo, dia memang seharusnya bersinar di dunia kerja. Cinta tidak seharusnya menjadi satu-satunya pusat kehidupan.

Malam itu, Deon tidak pulang ke rumah, seperti biasanya. Dia memang hanya sesekali pulang. Kali ini, Elara sudah tidak peduli lagi.

Keesokan harinya, dia sudah menyiapkan surat pengunduran diri lebih awal.

Deon mengelola industri keuangan di bawah Grup Atmadja, termasuk bank dan perusahaan dana investasi. Di arena penuh intrik dan kepentingan seperti ini, dia mampu mewarisi industri inti Grup Atmadja dengan kekuatannya sendiri, bahkan terus melakukan ekspansi dan akuisisi.

Itu cukup membuktikan bahwa dia bukan hanya memiliki otak dan kemampuan luar biasa, tetapi juga hati yang dingin dan kejam.

Elara tiba di perusahaan dan kebetulan berpapasan dengan Deon yang baru turun dari mobil. Posturnya tegap, setelan jas rapi, tampan dan berwibawa. Kekayaan dan status membuatnya memancarkan pesona kedewasaan yang tak terbatas.

"Pak Deon." Para karyawan menunduk, memberi salam dengan hormat.

Elara tersadar dan buru-buru menunduk, lalu mundur dua langkah.

Pria itu seolah-olah tidak melihatnya sama sekali dan melangkah masuk ke dalam perusahaan.

Elara menyerahkan surat pengunduran dirinya kepada Shireen. Shireen adalah sekretaris Deon. Dulu, dia adalah bawahan Elara. Kini, roda nasib berputar. Elara justru menjadi bawahannya.

Saat Elara tiba-tiba diturunkan jabatannya dulu, seluruh departemen terkejut. Elara baru lulus kuliah dan langsung menjadi asisten presdir.

Posisi asisten tidak hanya menuntut kemampuan, tetapi juga penampilan. Sementara Elara, baik wajah maupun bentuk tubuhnya, sangat biasa saja. Namun, dia tetap terpilih, cukup untuk membuktikan bahwa kemampuannya mampu menutupi kekurangannya secara fisik. Presdir yang terkenal tegas bahkan pernah beberapa kali memujinya.

Namun, Shireen sangat paham. Di matanya, Elara ingin naik kelas lewat ranjang. Sehebat apa pun kemampuannya, tetap bukan orang baik. Karena itulah, Deon sangat membencinya.

Shireen melirik surat pengunduran diri itu, lalu pandangannya menyapu perut hamil Elara. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek.

"Orang yang bermartabat itu tahu diri. Kalau nggak ada kerjaan, sering-seringlah bercermin. Jangan mengira dengan punya anak kamu bisa memanjat ke pohon yang tinggi. Lihat dulu Keluarga Atmadja itu tempat apa dan kamu sendiri itu siapa."

Soal dirinya dan Deon yang sudah mendaftarkan pernikahan, tidak ada satu pun orang di perusahaan yang mengetahuinya.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 50

    "Aku kedatangan sebuah berkas dari Jerman. Mau minta kamu bantu lihatin," kata Reynard.Elara mengangguk, "Ya, nanti kirim saja."Reynard mengambil seekor udang dan mengupasnya, lalu meletakkannya ke dalam piring Elara sambil tersenyum. "Kalau begitu terima kasih, Kakak Ipar."Aisyah mendengar ucapan putranya dan menoleh, lalu bertanya, "Kamu berterima kasih ke kakak iparmu soal apa?""Minta bantuannya," jawab Reynard."Kamu ini ... nggak lihat perut kakak iparmu sudah besar? Masih saja merepotkannya."Elara tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, cuma urusan sepele."Selama ini, sikap Aisyah terhadap Elara memang cukup hangat. Bagaimanapun, Elara tidak berkaitan langsung dengan kepentingan ataupun reputasi dirinya. Kadang Aisyah juga mengikuti ucapan Nami dan menyetujui beberapa hal."Kelihatannya hubungan Reynard dan Elara cukup dekat," ujar Elsheva. Elsheva adalah istri Yeshua, sekaligus kakak ipar kandung Reynard.Aisyah menimpali, "Dulu mereka satu sekolah. Waktu ujian masuk perguruan t

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 49

    Elara tidak tahu sampai kapan Deon akan sibuk sebelum berangkat. Akhirnya dia keluar lebih dulu dan meminta Jereva mengantarnya ke rumah lama.Deon turun dari lantai atas setelah membereskan pekerjaannya. Dia hanya melihat Laksmi, tetapi tidak melihat Elara, hingga akhirnya dia memerintahkan, "Panggil dia ke luar.""Dia sudah pergi duluan. Entah sok gaya apaan dia itu, padahal nggak ada yang memperlakukannya sampai gimana-gimana juga," keluhnya tanpa sadar.Deon sedikit mengerutkan kening. Dia tidak menanggapi ucapan Laksmi dan langsung melangkah ke luar.Elara tiba di rumah lama lebih dulu. Hari ini seluruh anggota Keluarga Atmadja berkumpul. Area parkir dipenuhi mobil-mobil mewah. Begitu turun, Elara kebetulan bertemu Reynard.Reynard menyapanya. Mereka sudah cukup lama tidak bertemu.Reynard menatap perutnya dari atas ke bawah lalu berkata, "Perutmu kelihatan makin besar. Tapi pipimu sepertinya lebih tirus. Jadi kelihatan lebih cantik."Mendengar ucapannya, Elara pun tersenyum. Hany

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 48

    Wajah Fendi tampak muram. "Ayo jalan," katanya.Setelah berkata demikian, dia melangkah menuju arah parkir. Mobilnya berhenti tidak jauh di depan. Kristof maju membukakan pintu dan Fendi naik ke dalam mobil.Deon mengantar Doreen masuk ke mobilnya sendiri. Dia sempat melihat mobil Fendi melintas di depannya, lalu menarik kembali pandangannya dan ikut naik ke mobil.Dalam sekejap, daun ginkgo yang semula berwarna keemasan mulai berguguran tertiup angin. Cuaca semakin hari semakin dingin.Perut Elara makin membesar dari hari ke hari. Dia tidak bisa berjalan terlalu lama dan harus sering duduk untuk beristirahat. Berpakaian pun jadi semakin merepotkan. Terutama saat mengenakan celana, dia butuh waktu lama untuk memakainya.Elara semakin sering terbangun di malam hari untuk ke kamar mandi. Pinggangnya terasa pegal dan nyeri, kakinya kerap terasa kram hingga terbangun dari tidur, bahkan sesekali napasnya terasa berat.Sementara itu, hubungannya dengan Deon tetap terpisah jelas. Meski tingga

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 47

    Dua hari berikutnya, Deon selalu pulang ke rumah pada malam hari. Hanya saja, Elara hampir tidak pernah bertemu dengannya.Akan tetapi, malah lebih baik begini.Bagaimanapun, sekarang yang dia tunggu hanyalah melahirkan anaknya dengan aman dan tenang.Setelah dimarahi Nami, sikap Laksmi dan Hanina jauh lebih tertib. Mereka menyiapkan sarapan untuknya setiap pagi. Sepulang kerja dari kampus, Elara langsung pergi ke studio yoga. Larissa selalu datang lebih dulu untuk menunggunya dan membawakan makan malam.Di dalam kampus Universitas Josaka ada sebuah jalan yang sangat terkenal. Jalan itu dipenuhi pohon ginkgo. Saat ini, dedaunannya sudah berubah menjadi kuning keemasan, seperti bintang-bintang cemerlang di bawah hangatnya matahari musim dingin.Para mahasiswa ramai-ramai datang untuk berfoto dan mengabadikan momen.Dari kantor gedung administrasi tempat Elara bekerja, jalan berwarna emas itu terlihat jelas di bawah sana. Dia tidak menyangka hari ini Fendi datang ke gedung administrasi.

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 46

    Saat tiba di kamar rawat Yurike, emosi Elara sudah sepenuhnya tenang."Elara, kamu datang juga. Kenapa repot-repot beli buah segala?"Elara meletakkan buah yang dibawanya di atas meja kecil. Melihat cairan infus yang tinggal setengah kantong, dia bertanya, "Setelah ini masih ada lagi?""Ini yang terakhir.""Ke depannya jangan minum alkohol lagi sampai seperti malam itu."Yurike tersenyum dan berkata, "Kalau suasana hati lagi buruk memang susah dihindari. Tetap harus ada pelampiasan. Ke depannya aku akan lebih hati-hati."Tak lama setelah Yurike selesai diinfus, Arizo juga datang ke kamar rawat.Siang harinya, mereka bertiga makan siang bersama di sebuah restoran dekat rumah sakit. Menu yang dipesan semuanya makanan ringan dan tidak berminyak.Elara lalu bercerita tentang kejadian hari itu saat dia bertemu Fendi di kampus. Arizo berkata, "Pak Fendi memang sering kembali ke kampus. Katanya, melihat anak-anak muda membuatnya ikut merasa muda."Yurike terkejut, "Elara kenal Pak Fendi?"Set

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 45

    Deon memang benar-benar tidak sanggup tinggal bersamanya di bawah satu atap. Namun, Elara sudah tidak ingin memedulikannya lagi.Hari itu juga, dia menghubungi Yurike untuk menanyakan kondisi kesehatannya. Sebenarnya kemarin dia berniat ke rumah sakit menjenguknya, tetapi akhirnya tidak sempat."Nggak apa-apa. Setelah infus terakhir selesai, aku sudah bisa keluar dari rumah sakit."Malam itu, sakit lambung Yurike memang kambuh cukup parah, sampai harus diinfus selama dua hari. Elara pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya.Kebetulan Sander menelepon dan memberi tahu bahwa sopir sudah ditemukan. Orang itu baru pensiun dari militer tahun lalu, jadi mengemudi mobil pribadi sama sekali bukan masalah. Sander memberikan nomor kontaknya.Elara langsung menghubungi orang tersebut. Saat ini orang itu masih berada di perusahaan Sander dan harus ke Martha Residence untuk mengambil mobil, perkiraan waktunya sekitar satu jam."Hubungi aku setengah jam sebelumnya." Elara bisa be

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status