MasukIni Bab kedua siang ini. Tombak dalam legenda Arthur akhirnya muncul(≧▽≦) Selamat Berlibur (◠‿・)—☆
Keduanya berjalan ke tengah arena. "Yakou Zedd dari Keluarga Blazehart, menantang Ryan Pendragon dari Keluarga Blazesky. Pertandingan dimulai!" Ryan menggerakkan jari-jari tangan kirinya satu per satu begitu kakinya menyentuh permukaan batu biru arena. Kaku. Aliran qi di sana masih seret, belum sepenuhnya kembali ke jalur yang seharusnya. Tapi cukup untuk ini. 'Justru ini kesempatan bagus untuk melatih gerakanku.' Tidak ada gunanya mengakhiri pertandingan ini terlalu cepat dengan Tebasan Pedang Golden Sword. Lebih baik manfaatkan setiap detiknya. Paksa tangan kiri tetap bergerak, tetap mengalir, pulih di bawah tekanan nyata. Ryan mengepalkan tangan kirinya perlahan. Keduanya sudah siap. Di hadapannya, Yakou Zedd tidak lagi terlihat seperti tadi. Senyum ejekan yang ia bawa masuk ke arena sudah lenyap sepenuhnya. Mulutnya kini tertutup rapat. Bahunya turun sedikit, berat badannya dialihkan ke telapak kaki depan. Napasnya keluar satu kali, pelan dan terkontrol. Postur s
Ryan memandang angka itu sebentar. 'Jelas.' Di babak kedua ini, formatnya berbeda dari babak pertama. Tidak ada lagi pengecualian untuk sesama anggota keluarga. Dan yang paling penting, urutan tampil ditentukan oleh angka undian. Peserta dengan nomor terkecil boleh memilih siapa yang ingin mereka tantang dari seluruh daftar, bebas tanpa syarat. Peserta dengan nomor terbesar hanya bisa menunggu dan menerima tantangan yang datang. Nomor dua puluh empat adalah nomor paling pasif yang bisa ditarik. Di sisi lain arena, seseorang mengangkat lempengannya dengan senyum yang lebih lebar dari seharusnya. Yakou Zedd. Nomor satu. Beberapa peserta di sekelilingnya meliriknya dengan tatapan yang mengandung sedikit iri. Nomor satu berarti kebebasan penuh: bisa memilih siapa saja, menghadapi lawan yang paling lemah atau paling kuat sesuai keinginan. "Peserta nomor satu, maju," kata lelaki tua itu. Yakou Zedd melangkah ke tengah arena dengan gaya yang ia susun agar terlihat santai, t
Langkah Rodick Blazesky berhenti tepat di luar pintu kamar Ryan.Ia berdiri di sana cukup lama. Tidak bergerak, memandang kegelapan lorong batu di depannya tanpa benar-benar melihatnya, seperti pikiran yang masih tertinggal di dalam ruangan yang baru saja ia tinggalkan. Hembusan napasnya terdengar lebih berat dari biasanya."Anak itu memang luar biasa," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. "Mengalahkan Cole Shadowmist sedemikian rupa... jika bukan karena Perlindungan Darah Kuno itu, mungkin dia benar-benar bisa meraih posisi teratas."Namun ada sesuatu yang mengganjal di balik kekagumannya."Sayang sekali." Ia menggeleng. "Dengan kondisi itu ada di sana, bahkan dia pun tidak akan punya kesempatan."Ia melangkah pergi dalam sunyi, meninggalkan lorong yang kembali sepi.**Di dalam kamarnya, Ryan tidak langsung beristirahat.Ia duduk bersila di atas
Ryan melangkah turun dari panggung.Begitu kakinya menginjak tanah di luar arena, pandangannya turun ke tangan kirinya.Tangannya gemetar. Getaran halus yang hampir tidak terlihat dari luar, namun ia bisa merasakannya dengan sangat jelas dari dalam.Ia mengepalkan jari-jarinya perlahan. Nyeri yang menjalar dari pergelangan tangan ke atas mengingatkannya pada kondisi yang sebenarnya. Otot-ototnya robek dari dalam oleh kekuatannya sendiri, pembuluh qi yang tersumbat di beberapa titik, dan aliran energi yang tidak lagi semulus sebelum tebasan itu.'Itu ujian sekaligus harga yang harus dibayar.'Ryan mencatat hasilnya dengan dingin.Tebasan itu mengandung kekuatan yang bahkan melampaui level puncak Ranah Dao Integration, mendekati level awal Ranah Creation. Dan itu tanpa bantuan Pedang Iblis Darah, tanpa Mata Iblis, tanpa siapa pun dari para jiwa yang menyertainya.Hanya Immortal Divine Body dan
Cole Shadowmist tahu ia akan mati. Tidak perlu kalkulasi panjang untuk sampai ke kesimpulan itu. Kekuatan yang mengalir dari tebasan Ryan sudah mengunci seluruh dimensi geraknya bahkan sebelum bilah itu mencapai jarak setengah meter. Darah Bayangan Langit membakar pembuluh darahnya dari dalam, tribulasi langit mengalir kasar ke kultivasinya yang belum sempurna, aura Ranah Creation-nya masih goyah dan tidak stabil. Tidak ada cukup waktu untuk menstabilkan semuanya. Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan. "Perlindungan Bayangan Ilahi!" WUUUMM! Bayangan hitam pekat menyembur keluar dari tubuh Cole, bukan seperti cahaya yang memancar dari dalam, melainkan seperti kegelapan yang ditelan ke dalam dan dipadatkan sampai menjadi sesuatu yang bisa dipegang. Seluruh permukaan tubuhnya diselimuti oleh lapisan kegelapan yang berdenyut tidak teratur mengikuti detak jantungnya yang kacau. KRAAAAAKKK! Golok Ryan menghantam. Ledakan yang ditimbulkan bukan ledakan biasa. Gelombang teka
Kabut darah menyembur dari permukaan lengannya dalam semburan tipis yang berkilauan di bawah cahaya formasi arena. Bukan luka dalam dari luar. Ini dari dalam, otot-otot yang melewati batas yang tidak seharusnya dilampaui. Otot-ototnya yang tadinya berlapis cahaya hitam-emas kini robek dari dalam oleh kekuatan yang ia paksakan melewati kapasitas normalnya. 'Bahkan dengan Immortal Divine Body, ini masih terlalu berat untuk dikendalikan dengan sempurna.' Tanpa kilasan pemahaman hukum alam yang ia tangkap saat melawan Kraig Blazesky kemarin, tebasan ini tidak akan bisa diarahkan dengan presisi yang dibutuhkan. Kekuatan sebesar itu tanpa kendali yang cukup sama saja dengan ledakan yang tidak punya tujuan. Ia tidak mengeluarkan Pedang Iblis Darah. Bukan karena tidak mampu. Tapi senjata itu membawa terlalu banyak aura kuno yang akan menarik perhatian yang tidak ia inginkan di sini. Kecuali benar-benar tidak ada pilihan lain, simpan saja. ** Cole Shadowmist merasakan tebasan it
Setelah menerima telepon dari Christ, Lucy Jeager bergegas menuju gang tersebut. Napasnya terengah-engah saat tiba di lokasi, namun seketika terhenti melihat pemandangan di hadapannya. Tiga mayat tergeletak dingin di tanah, salah satunya–yang terlihat paling mengenaskan–adalah Jonathan West, tuan m
Telinga Ryan sudah berdenging karena tawaran terus berdatangan. Hanya dalam lima menit, tawaran tertinggi telah mencapai 20 miliar. Suasana di ruangan pelelangan semakin memanas, udara seolah bergetar dengan antusiasme dan ketegangan yang tak terbendung. Ryan mengamati kerumunan dengan seksama, m
Will terpental, tubuhnya menghantam lantai dengan suara berdebum yang menyakitkan. Darah mengucur dari hidung dan mulutnya, membasahi wajahnya yang kini dipenuhi rasa sakit dan amarah. "Dasar bajingan!" Will berusaha berteriak di tengah rasa sakitnya, namun Ryan tidak memberinya kesempatan untuk m
Wajah Yoland hampir seluruhnya berlumuran darah, dan dunianya berputar. Kesadarannya yang mulai memudar dipenuhi keterkejutan yang nyata. Tubuhnya yang gemetar tergeletak tak berdaya di tanah dingin area konstruksi. Pada saat ini, dia menyadari sebuah kebenaran yang mengerikan—tidak ada penduku







