LOGINQiqiela Varelian (19) menyamar menjadi laki-laki bernama Kean Arsenio demi membalas dendam atas kematian sang ibu kandung yang dibunuh oleh ayahnya. Dalam penyamaran Qiqi sengaja berkuliah di kampus elit yang sama, dan jurusan yang sama seperti saudari tirinya. Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Qiqi mendekati dan mempermainkan penguasa kampus, anak-anak konglomerat, bangsawan kelas atas. Seiring berjalannya waktu, Arlo (22) yang merupakan kepala keluarga Herlan, mengetahui idenditas asli Qiqi. Alih-alih marah atau membongkar, ia justru membantu Qiqi. Sering bersama, keduanya saling jatuh hati dan menjalin hubungan mesra. Dalam permainan mematikan ini, mampukah Qiqi membalas dendam, menghancurkan keluarga baru ayahnya, mengembalikan martabatnya, dan hidup bahagia bersama Arlo. Ataukah... Ia akan bernasib sama seperti ibunya?
View MoreDada kiriku berdenyut nyeri, bukan hanya karena bebat chest binder yang menekan dadaku, tapi juga karena pemandangan di depanku.
Di barisan depan kelas arsitektur, Sarah Varelian tertawa anggun. Rambut hitamnya jatuh sempurna di bahu, dan seragamnya bersih tanpa cela. Dia terlihat seperti putri tunggal konglomerat yang hidup bahagia. Aku meremas ujung bolpoinku, menahan amarah. Tujuh tahun lalu, senyum pongah ayahnya, yang sayangnya juga ayahku, menghancurkan hidupku. Pria brengsek itu... Tak hanya membiarkan ibuku digilir para bajingan tapi juga, membiarkanku menjadi saksi atas kemalangan yang menimpa ibuku, sebelum beliau meninggal akibat dibakar hidup-hidup. Tentu saja, semua tindakan sadis pria itu, ia lakukan demi menyenangkan ibu Sarah, si wanita simpanan, gundik rendahan yang menjadi duri dalam daging. Aku yang saat itu masih berusia dua belas tahun hanya bisa membeku dan menangis tanpa suara dari balik persembunyian. Tapi, aku tidak perlu khawatir. Kini, aku telah kembali. Aku meninggalkan desa terpencil, membuang identitas Qiqiela, nama asliku, memangkas rambutku, dan menyusup ke Universitas Bimsa sebagai Kean Arsenio. Semuanya... Demi mengobrak-abrik keluarga baru ayahku dan menagih cidera yang aku alami selama tujuh tahun terakhir. Lamunanku pecah saat sebuah tangan mencubit lenganku bermanja-manja. "Kean, dari tadi lihatin siapa sih?" Bella mengerucutkan bibir berpoles lip gloss merah mudanya. "Fokus amat. Kamu naksir Sarah?" Aku menggeleng pelan, menormalkan detak jantungku. "Nggak. Dia terlalu sempurna buat lumpur sepertiku." "Halah, nggak usah bohong," goda Bella menyenggol pundakku. "Lagipula wajar kalau kamu naksir dia." Aku hanya tersenyum tipis. "Aku ke sini cuma mau lulus dan kerja di perusahaan besar. Mana ada waktu buat kisah cinta." Bella mengibaskan tangan, tak acuh dengan jawabanku. Dia merogoh tas tangannya, mengeluarkan kotak berukuran kecil dengan pita cantik. "Tolong kasih ini buat Kak Arlo, ya. Kalian 'kan sekamar." Aku mengernyit. "Kenapa nggak kamu kasih sendiri?" "Aku... Malu," kilahnya. Rona merah menjalar di pipinya. "Kak Arlo dingin banget. Aku takut ditolak. Tolong ya, Kean? Kue ini aku buat sendiri." Mendengar rengekannya yang persis seperti bayi, aku mendesah pelan dan terpaksa menerima kotak itu. *** Sore harinya, kamar asrama laki-laki terasa sejuk. Arlocean Herlan tengah duduk bersandar di ranjangnya seberang kasurku, tenggelam dalam buku tebal. Garis rahangnya tegas, rambutnya tertata rapi. Pemuda dua puluh dua tahun itu bukan sekadar senior rupawan yang bersikap dingin. Dia adalah ahli waris dan kepala keluarga Herlan. Kekuasaannya mutlak. Mendapatkan kepercayaannya adalah jalan pintas untuk memuluskan rencanaku. Tanpa menunggu, aku meletakkan kotak pemberian Bella di atas nakasnya. "Hadiah dari Bella, Kak. Kayaknya dia naksir berat sama Kakak," pungkasku berterus terang. Arlo menghela napas panjang, menutup bukunya. Tatapannya yang tajam beralih padaku, menguarkan aura intimidasi yang membuat bulu kudukku meremang. "Hadiah itu buat kamu saja. Bilang padanya kalau aku sudah menerimanya." Dengan senang hati aku membawa kotak kue itu ke mejaku sendiri. Arlo bangkit, menarik kursi tak jauh dariku, lalu meletakkan sebuah buku catatan. Tatapannya mengunciku lekat. "Kamu mahasiswa beasiswa yang masuk dengan peringkat pertama," suaranya mengalun rendah dan berat. "Kalau kamu berhasil mempertahankan peringkatmu, bekerjalah untukku." Aku tersenyum lebar. "Kak Arlo beneran baik, nggak kayak gosip yang aku dengar!" Tangan besar Arlo mendadak terulur, mengelus puncak kepalaku pelan. Aku terpaku. Senyum tipis untuk pertama kalinya terbit di bibirnya. Arogansinya lenyap, menampakkan pesona maskulin yang luar biasa. Belum sempat aku membalas, pintu kamar menjeblak terbuka. Reno melangkah masuk, melemparkan kunci motor ke ranjang sambil mengeluhkan cuaca luar yang panas seperti simulasi neraka. Tubuh gagahnya basah oleh keringat. Tanpa permisi, pemuda berambut pirang kecokelatan itu duduk di sebelahku dan merangkul pundakku erat. "Hei, cowok jadi-jadian, aku sudah daftarin kamu ke klub tinju," kekeh Reno, menepuk lenganku. Aku membelalak kaget, berusaha meronta dari jepitan ototnya. "Kak! Fisikku dari kecil emang lemah, tapi aku normal seratus persen!" Reno mendengus lelah, melepaskan rangkulannya. "Aku nggak peduli orientasi seksualmu. Aku cuma nggak tahan lihat badan mungilmu ini. Minimal kamu punya otot lengan!" "Suruh dia pergi ke gym saja. Tidak semua orang maniak tinju sepertimu," potong Arlo datar, dia menyelamatkanku. Reno mengangguk setuju tanpa berdebat. Pertemanan mereka memang sehat dan saling menghargai. Sadar perutku sedikit keroncongan, aku membuka kotak dari Bella. Sebuah kue fondant merah muda yang terlihat sangat manis. "Apa itu? Kelihatan seperti penyebab penyakit diabetes," cibir Reno pedas saat aku menawarkan potongan kue padanya. Lantaran Reno dan Arlo tidak suka manis, aku menyuapkan potongan besar itu ke mulutku sendiri. Namun, sedetik setelah gigiku mengatup, rasa sakit yang luar biasa menusuk gusi dan lidahku. Aku refleks memuntahkan seluruh isi mulutku ke lantai. Rasa anyir darah menyengat indra penciumanku. "Kean! Mulutmu berdarah!" Bersambung...Sore harinya, aku benar-benar dibawa ke sebuah penginapan di dekat dermaga, tempat Tuan Zilo menginap.Awalnya, pria itu menyambutku dengan ramah, mengingat bahwa aku adalah orang yang disayangi Arlo. Namun, begitu Reno memberitahu bahwa aku juga merupakan orang yang disayanginya, pria berumur yang masih terlihat tampan itu langsung menatapku sinis."Kean, sebagai seorang laki-laki sejati, masa depanmu secerah kulitmu. Dengan kemampuan otakmu, seharusnya kamu bisa sukses tanpa menggoda laki-laki berkuasa," tutur Tuan Zilo menasihatiku."Hati Tuan Arlo sangat rapuh semenjak kehilangan tunangan. Kebetulan, wajahmu sangat mirip dengan mendiang tunangannya. Wajar jika kamu menjadi kesayangan," lanjut Tuan Zilo.Aku melirik Reno yang hanya diam. Sialan, ia membiarkan ayahnya mengomeliku."Namamu... Kean, 'kan?" tanya Tuan Zilo, memastikan.Aku mengangguk sebagai jawaban."Apa tidak cukup menjadi kesayangan Tuan Arlo? Haruskah menggoda putraku juga? Kamu cukup serakah," lontarnya, sengaja m
"Tidak ada istri yang masih perawan," tukas Tuan Gaxi. "Humormu ternyata jauh lebih buruk dari ayahmu dulu," ledeknya."Aku tidak sedang bercanda," sahut Arlo."Jelas-jelas kamu bercanda." Tuan Gaxi tidak mau kalah.Asisten Tuan Gaxi akhirnya turun tangan. Pria itu menegur tuannya agar kembali fokus pada pembahasan utama.Tuan Gaxi berdehem. Ia kemudian menjelaskan rencananya secara rinci kepada Arlo.Setelah menyampaikan semua hal yang perlu disampaikan, pertemuan dadakan antara dua kepala keluarga tersebut akhirnya berakhir.Saat berada di dalam mobil menuju apartemen Arlo, aku menanyakan keterkaitan kasus Airin dengan Sarah."Walau anak pemimpin kartel, Max tidak akan berani menyentuh Airin. Ada orang yang memerintahnya," tutur Arlo, sependapat denganku."Mungkinkah Sarah? Dia memanfaatkan rasa cinta Max," timpalku, menebak.Arlo mendengus. Ia memijat keningnya.Melihat Arlo yang tampak pusing, aku memilih tidak melanjutkan pembahasan."Aku akan selalu mendukung rencanamu bersama T
Tiga hari setelah insiden kebakaran di laboratorium Fakultas Kedokteran, aku dan teman-teman lainnya menghadiri pemakaman Airin.Aku sama sekali tidak menyangka bahwa inilah jawaban dari kegelisahan yang kurasakan. Aku harus kehilangan sahabat masa kecilku, tepat ketika ingatanku tentang dirinya mulai kembali sedikit demi sedikit.Rasanya jauh lebih menyakitkan.Sepanjang prosesi pemakaman, aku hanya mampu membisu dengan tatapan kosong. Bahkan Arlo yang berdiri di sampingku pun tak banyak bicara. Sorot matanya menyiratkan luka mendalam akibat kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya.Setelah prosesi pemakaman selesai, ayah kandung Airin melakukan wawancara dengan seorang reporter dari salah satu stasiun televisi swasta milik keluarga Lozi.Dalam wawancara tersebut, ayah Airin, Tuan Gaxi, mengungkapkan kesedihannya atas kepergian sang putri. Namun, ia memutuskan untuk tidak menyelidiki kematian Airin lebih lanjut. Ia percaya bahwa kepergian putrinya merupakan bagian dari takdir
Nyonya Mayun menghajar Sarah tanpa ampun. Ia sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk berbicara sepatah kata pun. Menurutnya, semua bukti sudah terpampang jelas. Sarah tidak perlu menjelaskan.Sarah meringkuk telungkup sembari menangis menahan sakit. Kedua tangannya berusaha melindungi wajah dari pukulan sang ibu. Untuk saat ini, ia tidak berani melawan. Ia menganggap ibunya telah kehilangan akal sehat.Saat Sarah disiksa oleh ibunya, Deria hanya menyaksikan dalam diam dari atas ranjang. Ia begitu menikmati pemandangan di hadapannya.Setelah merasa Nyonya Mayun mulai kelelahan, barulah Deria menghentikan wanita itu.“Nyonya, sudah cukup!” teriak Deria sembari berlari menghampiri Nyonya Mayun.Deria memeluk tubuh Nyonya Mayun dari belakang, berusaha keras menjauhkan wanita itu dari sang putri.“Nyonya... Tenangkan dirimu. Sarah sudah babak belur. Dia seorang wanita. Jangan sampai wajahnya cacat,” tutur Deria, sedikit menasihati Nyonya Mayun.“Aku bahkan tak menyentuh wajahnya!” tu
Dengan sedikit bingung, aku memperkenalkan Qila kepada Arlo. Akan tetapi, respons Arlo tidak seperti yang kuharapkan. Ia menatapku dengan tatapan aneh. Alisnya sedikit berkerut, sorot matanya dipenuhi tanda tanya. Seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
Amarahku memuncak saat melihat Reno memejamkan mata. Dadaku mendadak menegang. Reno, apakah dia pingsan? Atau...Sial! Pikiran burukku langsung kupotong.Aku mengatur napas, lalu memasang posisi siap bertarung.Di depanku, Aldo tertawa. Tatapannya yang merendahkan, meni
Jantungku berdegup kencang saat tubuhku diseret mundur. Instingku langsung bekerja. Mataku bergerak cepat, menyapu setiap sudut gelap di gang sempit, mencari kemungkinan adanya rekan lain yang bersembunyi.Namun, kosong! Tidak ada siapa pun. Orang ini datang sendirian?Senyum tipis nyaris muncul. B
Ruang sidang diliputi keheningan yang menekan.Lampu kristal besar di langit-langit memantulkan cahaya putih dingin, menyinari setiap sudut ruangan tanpa ampun.Dinding marmer yang tinggi memantulkan gema napas para hadirin, menciptakan suasana kaku yang membuat siapa pun enggan bergerak sembaranga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore