MasukJanice menatap foto itu, lalu menoleh ke arah Ivy yang menggigit bibir. Saking tegangnya, kening Ivy pun dipenuhi dengan keringat. Terlihat jelas, foto itu asli. Dia kembali menatap pria di dalam foto itu dan bertanya-tanya apakah mungkin pria itu adalah ayah kandungnya.Pria itu perlahan-lahan mendekat, lalu berkata dengan suara tercekat, "Janice, aku ini benar-benar ayahmu. Saat itu aku juga terpaksa meninggalkan kamu dan ibumu."Saat mengatakan itu, air mata mengalir dari mata pria itu.Namun, Janice sama sekali tidak merasa bahagia karena menemukan kembali ayahnya, malahan merasa dadanya sesak. Perasaan itu sama seperti saat dahulu dia berada dalam bahaya. Dia segera mengangkat tangan. "Tunggu dulu. Foto ini hanya bisa membuktikan kalau kamu mengenal ibuku, tapi nggak bisa membuktikan hubungan di antara kita."Pria itu langsung tertegun, jelas tidak menyangka pemikiran Janice masih bisa begitu tajam setelah melihat kejanggalan Ivy. Bukankah seorang anak yang kekurangan kasih sayang
Mantan pacar?Janice menatap Ivy dengan terkejut. Seingatnya, Ivy hanya memiliki satu mantan pacar. Berarti orang itu adalah ... ayahnya? Dia pun tiba-tiba berdiri. "Ibu, jangan-jangan ini ....""Bukan. Aku sudah bilang ayahmu sudah lama meninggal, pasti ada orang yang mau menyamar," potong Ivy.Namun, Janice tidak meragukan orang itu. "Ibu, kalau memang menyamar, pasti ada orang yang mengarahkannya baru orang ini bisa menemukan tempat ini dengan begitu tepat. Aku harus mencari tahu agar nggak menimbulkan masalah lain."Ivy menganggukkan kepala, lalu memperingatkan, "Suruh orang itu masuk diam-diam.""Baik," balas Janice, lalu melirik asistennya.Sebelum pria itu masuk, Janice sebenarnya masih menyimpan sedikit harapan. Apakah mungkin ayah kandungnya ternyata masih belum meninggal? Mungkin saat itu ayahnya terpaksa pergi karena alasan tertentu atau mungkin semua ini hanya harapan kosong belaka. Tidak peduli apa pun itu, jauh di dalam hatinya sebenarnya masih tetap menantikan.Beberapa
Begitu saja?Janice menggigit bibirnya. Bukankah Jason seharusnya menunjukkan sedikit rasa penasaran? Belum menikah saja sudah tidak bersemangat. Dia sengaja menghela napas dan berkata, "Baiklah. Kalau begitu, aku kembali ke kamar dulu."Namun, Janice baru saja berbalik, Jose sudah meraih tangan Janice yang memegang kotak dan langsung menarik Janice masuk ke dalam pelukannya. Setelah itu, dia menggoyang tangan Janice. "Hm? Nggak mau cerita?"Janice menggenggam kotak itu dengan erat, lalu menatap Jason. "Jason, coba tebak ini apa?""Cincin," jawab Jason langsung.Janice tertegun sejenak saat melihat tebakan Jason yang langsung tepat. Dia menegakkan tubuhnya, lalu menahan dada Jason dengan tangan. "Kamu ... kenapa bisa tahu?""Matamu yang memberitahuku," jawab Jason sambil mengulurkan tangannya ke arah Janice. Namun, bukan untuk mengambil kotak itu, melainkan mengarahkan punggung tangannya pada Janice. Gerakan itu jelas seperti sedang menunggu Janice memakaikan cincin itu ke tangannya.J
Ivy langsung tersadar kembali, lalu menggelengkan kepala dengan perasaan bersalah. "Nggak apa-apa, kamu jangan berpikir terlalu banyak.""Ibu, apa aku masih kurang mengenalmu?" kata Janice sambil mengernyitkan alisnya.Ivy tersenyum dengan canggung. "Kalau begitu, aku bicara terus terang saja. Aku berharap kamu dan Jason bisa segera menikah. Meskipun nggak ada resepsi, setidaknya urus akta nikahnya dulu. Kalau nggak, aku nggak bisa tenang."Janice baru saja hendak membujuk Ivy, tetapi Ivy sudah menggenggam tangan Janice. "Janice, Ibu tahu apa yang ingin kamu katakan. Sekarang kamu sudah hebat, nggak perlu bergantung pada Jason lagi. Tapi, coba pikirkan dari sudut pandangku, kamu ini putriku. Kamu ikut Jason tanpa status yang jelas dan sudah mengalami begitu banyak hal, aku selalu hidup dengan cemas."Saat sedang berbicara, Janice bahkan bisa merasakan tangan Ivy yang agak bergetar. Sepertinya, kejadian belakangan ini memang membuat Ivy benar-benar ketakutan. "Ibu ....""Janice, coba pi
Dalam pernyataan itu, bahkan dilampirkan bukti pembelian perhiasan yang lengkap dengan ukuran perhiasannya.Begitu melihat ukuran perhiasannya, Verica yang merupakan sahabat baik Ivy pun langsung tahu itu bukan ukuran Ivy. Dia terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak dan akhirnya berubah menjadi sangat mengejek dirinya sendiri. Dia menopang tubuhnya, lalu menyeret rantai di kakinya hingga menimbulkan suara gesekan yang menusuk telinga. "Ternyata semuanya palsu."Setelah mengatakan itu, Verica tiba-tiba menoleh dan menatap Ivy. Rambutnya menutupi setengah wajahnya, membuat ekspresinya terlihat makin menyeramkan. "Apa kamu tahu kehidupan seperti apa yang aku jalani?""Kehidupan seperti apa?" tanya Ivy.Bibir Verica bergerak sedikit, tetapi pada akhirnya dia tidak mengatakan apa pun.Melihat Verica tetap diam, Ivy melanjutkan, "Aku sudah mengatakan apa yang perlu aku katakan, aku harap kamu juga menepati janji dan menyerahkan daftar nama itu."Saat hendak membuka pintu, Ivy
Verica meneguk teh dengan tidak acuh."Aku nggak pernah menyuruhmu melakukan itu. Aku malah mengira kamu akan membuang anak haram itu ke panti asuhan.""Kamu .... Bagaimana bisa kamu begitu? Anak itu bukan benda mati! Kamu memang nggak mau bertanggung jawab, tapi kamu ... kamu menyerahkannya kepadaku. Kamu menangis sambil memohon agar aku membantumu.""Sejak saat itu, aku sudah dicap sebagai perempuan yang melahirkan anak di luar nikah, padahal usiaku belum genap 20 tahun!" Ivy yang mulai kehilangan kendali akhirnya mengungkapkan kebenaran.Janice bukanlah anaknya. Dia adalah anak Poppy dan penipu itu. Inilah kebenaran yang selama ini dia dan Jason sembunyikan, sekaligus alasan mengapa Verica terus-menerus memprovokasinya di depan Jason.Dia yakin Jason tidak berani memberi tahu Janice kebenarannya. Seorang ibu kriminal dan seorang ayah penipu profesional. Lebih baik Janice menjadi anak Ivy.Kini, Janice sudah memulai hidup baru, karier baru. Dia tidak seharusnya menanggung kesalahan o







