Mag-log inMati karena hutang dan judol di kehidupan pertama. Revan tokoh utama pada cerita ini, bangkit dan akan menjalani kehidupan kedua. Penebusan dosa di kehidupan kedua, tidak berjalan dengan mudah. Namun, ingatan pada kehidupan sebelumnya, akan membantu Revan. Mampukah Revan mengubah takdirnya dari Gagal Judol menjadi Miliarder?
view moreTahun 2026, tepat tanggal 4 Juni 2026.
Waktu menunjukkan pukul 02.17 pagi. Di ruangan kosku berukuran 3x4 di daerah Jatiasih, penuh sesak dengan udara lembab dan sampah yang baunya menusuk hidung. Sampah ini memang aku biarkan bergeletakan, supaya aku bisa memungutnya kembali saat aku kelaparan. Aku sendirian tinggal di kos tersebut, aku diusir dari rumah oleh ayahku yang saat ini sakit-sakitan dan diceraikan istriku karena tidak ada hartaku yang tersisa. Bahkan, aku sudah tidak bekerja lagi. Pagi itu, perutku sangat sakit. Aku sudah 3 hari tidak makan nasi, hanya air keran dan sisa kuah mie goreng yang aku jilat dari mangkok plastik. Badanku lemas, tak ada tenaga. Bahkan untuk berdiri pun aku sudah tak mampu. Aku mungkin menderita kekurangan gizi akut sejak beberapa tahun terakhir. Kubuka HP ku, berharap ada cerita lain yang aku dapatkan di setiap chat yang aku baca. Namun yang muncul tagihan pinjol: Rp31.452.000, lalu tagihan hutangku yang lainnya. Aku melirik ke chat dari ibu, "Nak, kirim uang buat berobat bapak ya." Chat itu sudah sejak pukul 7 malam tadi. Aku juga membaca chat temanku Bayu, dia mengirimkan chat selang 5 menit dari ibuku, "Van, bisa balikin uangku gak? Mau aku pakai buat beli bahan bangunan. Ada projek nge-las nih. Tapi kalau gak ada juga gak apa-apa kok. Butuh makan gak kamu, Van? Aku bawain nih kalau mau ke kosanmu." "Oiii, Van, kenapa gak bales?" Lanjutan chat dia sebelum dia berhenti. Dalam hatiku bergumam, ‘Sial, aku ketiduran dari sore karena lemas. Aku harusnya balas chat itu. Tapi sudah jam segini aku gak enak untuk chat dia. Bayu, maafkan temanmu ini, yang sering menipumu dengan pinjam uang untuk main Judol.’ Sekilas aku teringat chat ibuku kembali. Aku coba memberanikan diri membalas chat itu, "Ibu dan Ayah, maafkan anakmu ini, uangku habis. Revan sudah gak ada uang, Bu. Ibu dan Ayah sehat selalu ya, kalau saja Revan nurut sama Ayah dulu, mau bantu Ayah kerja, semua tidak akan terjadi seperti ini. Ibu, maafkan Revan," sambil menangis aku membalas chat untuk ibuku. “Oh Tuhan, tidakkah Engkau punya jalan keluar untuk hidupku ini? Tuhan, Engkau pasti sangat marah atas perilaku hamba-Mu selama ini. Maafkan aku ya Tuhanku," sambil tangan mengadah ke atas, aku terus berdoa sambil menangis. Sesak dada ini, hidup hancur karena Judol. Judol atau biasa disebut Judi Online, memang sedang marak di masyarakat saat itu. Putaran terakhir yang aku kira bisa membalikan semua kekalahanku selama ini, justru menjadi titik terakhir hidupku. Aku lebih memilih tidak makan daripada tidak memainkan putaran slot itu. Seperti semacam ketagihan yang tak terhentikan. Aku bahkan rela melakukan apa saja hanya demi satu putaran itu. Aku teringat, “Padahal dulu aku anak IT, punya mimpi besar, punya orang tua mapan dan berkecukupan, punya Maya, wanita cantik yang jadi istriku.” Punya teman-teman baik yang selalu mendukungku. Tapi semua berlalu, semua tinggal cerita masa lalu. Semua pergi karena keegoisanku, karena khayalan kaya yang ingin aku kejar secepat mungkin. Semua hancur karena satu klik lewat HP, "DEPO 50 RIBU BONUS 100%". Ini jurus cerdik penghancur generasi muda. Memang aku pernah menang besar, tapi kalahku mungkin 10x lipat daripada menangku. Setelah menangisi kesalahan dan mengingat masa laluku yang kelam, aku tertawa. Merasa sendiri, merasa sangat bodoh. Aku tidak pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, aku sebenarnya ingin berjuang dan bangkit kembali. Namun, tiba-tiba lampu kos berkedip, nyala lampu seakan-akan mulai meredup. Napasku sesak, duniaku menghitam. Tak ada suara bising di sekitarku. Sepi, sangat sepi keadaan sekelilingku. Dalam gelap itu, aku hanya terus mengucapkan doa, satu hal yang terus terucap dari mulutku dan meresap sampai ke hatiku, "Ya Tuhan, apakah ini ajalku? Jika Kau berikan aku kesempatan kedua, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Sekali lagi saja ya Tuhanku, aku mohon..." ... "Van! Van! Bangun! Kuliah jam 7!" seru Bayu sambil membawa tasnya. Aku tersentak. Bukan bau bangkai. Ini bau oli, bau khas Bayu, teman lama kosku si tukang las dan servis motor. Aku bangun di kasur kapuk tipis. Dinding kos yang ngelupas, tapi tidak ada tumpukan bungkus mie. Masih bersih. Di meja, aku melihat kalender duduk, bulan JANUARI 2016 terpampang jelas di mataku. Aku mencari HP ku yang biasanya kutaruh dekat bahuku setiap tidur. "Hah, ini HP ku? Everson A7T? Bukan Happle 17 2026. Di layarnya aplikasi yang sering aku pakai, 'Selamat Datang di FreeChat (FC)'," gumamku kaget. Perlahan aku bangkit, aku mencoba menampar wajahku, lalu aku berlari ke arah cermin yang agak retak di ujung kamar kos. "Wajahku... muda... 19 tahun. Tidak ada kantung mata hitam, tidak ada jenggot berantakan karena stres. Ini apa ini, apakah aku terlahir kembali ke dunia ini? Tuhan, apa ini mukjizat-Mu?" Hati ini masih bergejolak, seakan tidak menerima kondisi saat ini karena memang tidak masuk akal. "Revan... Aku... REBORN... Aku kembali... Aku... aku hidup kembali," sontak aku meyakinkan diriku. Aku berjalan buru-buru menuju meja, tanganku gemetar mengambil lalu membuka dompet. Ada uang 127 ribu. Lalu aku cek semua aplikasi di HP ku, termasuk aplikasi pinjol. Namun, aku tidak menemukan aplikasi itu, "Gak ada pinjol, gak ada hutang, gak ada hutang 31 juta seperti waktu itu. Apa ini ya Tuhan?" gumamku lebih keras dalam hati. Aku bersujud di ujung kamarku. Saat bersujud, ingatanku di masa lalu muncul, ingatan 10 tahun yang akan datang. Sangat lama aku bersujud sampai aku diteriaki oleh Bayu, "Van, kamu sedang apa? Sudah gila ya. Bangun-bangun sujud begitu." Kali ini, aku tidak akan mati kelaparan karena judol. Aku tidak akan kehilangan masa depan. Aku harus berubah, Tuhan memberikan kesempatan kedua. Aku bangun dari sujudku, lalu aku lari ke arah Bayu, teman terbaikku. Dia satu-satunya orang selain orang tuaku yang selalu bertanya kabarku dan memberikan dukungan dikala aku gagal sebelumnya. “Bay, aku hidup lagi, Bay. Aku kembali, Bay!" sambil menangis aku memeluk erat Bayu. "Van, kamu ngapain? Biasanya kamu jijik kena oli. Sudah lepasin, kotor semua nanti bajumu," ketus Bayu, merasa heran dengan tingkahku. Aku tak peduli dengan omelan Bayu. Mataku justru menatap layar HP jadulku yang masih menyala. Di sana, ada notifikasi baru yang seharusnya tidak ada di tahun 2016. Sebuah notifikasi transfer masuk: Rp31.452.000, jumlah yang persis sama dengan hutang pinjolku di detik kematianku tadi. Bersambung."Mas, pura-pura gak kenal ya. Anggap aja kita baru ketemu hari ini."Bisikan Aluna masih terngiang di telinga kananku. Dingin. Pelan. Tapi nusuk sampai ke ulu hati. Suaranya gemetar, tapi tegas. Seperti perintah.Aku masih duduk di tengah. Kanan Aluna dengan gamis creamnya yang rapi, kiri Maya dengan blazer creamnya yang elegan. Dua-duanya wangi, tapi wanginya beda. Aluna wangi lembut kayak sabun bayi, Maya wangi menyengat parfum mahal. Ustadz di panggung masih ceramah soal keikhlasan bersedekah dan pahala jariyah. Anak-anak yatim di depan duduk rapi, mendengarkan dengan khidmat. Tapi otakku gak dengerin ceramah sama sekali. Suara ustadz cuma jadi dengung di telingaku.Otakku malah muter ke kehidupan pertamaku. Ke kehidupan sebelum aku mati dan balik lagi ke masa kuliah ini.Aku coba ingat-ingat. Di kehidupan pertamaku, aku pacaran sama Maya bertahun-tahun. Aku kenal keluarganya. Mamanya Maya, Papanya Maya, bahkan supir pribadinya. Aku gak pernah ingat kalau di kehidupan pertamaku Ma
HP ku bergetar di saku celana.Aku lihat layarnya. *Aluna Calling*Foto profil hijab cream background taman itu.Jantungku berhenti sedetik. Di depan mataku, sepuluh meter dari tempatku ngumpet di belakang gerobak es teh, Aluna dan Maya masih berdiri di bawah pohon mangga. Mereka lagi ngobrol sambil ketawa.Kalau aku angkat di sini, bisa ketahuan Maya. Tapi kalau gak aku angkat, Aluna bakal lihat aku ada di sini tapi gak angkat telponnya.Aku pencet hijau, aku tempel HP ke telinga, aku berbisik pelan."Halo, Kak Aluna."Suara Aluna di seberang dingin. To the point. Gak ada assalamualaikum kayak biasanya."Mas Revan, jangan kesini."Aku bengong. Satu kalimat. Jelas."Loh kenapa Kak? Aku udah di depan yayasan.""Maya ada di sini Mas. Pacar Mas ada di sini. Jangan kesini dulu ya."Tegas. Langsung nusuk. Aku mau jawab lagi, tapi telponnya sudah mati. Tut. Tut. Tut. Gak sampai tiga puluh detik.Aku masih pegang HP di telinga, bengong di belakang gerobak es teh. Tukang es teh yang jualan n
Gara-gara mereka aku gak bisa tidur. Bener-bener gak bisa. Kasur kosku yang tipis itu rasanya jadi papan. Aku sudah bolak-balik, dari menghadap tembok sampai menghadap pintu, mata ini tetap melek. Di otakku muter terus dua nama: Aluna dan Maya. Besok pagi aku harus pilih mana ya. Satu minta ketemu buat bahas wasiat almarhum Abi, satu lagi maksa ngajak ke suatu tempat dan gak boleh nolak. Hmmm aku ada ide, coba aku WA Aluna dan Maya, mereka butuh jam berapa ketemunya. Aku meraih HP di atas meja yang masih menyala redup. Pertama aku buka chat Maya. Foto profilnya lagi senyum cantik, rambutnya diurai, primadona kampus yang body-nya kayak model. Aku mengetik, "Sayang, besok jam berapa? Tempatnya dimana besok?" Terkirim. Centang dua abu-abu, gak biru. Ah, Maya sudah tidur. Pantesan, tadi di telpon suaranya juga udah ngantuk. Sekarang Aluna. Ini yang agak susah. Aku masih scroll ke bawah chat WA ku. Ribuan chat grup, chat grup kelas, chat teman. Lama aku mencari, jari ku pegal
"Mas, besok ada waktu?" Suara Aluna lembut, tapi tatapannya serius. "Oh, aku belum tau. Kenapa kak?" tanyaku. Aluna melirik ke arah Zahra yang sedang sibuk membereskan kabel charger di lantai. "Boleh nggak kita geser dulu keluar, ada hal penting yang perlu aku bahas sama mas besok. Takut kedengeran Zahra," bisik Aluna pelan. "Oh aku paham, bentar kak," jawabku. Aku lalu berteriak ke Zahra. "Oiii Ra, aku sama kak Aluna pamit balik ya. Udah malem nih, besok ada kelas pagi." Zahra mendongak dan langsung cemberut. "Ahh kalian nggak asik, bahas yang lain ya mas sama kakak? Nggak ngajak-ngajak! Yasudah silahkan pulang. Mas jangan nakal sama Kak Aluna ya! Kak Aluna itu orang baik-baik!" "Siap adek, hahahaha," jawabku. Aku dan Aluna akhirnya keluar dari ruang tamu Kos Putri Rara di BSD ini. Udara malam BSD gerah, tapi ada angin sepoi. Di depan kos masih ramai motor anak kampus seliweran. Kami berjalan ke area parkiran yang sepi dekat pos satpam. "Kak, disini aja. Kakak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.