로그인Malam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Eny Rahayu, Kak Pengunjung5804, dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kakak-Kakak pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah Koin belum memenuhi target, maka ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Mata Ryan berkedip pelan.Istana Naga Ilahi Nine Heavens.Tempat itu berhubungan langsung dengan Naga Darah.Masalahnya, Ryan hanya mengetahui nama tempat tersebut. Sampai sekarang, ia bahkan belum tahu bagaimana mencapai tanah terlarang itu.Pilihan kedua sama sekali tidak lebih mudah.Laut Mara berada di wilayah yang dikuasai Ras Iblis. Putri Demon Emperor juga masih terperangkap di sana.Lebih dari itu, memasuki Laut Mara berarti masuk ke wilayah kekuasaan Mordred Joren.Ryan tidak perlu bertanya seberapa besar bahayanya.‘Kalau itu satu-satunya jalan, tetap harus kutempuh.’Kaisar Nine Nether memperhatikan perubahan sorot matanya.“Tuan Pendragon, Nine Nether memang tidak memiliki Buah Jantung Naga. Tapi aku punya sesuatu yang bisa membantu Nona Selene bertahan sampai kau menemukan buah itu.”“Apa?”Kaisar Nine Nether mengangkat tangan.Cahaya biru es muncul di te
“Aku hanya akan mengatakannya sekali.” Ryan berdiri di antara Selene Chase dan Tetua Herstone. Tubuhnya sendiri belum pulih sepenuhnya, tetapi tatapannya tetap dingin. “Mau melakukannya atau tidak, itu keputusan kalian.” Wajah Kaisar Nine Nether langsung berubah. Selama bertahun-tahun memimpin kerajaan, hampir tidak pernah ada orang yang berani memberinya pilihan dengan nada seperti itu. Terlebih lagi, Tetua Herstone bukan pejabat biasa. Ia merupakan salah satu kekuatan utama yang menjaga kestabilan Nine Nether. Membiarkannya mati sama saja dengan memotong salah satu lengan kerajaan. Kaisar Nine Nether hendak berbicara, tetapi Tetua Herstone lebih dulu melangkah maju. Pria tua itu tidak membantah. Ia berjalan melewati sang kaisar, lalu berhenti di depan Selene yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Tetua Herstone berlutut. Seluruh aula langsung sunyi. “Tuan Pendragon.” Suaranya berat, tetapi sudah tidak terdengar panik. “Aku tidak akan mencari alasan. Ketika menyerang
Masalah itu memang belum selesai, tetapi Ryan sama sekali tidak memedulikannya. Begitu memastikan Elias Miles benar-benar mati, ia bahkan tidak menoleh lagi kepada Kaisar Nine Nether. Ryan langsung berlari menuju Selene Chase. Perempuan itu terbaring di lantai dengan gaunnya dipenuhi darah. Wajahnya pucat pasi, sementara napasnya begitu lemah sampai hampir tidak terlihat. Ryan berlutut dan segera memeriksa denyut nadi, jalur energi, serta kondisi organ dalam Selene. Semakin lama ia memeriksa, semakin keras rahangnya mengatup. Secara normal, Selene seharusnya sudah mati. Serangan yang diterimanya merusak organ dalam dan memutus banyak jalur energi. Bahkan Jiwa Primordialnya hampir terlepas dari tubuh. Satu-satunya alasan ia masih bernapas adalah darah Ryan yang sebelumnya masuk ke tubuhnya. Kekuatan Garis Darah Ilahi Scarlet Dust sedang menahan sisa kehidupan Selene agar tidak padam. Ryan menarik Pedang Feralrot. Tanpa ragu, ia menyayat pergelangan tangannya sendiri. Darah m
Jauh di luar Istana Divine Heart, cahaya darah melesat menembus langit malam seperti anak panah. Di dalamnya, Elias Miles hampir tidak memedulikan luka yang memenuhi tubuhnya. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya hanyalah menjauh sejauh mungkin dari Ryan. Setelah jarak mereka mencapai ratusan meter, ekspresi Elias akhirnya berubah. Sudut bibirnya terangkat. ‘Berhasil.’ Ia benar-benar berhasil kabur. Jimat darah yang ditanamkan kepala Keluarga Miles memang sudah kehilangan banyak kekuatan, tetapi benda itu masih berhasil menyelamatkan nyawanya pada saat genting. Dengan jarak sejauh ini, Elias yakin Ryan tidak mungkin mengejarnya. Namun senyumnya hanya bertahan sesaat. Tubuh Elias tiba-tiba menegang. Sebuah garis tipis muncul di dada kirinya. Tidak ada ledakan. Tidak ada gelombang energi yang lebih dulu memperingatkannya. Sinar pedang itu seolah menembus jarak tanpa perlu melewati ruang di antaranya. Mata Elias membelalak. “Tidak mungkin!” Ia menunduk. Garis di dadany
Mata indah Selene Chase perlahan terbuka saat menyadari Ryan sudah menangkap tubuhnya. Senyum tipis muncul di wajahnya yang pucat. “Kau bilang...” Ryan merasakan hatinya seperti diremas. Tubuh Selene terasa jauh lebih ringan daripada seharusnya, sementara napasnya sangat lemah. Ia segera menghentikannya dengan lembut. “Jangan bicara dulu. Lukamu bisa bertambah parah.” Selene menggeleng pelan. “Kau... bilang... tidak akan... membuatku sedih...” Tatapannya tetap tertuju pada Ryan. “Kau masih ingat?” Kilatan terkejut muncul di mata Ryan. Ia langsung mengangguk. “Aku ingat. Aku ingat.” Ryan menahan emosinya dan berkata pelan, “Jangan bicara lagi, ya?” Namun Selene tetap mengangkat tangannya perlahan. Jemarinya menyentuh pipi Ryan yang dipenuhi darah. Senyum puas muncul di wajah cantiknya. “Jangan mati.” “Kerajaan Nine Nether dan Ras Iblis sudah runtuh. Aku tahu... hanya kau yang bisa mengubah keadaan sekarang...” Ryan hendak menjawab. Namun kerongkongannya terasa terceka
Pada saat itu, suara Quillon Wynn bergema di benak Ryan.Dari luar, Ryan tampak diam tak bergerak dan hampir mati. Namun kesadarannya masih jernih.“Aku tidak menyangka guncangan baliknya datang secepat ini,” ujar Quillon.“Beberapa jurus pedang tadi terlalu berat untuk tingkat kultivasimu sekarang.”Nada suaranya berubah serius.“Bocah, kau benar-benar mau bertaruh sejauh ini? Elias Miles jelas sedang memulihkan lukanya. Ini saat terbaik untuk kabur.”“Sekarang kau memang terlihat seperti orang yang sebentar lagi mati, tapi kita berdua tahu kau pernah menanggung luka yang jauh lebih parah dan tetap bisa bertarung.”“Kalau kau mau pergi sekarang, kau pasti bisa.”Ryan menggeleng dalam hati.‘Aku tidak akan kabur.’‘Kalau aku kabur, kesempatan sebagus ini untuk membunuh Elias Miles mungkin tidak akan muncul lagi.’Tubuhnya memang terluka parah.Namun Elias Miles juga berada dal







