LOGINPagi Semua ( ╹▽╹ ) Ini bab pertama pagi ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Dalam sekejap, semua mata di ruangan tertuju kepada Ryan Pendragon.Para tamu menunggu penjelasan apa yang akan ia berikan kepada Landon Westalis. Bagaimanapun, Landon bukan orang biasa. Di ibu kota Kerajaan Nine Nether, nama Westalis saja sudah cukup membuat banyak orang menundukkan kepala.Namun Paviliun Divine Spring justru jatuh ke dalam keheningan yang aneh.Ryan sedang mencicipi arak di tangannya dengan tenang.Ia menyesapnya sedikit demi sedikit. Alisnya sesekali berkerut, lalu mengendur lagi, seolah sedang menelusuri sesuatu yang tersembunyi di dasar cairan tersebut.Ia bahkan tidak menunjukkan niat sedikit pun untuk menjawab Landon. Ia benar-benar mengabaikannya.Sebab, pada detik arak itu menyentuh lidahnya, Mata Iblis di kening Ryan bergetar samar.‘Demon Emperor yang sedang tidur panjang akan bangun?’ batinnya.Jemarinya mengencang di sekeliling cawan. ‘Ini jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.’Dalam keadaan seperti itu, mana sempat ia mengurusi Landon Westalis?Qu
Yorick Windson menoleh dan memandangi pria berjubah merah itu.Wajahnya yang tadi muram langsung berseri.“Tuan Muda Westalis!” serunya dengan penuh semangat.Pria berjubah merah itu adalah tuan muda kedua Keluarga Westalis, salah satu keluarga besar di ibu kota Kerajaan Nine Nether yang kedudukannya sama sekali tidak kalah dari Keluarga Chase.Namanya Landon Westalis.Bakat Landon dalam kultivasi sebenarnya biasa saja. Namun ia sangat pandai bergaul dan mengurus usaha keluarga. Beberapa tahun terakhir, demi memperluas bisnis Keluarga Westalis keluar dari Kerajaan Nine Nether dan menanam pijakan di Benua Valorisia, ia sengaja berteman dengan banyak orang muda berbakat dari berbagai kekuatan besar.Yorick pun mengenal Landon lewat kesempatan semacam itu.Bahkan tempat di Paviliun Divine Spring malam ini bisa ia dapatkan justru karena hubungan itu.Landon mengamati Yorick sebentar, lalu berkata, “Saudara Windson?”Mendengar Landon masih mengingatnya, Yorick hampir melompat kegirangan.
Yorick Windson terpaku begitu mendengar dua kata itu. Darahnya langsung bergolak naik. Wajahnya berganti antara hijau dan putih, seolah amarah dan malu sedang saling bertabrakan di dalam dadanya.Kapan ia pernah merasakan penghinaan seperti ini?Ia adalah genius paling menonjol di Akademi Divine Wind dan selama ini selalu dipuja banyak orang. Di Benua Valorisia, bahkan Kultivator Ranah Star Sealed biasa akan memberinya sedikit rasa hormat karena potensinya, dan tidak akan sembarangan memarahinya di depan umum.Sayangnya, hal semacam itu sama sekali tidak berarti bagi Selene Chase.Selene lahir di Keluarga Chase Kerajaan Nine Nether. Sejak kecil, ia sudah melihat entah berapa banyak genius yang seratus kali lebih menonjol daripada Yorick. Bahkan di hadapan orang-orang seperti itu, Selene tetap bertindak sesuka hatinya.Karena itu, wajar kalau ia tidak merasa perlu menyembunyikan isi hatinya ataupun menjaga nama baik orang lain.Yorick mencuri pandang ke arah Bastian Lux dan Severin
Meski Ryan Pendragon tidak mengucapkan satu kata pun, ia sudah menginjak wajah dan harga diri Yorick Windson di bawah kakinya.Bisa dibayangkan betapa murkanya Yorick saat itu. Namun amarahnya tidak lagi berguna.Yang menjatuhkannya bukan hinaan Ryan, melainkan kalimatnya sendiri yang ia teriakkan dengan penuh keyakinan beberapa saat lalu. Semakin keras ia bicara tadi, semakin dalam pula rasa malu yang harus ia telan sekarang.Bastian Lux dan Severin Lie mengerutkan kening, lalu sama-sama menundukkan kepala.Beberapa tamu di meja sebelah sudah mulai melirik ke arah mereka sambil berbisik pelan. Tatapan itu membuat suasana meja peringkat Earth mereka terasa jauh lebih sempit daripada sebelumnya.Yorick datang bersama mereka. Kalau Yorick dipermalukan, mereka juga ikut menanggung akibatnya.Mereka datang ke Paviliun Divine Spring untuk menikmati arak. Namun gara-gara kejadian ini, suasana mereka hancur sepenuhny
Meski wajah wanita itu tertutup cadar, Yorick Windson yakin sepenuhnya bahwa parasnya pasti luar biasa. Perawakannya anggun, auranya mulia, dan setiap gerakannya membuat orang sulit mengalihkan pandangan. Namun semakin lama memandang, semakin kuat pula rasa takut di dadanya. Yorick cepat menundukkan kepala. “Jangan dipandangi terus,” bisiknya kepada Bastian Lux. “Aku tidak mengenal wanita itu.” “Tapi aku bisa memastikan satu hal. Kekuatan yang berdiri di belakangnya jelas bukan sesuatu yang bisa dibandingkan dengan akademi kita. Cepat minum saja.” Bastian buru-buru menarik pandangannya. Ia sama sekali tidak ingin mencari masalah dengan kekuatan besar Kerajaan Nine Nether tanpa alasan. Mereka datang ke sini sebagai tamu. Dan tamu yang berani menyenggol tuan rumah biasanya tidak akan pulang dengan tubuh utuh. ** Pada saat itu, Ryan Pendragon melangkah masuk ke Paviliun Divine Spring. Seorang gadis penyambut tamu segera maju menghampirinya. “Tuan Muda, apakah Tuan datang un
Pada saat itu, Yorick Windson, Bastian Lux, dan Severin Lie sudah masuk ke Paviliun Divine Spring. Mereka duduk di meja peringkat Earth. Di sekeliling mereka, sebagian besar meja sudah terisi penuh. Para tamu berbicara dengan suara rendah, sementara aroma arak yang sebelumnya tercium dari luar kini jauh lebih pekat. Hanya dengan menarik napas, kepala terasa hangat. Namun di antara semua meja itu, hanya ada satu yang masih kosong. Meja tersebut sekaligus merupakan meja terbesar di seluruh paviliun. Terbuat dari satu potong batu giok utuh, permukaannya memantulkan cahaya lampu seperti danau tenang. Di sekelilingnya, tidak ada satu pun tamu yang berani duduk terlalu dekat. Severin Lie melirik meja besar itu, lalu bertanya kepada Yorick, “Yorick, kenapa meja itu kosong?” Yorick tersenyum, seolah mendapat kesempatan untuk memperlihatkan pengetahuannya. “Kakak Lie mungkin belum tahu. Itu meja terbesar di Paviliun Divine Spring. Namanya meja peringkat Heaven. Meja itu tidak bisa







