Masukpagi semua <( ̄︶ ̄)> ini bab pertama pagi ini. ditunggu bab keduanya. (。•̀ᴗ-)✧ Bab Bonus: 0/6 Bab Reguler: 1/1 Bab (Komplit)
Kadang-kadang, seseorang melanggar aturan bukan karena sejak awal ingin melanggar, atau merasa dirinya berdiri di atas aturan.Terkadang, mereka melanggarnya karena hanya merekalah yang masih berusaha mematuhi aturan itu.Jika sudah begitu, apakah aturan semacam itu masih pantas disebut aturan?Aturan yang tidak dihormati semua pihak hanya berubah menjadi alat di tangan yang kuat, dan rantai di kaki yang lemah.Terlebih lagi, meski Dunn bukan berasal dari faksi kelas puncak, latar belakangnya tetap tidak sederhana. Di antara faksi kelas satu, keluarganya berdiri di jajaran atas. Latar belakang, bakat, dan hubungannya memberinya hak istimewa untuk mengabaikan aturan dalam batas tertentu.Ia memang tetap akan dihukum kalau tertangkap oleh Nolan Chester yang terkenal keras. Namun sekadar memberi pelajaran kepada murid tahun pertama Ranah Creation, memangnya sebesar apa masalahnya?Dunn sama sekali tidak
“Aku tidak bisa memukulmu.”Akhirnya Ryan Pendragon membuka mulut. Ia menatap lurus ke mata Dunn, suaranya tenang tanpa getaran sedikit pun.Bukan karena ia tidak berani. Melainkan karena ia memang tidak bisa.Alasannya sederhana. Dunn berhasil membuatnya marah.Jika Ryan benar-benar menggerakkan tangan sekarang, ia tidak yakin bisa menahan kekuatannya. Dengan tubuh yang sudah ditempa berulang kali, ditambah peningkatan dari Api Mistik dan Teknik Membakar Darah, satu pukulan yang lepas kendali bisa saja membuat Dunn tewas di tempat.Melukai sesama murid Akademi Heavenly Flame adalah satu perkara.Membunuh sesama murid adalah perkara yang sama sekali berbeda.Kalau sampai itu terjadi, bahkan Nolan Chester maupun Kepala Akademi Quinton Greaves belum tentu bisa melindunginya sepenuhnya. Dan Ryan belum boleh meninggalkan akademi ini. Tablet Flame masih tersembunyi di suatu sudut, sementara keber
Ketiga pria itu menatap Ryan Pendragon dengan tajam. Di mata mereka, dengan kultivasi serendah itu, Ryan pasti akan pergi dengan patuh begitu ditekan aura tiga Kultivator Ranah Star Seed tahap akhir. Kalau nyalinya lebih kecil, mungkin ia bahkan akan kabur ketakutan tanpa berani menoleh. Namun di luar dugaan mereka, Ryan justru berdiri dengan tenang. Tidak ada setitik pun kepanikan di wajahnya. Tatapannya datar, napasnya stabil, dan tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tertekan. “Tadi kau bilang aku tidak punya kelayakan?” Ryan menatap Dunn dengan sorot dingin. Dunn dan dua temannya memang selalu tinggi hati. Mereka jarang bergaul dengan murid Akademi Heavenly Flame yang lebih lemah dari mereka, apalagi memperhatikan kabar kecil dari kalangan murid tahun pertama. Karena itu, mereka bertiga sama sekali tidak tahu apa saja yang sudah Ryan lakukan beberapa hari terakhir. Mendengar pertanyaan tersebut, ketiganya justru tertawa. Bagaimana mungkin mereka tidak ter
“Saya yakin bisa.” Ryan Pendragon menjawab dengan tenang, lalu melangkah menuju arah inti urat spiritual. “Adik Seperguruan, tunggu sebentar.” Sebuah suara perempuan terdengar dari belakang. Ryan berbalik. Matanya sedikit menyipit ketika melihat seorang wanita muda berdiri tidak jauh darinya. Perawakannya ramping, gerak tubuhnya anggun, dan gaun istana berwarna ungu muda yang dikenakannya membuatnya tampak lembut. Wanita ini memang cantik, tetapi belum sampai membuat Ryan terpaku. Bagaimanapun, setelah terbiasa berada di dekat Shirly Jirk, Rindy Snowfield, dan Jessica Neuro, kecantikan biasa tidak lagi cukup untuk menahan pandangannya terlalu lama. Meski begitu, Ryan mengakui satu hal. Senyum wanita ini tidak dibuat-buat. Sikapnya juga tidak membawa tuntutan apa pun. Di tempat seperti Akademi Heavenly Flame, ketulusan semacam itu justru lebih jarang ditemui daripada wajah cantik. Yang benar-benar membuat Ryan terkejut adalah tingkat kultivasinya. Di angkatan mana pun,
Pada saat itu, Ryan sudah tiba di depan pintu masuk Sumber Urat Spiritual. Ia sempat tertegun melihat banyaknya murid yang berkerumun di sana. Sebagian duduk bersila di atas batu sambil memejamkan mata, seolah sedang menenangkan napas. Sebagian lagi berdiri bersandar di dinding tebing, sesekali melirik ke arah pintu masuk dengan wajah tidak sabar. Semuanya menunggu. Poin kontribusi yang dibutuhkan untuk memasuki Sumber Urat Spiritual dan berkultivasi di dalamnya bisa disebut tidak masuk akal. Meski begitu, masih sebanyak ini murid yang rela datang dan menunggu giliran. Dari sini saja, Ryan sudah bisa membayangkan sepekat apa energi spiritual di dalamnya. Ia menarik napas pelan. Bahkan di luar pintu masuk, udara yang masuk ke paru-parunya terasa jauh lebih padat daripada energi spiritual di asramanya. Setiap tarikan napas seperti membawa butiran energi halus yang langsung meresap ke dalam tubuh. Ryan tidak membuang waktu. Ia melangkah menuju pintu masuk. Di depan pintu
Benua Valorisia teramat luas.Di negeri seluas itu, kekuatan kelas puncak bukan hanya lambang kekuatan. Mereka juga melambangkan fondasi dalam yang diwariskan turun-temurun, dengan sumber daya, teknik, dan warisan yang tidak bisa dibandingkan dengan sekte biasa. Satu keputusan dari kekuatan seperti itu bisa mengubah arah banyak kerajaan, bahkan membuat sekte kelas satu menundukkan kepala.Corwin Samian adalah genius terbaik yang dilahirkan Sekte Primordial Sword dalam ribuan tahun terakhir. Lebih dari itu, sekte tersebut sudah memilihnya sebagai calon ketua sekte berikutnya.Corwin menggeleng pelan.“Sekalipun kau tidak datang, kultivasiku hari ini memang sudah hampir selesai. Perayaan hari kelahiran keluarga kerajaan Kerajaan Nine Nether sudah dekat. Aku harus mempersiapkan diri.”“Kakak Seperguruan Samian,” Hollis Lie mengerutkan kening, “justru perkara itulah yang membuatku mencarimu. Kali ini, sepertinya







