MasukPagi Semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama pagi ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Kota Heavenly Capital berdiri megah di tengah dataran luas. Tembok kelabu setinggi puluhan meter mengelilinginya, dengan rune pelindung berwarna keemasan yang terukir di sepanjang permukaan batu. Dari kejauhan saja, Ryan sudah dapat melihat betapa ramainya kota tersebut.Kereta pedagang keluar masuk melalui gerbang, beberapa membawa barang hingga bertumpuk tinggi. Di antara kerumunan tampak pula para kultivator berjubah sekte. Mereka melangkah dengan percaya diri, seakan lalu lintas yang padat bukan urusan mereka.Ryan mengikuti antrean menuju pintu masuk. Ketika tiba gilirannya, ia menyerahkan data yang diminta penjaga kota. Pemeriksaannya berlangsung singkat. Setelah memastikan tidak ada masalah, penjaga itu mempersilakannya masuk tanpa mengajukan pertanyaan tambahan.Ryan mengembuskan napas lega.'Ternyata Barlow Steen tidak mencoba bermain curang lagi.'Ia sempat khawatir jenderal penjaga perbatasan itu diam-diam mempersulit perjalanannya. Namun izin masuk yang diperolehnya
Formasi Darah Pemecah Ruang milik Keluarga Miles akhirnya tidak mampu bertahan.Krak!Retakan menyebar di sepanjang formasi, disusul ledakan energi yang melemparkan beberapa tetua ke belakang.Pfft!Darah menyembur dari mulut mereka. Salah seorang tetua mencoba kembali mengerahkan energi untuk mempertahankan formasi, tetapi semuanya sudah terlambat."Formasinya hancur! Cepat mundur!"Boom!Esensi pedang yang menerobos celah ruang langsung mengamuk di aula utama. Pilar-pilar batu terbelah, sementara atap bangunan retak sebelum runtuh menimpa orang-orang yang belum sempat melarikan diri.Jeritan terdengar di tengah debu dan reruntuhan.Para anggota Keluarga Miles berhamburan mencari perlindungan. Namun esensi pedang itu terus menyapu aula, menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya.Kekuatan tersebut bukan berasal dari satu kultivator pedang biasa.Segel Myriad Sword menyimpan kehendak dan pencapaian sepuluh ribu kultivator pedang dari masa lampau. Di antara mereka bahkan terdapat ahl
Pemuda yang dilihat Wendy di kejauhan masih berdiri di puncak Gunung Freezing Sky. Ryan menancapkan Pedang Feralrot ke tanah beku, lalu menggunakan gagangnya sebagai penopang agar tubuhnya tidak ambruk.Jubahnya sudah basah oleh darah. Wendy melihat betapa sulitnya Ryan berdiri. Di atas pemuda itu, retakan ruang terus melebar, membawa tekanan yang jauh melampaui lawan mereka sebelumnya.Jika tetap berada di sana, Ryan pasti mati.'Kenapa kau sebodoh itu, Ryan? Kenapa dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan keselamatanku?'Air mata mengalir dari mata Wendy. Ketika jatuh ke permukaan es, tetesannya membuat salju di bawahnya meleleh. Ia ingin kembali, tetapi Dark Ray terus melesat menuruni lereng dengan kilat hitam yang mengikat pergelangan kakinya.Mungkin inilah terakhir kalinya Wendy melihat Ryan. Mereka bisa terpisah selamanya, sebelum pemuda itu mengetahui identitasnya.Kesedihannya perlahan berubah m
Pria tua berjubah hitam menatap api es yang menyembur dari retakan kulitnya dengan wajah ketakutan. Ia sudah mencoba mengerahkan sisa energi spiritual, tetapi kobaran biru pucat itu terus melahap tubuhnya dari dalam. Dalam keputusasaan, ia mengeluarkan sebuah rune dan melemparkannya ke udara. "Selamatkan aku!" teriaknya. Namun tidak ada lagi waktu untuk menunggu pertolongan. Api es menyebar ke seluruh tubuhnya dalam satu tarikan napas. Daging dan tulangnya terbakar bersama jubah hitam yang dikenakannya. Bahkan sebelum rune itu bisa membawakan bantuan, pria tua tersebut telah lenyap tanpa menyisakan abu. Puncak Gunung Freezing Sky akhirnya kembali sunyi. Setelah pertarungan panjang yang hampir merenggut nyawa mereka, musuh terakhir dari Keluarga Miles telah tewas. Wendy menoleh kepada Ryan yang masih terduduk di tanah. Senyum tipis muncul di balik cadarnya. Ia hendak menghampiri pemuda itu, tetapi baru beberapa langkah berjalan, setetes darah mengalir dari dahinya. Senyu
Pria tua berjubah hitam menatap telapak tangannya dengan wajah membeku. Sabit yang sejak tadi digunakannya untuk menyerang Ryan kini hanya menyisakan serpihan hitam yang jatuh dari sela-sela jarinya. Ia mengangkat kepala, lalu memandang peti pedang raksasa di hadapan Ryan. Benda itu bahkan tidak menunjukkan bekas kerusakan setelah menerima tebasan langsung darinya. "Benda apa itu sebenarnya?!" serunya tak percaya. Ryan tersenyum. Namun senyum itu berbeda dari sebelumnya. Tatapannya kini dipenuhi keangkuhan yang tidak biasa, seolah orang yang berdiri di sana sama sekali tidak memandang sang tetua sebagai ancaman. "Peti Pedang Six Paths." Ia mengangkat dagu sedikit. "Aku Quillon Wynn, Dewa Pedang Six Paths!" Begitu kata-kata itu terucap, peti pedang langsung bergerak. Benda raksasa tersebut berputar di udara sambil mengeluarkan dengungan berat, kemudian melesat menghantam pria tua berjubah hitam. Boom! Benturannya membuat esensi darah sang tetua bergejolak. Ia buru-buru meng
Raungan pria tua berjubah hitam belum selesai terdengar ketika Dark Ray mendadak melompat tinggi. Binatang itu lebih dahulu merasakan bahaya yang datang dari belakang, lalu mengerahkan kecepatannya untuk menjauh. Boom! Tanah tempat Dark Ray baru saja berpijak meledak, meninggalkan kawah besar. Pecahan es dan bebatuan terhambur ke udara. Ryan yang berada di punggungnya langsung menoleh, tetapi bayangan hitam sudah melesat mendekat sebelum ia sempat melakukan apa pun. Tidak ada cukup waktu untuk menghindar. Ryan mengangkat telapak tangan secara naluriah dan mengaktifkan sebagian kekuatan Garis Darah Ilahi Scarlet Dust untuk menahan serangan tersebut. Boom! Tubuhnya terpental dari punggung Dark Ray, lalu berguling beberapa kali di atas tanah beku. Ketika akhirnya berhenti, salah satu lengannya terasa nyaris kehilangan bentuk. Tulang-tulang di dalamnya seakan remuk, bahkan jari-jarinya tidak lagi bisa ditekuk. Ryan memuntahkan darah ke salju. Luka yang diterimanya sejak awal







