เข้าสู่ระบบini bab kedua siang ini. mohon maaf othor terlambat rilis. othor sedang mempersiapkan dokumen2 pengajuan KPR. Doakan saja pengajuan KPR othor ke BCA diterima, Aamiin. kalau keterima, nanti othor kasih bab bonus tambahan, wkwkwkwk (≧▽≦) Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆
Tobias Vane berdiri di depan Ryan.Ryan mengangkat Pedang Iblis Darah dengan lengan yang masih bisa bergerak. Tangannya tidak gemetar. Tapi dia tahu, dan Tobias Vane tahu, bahwa energi yang tersisa di dalam tubuhnya tidak cukup untuk menghentikan apa yang akan datang.Tobias Vane mengepalkan kedua tangannya di atas kepala.Sebelum kepalan itu bisa turun, seseorang melangkah masuk di antara mereka.Kultivator Primordial Chaos. Bukan kultivator dengan nama yang akan dicatat di mana pun. Hanya seorang anggota biasa Sekte Slaughter yang bergabung karena tidak punya tempat lain untuk pergi, yang tidak punya nama besar atau latar belakang klan yang kuat. Yang mengambil satu langkah ke depan dengan cara orang yang sudah memutuskan bahwa ini adalah langkah terakhirnya, dan memilih untuk tetap mengambilnya.Kepalan Tobias Vane mendarat.KRAK!Tulang-tulang di tubuh anggota itu pecah dari pukulan yang
"Aku punya pedang yang abadi!"Teriakan itu keluar dari tenggorokan Ryan bukan karena taktik, bukan karena perhitungan. Hanya sesuatu yang sudah penuh di dalam dadanya dan tidak lagi punya tempat untuk ditahan.Esensi Pedang Abadi meledak dari seluruh pori-pori tubuhnya. Bukan dalam gelombang yang teratur seperti yang dia latih, melainkan dalam semburan yang lahir dari batas kemampuannya yang dipaksa melampaui titik yang seharusnya. Semua energi spiritual dari seluruh meridiannya mengalir ke dalam Pedang Iblis Darah dalam waktu yang tidak menyisakan celah untuk menghitung risikonya.Permukaan laut di sekitar Pulau Iblis Darah berombak. Bukan karena angin. Bukan karena gelombang alam. Tapi karena tekanan Esensi Pedang Abadi yang memancar ke segala arah dari satu titik menekan permukaan air dari atas seperti tangan tak kasat mata yang menekan ke bawah.Pedang-pedang di tangan anggota Sekte Slaughter
Di langit, sosok berjubah hitam turun perlahan. Tidak terburu-buru, tidak ada urgensi dalam gerakannya. Pria tua dengan tubuh kurus yang sama sekali tidak mencerminkan tekanan yang menguar dari setiap langkahnya. Matanya cekung dan tajam, dan di dalamnya ada sesuatu yang sudah lama tersimpan dan baru sekarang menemukan sasaran untuk dilepaskan."Tuan Tobias!" Felix Skye memanggil dari tempatnya berdiri. Suaranya mengandung kelegaan yang tidak disembunyikan.Tobias Vane tidak merespons dengan kata-kata. Matanya menemukan Felix Skye, dan tanpa peringatan apapun, telapak tangannya melayang.PLAK!Felix Skye terpelanting ke samping. Tulang-tulangnya berderit dari benturan yang lahir dari seseorang lima level di atasnya. Dia tidak jatuh karena refleks yang sudah terlatih selama bertahun-tahun, tapi butuh dua langkah penuh untuk menemukan keseimbangan kembali, dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya setelah itu.Tobias Vane menatapnya dari atas."Satu kultivator Primordia
BOOM!Ryan mengangkat kakinya dan menendang ke arah tongkat yang bergerak turun. Tendangan itu tidak memblokir sempurna, tapi cukup untuk menggeser sudut serangan Felix Skye. Tongkat emas-ungu itu meleset beberapa sentimeter dari kepala Ryan dan menghantam tanah di sisinya. Batu-batu di sekitar titik benturan retak dan menyebar ke segala arah.Felix Skye terdorong setengah langkah ke belakang dari reaksi benturannya.Ryan menggunakan jarak yang terbuka itu untuk menarik napas dan menilai.'Kekuatan dan ketahanan fisik, aku tidak bisa menang di sana. Esensi Pedang Abadi bisa menekannya, tapi tidak cukup untuk mengakhiri ini sendirian.'Itu fakta yang tidak bisa dipungkiri. Felix Skye adalah ahli Ranah Creation tingkat tiga dalam kondisi yang masih jauh dari hancur, dan meski sudah terluka dari serangan pertama tadi, perbedaan fondasi antara keduanya tetap nyata. Ryan sudah menguji apa yang ingin dia uji.Tetua Laurel muncul di sisinya."Tuan Muda, sisanya serahkan padaku."Ryan mel
"Pedang Pembunuh Waktu!"Hukum temporal meledak dari mata pedang Ryan. Di dalam jalur serangan itu, waktu terasa sedikit lebih rapat, sedikit lebih berat, tidak kooperatif terhadap siapapun yang berdiri di dalamnya. Bukan serangan yang membunuh langsung, tapi serangan yang membuat pertahanan menjadi lebih lambat dari yang seharusnya, tepat cukup untuk menciptakan celah.Felix Skye merasakan perubahan itu. Keningnya berkerut, langkahnya terhenti sesaat. Dia mengangkat tongkat emas-ungunya untuk menahan, tapi ada sesuatu dalam serangan itu yang tidak bisa sepenuhnya diblokir dengan kekuatan fisik semata.Mereka terdorong terpisah lagi.Ryan menarik napas. Dalam sepersekian detik dia sudah mengevaluasi.'Kekuatan fisik dia luar biasa. Pertarungan jarak dekat terlalu menguntungkan dia.'Dia bergerak mundur, memberi jarak.Dari dalam tubuhnya, sesuatu bergerak merespons keputusan itu. N
"Serangan lemah seperti itu?"Felix Skye mendengus pendek. Matanya mengikuti garis pedang yang terangkat itu seperti menonton orang yang salah mengangkat barang berat, lebih tertarik pada gerakannya daripada ancamannya. Dalam benaknya, dia sudah menghitung setidaknya tiga cara untuk menghentikan serangan sekelas ini tanpa perlu menggerakkan satu kaki pun.Di belakang Ryan, Aster Dread berdiri dengan alis turun dan mulut setengah terbuka, matanya tidak berpindah dari pedang yang terangkat itu. Ketika Ryan kembali tadi, auranya terasa berbeda, lebih berat, lebih dalam dari sebelumnya. Tapi gerakan yang sedang disiapkan di depannya ini tidak mencerminkan hal itu sama sekali. Tidak ada tekanan yang keluar. Tidak ada aura yang bergolak. Hanya seorang pria yang mengangkat pedang dengan cara yang terlihat hampir tidak berbahaya.'Apa yang sedang dilakukannya?'Ryan tidak merespons ejekan siapapu
Setelah memastikan keselamatan kedua temannya, Ryan menyeka darah di sudut bibirnya. Tanpa ragu dia mengeluarkan Pedang Surgawi EX-Caliburn. Bersamaan dengan itu, naga darah mengaum ganas keluar dari tubuhnya, sementara rune kehidupan berkilat-kilat memancarkan petir. Raungan naga mengguncang s
Ryan mengangkat alisnya mendengar kata-kata itu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mengandung ejekan. "Oh? Bukankah White Tower yang lebih dulu bersikap kejam pada murid-murid Sekte Medical God?""Ini bukan hal yang baik untukmu atau untuk White Tower," lanju
Pedang Dawnbringer bergetar hebat saat meluncur membelah udara, memancarkan aura pembunuh yang mencekam. Dalam sekejap, cahaya menyilaukan memenuhi area tersebut dan seluruh dunia seolah berubah merah darah. Bintik-bintik qi pedang berjatuhan bagai kepingan salju, menutupi langit dalam formasi ya
Ferdinan Kennedy tertegun. Pikirannya seketika kosong mendengar pernyataan mengejutkan itu. Bagaimana mungkin seseorang bisa maju begitu cepat dalam kultivasi? Selama ini, dia mengira Ryan adalah monster karena mencapai ranah Heavenly Soul di usia muda. Namun kenyataan bahwa pemuda ini bisa







