เข้าสู่ระบบMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Eny Rahayu, Kak Pengunjung5804, dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Kopinya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah koin belum memenuhi target,maka ini adalah bab terakhir. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Ryan menggenggam Pedang Iblis Darah dengan kedua tangannya.Esensi pedang yang tersisa dalam tubuhnya, energi iblis yang selama ini dia tahan, energi darah dari Garis Darah Reinkarnasi, semuanya mengalir deras ke dalam pedang itu sekaligus. Pedang Iblis Darah menerimanya semua, bergetar pelan seperti makhluk hidup yang sudah lapar terlalu lama dan akhirnya diberi makan.Satu tebasan.Hanya ada satu.BOOOOM!Dua kekuatan yang tidak seharusnya berada di tingkat yang sama bertemu di atas arena batu biru itu.Gelombang tekanan yang lahir dari benturan itu menjebol pelindung cahaya di sekeliling arena, meretakkan permukaannya dalam sekejap. Tetua Brock, yang selama ini hanya berdiri menjadi wasit, terpaksa bergerak. Satu gerakan tangannya menutup kembali retakan-retakan itu sebelum gelombang energi berhasil keluar ke area penonton.Ketika semuanya mereda, arena batu sudah tidak ada lagi.Tempat yang tadi menjadi panggung pertarungan kini hanya menyisakan tanah hangus yang rata. Tidak ad
Serangan balik dari penggunaan hukum alam bukan sesuatu yang bisa disepelekan.Setiap kali Ryan memaksakan diri melampaui batas wajar kultivasinya, arus balik itu menghantam dari dalam seperti palu yang menghancurkan dari inti. Geramannya terasa sampai ke tulang, dan darah sempat naik ke tenggorokannya sebelum dia menelannya kembali. Kalau dia terus melanjutkan serangan sekelas tadi, serangan balik itu sendiri sudah cukup membunuhnya bahkan sebelum Calder sempat menyentuhnya.Di atas sana, Calder Sanctum menatap Ryan yang bertumpu pada pedangnya.Tubuh penuh luka. Napas kasar dan berat.Senyum akhirnya kembali ke wajah Calder, kali ini lebih lega dari sebelumnya.'Ryan, rasanya menyenangkan, bukan? Serangan balik itu.''Sekarang kau tahu siapa yang sebenarnya katak dalam sumur?''Aku akui, kau memang kuat. Tapi mengalahkanku? Itu tidak akan pernah terjadi.'Dia mengangkat tangan kanannya.
Calder yang sudah bersiap dengan percaya diri mendadak memucat.Tebasan itu datang ke atas dengan kekuatan yang seharusnya tidak mungkin lahir dari seorang kultivator Ranah Primordial Chaos tingkat tiga. Auranya bahkan melampaui Teknik Pedang Penembus Surya milik Mervin, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat bulu kuduk Calder berdiri.Rasa bahaya yang nyata menghantam nalurinya secara tiba-tiba."Dao Yang, Roda Surgawi!"Calder berteriak keras. Roda cahaya besar mengembang di depannya sebagai tameng darurat, terbentuk dari kekuatan leluhur yang masih tersisa dalam dirinya.BOOOOOM!Dunia berguncang.Bukan hanya arena, bukan hanya kawasan terpencil. Getaran dari benturan itu menjalar jauh ke luar batas kompetisi, membuat para penonton yang berdiri paling dekat dengan pagar pelindung refleks mundur beberapa langkah. Beberapa di antaranya tidak sempat berpegangan dan hampir tersungkur.
Di gerbang Sekte Moon Flower, murid penjaga itu masih terpaku menatap token giok biru di tangannya ketika seseorang memintanya masuk sebentar untuk konsultasi. Setengah menit kemudian, langkah kaki yang ringan namun cepat terdengar dari dalam. Sesosok perempuan muda berbaju merah cerah melangkah keluar. Tubuhnya ramping, gerakannya anggun. Senyumnya sudah terbit bahkan sebelum matanya selesai memindai tamu yang menunggu di luar. Jessica Neuro. "Jadi kau yang mencari Ryan?" Dia berhenti tepat di depan Ann Xaver, kepalanya sedikit miring ke kanan, matanya memindai Ann dari atas ke bawah dengan sorot yang tidak menyembunyikan rasa ingin tahunya. Ann mengerutkan kening. "Kau siapa?" "Kakak seperguruan Ryan, sekaligus orang yang merekrutnya masuk ke Sekte Moon Flower." Jessica tersenyum lebar. "Ryan sedang menjalani pelatihan di alam rahasia. Kalau kau punya pesan, bisa titipkan padaku. Aku yang akan menyampaikannya." Ann menatapnya sebentar. Perempuan di depannya ini tampak ram
Drew tertawa satu kali. Pendek dan kering. Tawanya tidak menjangkau matanya. "Tahu lebih banyak?" Dia mengulang kata-kata itu seperti sedang mencicipi sesuatu yang pahit. "Apa yang kau tahu? Calder punya sesuatu yang membuatnya nyaris tidak terkalahkan selama kompetisi ini berlangsung. Dia memiliki Perlindungan Darah Ku..." "Drew Shadowmist!" Suara Tetua Brock memotong seperti kapak yang diayunkan tepat sasaran. Tidak keras, tapi beratnya cukup untuk menghentikan kata-kata yang hampir meluncur dari mulut Drew. Pria kekar tua itu menatap Drew dengan sorot dingin. Tidak perlu diartikan dua kali. Drew menutup mulutnya rapat. Ia masih menatap Ryan dengan pandangan meremehkan, tapi tidak lagi bersuara. Ryan berpaling ke Tetua Brock. "Tetua Brock, apakah ada masalah dengan permintaanku?" Tetua Brock diam selama beberapa detik. Aturan kompetisi sudah dia ucapkan sendiri tadi. Jelas dan tidak bisa ditarik kembali. Menolak tantangan yang sah hanya karena hasilnya tidak sesuai har
Sunyi total.Bukan sunyi yang nyaman. Ini sunyi yang menghantam seperti tembok batu, mendadak dan keras, membungkam seisi arena dalam satu waktu.Ribuan pasang mata berpaling ke satu arah.Ke sosok yang berdiri tegak di atas arena batu biru, dengan darah yang belum sepenuhnya mengering di sudut bajunya.Ryan Pendragon.Pemuda itu baru saja mengucapkan sesuatu yang tidak ada seorang pun menyangka akan didengarnya hari ini.Tetua Brock adalah orang pertama yang bersuara.Alisnya naik satu kali, lalu kembali datar. Ia menatap Ryan sambil menggenggam tongkat lebih erat di belakang punggung."Kau yakin?" Suaranya bergema tenang ke seluruh arena. "Kau harus paham konsekuensinya." "Jika kau gagal dalam tantangan ini, posisi ketigamu akan hilang. Zach Swiftgale yang akan mengisi tempat itu."Dalam hati, pria kekar tua itu menahan sesuatu yang nyaris menjadi senyum.'Kalau Ryan nekat dan kalah
"Bagaimana dia melakukannya? Apakah Penguasa Kota hanya berdiri di sana dan membiarkan Arthur Pendragon menghajarnya dengan bebas?" tanya Ilya dengan sarkastik. "Tapi itu pun benar-benar mustahil terjadi, kecuali Arthur Pendragon memiliki garis keturunan kelas satu yang sangat langka atau merupakan
"Permainan kata yang mengesankan!" puji Ryan dengan dingin. "Kau membuat semua orang menganggapku sebagai musuh!" tambahnya dengan sangat tenang. Ryan menyilangkan tangannya dan menatap Shrek Mark dengan tajam. Ryan berkata dengan sangat dingin, "Pak Tua, tunggu saja sampai aku mencapai Ranah Go
Pada saat yang sama, di wilayah utara Benua Valorisia, di tanah yang dilanda perang kuno, tempat para naga suci yang tak terhitung jumlahnya beristirahat, dan bahkan orang-orang yang datang dan pergi semuanya adalah kultivator yang tak tertandingi.Di bagian tengahnya berdiri ribuan pilar dewa yang
Seorang kultivator Ranah Supreme Emperor tingkat sembilan menantang seorang ahli Ranah Demigod tingkat sembilan! Meskipun Arthur Pendragon berhasil lolos dari cengkeraman seorang ahli Ranah God King tingkat menengah, itu tidak berarti bahwa dia dapat mengalahkan Patrick Well. Walau tingkat kulti







