Mag-log inPagi Semua ( ╹▽╹ ) Ini bab pertama pagi ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Pelayan Rumah Makan Heavenly Wind menundukkan kepala dan mendekat ke sisi Ryan. Setelah memastikan suaranya cukup pelan, ia berbisik, "Tuan Muda, orang itu Kai Warrick, tuan muda dari Keluarga Warrick di Kota Heavenly Capital." "Dialah yang dulu bertengkar dengan kultivator yang sedang kau cari."Ryan baru hendak menanyakan kelanjutan cerita ketika suara bentakan menggema dari arah aula."Siapa yang mengizinkanmu bicara?" Wajah Kai Warrick menggelap. "Bukankah sudah kuperingatkan agar kau menutup mulut? Kau tuli?"Tanpa menunggu jawaban, Kai mengerahkan auranya. Sebilah pedang muncul dalam genggamannya, lalu ia mengayunkannya ke arah pelayan itu.Cahaya pedang merah darah melesat melintasi aula. Aura darah yang menyertainya begitu pekat hingga meja-meja di sekitarnya bergetar. Mangkuk beradu dengan piring, sementara api lilin pada dinding bergoyang liar akibat tekanan yang mendadak memenuhi ruangan.Pelayan tersebut membeku ketakutan. Wajahnya kehilangan warna, dan kedua kakinya gem
Mendengar jawaban pelayan itu, Ryan langsung tertarik. Pertengkaran yang sedang dicarinya ternyata terjadi di Rumah Makan Heavenly Wind, tempat ia duduk sekarang. Namun sebelum bertanya lebih jauh, ia memperhatikan raut wajah lawan bicaranya.Pelayan tersebut tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi masih ragu. Matanya sesekali melirik ke arah aula, seolah takut ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.Ryan tersenyum dan tidak mendesaknya."Kalau kau merasa keberatan, aku tidak akan memaksa. Tapi selama informasi yang kau berikan berguna, aku pasti akan membalasnya dengan pantas."Pelayan itu menarik napas. Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya ia memberanikan diri."Sejauh yang kutahu, kultivator yang Tuan Muda tanyakan bukan berasal dari Wilayah Selatan."Mata Ryan sedikit berbinar. Petunjuk pertama itu sesuai dengan orang yang sedang dicarinya. Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan kantong kecil lainnya dan melemparkannya kepada pelayan tersebut."Bagus. Lanjutkan."B
Kota Heavenly Capital berdiri megah di tengah dataran luas. Tembok kelabu setinggi puluhan meter mengelilinginya, dengan rune pelindung berwarna keemasan yang terukir di sepanjang permukaan batu. Dari kejauhan saja, Ryan sudah dapat melihat betapa ramainya kota tersebut.Kereta pedagang keluar masuk melalui gerbang, beberapa membawa barang hingga bertumpuk tinggi. Di antara kerumunan tampak pula para kultivator berjubah sekte. Mereka melangkah dengan percaya diri, seakan lalu lintas yang padat bukan urusan mereka.Ryan mengikuti antrean menuju pintu masuk. Ketika tiba gilirannya, ia menyerahkan data yang diminta penjaga kota. Pemeriksaannya berlangsung singkat. Setelah memastikan tidak ada masalah, penjaga itu mempersilakannya masuk tanpa mengajukan pertanyaan tambahan.Ryan mengembuskan napas lega.'Ternyata Barlow Steen tidak mencoba bermain curang lagi.'Ia sempat khawatir jenderal penjaga perbatasan itu diam-diam mempersulit perjalanannya. Namun izin masuk yang diperolehnya
Formasi Darah Pemecah Ruang milik Keluarga Miles akhirnya tidak mampu bertahan.Krak!Retakan menyebar di sepanjang formasi, disusul ledakan energi yang melemparkan beberapa tetua ke belakang.Pfft!Darah menyembur dari mulut mereka. Salah seorang tetua mencoba kembali mengerahkan energi untuk mempertahankan formasi, tetapi semuanya sudah terlambat."Formasinya hancur! Cepat mundur!"Boom!Esensi pedang yang menerobos celah ruang langsung mengamuk di aula utama. Pilar-pilar batu terbelah, sementara atap bangunan retak sebelum runtuh menimpa orang-orang yang belum sempat melarikan diri.Jeritan terdengar di tengah debu dan reruntuhan.Para anggota Keluarga Miles berhamburan mencari perlindungan. Namun esensi pedang itu terus menyapu aula, menghancurkan segala sesuatu yang dilaluinya.Kekuatan tersebut bukan berasal dari satu kultivator pedang biasa.Segel Myriad Sword menyimpan kehendak dan pencapaian sepuluh ribu kultivator pedang dari masa lampau. Di antara mereka bahkan terdapat ahl
Pemuda yang dilihat Wendy di kejauhan masih berdiri di puncak Gunung Freezing Sky. Ryan menancapkan Pedang Feralrot ke tanah beku, lalu menggunakan gagangnya sebagai penopang agar tubuhnya tidak ambruk.Jubahnya sudah basah oleh darah. Wendy melihat betapa sulitnya Ryan berdiri. Di atas pemuda itu, retakan ruang terus melebar, membawa tekanan yang jauh melampaui lawan mereka sebelumnya.Jika tetap berada di sana, Ryan pasti mati.'Kenapa kau sebodoh itu, Ryan? Kenapa dalam keadaan seperti ini kau masih memikirkan keselamatanku?'Air mata mengalir dari mata Wendy. Ketika jatuh ke permukaan es, tetesannya membuat salju di bawahnya meleleh. Ia ingin kembali, tetapi Dark Ray terus melesat menuruni lereng dengan kilat hitam yang mengikat pergelangan kakinya.Mungkin inilah terakhir kalinya Wendy melihat Ryan. Mereka bisa terpisah selamanya, sebelum pemuda itu mengetahui identitasnya.Kesedihannya perlahan berubah m
Pria tua berjubah hitam menatap api es yang menyembur dari retakan kulitnya dengan wajah ketakutan. Ia sudah mencoba mengerahkan sisa energi spiritual, tetapi kobaran biru pucat itu terus melahap tubuhnya dari dalam. Dalam keputusasaan, ia mengeluarkan sebuah rune dan melemparkannya ke udara. "Selamatkan aku!" teriaknya. Namun tidak ada lagi waktu untuk menunggu pertolongan. Api es menyebar ke seluruh tubuhnya dalam satu tarikan napas. Daging dan tulangnya terbakar bersama jubah hitam yang dikenakannya. Bahkan sebelum rune itu bisa membawakan bantuan, pria tua tersebut telah lenyap tanpa menyisakan abu. Puncak Gunung Freezing Sky akhirnya kembali sunyi. Setelah pertarungan panjang yang hampir merenggut nyawa mereka, musuh terakhir dari Keluarga Miles telah tewas. Wendy menoleh kepada Ryan yang masih terduduk di tanah. Senyum tipis muncul di balik cadarnya. Ia hendak menghampiri pemuda itu, tetapi baru beberapa langkah berjalan, setetes darah mengalir dari dahinya. Senyu







