LOGINArcellia Solmire seorang bangsawan dari Kekasiaran Lunareth, terbiasa hidup megah dan kemewahan. Namun sebuah musibah datang saat ia mengikuti sebuah kontes berburu, ia menghilang di kedalaman hutan karena serangan hewan buas. Di ambang keaadaran ia diselamatkan oleh seorang pria, Kael Moonveil. Pria yang ia kira seorang manusia biasa ternyata seorang manusia serigala. Lebih aneh lagi, Kael menagih sebuah janji padanya, janji yang tentunya tak pernah ia buat. Tak punya pilihan, Arcellia berjanji akan membalas budi selama 2 tahun, ia akan melakukan apa saja yang diinginkan oleh Kael asal Kael juga menjamin nyawanya. Namun kehidupan di tengah kawanan manusia serigala bukanlah hal mudah. Di antara janji, bahaya, rahasia dan perasaan yang rumit yang tumbuh, akankah semua berjalan mulus lalu ia bisa kembali ? Mengingat tak ada janji yang benar-benar sederhana.
View MoreArcellia Solmire berdiri diam sembari memandang hamparan langit Lunareth, tampilannya sedikit mencolok kali ini. Ia memakai mahkota kecil berbentuk bulan sabit, namun sangat sesuai dan sempurna pada dirinya.
Namun di balik kecantikan dan keanggunannya itu, siapa yang tak tahu kalau ia juga sedikit pandai memanah, itulah tujuannya di kontes ini. Meskipun tak akan mendapat buruan besar, ia hanya ingin terus melatih keahliannya dan bertemu dengan pujaan hatinya. “Nona, kontes akan segera dimulai, apa anda yakin akan pergi ?” Suara pelayan memecah lamunannya. “Tentu saja, Permaisuri juga mengizinkan, kali ini ayah ataupun kalian tak bisa menghalangiku.” Ucapnya datar. Arcellia melangkah menuju kuda miliknya, disana ia sudah di tunggu oleh Putra Mahkota Alaric, ia tersenyum, namun Putra Mahkota nampak khawatir, cuaca kali ini seperti tak bersahabat, ia mengkhawatirkan Arcellia. Namun ia hanya meminta Putra Mahkota tenang, mereka sudah berkali-kali berburu bersama di hutan Lunareth ini. “Tenanglah Yang Mulia, aku tak akan pergi jauh, ingatlah kita sudah sering berburu disini, aku sudah menghafal jalurnya, aku juga akan kembali dengan cepat.” “Baiklah, ingatlah jangan pergi jauh kedalam hutan dan jangan pernah melepas senjatamu.” Ucap Putra Mahkota Alaric. Arcellia mengangguk, ia juga mengingatkan Alaric untuk berhati-hati dan mendoakannya untuk meraih juara pertama di kontes kali ini. Hutan Lunareth membentang sangat luas, namun siapapun tahu aturan jangan pergi terlalu jauh ke utara, gelap dan penuh hal berbahaya. Namun hari ini ia ingin pergi, tak jauh hanya sedikit mendekat, ia telah berjanji akan kembali membawa serigala putih. Arcellia menggenggam kendali kudanya dengan kuat, kudanya berlari kencang. Semakin jauh ia memasuki hutan, suara berisik para bangsawan dan juga prajurit mulai menghilang. Hanya terdengar suara hentakan kaki kudanya. Menurut perhitungannya seharusnya ia sudah pergi selama 30 menit, Arcellia menurunkan kecepatan kudanya, cuaca memang tak cerah, namun ia suka, udara dingin kali ini meskipun sedikit menakutkan namun juga menyejukkannya. “Seharusnya tak lama lagi kita akan sampai di aliran sungai.” Ucapnya. Arcellia tersenyum, ia hanya perlu menyebrangi sungai kecil itu lalu berkuda sejauh 5km, disanalah pemburu mengatakan melihat segerombolan serigala putih. Tak lama Arcellia sudah sampai di tepi sungai, ia berhenti sejenak agar kudanya bisa minum. Sesaat ia merasa sangat sunyi, namun tiba-tiba suara itu datang. Suara raungan yang sedang ia cari, harusnya. Arcellia langsung memacu kudanya, ia masuk ke dalam hutan, namun tiba-tiba saja salah satu serigala putih menyerangnya, hampir saja membuat kudanya lepas kendali. Dengan sigap Arcellia melepaskan panah tanpa ragu. Anak panah itu melesat dan menancap di kaki serigala putih itu, namun bukannya tumbang, serigala itu meraung keras dan berlari menjauh. Arcellia dengan sigap mengejarnya, anak panah itu menembus dengan sempurna, harusnya ia tak bisa berlari jauh. Namun tanpa sadar Arcellia sudah masuk terlalu jauh ke dalam hutan, serigala itu pun tak terlihat, ia berhenti, mengatur nafasnya yang tersengal. Jejak darah masih ada, harusnya tak lama lagi ia bertemu dengan serigala itu. “Aku harus segera menangkapnya dan kembali.” Gumamnya. Raungan itu kembali terdengar dan seperti sebuah raungan kesakitan. Arcellia dengan cepat mencari sumber suara itu dan ia masuk lebih dalam lagi. Hutan di sekelilingnya seolah berubah, lebih gelap dan sunyi seolah tak ada kehidupan sama sekali. Lalu, semuanya terjadi begitu cepat, bayangan gelap muncul dari balik semak dan pepohonan, tak hanya satu atau dua, ia melihat banyak lagi serigala. Seolah mangsa yang di tunggu-tunggu, mereka menyerang Arcellia. Kuda miliknya meringkik panik, ia berusaha mundur, namun semua sudah terlambat, ialah buruannya kali ini. Salah satu serigala menerjang, mencakar dan menggigit kaki kudanya hingga hewan itu kehilangan keseimbangan. Arcellia terjatuh keras ke tanah, napasnya tercekat. “Sialan-“ Ia mencoba bangkit, namun rasa sakit menjalar di seluruh tubuhnya. Serigala-serigala sialan itu seolah tersenyum dan meremehkannya, sialnya lagi panahnya terlempar cukup jauh. Kudanya bangkit dengan susah payah, ia terluka cukup parah, lalu menjauh dan meninggalkannya sendirian di tengah kawanan serigala kelaparan. “Belati..” Ya belati, Arcellia teringat ia selalu membawa sebilah belati di balik gaunnya, dengan sigap ia mengeluarkan dan mengarahkannya ke kawanan serigala putih. Kilatan logam itu memantul samar di dalam kegelapan. “Menjauhlah,” ucapnya pelan. Untuk sesaat mereka ragu, namun tiba-tiba saja salah satu serigala menerjang, Arcellia bergerak cepat dan berhasil melukai serigala itu, meskipun ia sendiri juga terluka. Raungan kesakitan pecah dan membuat serigala lainnya mundur. Melihat ada sebuah kesempatan Arcellia berlari menjauh, ia tak bisa menahan tangisnya kini, ia takut kematian akan datang. Langkah cepatnya tentu saja tak bisa di bandingkan dengan serigala-serigala itu, apalagi ia juga terluka, nafasnya mulai berat, ia lelah dan lagi ia kehilangan banyak darah. Ia juga tak tahu harus bersembunyi dimana. Tak butuh waktu lama, kawanan serigala itu sudah mengepungnya lagi, penglihatannya mulai gelap, ia terjatuh, sekejap ia memikirkan tak akan ada siapapun yang menemukan jasadnya. Serigala-serigala itu mulai mendekat perlahan, sekilas ia masih bisa melihat taring-taring tajam itu terlihat sangat menakutkan. Dan tepat saat ia pikir semua kan berakhir seseorang muncul. Arcellia pikir mungkin itu dewa kematian yang sedang menjemputnya. Saat membuka mata, yang ia rasakan adalah kesunyian dan rasa sakit yang tak tertahan, semakin ia bergerak semakin rasa sakit itu menyikasanya. Ia juga mencium bau amis yang terasa sangat dekat. Ahhhh…wajahnya terluka, bau itu adalah bau darahnya sendiri, cakaran itu dalam nyatanya. “Jangan bergerak dan jangan menyentuhnya.” Suara itu mengagetkannya, Arcel berusaha menoleh, ekor matanya berhasil menangkap seorang pria tengah berdiri menatapnya dengan tajam. Jantungnya berdetak lebih cepat, ia bertanya-tanya siapa pria itu dan dimana ia berada dan yang paling mengganggu apakah dia yang menyelamatkannya ? Lagi-lagi Arcellia berniat bangkit. “Sudah kubilang jangan bergerak.” Ucap lelaki itu dengan kasar. Membuat Arcellia terdiam membeku ketakutan, pria itu mendekat, tatapannya sangat dingin seolah ucapannya adalah sebuah ancaman besar. “Sekarang kau punya hutang padaku.” Ucapnya lebih tajam dari sebelumnya. Ahhh…Arcellia tahu, ternyata benar pria itu menyelamatkannya. “Kau juga harus menepati janjimu.” Ucapnya. Arcellia bingung, ia tak pernah berjanji apapun, apalagi ia juga tak pernah bertemu dengan pria ini sebelumnya. “Aku tak pernah berjanji apapun padamu sebelumnya, namun tenang saja aku pasti akan membalas budi karena kau telah menyelamatkanku.” Ucap Arcellia. Pria itu tak langsung menjawab, ia hanya menatap Arcellia dalam-dalam. “Kau pernah melakukannya dan sekarang saatnya.” Ucapnya datar. Arcellia semakin bingung namun pandangannya kini kembali kabur, kepalanya terasa berat, ia kembali kehilangan kesadaran. Kael berjalan mendekat dan mengelus pipi Arcellia dengan hati-hati. “Aku sudah lama menunggumu.” Ucapnya.Cahaya pagi masuk masuk melalui celah jendela, Arcellia terbangun. Ia terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat, di dadanya. Refleks ia langsung menyentuhnya, tanda itu masih ada. Hangat. Arcel bangkit. Yang pertama ia lihat adalah Kael. Ia tenang, seolah tak pernah terjadi apapun. Tak lama pintu terbuka. Lelaki lain yang ia kenal masuk, Yuan. Ia datang denganmembawa nampan berisi makanan. Arcellia diam, pandangannya berubah. Kejadian di aula sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Saat lelaki itu menahan amarah Raja, ayah Kael. Yuan pun sempat menatapnya untuk sesaat, tak lama. Tatapannya tak dingin, namun juga tak ramah. Seolah tengah mempertanyakan maksud pandangannya. Yuan meletakkan nampan itu dengan tenang di hadapan Kael.
Prangg! Suara pecahan kaca keras memecah ruangan, serpihan itu jatuh berserakan di lantai. Namun Julia tak berhenti, ia terus membanting setiap barang yang ia lihat. Kamarnya kini nampak bak tempat tak terawat. “Tak masuk akal!!” Suaranya menggema. Ia terus berteriak, tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia tertawa sesaat, namun beberapa detik kemudian kembali berteriak penuh amarah. “Menandai-“ “Seorang manusia!” Hening sesaat. Juli menendang ranjangnya sendiri, membuatnya remuk dalam sesaat. “Ia-“ Kalimatnya terputus. “Dia bodoh sekali.” Air mata jatuh. Di sudut ruangan Rion berdiri, diam mengamati, beberapa detik kemudian ia berjalan, mendekat dan memeluk tubuh Julia yang meringkuk. “Nona-“ Suaranya rendah, berharap Julia lebih tenang. “Aku tak pernah tahu apa ritual penyatuan itu.” Hening.
Lagi-lagi Arcellia tersadar di tempat yang asing, langit-langit batu yang tinggi menyambutnya, ia tak lagi terbangun di dalam penjara ataupun kamar yang ia tempati sebelumnya, entah kenapa saat ini perasaanya lebih tenang. Tangannya refleks naik ke bagian dada, ia masih bisa merasakannya, rasa nyeri yang aneh. Ingatannya kembali pada saat ia berada di ruang persidangan. Tanda di dadanya. Dan- Kael. Arcellia bangkit dari posisi tidurnya, dan dia menangkap keberadaan pria itu. Kael. Berdiri tak jauh darinya sembari menghisap cerutu. Ia nampak tenang, seolah memang sedang menunggu ia bangun. Sesaat Arcellia masih membeku, Kael pun hanya diam menatapnya. Arcellia kembali menekan dadanya, memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi, dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya apa yang sebenarnya telah Kael lakukan padanya. Namun laki-laki itu hanya diam, seperti biasanya.
“Cinta..” Raja memandangi Kael cukup lama, terus menerus mengulang kata-kata itu. “Cinta bukan alasan untuk melanggar aturan kita.” Ucapnya. Kini pandangan raja beralih pada Arcellia, ia mengatakan kalau memang wanita manusia itu bukanlah ancaman, apa bukti yang bisa membebaskannya dari tuduhan itu, mengingat artefak itu pun milik ayahnya. Arcellia yang masih terkejut dan termenung sama sekali tak mendengar ucapan raja, ia hanya menatap Kael dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Julia kembali berbicara, menurutnya tak mungkin hanya ada 1 artefak. “Yang Mulia Raja..sejujurnya panah yang digunakan wanita ini telah melukai Rion.” Ia berhenti sejenak. “Luka itu..belum pulih hingga saat ini.” Beberapa bangsawan pun menegang, ayah Julia pun juga mengiyakan, meskipun Rion hanyalah manusia serigal






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.