เข้าสู่ระบบTerima Kasih Kak Sofyan, Black Myth, Kak Tuan Muhd, dan Kak Mohd Asri atas dukungan Gem-nya. untuk hari ini, othor bonusin 1 bab lagi. yang mungkin siangan bakal tayang. update perolehan Gem: Per tanggal 24-09-2024, ada 8 Gem tambahan baru. kurang 2 lagi othor bakal rilis bab bonus tambahan lagi (≧▽≦) Terima Kasih(◠‿・)—☆
Di bawah, keheningan yang sempat turun setelah kalimat Ryan hancur menjadi tawa.Bukan tawa kecil. Tawa yang meledak dari puluhan tenggorokan sekaligus, berguling menghantam dinding batu lembah dan memantul kembali berlipat ganda."Salah dengar aku tadi? Kelas tertinggi? Ujian jiwa kelas merah?""Sudah giliran pelawak rupanya! Ini pertunjukan komedi!""Hei, cukup menghibur juga. Lanjutkan!""Mau bertaruh?" seseorang tiba-tiba bersuara, lebih keras dan lebih tajam dari semua yang lain. Bukan tawa lagi. "Tapi apakah kau layak untuk membuat taruhan?"Tawa di sekitarnya teredam dalam sekejap.Ryan mengalihkan matanya ke sumber suara itu.Di antara kerumunan, seorang pemuda berdiri dengan postur yang menunjukkan kebiasaan diperhatikan dan diakui. Namanya Cade Aurin, genius Klan Unicorn Naga yang berhasil melewati ujian semi-oranye dengan dua garis darah berbeda dalam tubuhnya. Sesuatu ya
"Hukum alam? Hampir semua genius yang datang ke ujian kali ini sudah memahami sebagian hukum alam. Itu bukan hal istimewa." Kultivator yang tadi meremehkan Ryan melambaikan tangannya malas. "Kalau di luar sana dia bisa disebut genius, di sini dia paling-paling cuma di level paling bawah."Tetua yang tadi membela Ryan memilih diam. Jelas penilaiannya pun tidak jauh berbeda."Jiwa kelas apa yang kira-kira akan dipicu oleh sampah seperti ini?" seseorang bertanya dengan nada yang tidak menyembunyikan ejekan."Kelas ungu paling rendah, mungkin?" Tawa pecah dari beberapa mulut. "Tapi jiwa kelas ungu itu yang paling aman. Tekanannya lemah, tidak akan membunuh siapa pun.""Bahkan kalau dia gagal pun, jiwa kelas ungu kekuatannya terlalu kecil untuk mengambil banyak. Mungkin masih ada sedikit sisa esensi darah yang tertinggal. Jadi sebenarnya, ujian kelas ungu itu berkah baginya.""Tapi kalau lulus pun tidak dapat apa-apa yang berarti. Es
Di bawah tebing itu, ujian masih berlangsung.Klan terakhir sebelum giliran Klan Harimau Darah sedang menyelesaikan sesi mereka. Genius terakhir dari klan itu masih berdiri bertahan di depan Patung Seratus Binatang, tapi kondisinya sudah jauh melampaui batas yang seharusnya.Tubuhnya condong ke depan. Lututnya gemetar. Tangannya mencoba bertumpu ke tanah tapi tidak cukup kuat.Lalu dia jatuh, tersungkur ke tanah sebelum bayangan jiwa di depannya sempat kehabisan energi.Keheningan sejenak."Ujian gagal!"Seseorang di kerumunan menyeru pelan. Yang lain hanya menatap, wajah-wajah mereka tegang dan tidak nyaman menyaksikannya.Bayangan Burung Bifang berkaki satu di depan patung mengeluarkan seruan nyaring yang terdengar seperti kemenangan. Tubuhnya berubah menjadi sinar kuning yang menghujam masuk ke dalam tubuh genius yang pingsan itu. Di permukaan Patung Seratus Binatang, cahaya berdenyut dan bayangan Burung Bifang mengembang kembali dari ukiran batunya, lebih solid dari sebelumnya.
"Dari klan mana genius yang berhasil melewati ujian jiwa kelas merah itu?"Bahkan Ryan tidak bisa menahan rasa ingin tahunya untuk yang satu ini.Serena menjawab santai. "Genius dari Klan Phoenix Merah. Namanya Arden Scarlett." Dia berhenti sebentar. "Klan Phoenix Merah sebenarnya bukan klan yang terlalu menonjol di antara Seratus Ras Spirit Sejati, hanya kelas menengah.""Tapi dengan adanya Arden Scarlett, selama tidak ada hal tak terduga, beberapa ratus tahun lagi dia bisa membawa klannya masuk ke era kejayaan yang belum pernah mereka capai sebelumnya."Ryan mengangguk dan menyimpan nama itu di dalam kepala.**Di dalam sebuah ruang kultivasi berdinding batu spiritual di Istana Roh Abadi, dua sosok perempuan tengah duduk bersila dalam keheningan.Energi spiritual mengalir deras masuk ke dalam tubuh keduanya seperti pasang yang tidak berhenti.Pintu ruangan itu terbuka keras.Yuriel Leviathan melangkah masuk. Aura di sekitar tubuhnya menyapu seluruh ruangan, dan hawa yang mengikuti
Dua hari duduk bersila di sudut itu ternyata tidak sia-sia.Satu celah dalam pemahamannya tentang Seratus Langkah Mengejar Petir yang tadinya tersumbat rapat kini terbuka, tidak penuh, tapi cukup untuk membuat dia yakin bahwa waktu yang dibutuhkan sebelum teknik itu bisa dia gunakan sudah tidak akan terlalu lama lagi.Dia menggerakkan jari-jarinya pelan, merasakan aliran energi yang mengikuti pola baru itu. Masih kasar, masih ada yang belum mulus. Tapi fondasi yang dia butuhkan sudah ada.Ryan berdiri dan menepuk jubahnya pelan. Matanya beralih ke Patung Seratus Binatang. Di depan patung, sekelompok genius dari satu klan terakhir masih berjuang melawan tekanan jiwa yang mereka picu. Begitu mereka selesai dan melangkah mundur dari arena, giliran Klan Harimau Darah tiba.Serena berdiri di sampingnya dengan senyum yang terasa seperti orang yang menyimpan sesuatu dan sabar menunggu ditanya. Tangannya terlipat di
Ryan tidak bisa menemukan di mana tepatnya Yuriel Leviathan berdiri di antara kerumunan yang memadati lembah ini. Tapi dia tidak khawatir soal itu.Ini ujian yang diselenggarakan Istana Roh Abadi, dan Yuriel pasti mengikuti setiap perkembangannya. Apa pun yang terjadi di sini, cepat atau lambat akan sampai ke telinganya.Ryan mengalihkan pikirannya sejenak. 'Divine God Beast Tamer, kau begitu yakin bisa membantu. Apakah kau punya metode khusus untuk menghadapi tekanan itu?'Suara Divine God Beast Tamer mendengus pelan. "Kau meragukan kemampuanku? Baiklah, kuakui bahwa secara kekuatan murni aku memang tidak unggul dari kultivator lain selevelku.""Tapi soal binatang iblis dan roh sejati, tidak ada yang menandingi pemahamanku di seluruh benua ini. Tidak dulu, tidak sekarang.""Begini saja. Kalau kau sudah benar-benar mencapai batasmu dan tidak bisa bertahan lagi, serahkan tubuhmu kepadaku sementara. Aku yang akan mengambil alih."
Dari cerita ayahnya, Ryan mengetahui kebenaran yang menyakitkan. Kakek neneknya bukan sekadar meninggal karena kecelakaan seperti yang selama ini dia ketahui. Mereka dibunuh—diracuni dengan pil yang tampak seperti ramuan kultivasi. Keluarga Pendragon di Gunung Langit Biru bertanggung jawab atas
Leonard Walker berjalan menuju Shina Walker dan Tirst Walker dan memanggil mereka ke sebuah ruangan. Ryan memperhatikan dari kejauhan, masih memikirkan rencana barunya dengan adanya dua anggota tambahan ini. "Ayah, kapan kita pergi ke rumah Paman Ni?" tanya Tirst Walker dengan sedikit kekecewaan
Travis Hayes juga membungkuk dan berkata dengan hormat, "Senior Feng, Anda telah melakukan lebih dari yang diharapkan." Dia yakin dapat menguasai formula baru ini dengan mudah, dan akan mendapatkan kesempatan emas untuk bergabung dengan Alchemy Tower. Hanya Ryan yang tidak menunjukkan reaksi apa
Sementara itu, di ruang kultivasi, Eleanor Jorge sedang duduk bersila, wajahnya pucat, dan ada darah menetes di sudut mulutnya. Selama beberapa bulan terakhir, dia telah tenggelam dalam kultivasi dan terobosan. Hal-hal yang awalnya dibencinya kini telah menjadi sesuatu yang harus dikejarnya. Pada







