Share

Bab 2

Author: Keisha
Namun, Deon tidak menelusurinya lebih jauh.

Elara kemudian berkata lagi, "Senin sore besok kamu ada waktu? Gimana kalau kita pergi ke pengadilan negeri lebih awal saja untuk mengurusnya? Toh dimajukan dua bulan seharusnya nggak masalah, 'kan?"

Setelah tanda tangan, masih harus menunggu satu bulan masa tenang. Jaraknya dengan waktu dia melahirkan juga sudah tidak lama lagi.

Deon menatapnya. Sikap Elara yang tenang membuat tatapannya dipenuhi sorot menyelidik. Dia lantas menarik kembali pandangannya dan berkata, "Aku yang tentukan waktunya."

Elara menunduk, tidak berkata apa-apa lagi. Mobil tiba di rumah lama Keluarga Atmadja.

Nami memang memanggil mereka pulang karena urusan anak di dalam kandungan Elara. Di Keluarga Atmadja, jumlah laki-laki jauh lebih banyak daripada perempuan.

Nami memiliki dua orang putra. Putra sulung bernama Charles, putra kedua bernama Zayden.

Charles memiliki dua anak laki-laki. Anak sulungnya, Yeshua, sudah menikah beberapa tahun lalu dan memiliki sepasang anak kembar laki-laki yang kini berusia lima tahun. Anak keduanya, Reynard, tahun ini berusia 24 tahun dan belum menikah.

Zayden hanya memiliki satu anak, yaitu Deon. Karena itu, saat tahu Elara mengandung anak perempuan, baik Nami maupun Malik sama-sama sangat senang.

"Benar-benar kabar bahagia. Begitu si kecil ini datang, penyakit kakek kalian pun ikut membaik," ujar Nami dengan wajah berseri-seri.

Melihat mertuanya begitu mementingkan anak di dalam perut Elara, Irma pun ikut menimpali, lalu mengatakan beberapa kata baik kepada Elara.

Elara duduk di samping, menanggapi dengan patuh. Namun, melihat tubuhnya yang gemuk, juga sikapnya yang selalu tunduk dan penurut, Irma merasa tidak enak memandangnya. Hanya saja demi menjaga wibawa Nami, dia tidak menunjukkannya.

Nami sedang dalam suasana hati yang baik. Dia menghadiahkan sebuah gelang giok bernilai tinggi kepada Elara. Elara terkejut sekaligus tersanjung. Dia menolak dengan sopan dan tidak berani menerimanya.

Irma pun berkata, "Kalau Nenek kasih, ya terima saja."

Benar-benar kampungan dan memalukan.

Elara pun berhenti menolak dan menerima gelang itu. "Terima kasih, Nek."

"Jaga kandunganmu dengan baik. Lahirkan anak yang sehat dan montok."

Elara tersenyum sambil mengangguk. Dia tahu kebaikan Nami bukan karena dirinya. Awalnya, Elara dan Deon akan tinggal dan makan malam di rumah lama. Namun, Deon menerima sebuah panggilan telepon.

Di matanya tampak senyuman penuh kasih dan kelembutan. Sepertinya mereka memelihara seekor hewan peliharaan. Deon memanggil nama hewan itu dengan lembut. Namanya Sweetie.

Jika menikah dengan perempuan yang dia cintai, mungkin dia akan menjadi seorang ayah yang baik.

"Mm, aku segera ke sana," ucap Deon.

Setelah menutup telepon, Deon berbalik ke balkon, lalu melihat Elara yang berdiri di sana. Elara terkejut, sesaat tidak bereaksi. Saat dia mendongak menatap pria itu, yang terlihat hanyalah wajah dingin tanpa ekspresi.

Dadanya terasa sesak. Dia buru-buru berkata, "Nenek memintamu ke ruang kerja."

Deon tidak mengatakan apa-apa dan langsung melangkah pergi.

Elara berdiri di tempat. Jantungnya terasa ditusuk-tusuk oleh rasa sakit. Entah berapa lama berlalu, barulah dia tersadar kembali.

Deon tiba di ruang kerja. Di sana sudah ada Nami dan Malik.

"Deon, Nenek tahu kamu nggak menyukai Elara. Tapi anak itu sebentar lagi lahir. Secara pribadi, Elara juga sangat baik. Lulusan universitas ternama, berkepribadian lembut. Pernikahanmu membutuhkan kestabilan. Dia sangat cocok untuk mendukung suami dan membesarkan anak," ujar Nami.

Deon diam. Namun, kerutan di dahinya yang menunjukkan ketidaksenangan sudah cukup untuk mengungkapkan perasaannya.

Bagaimana mungkin Nami tidak menyadarinya? Penampilan Elara memang terlalu biasa. Berdiri di samping cucunya, sama sekali tidak serasi.

Malik pun berbicara, "Untuk saat ini, pernikahanmu harus dipertahankan. Kalau memang nggak suka, selama dia nggak melakukan hal yang berlebihan, tahan dulu satu atau dua tahun."

Nami menimpali, "Benar. Sekarang banyak mata yang mengawasi dan menunggu kesalahanmu. Lebih baik tunggu sampai dia merawat anak itu dengan baik. Setelah itu, kalau kamu mau cerai juga belum terlambat."

Deon terdiam sejenak. Wajah tampannya yang dalam membuat orang sulit menebak apa yang sedang dia pikirkan. Akhirnya, dia berkata, "Kakek, Nenek, aku ngerti."

Saat Elara bertemu lagi dengan Nami, Nami berkata kepadanya, "Deon mendadak ada urusan di perusahaan dan sudah pergi lebih dulu. Nanti aku suruh sopir antar kamu pulang."

Elara mengangguk. "Baik."

Sebelum pergi hari itu, Nami mengingatkannya, "Walaupun sedang hamil, kamu tetap harus banyak bergerak dan merawat diri. Dulu saat para menantuku hamil, mereka nggak hanya menemani suami menghadiri acara, tapi juga mengurus rumah tangga. Ada hal-hal yang mudah didapat, tapi untuk mempertahankannya itu nggak mudah."

Elara langsung memahami maksud di balik kata-kata Nami. Menjadi menantu Keluarga Atmadja bukan perkara mudah. Jika ingin mengukuhkan posisinya, dia harus mengubah dirinya sekarang.

Dengan kondisinya seperti ini, dia hanya akan mempermalukan Deon. Dia pernah ingin berubah, berolahraga, yoga, menurunkan berat badan. Namun, tekadnya kurang kuat, sulit bertahan. Tubuh dan pikirannya lelah, tubuhnya justru semakin gemuk.

Apa yang Nami katakan tidak salah. Dia memang tidak boleh terus terpuruk seperti ini. Dia harus bangkit, bukan demi mempertahankan posisinya, melainkan demi dirinya sendiri di masa depan.

"Nek, aku mengerti."

Saat malam tiba, Elara dibuat terkejut. Pria yang pagi harinya membicarakan perceraian dengannya justru pulang ke rumah.

"Kamu ...."

"Buatkan aku semangkuk sup penawar mabuk dan antarkan ke ruang kerja."

Setelah itu, Deon langsung naik ke lantai atas menuju ruang kerja. Elara tersadar dan pergi ke dapur, membuatkan semangkuk sup penawar mabuk, lalu mengantarkannya ke ruang kerja.

Pria itu sedang membaca dokumen di tangannya. Alis dan matanya tajam, seluruh tubuhnya memancarkan aura dingin dan sulit didekati.

Elara tidak mengganggunya dan berbalik meninggalkan ruang kerja. Meskipun dia pulang, mereka tetap tidur terpisah. Pria itu tidur di kamar utama lantai dua, sedangkan dia tidur di kamar tamu lantai satu.

Keesokan harinya, karena Deon ada di rumah, para pengasuh menyiapkan sarapan yang sangat mewah. Dia duduk di kursi utama, tetapi tidak melihat Elara.

Biasanya saat dia berada di rumah, Elara akan menyetrika dan menyiapkan pakaian yang akan dia kenakan keesokan hari, serta membuatkan sarapan sendiri. Benar-benar istri yang patuh dan bertanggung jawab.

Namun pagi ini, tidak ada pakaian yang sudah disetrika dan sarapan pun disiapkan oleh pengasuh.

"Dia di mana?" tanya Deon dengan tidak sabar.

Laksmi langsung mengeluh, "Pagi-pagi sudah kami panggil, tapi dia tetap malas bangun. Setiap hari harus diantar makan ke kamar, sikapnya juga dingin pada kami. Ditanya mau makan apa, dia diam saja."

"Kami bukan cenayang yang langsung tahu apa yang mau dia makan. Dia juga cuma hamil. Dulu saat Nyonya mengandung Tuan, Nyonya juga melayani suami dengan sepenuh hati. Giliran dia, malah cuma tahu menikmati hidup."

Deon mengerutkan kening. "Pergi panggil dia bangun."

"Baik."

Sebenarnya Elara sudah bangun sejak lama. Dia hanya menunggu Deon pergi.

Saat itu, Laksmi langsung mendorong pintu masuk. Melihat Elara duduk di sofa, dia berkata dengan nada jijik, "Benar-benar nyonya muda ya? Menunggu orang datang mengundangmu?"

Elara mengangkat kepala dan membalas dengan dingin, "Kalau bukan aku nyonya mudanya, masa kamu?"

Selama beberapa bulan ini, Elara selalu menunduk dan diam. Laksmi sama sekali tidak menyangka dia akan membalas.

"Kalau ke depannya kalian masih nggak tahu batas antara atasan dan bawahan, jangan salahkan aku melapor ke Nenek Nami tentang apa saja yang kalian lakukan selama ini."

Lagi pula, dia akan segera bercerai dengan Deon. Dia merasa tidak perlu menahan diri lagi. Dua bulan tersisa, untuk apa dia terus menelan amarah?

Mata Laksmi membelalak. "Kamu ...."

Kemarin Nyonya Atmadja, Irma, meneleponnya dan meminta mereka merawat Elara dengan baik. Meskipun yang dikandung adalah anak perempuan, ini tetap satu-satunya anak perempuan generasi ketiga Keluarga Atmadja.

Nasib Elara memang bagus. Anak perempuan yang dikandungnya bisa mendapat perhatian sebesar itu dari Nami.

Laksmi hanya bisa menahan amarahnya. "Tuan sudah menunggumu di ruang makan."

Elara agak terkejut. Dia pun pergi ke ruang makan.

Deon sedang makan. Dia mengangkat pandangan dan melirik Elara. Dia mengenakan baju rajut putih panjang, kainnya tertarik oleh tubuhnya yang membengkak hingga berubah bentuk. Langkah kakinya ringan dan tidak stabil, perutnya sangat besar seolah-olah mengandung beberapa anak.

Elara menyadari tatapan pria itu dan duduk di tempat yang jauh darinya dengan sadar diri. Dia mendengar suara Deon yang datar. "Bibi Laksmi dan yang lainnya adalah karyawan lama dari rumah lama. Kamu nggak bisa menuntut mereka selalu menyesuaikan diri denganmu. Kamu hanya hamil, bukan nggak bisa bergerak."

Hanya hamil? Benar. Anak yang datang tanpa rencana ini, baginya mungkin tidak berarti apa-apa.

Teguran yang tiba-tiba ini pasti karena Laksmi mengadu padanya. Ini pun bukan pertama kalinya.

"Kalau mereka keberatan menyesuaikan diri denganku, lebih baik biarkan mereka kembali ke rumah lama. Aku bisa merawat diriku sendiri kok," ujar Elara dengan nada sangat tenang sambil mengaduk bubur di mangkuknya.

Bagaimanapun, dia masak sendiri, mencuci sendiri, membersihkan kamar sendiri. Hanya saat Deon ada di rumah, mereka berpura-pura bekerja.

Deon mengernyit. Elara tahu itu tanda kekesalannya. Baik dalam pekerjaan maupun kehidupan, Deon adalah orang yang sangat dominan dan tidak suka dibantah.

"Aku mengingatkanmu, bukan meminta pendapatmu."

Elara menunduk dan tidak berkata apa-apa lagi. Melihat dirinya yang tampak lesu dan tidak bersemangat, wajah Deon semakin muram.

Kemudian, dia memerintahkan Laksmi dan yang lain untuk ke depannya membiarkan Elara mengurusi urusannya sendiri dan mereka tidak perlu melayaninya.

Tangan Elara yang memegang sendok tanpa sadar menegang.

Setelah sarapan, Deon pergi. Sementara itu, Elara pergi ke Universitas Arkham. Dia tiba di kantor Arizo.

Di balik meja kerja, seorang pria muda berhidung mancung duduk dengan mengenakan setelan jas rapi. Kacamata tanpa bingkai yang menghiasi wajahnya menambah kesan dewasa nan tenang.

Arizo baru berusia 29 tahun. Dia adalah profesor tetap termuda di Fakultas Keuangan Universitas Arkham, seorang tokoh genius yang namanya sangat disegani di dunia keuangan.

Elara mengangkat tangan dan mengetuk pintu.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 50

    "Aku kedatangan sebuah berkas dari Jerman. Mau minta kamu bantu lihatin," kata Reynard.Elara mengangguk, "Ya, nanti kirim saja."Reynard mengambil seekor udang dan mengupasnya, lalu meletakkannya ke dalam piring Elara sambil tersenyum. "Kalau begitu terima kasih, Kakak Ipar."Aisyah mendengar ucapan putranya dan menoleh, lalu bertanya, "Kamu berterima kasih ke kakak iparmu soal apa?""Minta bantuannya," jawab Reynard."Kamu ini ... nggak lihat perut kakak iparmu sudah besar? Masih saja merepotkannya."Elara tersenyum lembut. "Nggak apa-apa, cuma urusan sepele."Selama ini, sikap Aisyah terhadap Elara memang cukup hangat. Bagaimanapun, Elara tidak berkaitan langsung dengan kepentingan ataupun reputasi dirinya. Kadang Aisyah juga mengikuti ucapan Nami dan menyetujui beberapa hal."Kelihatannya hubungan Reynard dan Elara cukup dekat," ujar Elsheva. Elsheva adalah istri Yeshua, sekaligus kakak ipar kandung Reynard.Aisyah menimpali, "Dulu mereka satu sekolah. Waktu ujian masuk perguruan t

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 49

    Elara tidak tahu sampai kapan Deon akan sibuk sebelum berangkat. Akhirnya dia keluar lebih dulu dan meminta Jereva mengantarnya ke rumah lama.Deon turun dari lantai atas setelah membereskan pekerjaannya. Dia hanya melihat Laksmi, tetapi tidak melihat Elara, hingga akhirnya dia memerintahkan, "Panggil dia ke luar.""Dia sudah pergi duluan. Entah sok gaya apaan dia itu, padahal nggak ada yang memperlakukannya sampai gimana-gimana juga," keluhnya tanpa sadar.Deon sedikit mengerutkan kening. Dia tidak menanggapi ucapan Laksmi dan langsung melangkah ke luar.Elara tiba di rumah lama lebih dulu. Hari ini seluruh anggota Keluarga Atmadja berkumpul. Area parkir dipenuhi mobil-mobil mewah. Begitu turun, Elara kebetulan bertemu Reynard.Reynard menyapanya. Mereka sudah cukup lama tidak bertemu.Reynard menatap perutnya dari atas ke bawah lalu berkata, "Perutmu kelihatan makin besar. Tapi pipimu sepertinya lebih tirus. Jadi kelihatan lebih cantik."Mendengar ucapannya, Elara pun tersenyum. Hany

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 48

    Wajah Fendi tampak muram. "Ayo jalan," katanya.Setelah berkata demikian, dia melangkah menuju arah parkir. Mobilnya berhenti tidak jauh di depan. Kristof maju membukakan pintu dan Fendi naik ke dalam mobil.Deon mengantar Doreen masuk ke mobilnya sendiri. Dia sempat melihat mobil Fendi melintas di depannya, lalu menarik kembali pandangannya dan ikut naik ke mobil.Dalam sekejap, daun ginkgo yang semula berwarna keemasan mulai berguguran tertiup angin. Cuaca semakin hari semakin dingin.Perut Elara makin membesar dari hari ke hari. Dia tidak bisa berjalan terlalu lama dan harus sering duduk untuk beristirahat. Berpakaian pun jadi semakin merepotkan. Terutama saat mengenakan celana, dia butuh waktu lama untuk memakainya.Elara semakin sering terbangun di malam hari untuk ke kamar mandi. Pinggangnya terasa pegal dan nyeri, kakinya kerap terasa kram hingga terbangun dari tidur, bahkan sesekali napasnya terasa berat.Sementara itu, hubungannya dengan Deon tetap terpisah jelas. Meski tingga

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 47

    Dua hari berikutnya, Deon selalu pulang ke rumah pada malam hari. Hanya saja, Elara hampir tidak pernah bertemu dengannya.Akan tetapi, malah lebih baik begini.Bagaimanapun, sekarang yang dia tunggu hanyalah melahirkan anaknya dengan aman dan tenang.Setelah dimarahi Nami, sikap Laksmi dan Hanina jauh lebih tertib. Mereka menyiapkan sarapan untuknya setiap pagi. Sepulang kerja dari kampus, Elara langsung pergi ke studio yoga. Larissa selalu datang lebih dulu untuk menunggunya dan membawakan makan malam.Di dalam kampus Universitas Josaka ada sebuah jalan yang sangat terkenal. Jalan itu dipenuhi pohon ginkgo. Saat ini, dedaunannya sudah berubah menjadi kuning keemasan, seperti bintang-bintang cemerlang di bawah hangatnya matahari musim dingin.Para mahasiswa ramai-ramai datang untuk berfoto dan mengabadikan momen.Dari kantor gedung administrasi tempat Elara bekerja, jalan berwarna emas itu terlihat jelas di bawah sana. Dia tidak menyangka hari ini Fendi datang ke gedung administrasi.

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 46

    Saat tiba di kamar rawat Yurike, emosi Elara sudah sepenuhnya tenang."Elara, kamu datang juga. Kenapa repot-repot beli buah segala?"Elara meletakkan buah yang dibawanya di atas meja kecil. Melihat cairan infus yang tinggal setengah kantong, dia bertanya, "Setelah ini masih ada lagi?""Ini yang terakhir.""Ke depannya jangan minum alkohol lagi sampai seperti malam itu."Yurike tersenyum dan berkata, "Kalau suasana hati lagi buruk memang susah dihindari. Tetap harus ada pelampiasan. Ke depannya aku akan lebih hati-hati."Tak lama setelah Yurike selesai diinfus, Arizo juga datang ke kamar rawat.Siang harinya, mereka bertiga makan siang bersama di sebuah restoran dekat rumah sakit. Menu yang dipesan semuanya makanan ringan dan tidak berminyak.Elara lalu bercerita tentang kejadian hari itu saat dia bertemu Fendi di kampus. Arizo berkata, "Pak Fendi memang sering kembali ke kampus. Katanya, melihat anak-anak muda membuatnya ikut merasa muda."Yurike terkejut, "Elara kenal Pak Fendi?"Set

  • Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat   Bab 45

    Deon memang benar-benar tidak sanggup tinggal bersamanya di bawah satu atap. Namun, Elara sudah tidak ingin memedulikannya lagi.Hari itu juga, dia menghubungi Yurike untuk menanyakan kondisi kesehatannya. Sebenarnya kemarin dia berniat ke rumah sakit menjenguknya, tetapi akhirnya tidak sempat."Nggak apa-apa. Setelah infus terakhir selesai, aku sudah bisa keluar dari rumah sakit."Malam itu, sakit lambung Yurike memang kambuh cukup parah, sampai harus diinfus selama dua hari. Elara pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya.Kebetulan Sander menelepon dan memberi tahu bahwa sopir sudah ditemukan. Orang itu baru pensiun dari militer tahun lalu, jadi mengemudi mobil pribadi sama sekali bukan masalah. Sander memberikan nomor kontaknya.Elara langsung menghubungi orang tersebut. Saat ini orang itu masih berada di perusahaan Sander dan harus ke Martha Residence untuk mengambil mobil, perkiraan waktunya sekitar satu jam."Hubungi aku setengah jam sebelumnya." Elara bisa be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status