เข้าสู่ระบบMalam semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Eny Rahayu, Kak Hari, Kak Mus, Kak Aday Wijaya, Kak Patricia Inge, Kak Pengunjung5804, dan Kak Shoffin Musoffa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Ricky Wenas atas hadiah Pulpennya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Titik Lestari atas hadiah Buketnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih pada para pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Dengan ini, jumlah koin telah mencapai target. othor akan rilis bab bonus hadiah sekitar jam 8an WiB. Ditunggu (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 6/6 Bab (Komplit) Bab Reguler: 1/1 Bab (Komplit) Bab Bonus Hadiah: 0/1
Ryan bergegas mendekati Lina Jirk. Ia ingin menghentikan gadis itu sebelum terlambat. Namun baru beberapa langkah, tubuhnya kembali dihantam nyeri yang luar biasa. Bruk! Ryan jatuh ke tanah. Rasa sakit menyebar dari seluruh tulangnya, seolah setiap bagian tubuhnya sudah retak. Bahkan bergerak sedikit saja terasa seperti merobek dagingnya sendiri. Napasnya menjadi kacau, dan darah kembali merembes dari luka-luka lama yang belum sempat pulih. Namun ia tetap memaksa diri bangkit perlahan. Kelima jarinya terkepal erat. Kukunya menancap ke telapak tangan sampai darah merembes, tetapi ia sama sekali tidak merasakannya. Di kepalanya hanya ada satu pikiran. Ia tidak boleh membiarkan sesuatu terjadi pada Lina. “Naga Racun!” Raut wajah kultivator Kerajaan Ilahi berubah saat melihat bayangan raksasa di atas Lina. “Tubuh Innate Poison!” Ia terperangah. “Ternyata masih ada orang yang memiliki Tubuh Innate Poison di dunia ini. Bagaimana mungkin?” Sorot matanya langsung menajam. Jika g
Kaelen tiba di hadapan Ryan. Batu formasi Kerajaan Ilahi sudah hancur. Karena itu, segel-segel yang mengurung kota mati mulai kehilangan kekuatannya. Selain Eliot Lane yang masih tertahan oleh pilar cahaya, Lina Jirk, Tessa Lund, dan Yelena Cole segera bergegas menghampiri Ryan. Reruntuhan masih berjatuhan di sekitar mereka, tetapi tak seorang pun sempat memedulikannya. Di dalam pilar, Eliot Lane menyaksikan semua itu dengan mata memerah. Amarahnya hampir meledak. Melihat tubuh muridnya penuh luka, hatinya seperti diremas. Jika bukan karena dirinya, Ryan tidak akan terjebak dalam bahaya sebesar ini. Saint Immortal King memang pernah mengatakan bahwa semua ini adalah kesempatan bagi Ryan, tetapi di mata Eliot, ini lebih mirip malapetaka yang memaksa muridnya mempertaruhkan nyawa terlalu cepat. Kaelen berdiri di depan Ryan. Tatapannya tertuju pada kultivator Kerajaan Ilahi di angkasa, tanpa sedikit pun rasa takut. Klan Kosmara tidak pernah gentar menghadapi kultivator mana
Wajah Ryan mengeras. Sepasang matanya yang merah darah tetap terpaku pada kultivator Kerajaan Ilahi di angkasa. Baru sekarang ia benar-benar menyaksikan sendiri betapa angkuhnya orang-orang dari Kerajaan Ilahi. Mereka memandang semua makhluk di bawah langit seperti debu, seolah hanya merekalah yang berhak berdiri di atas dunia dan menentukan hidup mati orang lain. Semangat tempur meluap dari tubuh Ryan. Memangnya kenapa jika lawannya adalah kultivator Kerajaan Ilahi? Apa hak orang itu menentukan takdirnya? ‘Semut?’ Tatapan Ryan semakin dingin. ‘Kalian para kultivator Kerajaan Ilahi pun hanya semut yang sedikit lebih besar. Semua makhluk hidup setara. Tidak ada yang berhak menentukan hidup dan matiku!’ Kultivator Kerajaan Ilahi itu mengernyit. Di balik sorot matanya yang dingin, muncul sedikit keterkejutan. Seekor semut di Ranah Creation tingkat satu ternyata masih berani menatapnya seperti itu. Dari mana bocah ini mendapat keberanian? Namun keterkejutan itu segera berub
Ryan yang sedang diselimuti energi iblis sama sekali tidak menyadari bahwa musuh dari Kerajaan Ilahi sudah bergerak menuju tempatnya.Saat ini, seluruh perhatiannya tertuju pada batu formasi di hadapan mata. Ia menggenggam Tombak Ilahi gungnir erat-erat, lalu terus mengalirkan energi iblis ke dalamnya tanpa henti.Energi hitam pekat membanjiri batang tombak.Ujung tombak itu perlahan memancarkan cahaya gelap yang tajam, seolah mampu menelan semua cahaya di sekitarnya.Ryan menarik napas dalam-dalam.Lalu ia menghantamkan tombaknya ke bawah.Boom!Begitu Tombak Ilahi gungnir menghantam batu formasi, segel pelindung yang menutupinya langsung bergetar hebat. Retakan-retakan menyebar cepat di permukaannya, lalu pecah berkeping-keping.Tanpa hambatan segel, ujung tombak Ryan menghunjam langsung ke batu formasi.Kraak!Suara retakan renyah terdengar.Batu formasi Kerajaan Ilahi akh
Wajah Ryan tampak pucat pasi. Tebasan barusan telah menguras sebagian besar energi di tubuhnya. Napasnya menjadi berat, dan telapak tangannya yang menggenggam Pedang Iblis Darah terasa bergetar. 'Kalau serangan ini gagal, aku yang akan mati.' Kecepatan pedang itu sudah mencapai batas ekstrem. Bahkan sebelum pria berjubah hitam sempat bereaksi penuh, sinar pedang Ryan telah tiba di hadapannya. Boom! Sebuah luka menganga langsung terbuka di perut pria berjubah hitam. Darah memercik, tetapi pria itu justru menyeringai keji. “Sudah kubilang, aku memiliki Garis Darah Abadi. Bagaimana mungkin kau bisa membunuhku?” Begitu ia selesai bicara, luka besar di perutnya mulai menutup dengan cepat. Daging yang koyak menyatu kembali, seolah tebasan Ryan tidak pernah terjadi. Namun kali ini, Ryan tidak panik. Ia hanya tersenyum tipis. “Oh ya? Coba lihat lagi tubuhmu sendiri.” Pria berjubah hitam mengernyit. Baru saat itulah ia merasakan sesuatu yang ganjil. Ia menunduk, lalu mengangka
Pria berjubah hitam itu mengangkat satu jari. Dari ujung jarinya, energi darah menyembur keluar dan memanjang menjadi seutas benang merah. Benang itu bergerak semakin cepat, lalu dalam sekejap menembus perut dan lengan Ryan sekaligus. Darah langsung mengalir. Sepasang mata merah milik pria itu berkilat aneh. Kilau itu tampak memikat, tetapi justru membuat bulu kuduk meremang. Detik berikutnya, cahaya merah meledak dari kedua matanya, membawa daya penghancur yang mengerikan. Ryan menggertakkan gigi. Pedang Iblis Darah berkelebat dan memutus benang darah yang menancap di tubuhnya. Setelah itu, ia menggeser tubuh dengan lincah, menghindari sorot merah yang menghantam tempatnya berdiri sesaat sebelumnya. Meski berhasil mengelak, luka di perut dan lengannya terasa panas seperti terbakar. Darah menetes ke lantai kota mati, meninggalkan jejak merah di antara pecahan tulang. Namun Ryan tidak mundur. Saat tubuhnya berkelit, ia sudah muncul di samping pria berjubah hitam. Celah i







