เข้าสู่ระบบMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Eny Rahayu, dan Kak Alberth Abraham Parinussa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Sendy Zen atas hadiah Kue dan Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah Koin belum mencapai target, maka ini adalah bab terakhir hari ini. Selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Ryan bukan orang yang melupakan budi. Kalau suatu hari Quinton Greaves benar-benar membutuhkan bantuannya, ia tidak akan menolak begitu saja tanpa memikirkannya."Bagaimana menurutmu soal teknik gerak itu?" tanya Quinton sambil tersenyum lebar.Ryan menatap wajah tua di hadapannya, lalu tersenyum pasrah. "Baiklah, Kepala Akademi Greaves. Katakan saja. Kau mau apa dariku?"Quinton langsung tertawa kecil dan mengibaskan tangan."Ryan, ucapanmu itu tidak benar. Memangnya aku terlihat seperti orang yang selalu punya maksud tersembunyi? Teknik itu kuberikan dengan tulus."Ryan memutar bola mata, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu."Kalau memang tidak ada urusan lain, aku pamit."Wajah Quinton langsung berubah. Kakek berjubah putih itu melompat dari kursinya dengan kelincahan yang sama sekali tidak sesuai dengan usianya, lalu buru-buru menghadang Ryan."Sebentar, sebentar."Quinton tersenyum lem
Ryan tertegun.'Gadis bercadar?'Kenapa wanita itu muncul di Keluarga Celestedragon?Samar-samar, sebuah sosok muncul dalam ingatannya. Ryan pernah bertemu seorang gadis bercadar ketika mengunjungi Sekte Moon Flower.'Mungkinkah orang yang sama?'"Kepala Akademi, apa kau punya lukisan wajahnya?" tanya Ryan.Quinton Greaves mengangguk. Dengan satu kibasan tangan, sebuah lukisan muncul di hadapan Ryan.Ryan langsung memusatkan pandangan pada sosok di dalamnya.Semakin lama diamati, semakin kuat perasaan akrab yang muncul. Bentuk alis, garis dagu, bahkan cara wanita itu berdiri tegak membuat sebuah nama hampir keluar dari mulutnya.'Wendy?'Namun Ryan segera menggeleng.Wanita bercadar di dalam lukisan itu memiliki aura yang terlalu agung dan dingin. Dari informasi yang diterimanya, kekuatannya bahkan telah mencapai Ranah Great Void.Bagaimana mungkin Wendy memiliki kekuatan sebe
Lancelot dan Adel sama-sama sangat berbakat. Kalau keduanya berlatih di Akademi Heavenly Flame, Ryan merasa itu pilihan paling aman sekaligus efisien.Namun pikirannya masih tertuju pada Luna.Meski kondisinya sudah jauh membaik setelah menerima Cairan Surgawi Kuno, gadis itu belum juga sadar. Luka dalamnya terlalu parah.Ryan memusatkan kesadarannya pada Kuburan Pedang dan mencoba berbicara dengan Tabib Ilahi Corvus Gray.Namun seperti sebelumnya, sebuah kekuatan langsung mendorong kesadarannya keluar.'Kakek tua keras kepala. Ilmunya setinggi langit, tapi wataknya lebih keras daripada nisan pedangnya sendiri.'Karena belum ada cara lain, Ryan hanya bisa menunda masalah Luna.Ia lalu mengeluarkan Kapal Kristal pemberian Kaisar Nine Nether dan mengantar Ilya Northpalace kembali ke Keluarga Northpalace.Sebelum berpisah, Ryan memberikan banyak harta kultivasi kepada Ilya, cukup untuk memperkuat seluruh keluarganya.Ilya sempat menolak, tetapi Ryan langsung menaruh kantong-kantong penyi
Ryan tersenyum tenang."Aku tidak tahu seberapa kuat Yuriel Leviathan sekarang, tapi seharusnya dia tidak akan menjadi ancaman bagiku."Adel tidak ikut tersenyum. Nalurinya sebagai seorang wanita tetap mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.Ia menggenggam tangan Ryan erat-erat. "Aku terus merasa ada yang salah dengan semua ini.""Ryan, kau punya kartu As bukan berarti dia tidak punya.""Selain itu, Yuriel Leviathan didukung Lyra Linn, Kepala Istana Roh Abadi. Dengan kedudukannya, Lyra pasti tidak akan membiarkan Yuriel kalah begitu saja."Adel berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan lebih serius, "Menurutku, sebaiknya kita tidak meneruskan pertarungan ini. Kita bisa meminta pendapat Heavenly Saint Frost Sword. Dia gurumu, jadi mungkin dia punya jalan keluar."Ryan menggeleng pelan dan meremas balik tangan Adel."Pertarungan ini tidak bisa dihindari.""Kalau aku mundur sekarang, Hati Dao-ku akan rusak. Apa pun bahaya yang menanti pada hari itu, aku tetap harus bertarung."Adel me
Malam begitu sunyi.Ketika Ryan terbangun, Adel masih bersandar di dadanya. Kehangatan itu membuatnya seolah kembali ke masa lalu, sebelum berbagai pertarungan memenuhi hidupnya."Ryan, aku benar-benar suka perasaan seperti ini."Adel mengerjapkan mata jernihnya dan merapatkan tubuh. "Rasanya semuanya sudah tenang."Ryan tersenyum dan mengeratkan pelukannya.Beberapa saat kemudian, Adel bertanya pelan, "Ryan, kau sudah bertemu Rindy dan Shirly? Apa mereka selamat?""Setidaknya untuk sekarang mereka aman," jawab Ryan. Ia mengusap rambut Adel perlahan, tetapi tatapannya tertahan cukup lama di langit-langit kamar.Adel langsung menangkap kejanggalan itu."Sebenarnya apa yang terjadi? Bisa kau ceritakan padaku?" tanyanya. "Sekarang aku sudah punya sedikit kekuatan. Entah kenapa, aku terus merasa tubuhku berubah.""Terutama setelah kejadian tadi denganmu. Aku bisa merasakan diriku menjadi berbeda."Ryan langsung tertegun. Ia segera memeriksa pusat energi Adel, dan beberapa saat kemudian
Waktu seolah berhenti selama beberapa detik.Setelah itu, Ryan langsung melesat maju dan memeluk Adel erat-erat.Perasaan akrab yang sudah lama hilang kembali memenuhi dadanya. Wangi rambut Adel masih sama seperti dulu, dan bahu wanita itu bergetar pelan di dalam pelukannya.Bagaimanapun, Adel adalah wanita pertama dalam hidup Ryan."Aku sudah terlalu lama mencarimu," bisik Adel.Air mata berkilau di matanya. Jemarinya mencengkeram bagian belakang pakaian Ryan, seolah takut pria itu akan menghilang lagi begitu dilepaskan.Divine God Frost Sword berdeham pelan. Semua orang langsung memahami maksudnya dan memilih menyingkir.Tak lama kemudian, pintu kamar tertutup, menyisakan Ryan dan Adel berdua.Suasana di dalam ruangan perlahan menghangat.Ryan menangkup wajah Adel dengan kedua tangan, lalu mencium bibirnya. Ciuman itu berlangsung lama, seperti sedang menebus kerinduan yang tertahan selama setahun penuh.Setelah keduanya berpisah, Ryan bertanya, "Mengapa kau di sini? Bagaimana deng







