로그인Malam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu, Kak Patricia Inge, Kak Sendy Zen, Kak Pengunjung5804, Kak Pungki, dan Kak Cak Bud atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih juga kepada para pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem. (◍•ᴗ•◍) masih kurang 780 koin lagi sebelum mendapat Bab Bonus Hadiah. Jadi, ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 3/3 Bab Reguler: 2/2
Bunga-bunga pedang menyambar dari berbagai arah, menutupi pandangan Ryan. Di balik serangan itu, ujung pedang lawannya melesat lurus ke dada.Ryan menurunkan Pedang Caelterra tepat pada waktunya.Tang!Kedua bilah beradu. Ketika ujung pedang lawan tinggal beberapa sentimeter dari dadanya, Ryan memukulnya ke samping. Tanpa memberi kesempatan pria itu menarik kembali senjatanya, Ryan sudah bergerak ke sisi tubuhnya.“Apa?!”Tinju Ryan menghantam sebelum pria itu sempat memasang pertahanan.Boom!Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak tersebut terhuyung mundur. Darah menyembur dari mulutnya, sementara kakinya menyeret tanah untuk menghentikan tubuhnya agar tidak terjatuh. Ia mencoba mengangkat pedang sekali lagi, tetapi lengannya masih gemetar akibat benturan tadi.Ryan tidak langsung mengejar. Ia memutar pergelangan tangannya, memastikan Pedang Caelterra tetap dalam genggaman yang nyaman. Pertukaran singkat itu cukup untuk mengetahui bahwa kekuatan lawannya memang lebih tinggi, tet
Tubuh kultivator yang terjatuh dari lereng menghantam bebatuan dengan suara keras. Lehernya terpelintir, dan kepalanya terkulai pada sudut yang tidak wajar. Ia tewas seketika.Kerumunan di kaki gunung mendadak sunyi.Dua orang yang tadinya bersiap mendaki saling berpandangan, lalu kembali duduk. Tidak ada yang menertawakan mereka. Bahkan para Kultivator Ranah Star Seed tingkat puncak masih menatap jalur pendakian tanpa berani melangkah.“Apa yang menyerangnya?” bisik seseorang.“Entahlah. Aku bahkan tidak melihat ada serangan.”“Dia seperti ketakutan sebelum jatuh.”Ryan menatap titik tempat pendaki tadi kehilangan pijakan. Dengan kultivasi Ranah Star Seed tingkat lima, orang itu seharusnya mampu menjaga keseimbangan di lereng semacam itu. Bahkan jika terpeleset, masih ada banyak cara untuk menyelamatkan diri. Namun tadi pria tersebut hanya menjerit, lalu jatuh begitu saja.'Apa yang dilihatnya di atas sana?'Peti Pedang Six Paths melayang di puncak, begitu dekat untuk dilihat, tetapi
Pedang Ulric Fenwick hampir mencapai Ryan ketika cahaya dari Pedang Caelterra tiba-tiba menyala.Esensi Pedang Abadi menyelimuti bilahnya. Ryan mengayunkan pedang itu sekali, tanpa gerakan berlebihan.Boom!Serangan Ulric langsung terbelah. Cahaya pedang Ryan menerobos dan melesat tepat ke arahnya.Ulric yang semula menyeringai kini kehilangan seluruh kepercayaan dirinya. Ia baru saja mengerahkan kekuatan Ranah Star Seed, tetapi tebasan lawannya bahkan tidak melambat."Apa?!"Ulric berusaha menghindar, tetapi kedua kakinya seperti terpaku ke tanah. Sekuat apa pun ia memaksa tubuhnya bergerak, sudah terlambat.Sinar pedang menghantam pinggangnya.Brak!Tubuh Ulric terbelah dua. Bagian atas tubuhnya terlempar, sementara kedua kakinya roboh sesaat kemudian. Darah membasahi bebatuan di antara pedang-pedang yang tertancap.Dua rekannya membeku. Salah seorang sempat melangkah maju untuk membantu Ulric, tetapi langsung menarik kembali kakinya ketika melihat darah mengalir di bebatuan."Ulric
Sepuluh tahun.Ryan menghabiskan hampir seluruh waktunya di Alam Pedang untuk berkultivasi dan berlatih pedang.Dari fajar hingga larut malam, Pedang Caelterra nyaris tidak pernah lepas dari tangannya. Telapak tangannya berkali-kali melepuh dan pecah sebelum akhirnya dipenuhi kapalan tebal.Namun Ryan tidak pernah menyesali waktu yang dihabiskannya.Selama berkultivasi di dunia luar, ia selalu dikejar berbagai masalah. Bahkan ketika memperoleh teknik pedang baru, Ryan jarang memiliki kesempatan untuk mempelajarinya secara mendalam.Sepuluh tahun di Alam Pedang mengubah semua itu.Bukan hanya kultivasinya yang kembali mencapai Ranah Creation tingkat enam, pemahamannya tentang Dao Pedang juga meningkat pesat. Esensi Pedang Abadi di dalam tubuhnya bahkan telah bangkit sepenuhnya.'Sekarang aku tidak harus selalu bergantung pada Demon Emperor dan Kuburan Pedang.'Ryan menggenggam Pedang Caelterra sambil tersenyum.Dengan kekuatannya sekarang, ia yakin mampu menghadapi kultivator yang ti
Ryan membuka mata dan mendapati dirinya berada di sebuah sel bawah tanah. Dinding batu mengurungnya dari segala sisi, sementara niat membunuh yang memenuhi udara membuat kulitnya merinding.Ia hendak berdiri, tetapi kedua tangannya tertarik ke belakang.Trang!Ryan menunduk. Sepasang rantai hitam membelenggu pergelangan tangannya. Ia mencoba mengerahkan tenaga, namun rantai itu bahkan tidak bergeser. Lebih buruk lagi, pusat energinya juga tersegel.'Apa-apaan yang dilakukan Jarvis Halden?''Katanya aku akan memasuki Alam Pedang. Kenapa malah jadi tahanan?'Krieet!Pintu lorong terbuka. Seorang wanita cantik berjubah megah masuk bersama dua murid."Kau murid Divine Sword Palace yang baru memasuki tanah terlarang?" tanyanya."Benar. Tapi boleh aku tahu tempat apa ini?"Wanita itu memperhatikannya. "Aku tidak menyangka Jarvis Halden benar-benar mengizinkan orang masuk lagi.""Jadi, kau me
Kata-kata Ryan membuat Jarvis Halden terdiam cukup lama. Jemarinya yang sejak tadi mengetuk sandaran singgasana akhirnya berhenti, sementara aula itu tenggelam dalam kesunyian. Ryan tidak mendesak. Ia berdiri dan menunggu keputusan Kepala Istana. Akhirnya, Jarvis menghela napas. "Baiklah. Aku tidak akan menyelidiki asal-usulmu lebih jauh." "Selama kau tidak mengkhianati Divine Sword Palace, itu sudah cukup." Ryan diam-diam mengembuskan napas lega. Setidaknya, ujian yang satu ini berhasil dilewatinya. 'Untung semua yang kukatakan tadi memang bukan kebohongan. Orang tua gemuk itu benar-benar membuatku betah di tempat ini.' Jarvis bangkit dari singgasananya. "Waktumu di Tanah Terlarang Pedang tidak banyak. Berangkatlah sekarang." "Hari ini mungkin juga menjadi hari terakhirmu di Divine Sword Palace." Ryan yang baru hendak berbalik langsung berhenti. Alisnya sedikit terangkat mendengar kalimat terakhir itu. 'Hari terakhirku?' Namun setelah dipikir lagi, ucapan itu masuk akal.







