Share

BAB 6 - Kontrak Raja Iblis

“Aku? Dia tanya siapa aku, beri tahu dia!” titah si Iblis itu.

Para iblis yang berkumpul itu menunduk dengan hormat pada sosok yang terbang di tengah-tengah mereka. “Siap, Tuan. Pemilik Hutan yang suci, Demon Lord Zenon,” ucap seluruh iblis itu bersamaan.

Adam merasa Iblis yang Bernama Zenon ini adalah orang paling narsis yang pernah dia temui. “Kau dengar itu? Panggil aku Tuan Zenon!” katanya dengan angkuh.

“B-baiklah, Tuan Zenon,” ucap Adam, dia lebih baik menuruti kemauan iblis narsis ini dari pada terjadi sesuatu buruk padanya.

“Jadi, apa yang kau inginkan sampai memasuki hutan yang suci ini?” tanya Zenon setelah menyuruh para iblis untuk pergi dari sana.

Dalam sekejap iblis-iblis itu pergi hanya dengan jentikan jari. Adam bertanya-tanya sekuat apa iblis di depannya ini sampai-sampai iblis-iblis yang menyeramkan tunduk padanya. Padahal perawakannya seperti orang lemah.

“Hahahah, kau mengataiku lemah?” tanya Zenon mendekat dengan mata yang melotot.

Napas Adam tercekat, jantungnya seperti berhenti beberapa detik karena ulah Zenon. “Hah? T-tidak!” kata Adam terbata-bata.

“Apa ini? Dia membaca pikiranku?” batin Adam.

“Tidak usah kaget begitu, akan kumaafkan karena kau adalah manusia rendahan,” ucap Zenon dengan sombong.

Adam sebagai matahari kekaisaran merasa terhina, amarahnya kini meluap saat Zenon lagi-lagi merendahkannya. Persetan dengan seberapa kuatnya dia, Adam tidak akan membiarkan seseorang menghina Kekaisaran Vanrize.

“Jaga bicaramu,” kata Adam dengan sorot tajam.

“Kenapa? Kau tidak terima karena aku berkata kau manusia rendahan? Sekalipun kau keturunan kekaisaran tetap takkan sanggup untuk mengalahkanku!” kata Zenon.

“Diam kau iblis rendahan! Jangan menghina matahari kekaisaran!” balas Adam.

Setelahnya Zenon tertawa terbahak-bahak yang membuat Adam semakin marah. “Matahari kekaisaran? Matahari mana yang berniat dibunuh oleh para bawahannya sendiri? Dengar ini! aku tahu kau putra mahkota, lalu apa yang harus kulakukan? Memberi hormat padamu? Cih, dasar tidak tahu malu.”

Zenon tidak menapaki tanah, dia terbang memutari Adam berniat untuk membuat remaja itu semakin marah. “Kau lari terbirit-birit menuju tempat tinggalku, bukannya berterima kasih karena tidak aku bunuh. Kau justru bersikap arogan hanya karena statusmu. Jika kau memang putra mahkota mengapa kau berakhir seperti ini?” tanya Zenon lagi.

Adam menunduk seketika karena tahu apa yang dikatakan Zenon adalah benar. Dengan statusnya yang merupakan putra mahkota, Adam justru tidak bisa berbuat apa-apa atas tuduhan palsu yang diarahkan padanya.

“Sudah tahu diri? Baguslah, sadarilah tempatmu, dasar keturunan Vanrize yang gagal!” ejek Zenon.

Tepat setelah kata-kata itu diucapkan sebuah aura yang menggemparkan seluruh hutan menguar dari tubuh Adam. Bukan takut, Zenon justru mengeluarkan smirknya. Ini adalah tujuannya, untuk melihat kekuatan gelap yang dimiliki Adam dalam dirinya.

“Wah, mata itu sangat menyeramkan. Baguslah, kau berbakat!” kata Zenon.

Adam tak mengerti apa yang dimaksud Zenon, tetapi Adam masih kesal karena sebelumnya Zenon menghina keturunan Vanrize.

“Uhuk!” Adam terbatuk dan mengeluarkan darah, aura menyeramkan itu sirna di sana. Rasa sakit yang menusuk relung hatinya kian bergelora.

“Ah . . . apa aku akan mati seperti ini?” tanya Adam.

Zenon tersenyum. Adam memang akan mati di sini tetapi . . . “Aku bisa membantumu. Balas dendamlah dan rebut kekaisaran dengan kekuatanku!”

Di sisa-sisa kesadarannya Adam mengerutkan dahi samar. Apa yang dimaksud Raja Iblis ini?

“Kau akan mati di sini tetapi kau akan mengulang waktu di mana kau akan membalaskan dendammu menggunakan kekuatanku!” jelas Zenon menjawab pertanyaan Adam dalam pikirnya.

“A-apa maksudmu?”

Zenon kesal melihat Adam yang tidak kunjung paham pada perkataannya. Zenon pun mengucapkan mantra terlarang, sebuah lingkaran dengan huruf sihir kuno mengelilingi tubuh Adam, pancaran kegelapan yang begitu kelam menusuk jantung Adam dengan keras.

“Tunggu … apa ini? Aku tidak bermaksud menyetujuinya,” kata Adam sembari terbatuk karena tekanan sihir Zenon.

“Kau akan membiarkan takdir berjalan dengan tidak adil untukmu, ya? Setelah semua yang orang lain lakukan padamu, apa kamu masih mempunyai ruang maaf untuk mereka?” tanya Zenon.

Adam terdiam sejenak, apakah bersekutu dengan iblis adalah jalan satu-satunya? Pantaskah dia nanti berkuasa menjadi kaisar dengan bantuan iblis?

“Tidak … aku tidak akan memaafkan mereka! Aku Adam Adrellina Van siap bersekutu dengan siapapun demi merampas Kembali tahta kekaisaran Vanrize!” tegas Adam membuat Zenon tersenyum.

“Baiklah, setelah ini kau akan hidup kembali untuk membalaskan dendammu. Kau akan terikat kontrak denganku. Namun ingat! Kontrak ini mempunyai pantangan, kau tidak diperbolehkan untuk ….”

Bruk!

Tubuh Adam terbaring lemah dengan darah bersimbah yang menjadi syarat dari terjalinnya kontrak Zenon dan Adam. Adam kehilangan nyawanya sebelum Zenon menyelesaikan konsekuensi dari kontrak tersebut. Akankah hal ini tidak akan berdampak buruk untuk Adam?

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status