LOGINPagi Semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama pagi ini. selamat membaca (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 0/3 Bab Reguler: 1/2 Bab
Bahkan Ryan sendiri menatap Xavier Dragvine dengan sorot yang berbeda dari sebelumnya.Dia tahu Xavier kuat. Sejak pertama mereka berkenalan, kekuatan Xavier sudah tidak bisa diremehkan. Namun yang baru saja ditampilkan di lapangan tadi melampaui semua perkiraan Ryan tentang seberapa jauh Xavier telah berkembang.Satu hal yang lebih spesifik menarik perhatiannya.'Tekanan garis darah Harimau Putih Gao milikku terhadap Xavier tadi... tidak ada lagi.'Bukan berarti garis darahnya melemah. Bukan pula berarti garis darah Xavier telah melampaui miliknya dalam hal kualitas murni. Tapi ada perbedaan yang nyata dan tidak bisa diabaikan sejak terakhir kali mereka berdiri berdekatan. Sesuatu dalam darah Xavier telah berubah, dimurnikan sampai ke lapisan yang lebih dalam, dan diperkuat dari dasarnya.Seolah membaca arah pikirannya, suara Divine God Beast Tamer muncul pelan di telinganya dalam sekejap yang tidak seorang pun bisa tangkap, seperti bisikan yang hanya ada di dalam kepala."Yordan
Kepala keluarga Stormcloud bergeser ke sisi Xavier, suaranya rendah. "Kita dan Keluarga Frostgale sudah lama tidak akur. Mereka memanfaatkan kesempatan ini."Xavier hanya mengangguk satu kali. Wajahnya tetap datar, seperti orang yang baru mendengar berita cuaca.Lelaki tua itu menyaksikan semuanya dengan senyum yang tidak berubah. "Anak muda, semangatmu bagus. Keluarga Stormcloud, apakah kalian menerima tantangan ini?"Kepala keluarga melirik Xavier. Xavier mengangguk."Keluarga Stormcloud menerima.""Baiklah." Lelaki tua itu mengangguk. "Kedua peserta, maju ke tengah dan perkenalkan diri."Xavier melangkah ke tengah lapangan. Tidak tergesa-gesa, tidak lambat."Xavier Dragvine, Keluarga Stormcloud."Pemuda Frostgale mendarat tepat di hadapannya dengan satu lompatan kecil yang memperlihatkan kelenturan kakinya."Rex Hale, Keluarga Frostgale.""Mulai!"Begitu kata lelaki tua itu bergema, Rex bergerak.WUUUSSH!Kecepatannya tidak masuk akal untuk level kultivasinya. Tubuhnya seolah laru
Semua orang mengikuti langkah lelaki tua itu keluar dari gedung batu.Namun setelah beberapa saat, Ryan mengerutkan dahinya.Arah ini tidak menuju arena.Dia diam saja, mengikuti barisan sambil mencatat setiap belokan yang diambil lelaki tua itu dengan cermat. Lorong-lorong batu sempit semakin dalam, semakin menurun, dindingnya semakin lembab dan dingin, hingga akhirnya seluruh rombongan tiba di sebuah tempat yang sama sekali tidak terduga.Sebuah lapangan bawah tanah yang luar biasa besarnya.Langit-langitnya menjulang puluhan meter ke atas, ditopang oleh pilar-pilar batu alami yang sudah ada sejak entah kapan. Batu yang tidak diukir dan tidak dibentuk, tapi berdiri seolah sudah ditempatkan dengan sengaja oleh sesuatu yang jauh lebih tua dari semua keluarga yang hadir di sini. Lantainya rata dan keras seperti besi. Di sekelilingnya, formasi cahaya redup menerangi setiap sudut tanpa menyisakan bayangan.
Ryan Pendragon adalah duri yang menancap dalam di sisi Pritha Zest. Kultivator pendatang baru yang melumpuhkan junior kesayangannya dan membuat Pritha menanggung penghinaan diam-diam di hadapan banyak orang. Pritha cukup kuat untuk memendam amarahnya di depan umum, wajahnya tidak pernah berubah di depan banyak orang. Tapi Yakou tahu persis betapa dalamnya rasa benci itu, karena dia melihat ekspresi aslinya ketika tidak ada yang menonton.Kalau ia bisa menghabisi Ryan di sini, di tempat yang jauh dari jangkauan sekte, di mana segala sesuatunya bisa dianggap sebagai kecelakaan kompetisi, maka kedudukannya di sisi Pritha akan mengakar terlalu dalam untuk dicabut oleh siapa pun.Ia butuh itu.Karena Yakou Zedd tahu bahwa dirinya bukan yang paling berbakat di antara murid-murid sejati Sekte Moon Flower. Tidak dekat, bahkan tidak di sepuluh besar. Tanpa dukungan penuh Pritha, ia tidak akan pernah bisa berdiri di
Wajah Bianca berubah pucat.Dia mengenal kekuatan Wendy lebih baik dari siapa pun. Sudah bertahun-tahun ia mendampingi perempuan itu, menyaksikan setiap langkah dan setiap pencapaiannya dari jarak yang sangat dekat. Dan justru karena itulah kata-kata yang baru saja terucap terasa berat sekali untuk dicerna.Ada yang auranya cukup untuk membuat Wendy sendiri gentar?Ryan?Bianca menatap punggung Wendy yang melangkah masuk ke dalam gua es dengan langkah tenang, tidak terburu-buru, tidak ragu. Cadar putih tipis itu bergerak terakhir kali sebelum ditelan kegelapan, dan sedetik kemudian tidak ada lagi yang terlihat. Hanya mulut gua yang hitam pekat, diam, dan sunyi seperti kubur yang tidak mengundang tamu.Bianca menelan ludah. Dia mengepalkan jemarinya di sisi tubuh, menarik napas sekali, lalu mengikuti sang pemimpin masuk ke dalam.Kegelapan menelan mereka berdua.Tidak ada yang tahu apa yang tersimpan di kedalaman gua terlarang Sekte Absolute Zero itu.**Di sebuah perkampungan lai
Awalnya hanya titik hitam di antara awan.Lalu titik itu membesar. Sayapnya yang luar biasa membuat udara bergetar saat dia mendekat, dan hembusan angin yang ditimbulkannya menyapu seluruh lapangan, menerbangkan debu dan daun kering ke segala arah.Si Hitam mendarat dengan bobot yang mengguncang tanah.Bulu-bulunya hitam pekat seperti besi yang dipoles, setiap helai tersusun rapat dan keras bagai lapisan baja alami yang tumbuh dari dalam. Matanya kuning keemasan dan tajam, memancarkan kecerdasan dan keangkuhan yang hanya dimiliki binatang dengan darah purba. Aura yang menguar darinya bukan aura binatang iblis biasa.Ryan menyipitkan matanya.'Ada darah kuno dalam tubuhnya. Dan sedikit... darah Klan Spirit Phoenix?'Rodick mengelus kepala besar Si Hitam. "Pertandingan Bela Diri letaknya jauh dari sini. Si Hitam akan membawa kita ke sana."Para kontestan generasi muda saling pandang. Kaki mereka tidak mau bergerak maju dengan sendirinya. Si Hitam adalah binatang iblis yang bahkan ku
Ryan mengerahkan seluruh kekuatannya tanpa menahan diri lagi. Dia mengacungkan Tombak Demon God dengan tangan kirinya, melepaskan bayangan naga suci yang dipenuhi dengan kekuatan Dao Pedang Abadi.Niat pedangnya meletus ganas—dia tak akan berhenti sampai membantai musuh! Dia me
Di dalam Formasi Thousand Dragon Soul, Ryan baru saja memasuki formasi. Tubuhnya tidak terluka sama sekali meski terhempas dengan kekuatan dahsyat! Namun, ada suasana dingin dan suram di sekelilingnya, seolah-olah sepasang mata sedang mengawasinya dari tengah kegelapan. Perasaan ini membuat bul
Dari sudut pandang leluhur Klan Aetheren, kematian tidak cukup bagi Ryan.Mata merah darahnya berkilat dengan kebencian mendalam saat menatap pemuda yang duduk santai di sudut ruangan. Bocah ini harus digunakan sebagai pengorbanan untuk formasi, dan menjadi makanan bagi naga ji
Buddha Cahaya Matahari memegang pedang panjang di tangannya yang memancarkan cahaya keemasan menyilaukan saat turun dari langit. GROOOOM! Seolah-olah Buddha suci yang luas dan tak terbatas sedang menekan dari langit! Namun, pedang emas itu hanya mampu menahan serangan ganas naga jiwa untuk bebera







