LOGINMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Beristirahat (◠‿・)—☆
"Lulus! Dia benar-benar lulus!""Masa depan genius ini sudah tidak terbendung lagi. Klan Unicorn Naga semakin besar!""Kalau dua yang lain juga lulus, Klan Unicorn Naga bakal mendominasi wilayah ini selama puluhan ribu tahun ke depan!"Ryan menatap genius kedua yang masih berjuang di hadapan Patung Seratus Binatang. Kondisinya jauh lebih mengenaskan dari yang baru saja lulus. Seluruh tubuhnya basah oleh darah, dan getaran di tubuhnya terasa lebih hebat bahkan dari jarak ini. Napasnya terdengar berat bahkan dari kejauhan, terputus-putus dan tidak beraturan."Keduanya menghadapi jiwa kelas kuning," kata Ryan. Matanya tidak beranjak dari arena. "Kenapa yang pertama selesai lebih dulu?""Meski sama-sama kelas kuning, ada gradasi di dalam kelas itu sendiri," jawab Serena. "Genius yang pertama tadi menghadapi jiwa kuning muda. Kepadatan energinya lebih ringan, jadi wajar habis lebih cepat."Ia mengangguk ke arah genius yang masih berjuang. "Sedangkan yang ini menghadapi jiwa kuning tua.
"Tapi kepadatan energi di setiap kelas itu berbeda sangat jauh," lanjut Serena. "Bahkan kelas semi-oranye pun sudah jauh melampaui kelas kuning penuh." "Dan genius yang bisa memicu jiwa kelas kuning saja sudah termasuk yang luar biasa langka. Kebanyakan kultivator sepanjang hidupnya tidak pernah menyaksikan kemunculan satu pun."Dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan. "Jangankan kelas merah atau oranye penuh. Kelas semi-oranye pun kemungkinan besar sudah jadi yang tertinggi dalam ujian kali ini." "Kelas oranye baru muncul sekali setiap seratus tahun. Sedangkan kelas merah... itu sudah masuk ke wilayah legenda.""Tidak ada kultivator dari generasi yang hidup sekarang yang pernah menyaksikannya langsung."Ryan mendengarkan semuanya dengan wajah yang tenang. Matanya tidak sekali pun bergerak dari arena.'Kalau aku ikut ujian ini, aku ingin menantang jiwa kelas merah itu.'Bukan karena sombong. Tapi kalau sudah masuk ke
Ryan memiringkan kepalanya sedikit ke arah Serena. "Kenapa Klan Unicorn Naga tidak membawa peserta dari luar?"Serena melirik sekilas, lalu menjawab dengan nada datar. "Klan-klan yang lemah biasanya membawa anggota sekte besar sebagai pendamping." "Tugasnya melindungi anggota berdarah spirit mereka selama ujian berlangsung, supaya tidak jadi sasaran empuk di dalam.""Tapi klan sekelas Klan Unicorn Naga tidak butuh itu." Ia melanjutkan tanpa jeda. "Kekuatan mereka sendiri sudah cukup membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum berani mengusik." "Mereka datang sendiri, tanpa pendamping, tanpa bantuan dari mana pun. Karena memang tidak ada yang perlu mereka minta."Ryan mengangguk singkat dan mengalihkan pandangannya ke depan.**Ketiga genius Klan Unicorn Naga kini sudah duduk bersila di hadapan Patung Seratus Binatang, punggung tegak, wajah tenang.Tidak ada yang usianya melampaui dua puluh sembilan t
Ryan menarik tangan Serena dan menempelkannya langsung ke sisi tubuhnya, tepat di area tulang rusuk yang beberapa jam lalu menjadi sasaran cakar Chase Vale. Langsung, tanpa aba-aba. Jari-jari Serena menyentuh kulit yang terasa padat dan hangat di balik robekan jubahnya. Jantungnya berdegup satu kali di tempat yang salah. Pipinya memanas sebelum sempat ia cegah, sesuatu yang tidak biasa terjadi pada wanita seperti dirinya. Tapi yang jauh lebih mengejutkan adalah apa yang tidak dia temukan di bawah telapak tangannya. Tidak ada jaringan yang membengkak. Tidak ada titik yang menyentak ketika ditekan. Tidak ada jejak apa pun dari luka yang baru dicakar ulang dengan penuh tenaga beberapa jam lalu. Kulit di sana terasa mulus, seolah tidak pernah disentuh apa pun. Serena menarik tangannya perlahan. Tangannya berhenti sejenak di udara sebelum ia turunkan. Dia menatap Ryan beberapa detik, mata tidak bergerak, sebelum ekspresinya ia kendalikan kembali menjadi datar. "Kau benar-benar
Ryan menatap kepalan tangannya yang berlumuran darah sebentar, lalu memandang ke dalam lubang tempat Hugh terjatuh. Ternyata tidak sesederhana yang dia kira. Kekuatan tinju itu seharusnya cukup untuk melemparkan Hugh jauh, seperti yang terjadi pada Theo dan Chase. Tapi tubuh Hugh Vale tidak merespons seperti itu. Dia jatuh ke bawah, bukan terpental jauh. Bukan soal kekuatan. Ketahanan tubuh Hugh jauh di atas saudaranya, dan itu membuat perbedaan yang cukup mencolok. Di hadapan Ryan, Celia Vale tidak bergerak. Pandangannya menelusuri Theo yang tergeletak dengan dada amblas, Chase yang berlutut dengan pandangan kosong meski sudah diberi pil pemulih, dan lubang di tanah tempat Hugh tidak sadarkan diri. Wajah Celia sepenuhnya kosong. Rahangnya tidak mengeras, matanya tidak sempit, tidak ada amarah yang terbaca. Seperti seseorang yang baru menyadari bahwa semuanya sudah terlambat, dan tidak ada gunanya marah kepada siapa pun lagi. Tidak ada yang tersisa untuk Ujian Darah Roh. Ket
Dua kilatan itu bukan cahaya.Itu cakar.Chase Vale dan Hugh Vale muncul bersamaan dari dalam pusaran bayangan cakar, satu dari kiri dan satu dari kanan, menjepit Ryan di antara keduanya tanpa memberi ruang pelarian sedikit pun. Gerak mereka sinkron sempurna, dua orang yang sudah terlalu sering berburu bersama dan sudah hafal di mana titik lemah lawan berada.Ryan menyipitkan matanya.Tubuhnya berputar ke kanan. Cakar Hugh Vale menebas udara di sisi kirinya dengan tenaga yang membuat desiran anginnya memotong ujung jubah Ryan menjadi beberapa helai robek.Kuat. Lebih kuat dari Chase.Tapi kecepatannya tidak secepat yang Ryan duga.Chase Vale yang berdiri di sisi berlawanan menyaksikan ini semua. Sudut bibirnya melengkung. Tubuh Ryan kini menghadap ke arah Hugh, punggungnya terbuka lebar, dan luka sayatan dari golok Theo di tulang rusuk kanannya masih tampak merah segar.'Bocah itu t
"Dasar bajingan," geram Cass Xanders. "Karena kalian tidak mau berlutut, aku akan memotong tangan dan kaki kalian! Ingatlah untuk tidak menyinggung orang yang seharusnya tidak kalian ganggu di kehidupan selanjutnya!" Bersamaan dengan ucapannya, niat pedang yang tajam memenuhi udara di sekitar merek
Jarum-jarum perak ditusukkan ke tubuh Pak Tua Tian. Begitu jarum-jarum itu terpasang, wajah pucat Pak Tua Tian langsung memerah. Kemudian, Ryan mengeluarkan ramuan obat dan memberikannya kepada pria itu. Akhirnya, Pak Tua Tian membuka matanya dengan linglung. Ketika dia melihat Ryan, dia hend
Pukulan Ryan tidak mengandung Energi Qi. Pukulan ini sangat murni dan mengandalkan kekuatan tubuh fisiknya. Kemudian dia berteriak, "Hancurkan!" Menggunakan tinjunya untuk menangkis pedang? Tak dapat dipercaya! "Dia gila!" pekik Tetua Keluarga Xanders. Tak seorang pun di Kota Season yang berani
Di puncak yang menembus awan di Gunung Langit Biru, terdapat energi spiritual yang padat, menjadikannya tempat yang ideal untuk berkultivasi. Puncak ini adalah wilayah Sekte Sky Mist, salah satu dari sepuluh sekte teratas di Gunung Langit Biru. Meski berada di peringkat kesepuluh, sekte ini cukup







