Share

Bab 6

Maura dan Rendra menyusuri jalan bersama dengan saling berpelukan, sambil menikmati sore hari yang tenang itu. Mereka berjalan di taman yang tampak sepi.

"Ndra, kau bilang kau sangat mencintaiku. Seberapa besar kau mencintaiku? katakan padaku."

"Aku jatuh cinta padamu, aku menjadi seperti orang gila."

Maura bergeming kemudian tersenyum lembut ke arah Rendra. Mereka berlalu dari sana.

"Sampai jumpa kembali pukul dua belas tepat besok, kali ini jangan membuatku menunggu." ucap Rendra yang turun dari mobil Maura.

"Tunggu, Ndra." cekal Maura.

"Ya, kenapa?"

"Apa kau akan mengusirku juga kali ini?"

"Tak maukah kau mengenalkanku pada ibumu?" ucap Maura lagi.

Rendra mengangguk sebagai respon.

"Ya, aku akan mengenalkanmu nanti." jawab Rendra.

"Tidak, aku akan menemuinya hari ini sendiri." kekeh Maura.

"Apa kau memaksa?"

"Tentu."

"Baiklah, ayo." ajak Rendra yang melenggang terlebih dahulu meninggalkan Maura yang masih diam mematung di dalam mobilnya.

Maura tersenyum girang kemudian ia turun dari mobil dan berjalan menghampiri Rendra.

"Benarkah?" tanya Maura lagi.

"Iya, ayolah." ajak Rendra.

Rendra dan Maura berjalan menuju rumah Rendra, Maura terus saja tersenyum sendiri sambil memperhatikan jalan menuju rumah kekasihnya itu.

"Lihatlah nyonya, ini rumahku." ucap Rendra pada Maura.

"Ini lebih kecil dari mobilmu." lagi Rendra berbicara.

"Apakah ukuran rumah menjadi masalah, hati yang seharusnya menjadi tempat masalahnya." ucap Maura sambil.menunjuk dada Rendra.

"Begitu?" tanya Rendra.

Rendra menunjuk ke suatu arah sambil berbicara.

"Itu pintunya, masuk dan lihatlah dia."

Maura tampak berbinar, ia hendak melangkah lagi namun kemudian berbalik badan karena Rendra justru pergi keluar rumah.

"Tapi kemana kau akan pergi?"

Rendra tak menghiraukan pertanyaan Maura, ia terus saja melangkah keluar meninggalkan Maura sendirian.

"Pergilah, dan temui dia."

"Rendra, Rendra...." Maura memcova memanggil sang kekasih tapi nihil.

Maura berbalik dan mencoba melangkah mendekati pintu rumah Rendra. Dari balik pintu Maura bisa melihat bu Rima yang tengah sibuk di dapur sambil mendengarkan Radio.

"Permisi, Tante." ucap Maura membuat bu Rima memghentikan kegiatannya.

"Siapa?" tanya bu Rima.

"Tante, saya...Saya..."

Bu Rima melangkah mendekati Maura yang tampak bingung menjawab pertanyaannya.

"Siapa kau?" tanya bu Rima lagi.

"Tante, saya....Rendra.."

Bu Rima kaget sekaligus senang, ia menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.

"Tunggu sebentar, oke...Aku akan katakan padamu. Kau pasti Maura kekasihnya Rendra."

"Mengapa kau berdiri saja disini, ayo masuk." ajak bu Rima sambil menarik tangan Maura dengan lembut membawanya ke dalam rumah.

"Masuk...Ya, duduk disini."

Kemudian bu Rima duduk di kursi sebrang Maura sambil terus tersenyum, terlihat matanya berbinar bahagia.

"Mengapa kau sangat jauh, mendekatlah padaku." bu Rima kembali menarik tangan Maura untuk duduk disampingnya.

Bu Rima mengelus pelan rambut Maura dengan sayang sambik tersenyum, jemudian ia memegang tangan Maura.

"Kau sangat cantik."

"Tidak secantik dirimu tante."

"Bagaimana kau bisa dengan cepat mengenaliku?"

"Apakah aku bisa tidak mengenalimu? aku selalu melihatmu di dalam mata Rendra." ucao bu Rima membuat Maura tersenyum malu.

"Apakah Rendra, selalu berbicara tentangku kepadamu tante?"

"Dia tidak bicara padaku, dia sangat sulit bicara pada siapapun. Tapi tidak denganmu."

"Tapi aku adalah seorang ibu, aku tahu setiap debaran jantung anaku."

"Dan setiap debar dari hatinya selslu terdengar satu nama yaitu kau." lagi Bu Rima berbicara panjang lebar.

"Berjanjilah untuk tidak meninggalkannya Maura."

"Iya tante, aku berjanji akan selalu disamping Rendra dan tidak akan meninggalkannya."

Maura tersenyum mendengar ucapan dari ibu kekasihnya.

"Kemana Rendra pergi ya?" tanya Maura.

"Bukankah dia aneh, mengirimku sendirian untuk bertemu denganmu."

"Oho, ternyata sudah ada yang merindukanku. Padahal baru saja kita berpisah." ucap Rendra kemudian ia memeluk ibunya dari belakang.

"Lihatlah bu, dia sangat tidak bisa jauh dariku. Baru sebentar berpisah sudah langaung mencariku." goda Rendra membuat Maura malu sekaligus kesal.

"Sudah, sudah. Kau jangan membuatnya kesal, dasar anak nakal." bu Rima memukul pelan tangan Rendra yang berada di perutnya.

"Kau lihat, baru saja kau bertemu dengan ibuku tapi ibuku sudah lebih sayang padamu dari pada anaknya sendiri." ucap Rendra pada Maura.

Gadis itu tersenyum lembut ke arah bu Rima dan Rendra. Hari ini ia sangat bahagia sekali bisa berjunpa dengan ibu kekasihnya.

****

Maura pulang ke rumah dengan hati berbunga bunga, ia berjalan sambil bersenandung riang. Terlihat Raja dengan bibinya Maura tengah beebicara serius di ruang keluarga. Maura berhenti sejenak kemudian memdengarkan obrolan mereka.

"Bagaimana aku mengatakannya pada Maura, aku sudah bilang pada mereka. Tapi mereka memaksa...."

"Papa, bibi." Maura melangkah mendekati keduanya.

Maura duduk disamping bibinya.

"Putriku yang cantik, dari mana saj kau dari pagi tadi?"

"Aku habis jalan jalan keluar saja papa."

"Oh ya, kemana?"

"Hanya ke taman."

Raja berpindah tempat duduk menjadi disamping Maura, ia mengelus rambut putrinya dengan lembut.

"Nak papa punya kabar gembira untukmu."

"Oh ya, apa itu papa? Katakanlah."

"Papa sudah mengatur pernikahanmu nak." ucap Raja.

Seketika senyum di wajah Maura sirna setelah mendengar ucaoan sang ayah.

"Pernikahanku?" tanya Maura dengan kaget.

"Ya, pernikahanmu."

Maura berdiri dan berpindah sofa, meninggalkan ayah dan bibinya.

"Aku sangat tertarik, dia merasa malu. Dia pemuda yang luar biasa, dia tampan dan berasal dari keluarga baik." ucap Raja.

Maura yang syok masih bergeming di tempat, kemudian ia menoleh ke arah orang tuanya.

"Aku tak bisa menikah dengannya." ucap Maura.

"Mengapa sayang?" tanya Raja.

"Karena aku telah berjanji pada seseorang papa."

Senyum di bibir Raja langsung pudar mendengar penolakan Maura.

"Siapa dia?" tanya Raja.

"Aku akan mengenalkanmu padanya papa."

****

Keesokan harinya Maura dan Rendra bertemu, kemudian Maura menceritakan apa yang terjadi ketika pulang ke rumahnya jika ia akan dijodohkan oleh papanya dengan pria kaya. Namun Rendra tidak percaya dengan Maura, ia menganggak Maura sedang bercanda dengannya seperti kemarin. Rendra tertawa keras.

Ha ha ha

"Mengapa kau tertawa seperti orang gila?" ujar Maura geram karena Rendra tak percaya dengannya.

"Aku sedang tidak bercanda, ini beneran Ndra."

"Aku sudah mengatakan semuanya pada papa, dan dia ingin bertemu denganmu hari ini." Ucap Maura lagi.

Rendra mengakhiri tawanya kemudian ia membalik melihat Maura.

"Apa kau tahu, apa yang akan papamu lakukan ketika menemuiku?" tanya Rendra.

"Apa?"

"Menendangku dari rumahnya."

"Ayahku bukan seseorang yang brutal Ndra, aku percaya papa pasti akan menyukaimu."

"Pakailah pakaian yang bersih, cukurlah rambutmu dan jangan pakai sendal ya biar terlihat agak formal."

"Memangnya aku mau melamar pekerjaan?"

"Ya anggap saja, kau akan melamarku." jawab Maura santai membuat Rendra tersenyum.

"Oh, kau sudah tidak sabar untuk aku lamar ya?" goda Rendra.

"Izh, apaan sih. Nggak." kilah maura dengan senyum malu malu.

"Itu apa, kenapa pipimu merona. Hayoo..."

"Udah ah Ndra, pokoknya kau harus datang menemui ayahku nanti sore jam lima sore. Oke, jangan sampai telat." Maura pergi meninggalkan Rendra sendiri.

"Keinginan hati untuk mempertaruhkan adalah kehidupan, mari kita lihat seberapa kuatnya musuh." gumam Rendra.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status