เข้าสู่ระบบ'Mampus!' maki Janice dalam hati.Yosep menatap pria yang masuk ke ruangan. Tatapan yang semula seperti kutukan itu tiba-tiba berubah menjadi senyuman pahit. Dia menggerakkan bibirnya. Mungkin karena terlalu sakit, seluruh wajahnya pun mengerut.“Aku sangat membencinya. Aku benar-benar mengira aku bisa berhasil. Nggak kusangka aku hanyalah bidak buangan yang goyah di papan catur,” ujar Yosep.Jason berdiri tenang di ujung ranjang dan berkata, “Aku sudah lama mengingatkanmu, jangan terlalu menganggap dirimu hebat.”“Heh ... hahaha ....” Yosep tertawa keras tanpa memedulikan rasa sakit, seolah-olah hanya dengan cara itu dia bisa tetap sadar. Matanya memerah. “Nggak kusangka, benar-benar nggak kusangka. Orang yang akhirnya mengingatkanku justru kamu. Tapi kenapa harus kamu?”“Aku bukan datang untuk mendengar renungan hidupmu. Bagaimanapun juga, kamu dan ibumu nggak akan lolos. Itu saja sudah cukup bagiku,” kata Jason.“Lalu Verica?” Yosep menarik napas. “Kenali musuh dan kenali diri sendi
"Nggak." Jason langsung berkata, "Meskipun kali ini banyak orang Keluarga Azhara yang tertangkap, masih ada anggota Keluarga Azhara yang bersembunyi di luar negeri dan belum tertangkap.""Begitu Verica keluar, dia pasti akan menghalalkan segala cara untuk berpihak pada mereka. Api liar nggak akan pernah benar-benar padam. Rumput yang nggak dicabut sampai ke akar pasti akan tumbuh lagi.""Jadi begitu." Janice mengangguk. Memang seharusnya diberantas sampai ke akar.Melihat suasana agak aneh, Arya melambaikan tangan dan berkata, "Sudahlah, jangan dipikirkan. Kali ini buktinya lengkap, pasti nggak akan ada masalah."Norman mengerutkan kening, menepis tangannya. "Kamu sebaiknya jangan bilang begitu. Karena setiap kali kamu bilang begitu, pasti akan ...."Belum selesai dia berbicara, pintu kantor terbuka. "Dokter Arya, Pak Seto datang. Katanya ingin minta bantuan.""Pak Seto? Bantuan apa?" Arya agak penasaran."Katanya ada seorang tersangka yang hamil dan perlu kamu pastikan."Seketika, sem
Saat itu, ponsel semua orang bergetar hampir bersamaan. Mereka serempak menunduk untuk memeriksa.Itu adalah laporan tentang operasi penangkapan kali ini. Selain Yosep beserta ibunya dan Anshon, hampir seluruh anggota Keluarga Azhara ditangkap.Dalam laporan tersebut, pihak kepolisian secara khusus menjelaskan siapa pelaku utama. Verica dan Yosep.Seketika, internet hampir meledak.[ Sudah kubilang nggak ada satu pun orang Keluarga Azhara yang bersih. Kali ini hampir saja Verica berhasil lagi. Kali ini harus dihukum berat! ][ Verica dan Leah sebelumnya masih berteriak minta keadilan di internet. Leah di platform media sosial luar negeri hidupnya sama sekali nggak low profile. Isinya barang-barang mewah semua. Enak ya menikmati keuntungan di atas penderitaan orang lain? ][ Bukankah Yosep ini anak angkat Keluarga Karim? Katanya dia anak angkat, tapi sebenarnya anak haram Anwar. Jangan-jangan Keluarga Karim juga terseret? ]Topik pembahasan selanjutnya semuanya berputar di sekitar ident
Jason berjalan perlahan ke sisi tempat tidur, membungkuk dan menunduk menatap Anwar. Pria yang dulu penuh wibawa itu kini sudah dipenuhi rambut putih.Jason sempat mengira dirinya akan membenci saat menghadapi Anwar. Namun, ternyata di saat ini hatinya justru sangat tenang.Tidak perlu menghancurkan hidupnya sendiri demi orang seperti Anwar. Biarlah dia hidup, perlahan-lahan merasakan pahitnya kehilangan segalanya.Jason berkata dengan suara rendah, "Laptop itu sudah kuserahkan ke polisi. Barang itu bukan milik siapa pun. Lingkaran di Kota Pakisa memang sudah seharusnya dirombak sejak awal. Fokuslah berobat.""Kamu .... Apa itu sepadan?" Anwar duduk terpuruk, bahkan untuk membantah pun terasa tidak berdaya.Saat bertanya, dia tanpa sadar melirik ke arah Janice. Dia tahu semua yang dilakukan Jason adalah demi Janice.Jason tersenyum mengejek, tetapi senyuman itu sangat tenang. "Kamu seharusnya berterima kasih padanya. Kalau aku yang dulu, sekalipun harus mati bersama, aku nggak akan mem
Menebus kesalahan dengan berjasa dan menjadi informan pihak kepolisian.Anwar menarik napas dalam-dalam. Dia benar-benar tidak bisa memahami, sejak kapan sebenarnya rencananya terbongkar."Kapan kamu mengetahuinya?"Janice mengangkat pandangan ke arah Jason. Dia juga sangat penasaran.Jason berkata dengan nada datar, "Sejak kamu membiarkan Yosep dan Verica semakin sering berhubungan secara diam-diam, aku sudah mulai waspada. Kamu selalu curigaan. Sekalipun kamu memihak Yosep, kamu nggak mungkin membiarkannya bekerja sama dengan Verica begitu saja.""Kemudian, kamu mengganti tim medis milikmu sendiri dan membiarkan kekasih Senia masuk ke Keluarga Karim. Saat itu, aku semakin yakin.""Aku sudah bilang, kamu sangat curigaan. Nggak mungkin setelah tahu Yosep dan Verica terlalu dekat, kamu masih mau menuruti perkataannya untuk mengganti dokter.""Ditambah lagi obat yang kuberi pada Janice untuk menggantikan obatmu, khasiatnya sebenarnya hanya setengah dari obat jantung. Tapi Janice bilang s
Asisten Verica menatap Anwar, lalu menggeleng."Pak Anwar yang membinaku. Ini memang sudah seharusnya aku lakukan."Jawaban itu membuat Anwar sangat puas. Dia mengangguk dan berkata, "Bagus. Barangnya di mana?"Asisten itu mengeluarkan sebuah koper sandi dari belakang tubuhnya."Di dalam ini ada komputer milik Bayu yang disimpan di brankas bank luar negeri. Di dalamnya tersimpan banyak rahasia para tokoh berkuasa di ibu kota.""Verica memanfaatkan hal ini untuk membuat Yosep bekerja sama dengannya, membantunya menggunakan jet pribadi Keluarga Karim untuk mengangkut barang.""Tapi Verica tetap waspada terhadapku. Setiap kali membuka koper, dia nggak pernah membiarkanku berada di tempat dan selalu memeriksa apakah ada alat pengawas di ruangan. Jadi, aku nggak tahu kode sandi koper itu."Anwar menatap koper sandi itu sambil tersenyum. "Kamu nggak perlu tahu karena aku tahu."Asisten itu tertegun, menatap Anwar dengan pandangan kosong.Anwar menyipitkan mata. "Heran kenapa aku bisa tahu?"







