MasukTerima Kasih Kak Dewi atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Akumulasi Gem Bab Bonus 09-11-2024 (siang): 2 Gem Ini adalah Bab Bonus kedua hari ini. selamat membaca dan berakhir pekan (◠‿・)—☆ Bab Bonus Gem hari ini: 2/6 Bab Bab Bonus Gem Besok: 4
"Apakah kamu layak?"Suara itu terdengar tenang dan ringan, hampir seperti pertanyaan biasa di tengah percakapan santai.Rex mengangkat kepalanya dengan tatapan kosong. Untuk beberapa detik, ia tidak yakin apakah ia benar-benar mendengar apa yang baru saja ia dengar.Ryan menatap matanya dan mengucapkan setiap kata dengan sangat jelas. "Aku bilang. Apakah. Kamu. Layak?"Layak?Mata Rex melebar pelan.Tidak pernah seumur hidupnya ada orang yang berani berbicara kepadanya seperti ini. Di mana pun ia pergi, selalu ada orang yang berusaha mendekatinya, menjilat dan mencari perhatian demi bisa terhubung dengan Keluarga Sallow dan Sekte Silver Frost.Orang-orang yang bersedia menjadi pelayannya pun tidak terhitung jumlahnya.Dan sekarang, saat ia sendiri yang menawarkan diri menjadi bawahan, Ryan malah balik bertanya apakah ia layak.Kalau bukan penghinaan, apa namanya?Tapi penghinaan bukan lagi hal yang Rex pedulikan sekarang.Sejak lutut pertamanya menyentuh tanah, ia sudah mengorbanka
Ryan mengaktifkan Seratus Langkah Mengejar Petir dan melesat keluar meninggalkan area sekte.Ia sengaja membiarkan Rex keluar dari wilayah Cloud Nether lebih dahulu sebelum mengejar. Membunuh Rex di dalam sekte hanya akan menarik masalah bagi orang-orang di sana.Victor Lux memang tidak banyak bisa berbuat tadi. Ada tekanan dari belakang layar yang mengikat pergerakannya, tapi Ryan sudah melihat karakter lelaki itu dengan jelas. Seseorang yang tangan dan kakinya diikat pun masih bisa menunjukkan siapa dirinya dari hal-hal kecil. Dan Selvia masih akan tinggal dan berlatih di sini. Ia tidak mau meninggalkan beban apa pun untuk mereka.Talisman Petir Roh yang membawa Rex memang luar biasa. Kecepatannya bahkan sedikit melampaui Seratus Langkah Mengejar Petir, wajar untuk artefak yang nilainya setara dengan artefak ruang-waktu.Tapi Ryan tidak terlalu khawatir Rex akan benar-benar lolos.Saat ia menggunakan Wibawa Ilahi Harimau tadi untuk memaksa Rex berlutut, ia sudah diam-diam menit
Selvia melangkah maju sebelum ia sendiri menyadarinya.Matanya langsung terkunci pada luka di dada dan bahu Ryan yang masih basah dengan darah."Ryan!" Suaranya bergetar tipis. "Tubuhmu..."Selvia sudah menyaksikan sendiri bagaimana Ryan bertarung melawan Korvan di dalam alam rahasia. Ia tahu daya hidup pemuda itu jauh melampaui nalar, seolah ia bisa kembali dari ambang kematian berulang kali.Tapi melihatnya berjalan dengan tubuh yang masih terluka seperti itu tetap saja membuat dadanya sesak. Tangannya bergerak setengah langkah ke depan sebelum ia menyadarinya. Tanpa sadar, ia menahan napas.Ryan berhenti. Ia menoleh ke arah Selvia dan tersenyum tipis, wajahnya setenang orang yang baru saja selesai berjalan santai.Kemudian ia menuang beberapa pil ke telapak tangannya dan menelannya begitu saja.Senyawa obat itu menyebar cepat melalui Garis Darah Reinkarnasi yang sudah berputar aktif di dalam tubuhn
Ryan menarik napas berat.Pertanyaan yang ia ajukan kepada dirinya sendiri masih bergema, semakin jauh ia pergi, semakin sulit menghadapi mereka yang levelnya lebih tinggi. Jika suatu hari nanti ia harus berhadapan dengan kultivator Ranah Creation puncak yang merupakan genius sejati, tanpa celah seperti Chester... apakah ia masih bisa menang?Pertanyaan itu tidak melemahkannya. Tapi juga tidak bisa diabaikan. Justru menjadi pengingat yang ia butuhkan agar tidak berhenti berlatih.Energi darah di sekelilingnya perlahan mengalir kembali masuk ke dalam Pedang Iblis Darah. Ryan menatap senjata di tangannya sejenak.Kemenangan ini sebagian besar harus dikreditkan pada pedang itu. Dari segi kualitas, Pedang Iblis Darah jauh melampaui pedang transparan milik Chester. Selisih kualitas itulah yang menjadi pembeda di detik-detik terakhir.Ryan mengingat momen benturan itu. Ketika dua serangan saling
Alasannya sederhana dan tidak bisa dibantah. Sebagian besar dari mereka baru menyadari sesuatu yang hampir tidak mungkin, Ryan lebih kuat dari mereka. Ia menantang Chester bukan karena bodoh. Melainkan karena harga diri, dan itu adalah harga diri yang memang seharusnya ada pada seseorang yang benar-benar kuat. Yang bodoh adalah mereka sendiri. Mereka yang dari tadi tidak mampu melihat bakat dan kekuatan yang sudah berdiri tepat di depan mata mereka. Dan kini mereka berdiri di sini, menyaksikan akibat dari penilaian yang salah. Orang-orang menelan ludah, menatap gugup ke arah cahaya yang belum juga memudar. Di antara semua yang berdiri di sana, Selvia Windson menatap pusaran cahaya itu dengan mata yang sudah penuh air mata sejak tadi. Tanpa sadar, kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Bekas merahnya sudah dalam, tapi dia tidak merasakannya sama sekali. Ada rasa sakit di dadanya yang bukan dari luka fisik mana pun. Ia bahkan mulai membenci dirinya sendiri. Kalau buk
Ryan juga merasakannya. Tekanan dari Esensi Pedang Kuno itu nyata, cukup untuk membuat siapapun berpikir dua kali sebelum melangkah. Tapi ia tidak mundur. Immortal Divine Body-nya sudah terbukti mampu menahan serangan yang jauh lebih brutal dari ini. Bahkan jika daya ledak Esensi Pedang Kuno itu jauh melampaui dugaan, tubuhnya akan tahan. Tubuh semacam itu memang dibangun untuk menanggung hal-hal yang tidak seharusnya bisa ditanggung. Yang menjadi masalah adalah Rex. Jika pertarungan meletus sekarang dan gelombang energi besar menyapu area ini, Rex yang sudah hampir melepaskan diri dari Wibawa Ilahi Harimau punya celah untuk kabur. Memukul Chester tidak ada gunanya jika Rex lolos dari sini dengan nyawa. Dan itu tidak boleh terjadi. 'Kalau Esensi Pedang Abadi-ku sudah mencapai puncak, Esensi Pedang Kuno ini tidak akan jadi masalah sama sekali.' Tapi itu bukan sekarang. Ryan menarik napas pendek. Suaranya turun menjadi bisik. "Sepertinya hanya satu cara." "Teknik Membakar D
Master Samadhi menelan keterkejutannya dan tersenyum tipis. "Sepertinya aku meremehkanmu. Kau pasti punya banyak rahasia untuk bisa pulih secepat itu." Ryan menangkupkan tangan dan membungkuk hormat. "Terima kasih telah menyelamatkanku, Master Samadhi. Jika bukan karena Anda kemarin, saya pasti sud
Ekspresi Wendy berubah marah. Dia meraih tangan Ryan, melotot ke arah rekan-rekannya sebelum berpaling pada Ryan. "Profesor Ryan, saya belum mengucapkan terima kasih karena telah membantu saya di lift hari ini. Kalau begitu, biarkan saya mentraktir Anda makan malam di restoran terdekat." Ryan mel
Di sebuah sel kecil jauh di dalam penjara, Eleanor Jorge mondar-mandir dengan gelisah. Getaran tanah yang terus berlangsung membuat jantungnya berdebar kencang. Semua perabot di sel telah jatuh berantakan.William Pendragon segera menghampiri dan memeluk istrinya. "Sayang, tena
Nada suara Ryan lebih terdengar seperti perintah daripada pertanyaan, membuat wanita di hadapannya semakin waspada. Wanita dengan rambut kuncir dua itu mengerutkan kening, ekspresinya campuran antara bingung dan kesal. "Jika kau bertanya padaku, siapa yang harus kutanyai?" balasnya sengit. "Kau ada







