Se connecterSore Semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama sore ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Kalkulasinya sederhana sekaligus kejam, seperti hampir semua keputusan yang dibuat oleh pikiran kuno yang sudah terlalu lama melihat dunia bergerak.Kalau ledakan diri Nether Corpse Demon Lord berhasil meratakan Ryan dan yang lainnya, Sky Demon Lord tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Demon Saint yang sudah tidak lagi di puncak kekuatannya. Masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan. Tapi kalau ketiganya selamat dari ledakan itu, tidak ada satu pun celah yang tersisa untuk digunakan.Itulah mengapa Nether Corpse Demon Lord memilih jalan yang tidak bisa ditarik kembali oleh siapa pun."LEDAKAN SERIBU ARTEFAK!"WUSHHH!Ryan meraung, suaranya membelah udara yang sudah penuh sesak dengan tekanan dari dua sumber kekuatan yang berpacu menuju satu titik yang sama. Tangannya melempar seluruh artefak yang tersisa ke langit dalam satu gerakan, ruang-waktu dan Dao Integration sekaligus, tidak ada satu pun yang disimpan untuk kemungkinan berikutnya.Tidak ada waktu untuk menghitung lebih d
Tangan Nether Corpse Demon Lord mengepal, cakar tajamnya teracung ke depan dalam posisi yang lebih mirip refleks terakhir daripada ancaman nyata.Ryan berdiri tenang di hadapannya."Waktu Berlalu."Tidak perlu teriakan. Tidak perlu pose dramatis. Jari-jarinya terangkat, dan kekuatan hukum temporal mengalir keluar seperti sungai yang menemukan muaranya, memasuki tubuh Nether Corpse Demon Lord lewat celah-celah yang sudah dibuka oleh luka-lukanya dari dalam.Dari dalam, waktu mulai bergerak ke arah yang salah bagi Nether Corpse Demon Lord.Vitalitas yang tersisa terkikis satu per satu. Aura yang sudah lemah semakin redup. Kulit di wajahnya mengendur, dan mata yang tadi masih membara perlahan kehilangan fokusnya satu lapisan demi satu lapisan.Nether Corpse Demon Lord melangkah maju. Satu langkah, dua langkah, tapi setiap langkah lebih berat dari sebelumnya, seperti seseorang yang berjalan melawan arus
Nether Corpse Demon Lord merasakan perubahan itu di saat yang sama dengan jiwa-jiwa jahat di belakangnya.Bukan rasa sakit. Lebih dekat ke kepanikan yang tidak pernah ia rasakan dalam ribuan tahun hidupnya.Jiwa-jiwa yang selama ini tunduk padanya tanpa syarat, yang mengalir seperti bayang-bayangnya sendiri dan merespons kehendaknya sebelum perintah selesai diucapkan, kini lari kocar-kacir ke segala arah tanpa bisa dikendalikan satu pun. Api dari Spirit Phoenix tidak memandang bulu dan tidak mengenal ampun. Setiap jiwa yang disentuhnya padam dalam nyala yang tidak meninggalkan abu, tidak meninggalkan sisa apa pun. Lenyap begitu saja seperti tidak pernah ada, bahkan kenangan akan keberadaan mereka pun ikut sirna bersama kepergiannya.Nether Corpse Demon Lord mengambil keputusan dalam sepersekian detik: lepaskan rencananya pada kultivator tanpa sekte itu, selesaikan ancaman yang lebih mendesak terlebih dahulu. Ia berba
Ryan merasakan sesuatu seperti tangan dingin yang meremas dari dalam kepalanya. Emosi-emosi yang bukan miliknya menyusup masuk satu per satu: putus asa, amarah tanpa sebab yang jelas, kesedihan yang tidak punya nama dan tidak punya wajah. Semuanya mencoba menenggelamkan kejernihan pikirannya dari dalam secara bersamaan. Di sebelahnya, kultivator tanpa sekte itu mengerang keras, kedua tangannya memeluk kepalanya sendiri seperti orang yang mencoba menahan sesuatu agar tidak keluar dari dalamnya. Pedangnya jatuh ke lantai dengan bunyi berdenting yang terasa terlalu keras untuk ruangan yang sudah terlalu penuh dengan suara lain. "Kalian cuma semut." Nether Corpse Demon Lord melangkah maju dengan santai seorang predator yang tidak punya alasan untuk terburu-buru karena ia sudah tahu hasilnya. "Kalian tidak akan pernah bisa memahami kekuatan jiwa yang sudah mengendap ribuan tahun di tempat seperti ini." Sosoknya muncul di samping kultivator tanpa sekte itu dalam sekejap tanpa suar
WUSHHH! Ryan menarik napas panjang sambil menyapu seluruh harta Blood Demon Lord ke dalam kantong ruangnya dalam satu gerakan bersih. Bahkan di tengah tubuh yang babak belur dengan luka yang belum ada satu pun yang sempat disembuhkan, tangannya tidak gemetar. 'Satu sudah selesai.' Tapi kematian Blood Demon Lord bukan akhir dari pertempuran ini. Justru sebaliknya, itu hanyalah awal dari bagian yang lebih berat. "Blood Demon Lord!" Raungan Nether Corpse Demon Lord membelah udara ruangan seperti sesuatu yang tidak seharusnya keluar dari mulut siapa pun. Di langit ruangan, pertempuran berhenti sesaat. Tiga Demon Lord yang tersisa merasakan hal yang sama dalam waktu bersamaan, sesuatu yang seharusnya tidak bisa terjadi, baru saja terjadi di bawah hidung mereka. Rekan mereka, seorang kultivator kuno yang namanya saja sudah cukup untuk mengguncang seluruh Benua Valorisia, sudah tidak ada. Amarah meledak serentak dari tiga arah berbeda. Tapi masing-masing terjerat dalam pertem
Itu Yue Lane.Sebuah botol giok kecil melayang menembus celah sempit di jeruji penjara darah, dilempar dengan presisi yang tidak memberi Blood Demon Lord waktu untuk bereaksi sebelum sudah ada di tangan Ryan.Ryan menangkapnya. Membuka tutupnya dalam satu gerakan.Di dalam botol itu, setetes darah berwarna merah tua menggenang diam, hampir tidak terlihat kalau tidak diamati dengan seksama.Dalam sepersekian detik, seluruh ingatan itu kembali. Pertarungan melawan Venerable Immortal Flame Spear. Yue Lane yang diam-diam menyimpan esensi darah Lina Jirk untuk kemungkinan seperti ini.'Innate Poison Body. Milik Lina Jirk.'Pemahaman itu melintas cepat. Tapi masalahnya satu: tombak Blood Demon Lord sudah melesat ke arahnya.SYIIING!Ryan mengangkat Pedang Iblis Darah, menyambut tombak itu bukan untuk menghindari tapi untuk membenturkan secara langsung. Dua kekuatan yang berlawanan beradu di satu ti
"Eleanor, apa yang kau lakukan?!" Jackson Jorge panik. "Kau tidak tahu rencana busuk Ferdinand Jorge?!" Namun Eleanor Jorge sudah mengambil keputusan. "Kau yang meminta, Eleanor Jorge," Ferdinand Jorge menyeringai. "Kau selalu menjadi pusat perhatian, padahal akulah yang bekerja keras. Sekarang, k
Harimau darah dan Telapak Membakar Bumi saling bertabrakan, menciptakan gelombang kejut yang membuat platform bergetar hebat! Dalam sekejap mata, harimau darah Lucas Ravenclaw tercabik-cabik tanpa ampun oleh badai api yang datang! "Bagaimana ini mungkin?" Lucas Ravenclaw terperanjat. Ketika Ryan
"Fisik Iblis Berdarah Dingin, keluarlah! Aku membutuhkanmu sekarang!" gumam Wendy panik pada diri sendiri. Namun hanya keheningan yang menyambut. Berbeda dengan kemunculannya tempo hari, kali ini Fisik Iblis Berdarah Dingin sama sekali tidak merespon. "Sial! Kenapa di saat seperti ini malah tid
Tampaknya pemuda dalam mural itu akan terluka dan berada dalam kesulitan berat. Namun, melihat senyum yang terukir di wajahnya, Ryan langsung paham apa yang akan terjadi selanjutnya. Senyum itu sama persis dengan ekspresi yang biasa ia tunjukkan saat tahu semuanya berada dalam







