تسجيل الدخولTerima Kasih Kak Arief, Kak Heru, Kak Sultan, dan Kak Enjang atas dukungan Gem-nya (. ❛ ᴗ ❛.) Dengan ini, telah terkumpul genap 10 Gem, yang artinya ada 1 Bab Bonus lagi ( ╹▽╹ ) Akumulasi Gem Bab Bonus: 21-11-2024 (malam): 0 Gem (reset) Bab Bonus View: 1/1 Bab (komplit) Bab Bonus Gem Antrian: 40 Ini adalah Bab bonus untuk merayakan 25K View dan juga bab terakhir hari ini. Selamat Membaca semuanya, dan selamat beristirahat (◠‿・)—☆
Semua mata melebar.Beberapa peserta yang tadi berbisik-bisik langsung menutup mulut mereka. Beberapa yang lain mengerjapkan mata sekali, dua kali, tiga kali, seperti orang yang mencoba meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja mereka dengar bukan halusinasi.Ryan Pendragon baru saja bilang Cord Blazehart tidak akan menang. Bahwa Cord akan membayar harganya.'Dia... tidak sedang bercanda, kan?'Cord sendiri tidak bereaksi dengan marah. Justru sebaliknya. Matanya menyempit, bukan dengan kemarahan, tapi dengan sesuatu yang lebih dingin dan lebih terfokus. Jari-jarinya menggenggam kapak lebih erat.'Baiklah. Kalau orang ini benar-benar punya sesuatu untuk dibanggakan, biar aku buktikan dulu sebelum mati.'WHUUMMM!Aura Cord meledak tanpa ditahan. Seluruh udara di sekitarnya bergetar seperti ditiup gelombang tak kasat mata yang mengalir ke segala arah. Dao Integration tingkat
Cord tidak membalas tatapan kepala keluarganya dengan tunduk. Justru ia tertawa kecil. "Kepala Keluarga, kalau ada hukuman, nanti setelah kompetisi saja." "Di sini tidak ada yang namanya bercanda. Tantangan yang sudah diajukan tidak bisa ditarik kembali."Dia mengalihkan matanya kembali ke Ryan. "Lagipula, masa murid Sekte Moon Flower mau meninggalkan kesan pengecut di kawasan terpencil kami?"Gord Blazehart tidak bisa berbuat banyak. Rahangnya mengeras satu kali dengan keras, lalu ia berpaling dari Cord.Namun sebelum pergi sepenuhnya, ia menatap Ryan dengan serius dan berkata, "Cord, jangan meremehkan lawanmu hanya karena merasa levelmu lebih tinggi darinya. Dia tidak seperti Rex Hale." Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan lebih pelan. "Bahkan aku sendiri tidak bisa merasakan batas kekuatanmu yang sebenarnya. Berhati-hatilah."Cord yang berdiri tidak jauh mendengar kata-kata kepala keluarganya itu. Dia me
Bahkan Ryan sendiri menatap Xavier Dragvine dengan sorot yang berbeda dari sebelumnya. Dia tahu Xavier kuat. Sejak pertama mereka berkenalan, kekuatan Xavier sudah tidak bisa diremehkan. Namun yang baru saja ditampilkan di lapangan tadi melampaui semua perkiraan Ryan tentang seberapa jauh Xavier telah berkembang. Satu hal yang lebih spesifik menarik perhatiannya. 'Tekanan garis darah Harimau Putih Gao milikku terhadap Xavier tadi... tidak ada lagi.' Bukan berarti garis darahnya melemah. Bukan pula berarti garis darah Xavier telah melampaui miliknya dalam hal kualitas murni. Tapi ada perbedaan yang nyata dan tidak bisa diabaikan sejak terakhir kali mereka berdiri berdekatan. Sesuatu dalam darah Xavier telah berubah, dimurnikan sampai ke lapisan yang lebih dalam, dan diperkuat dari dasarnya. Seolah membaca arah pikirannya, suara Divine God Beast Tamer muncul pelan di telinganya dalam sekejap yang tidak seorang pun bisa tangkap, seperti bisikan yang hanya ada di dalam kepala.
Kepala keluarga Stormcloud bergeser ke sisi Xavier, suaranya rendah. "Kita dan Keluarga Frostgale sudah lama tidak akur. Mereka memanfaatkan kesempatan ini." Xavier hanya mengangguk satu kali. Wajahnya tetap datar, seperti orang yang baru mendengar berita cuaca. Lelaki tua itu menyaksikan semuanya dengan senyum yang tidak berubah. "Anak muda, semangatmu bagus. Keluarga Stormcloud, apakah kalian menerima tantangan ini?" Kepala keluarga melirik Xavier. Xavier mengangguk. "Keluarga Stormcloud menerima." "Baiklah." Lelaki tua itu mengangguk. "Kedua peserta, maju ke tengah dan perkenalkan diri." Xavier melangkah ke tengah lapangan. Tidak tergesa-gesa, tidak lambat. "Xavier Dragvine, Keluarga Stormcloud." Pemuda Frostgale mendarat tepat di hadapannya dengan satu lompatan kecil yang memperlihatkan kelenturan kakinya. "Rex Hale, Keluarga Frostgale." "Mulai!" Begitu kata lelaki tua itu bergema, Rex bergerak. WUUUSSH! Kecepatannya tidak masuk akal untuk level kultivasinya. Tubuhny
Semua orang mengikuti langkah lelaki tua itu keluar dari gedung batu.Namun setelah beberapa saat, Ryan mengerutkan dahinya.Arah ini tidak menuju arena.Dia diam saja, mengikuti barisan sambil mencatat setiap belokan yang diambil lelaki tua itu dengan cermat. Lorong-lorong batu sempit semakin dalam, semakin menurun, dindingnya semakin lembab dan dingin, hingga akhirnya seluruh rombongan tiba di sebuah tempat yang sama sekali tidak terduga.Sebuah lapangan bawah tanah yang luar biasa besarnya.Langit-langitnya menjulang puluhan meter ke atas, ditopang oleh pilar-pilar batu alami yang sudah ada sejak entah kapan. Batu yang tidak diukir dan tidak dibentuk, tapi berdiri seolah sudah ditempatkan dengan sengaja oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari semua keluarga yang hadir di sini. Lantainya rata dan keras seperti besi. Di sekelilingnya, formasi cahaya redup menerangi setiap sudut tanpa menyisakan bayangan.
Ryan Pendragon adalah duri yang menancap dalam di sisi Pritha Zest. Kultivator pendatang baru yang melumpuhkan junior kesayangannya dan membuat Pritha menanggung penghinaan diam-diam di hadapan banyak orang. Pritha cukup kuat untuk memendam amarahnya di depan umum, wajahnya tidak pernah berubah di depan banyak orang. Tapi Yakou tahu persis betapa dalamnya rasa benci itu, karena dia melihat ekspresi aslinya ketika tidak ada yang menonton.Kalau ia bisa menghabisi Ryan di sini, di tempat yang jauh dari jangkauan sekte, di mana segala sesuatunya bisa dianggap sebagai kecelakaan kompetisi, maka kedudukannya di sisi Pritha akan mengakar terlalu dalam untuk dicabut oleh siapa pun.Ia butuh itu.Karena Yakou Zedd tahu bahwa dirinya bukan yang paling berbakat di antara murid-murid sejati Sekte Moon Flower. Tidak dekat, bahkan tidak di sepuluh besar. Tanpa dukungan penuh Pritha, ia tidak akan pernah bisa berdiri di
Eliot Lane bahkan dapat merasakan sensasi bahaya yang samar namun nyata dari garis keturunan Ryan—sebuah perasaan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya meski telah hidup puluhan ribu tahun dan bertemu ribuan kultivator berbakat.Dalam pikirannya, hanya kekuatan-kekuatan tertentu di Benua Valori
Begitu sosok Ryan menghilang dari pandangan, para jenius muda Kota Spiritum yang tadinya terdiam langsung gempar. Berbagai makian dan kutukan terlontar."Ryan, menurutmu kamu siapa?!" seru seorang pemuda dengan wajah memerah menahan amarah."Atas dasar apa orang setengah lumpuh sepertimu masih bera
Kepala Keluarga Liam menatap Tetua Agung Sekte Demon Blade dengan sorot mata penuh perhitungan. "Kita tidak bisa memberikan janji kosong.""Jika kita ingin mendapatkan imbalan ini, kita harus mempertaruhkan segalanya," jawab Tetua Agung Sekte Demon Blade dengan tegas. Tangannya terangkat, memberi g
Ryan bangkit dan melesat ke langit dengan kecepatan penuh. Dia memegang Pedang God Slayer dan Tombak Demon God di kedua tangannya. Meski terluka, tekadnya untuk melawan tidak surut sedikitpun. Namun, saat dia bersiap melancarkan serangan balasan, segel itu sudah terlalu dekat dan dia tertelan ol







