LOGINPagi Semua ( ╹▽╹ ) Ini bab pertama pagi ini. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Sehari kemudian, Ryan menatap bola api kecil yang berputar di antara jari-jarinya sambil tersenyum.Warnanya sudah berubah. Dari ungu muda yang samar, kini menjadi hijau keabu-abuan yang tampak biasa secara kasat mata. Tapi aura yang dipancarkannya hampir dua kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.Divine God Beast Tamer tidak langsung bersuara. Ada jeda yang cukup panjang sebelum akhirnya dia bersuara."Benar-benar berhasil." Nada tidak percayanya tidak bisa disembunyikan. "Kau ini dari mana sebenarnya?" "Kalau bukan karena terlalu banyak menyerap daging binatang iblis bisa merusak fondasi kultivasimu, sungguh aku ingin melihatmu melahap berbagai jenis binatang dan menghitung berapa banyak kemampuan yang bisa kau kumpulkan..."Ryan menyimpan Benih Api itu kembali.Matanya sudah berbinar ke arah bangkai berikutnya.Dia melambaikan tangannya lagi.**Sepuluh hari berlalu.Ryan yang duduk bersila tiba-tiba membuka kedua matanya. Seberkas cahaya ungu melesat dari pupilnya, dan aura ku
"Perlu kau ketahui, tidak semua orang bisa menggunakan Roh Binatang Iblis untuk membentuk avatara," ujar Divine God Beast Tamer dengan nada serius. "Syaratnya adalah fondasi yang cukup kuat. Jika tidak, ada risiko roh itu malah berbalik dan merebut alih tubuh utamanya."Dia berhenti sejenak."Tapi untuk kondisi tubuh dan fondasi kultivasimu saat ini, itu bukan masalah sama sekali."Ryan mengangguk pelan. "Lalu berapa lama waktu yang diperlukan sebelum roh itu bisa digunakan?""Tergantung orangnya." Singkat. "Untuk sekarang, lupakan dulu soal itu. Serahkan kendali tubuhmu kepadaku. Aku yang akan menyegel makhluk itu ke dalamnya."Jeda pendek."Kita lihat juga apakah Naga Darah dalam tubuhmu bisa bereaksi terhadapnya."Ryan merasakan sedikit kekecewaan, tapi langsung dia tepis. Kekuatan Roh Binatang Iblis itu akan tumbuh seiring perkembangannya sendiri, jadi menunggu bukan masalah besar. Dan bahkan jika belum siap dijadikan avatara, masih ada opsi lain yang tidak kalah menarik: serah
Petugas itu memproses pesanan tanpa suara, bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya.Wyrm Zamrud kecil muncul dari belakang rak dalam kandang portable yang jauh lebih kecil dari kandang pavilion, dan Ryan menerimanya dengan tangan bebas.Kemudian dia menyebutkan beberapa nama binatang iblis lagi. Petugas mencatat semuanya tanpa bertanya.Ryan mengeluarkan kartu murid sejati yang diberikan kepadanya dan meletakkannya di atas meja.Berita tentang kejadian tadi akan menyebar ke seluruh sekte dalam waktu singkat. Tapi Ryan tidak ingin memperlihatkan kartu murid rahasianya terlalu cepat. Biarlah dulu. Kartu murid sejati masih punya saldo yang bisa dipakai.Petugas kasir menatap kartu itu.Mukanya pucat dua tingkat. Matanya sedikit melebar sebelum dia berhasil mengontrolnya kembali.'Murid sejati.' Dia mengatur napasnya sambil mengumpulkan semua bahan yang dipesan. 'Bukan cuma murid baru yang belum dapat
"Tunggu sebentar."Ryan berhenti. Menoleh.Bukan suara Clara. Yang ini lebih berat, lebih dalam, lebih terkuras. Suara seseorang yang baru saja kehilangan segalanya dalam satu hari dan entah bagaimana masih menemukan kata-kata yang perlu disampaikan.Ethan Liam menatap Ryan dari lantai. Matanya merah, tapi kegilaannya sudah pergi. Yang tersisa lebih sederhana dari itu. Rahangnya tidak lagi tegang. Matanya tidak lagi berisi dendam. Hanya tatapan seseorang yang sudah melepaskan semua beban yang selama ini dia pikir perlu dijaga."Aku minta maaf karena sudah menyerangmu." Napasnya berat dan tidak teratur, tapi setiap katanya diucapkan dengan jelas. "Kau yang hari ini membuat aku melihat wajah asli perempuan itu."Jeda singkat. Dadanya naik turun sekali. Bibirnya bergerak seolah menimbang apakah kalimat berikutnya perlu diucapkan atau tidak."Dan kau yang mengajarkan aku hal yang tidak pernah b
Kekuatan jiwa Ethan adalah satu-satunya yang masih bisa dia gunakan. Seluruh tubuhnya sudah hancur dari dalam. Tulang-tulang jadi serbuk, meridian putus, tidak ada lagi satu pun saluran energi yang bekerja. Tapi kekuatan jiwa tidak butuh tulang yang utuh. Dan dia menyalurkan semuanya ke satu tujuan, memastikan Clara tidak ke mana-mana. "Kakak Ryan!" Suara Clara pecah. Semua kalkulasi yang tadi mengisi kepalanya hilang, tersapu oleh kepanikan yang terlalu nyata untuk dipoles. "Tolong aku! Cepat!" Clara mendorong seluruh energi spiritualnya untuk melangkah. Kakinya bergeming. Dia coba lagi, lebih keras. Hasilnya sama persis. Bukan lantai yang menahannya. Itu kekuatan jiwa dari seseorang yang sudah tidak punya cara lain untuk melakukan apapun selain satu hal ini. Clara melirik ke bawah. Ke tubuh Ethan yang tergeletak. Ke darah yang mengalir dari sudut matanya. Kepanikannya naik satu tingkat. Panas dari tubuh Ethan terus mengalir ke udara. Atmosfer di atasnya berdistorsi
Clara Lindow tidak bergerak menjauh dari sisi Ryan. Pipinya merona tipis. Kepalanya tertunduk, bahu sedikit merapat ke lengan Ryan, posisi yang tampak malu-malu, tapi setiap inci gerakannya terukur dengan presisi yang tidak pernah dimiliki oleh seseorang yang benar-benar merasa malu. Pinggangnya bergeser. Tidak cukup besar untuk dianggap terang-terangan, tapi tidak cukup kecil untuk diabaikan oleh siapapun yang memperhatikan dengan seksama. "Kakak Ryan, jangan seperti itu..." Suaranya jatuh ke nada manis yang sedikit bergetar. Dari lantai, Ethan Liam menyaksikan semua itu. Matanya berkedip dua kali. Pelan. Seperti otaknya butuh waktu ekstra untuk memproses apa yang sedang dilihatnya. Di sudut matanya, dua garis merah mengalir pelan. Bukan air mata biasa, matanya sudah terlalu kering untuk itu. Y ang mengalir adalah darah dari pembuluh yang pecah, karena terlalu banyak menahan sesuatu yang seharusnya sudah dilepas jauh lebih awal. "Clara!" Suaranya keluar serak dan tidak berat
"Sudah kubilang berlutut," Ryan berkata acuh tak acuh, "tapi kau masih keras kepala juga." Gelombang tekanan spiritual meledak dari tubuhnya, terfokus pada sosok Castiel Wealth. Darah segar menyembur dari mulut kepala keluarga Wealth itu sebelum lututnya akhirnya menyentuh tanah. Jika Castiel We
"Itu tidak mungkin benar, kan..." Zurich bergumam tidak percaya.Dengan tangan gemetar ia mengambil ponsel dari lantai dan menekan tombol jawab. "Ayah..."Suaranya nyaris tak terdengar."Zurich Loot!" suara menggelegar terdengar dari seberang. "Siapa yang kau sakiti?! K
Dalam sekejap mata, ketiga wasit melesat maju dengan niat membunuh yang terfokus pada Ryan. Namun bayangan hitam mendadak muncul menghadang–Galahad telah berdiri di depan tuannya. "Minggir!" salah satu wasit meraung murka, melancarkan serangan telapak tangan mematikan. Ryan yang masih bersandar
Ketika lelaki tua itu mendengar kata-kata Jackson Jorge, tubuhnya bergetar dan ekspresi terkejut muncul di wajahnya. Namun kejutan itu hanya berlangsung sekejap sebelum tersembunyi di balik topeng dinginnya."Keturunan brengsek itu sebenarnya tidak mati?" desisnya berbahaya. "M







