Share

Bab 4

Author: Dhiena
Aditya menyusup ke dalam selimutku dengan cepat. Entah kenapa, dia melakukannya dengan sangat alami sampai ikut melepas atasan. Perut six-pack dan pinggang rampingnya langsung menyilaukan mataku.

Dia menempelkan wajahnya dengan pelan di dekat ujung rambutku yang berantakan di atas bantal. Lalu mengangkat kelopak mata dan menatapku tanpa berkedip. Dari alis sampai bibir. Tatapannya berat dan penuh nafsu.

....

Bahkan aku yang terkenal sangat tidak peka pun, pada saat ini bisa merasakan bahwa yang berbaring di sampingku bukanlah seekor anjing pendiam. Melainkan seekor serigala dengan agresivitas penuh. Hanya saja, tanpa izin dari majikannya, dia tidak berani bertindak lebih jauh.

Aku berdeham pelan, lalu meminta maaf padanya dengan sangat canggung. "Aditya, maaf ya. Aku belum pernah memelihara iblis laki-laki, jadi sama sekali nggak paham soal kondisi fisiologis kalian, maksudku kondisi lapar seperti ini. Aku kira kalian hanya sekadar partner untuk membantu manusia mengerjakan pekerjaan rumah."

"Nggak apa-apa. Aku suka mengerjakan pekerjaan rumah untukmu."

Saat dia berkata demikian, suaranya terdengar makin keras. Bahkan bisa dibilang tergesa-gesa.

Aku menelan ludah dengan gugup, lalu teringat pada panduan yang baru saja kubaca, pada poin saran pertama.

[ Ketika iblis laki-laki lapar, majikan bisa lebih dulu mendekat ke dalam pelukan mereka dan membiarkan mereka memeluk. Bagaimanapun, suhu tubuh dan aroma majikan dapat secara efektif meredakan kegelisahan dan rasa lapar mereka. ]

Maka aku pun berkata, "Aditya, kalau kamu benar-benar nggak enak badan, sebenarnya kamu boleh memelukku."

"Baik."

Matanya langsung berbinar, lalu dia merentangkan tangan dan memelukku. Awalnya posisinya masih sopan. Namun tak lama kemudian, melihat aku hanya sibuk tersipu tanpa menunjukkan sedikit pun penolakan, dia langsung jadi lebih berani.

Satu tangannya menekan punggungku, satu lagi melingkari pinggangku. Ekornya menempel erat di kakiku. Dia membenamkan wajahnya di lekuk leherku dan mengendus-endus, sementara napas hangatnya menyapu leherku. Membuat kesadaranku perlahan-lahan jadi kabur.

Astaga. Perut six-pack iblis laki-laki ini benar-benar asli. Rasanya malah jadi makin sangat sepadan.

Aditya menggesekkan tubuhnya padaku sebentar, lalu tiba-tiba berkata dengan suara serak, "Yuri, aku masih nggak enak badan."

Aku yang sedang diam-diam memperhatikan bentuk perut six-pack-nya dengan pikiran yang agak melayang, lalu tanpa sadar bertanya, "Kalau begitu, kamu masih ingin melakukan apa?"

Dia mengangkat kepala. "Aku ingin menciummu, boleh?"

....

Aku ragu. "Jangan dulu." Terlalu intim. Aku benar-benar agak malu.

Aditya menundukkan pandangan dengan kecewa. "Baiklah, nggak apa-apa. Sebenarnya aku juga nggak terlalu sakit. Memelukmu saja seharusnya sudah cukup untuk sementara."

"Majikan, tidurlah. Jangan khawatirkan aku. Besok saat bangun aku tetap akan menyiapkan sarapan untukmu."

Aneh. Entah kenapa aku merasa dia mengambek. Namun karena sudah terlanjur terpesona, aku langsung berkata dengan khawatir, "Jangan salah paham. Aku nggak punya maksud lain, hanya merasa berciuman itu agak terlalu cepat. Kamu juga jangan terlalu menahan diri seperti ini. Aku memeliharamu, berarti aku harus bertanggung jawab."

"Benarkah?"

"Benar. Kalau kamu ingin mencium, silakan, tapi hanya satu kali."

Aku menekan bibir dengan malu. "Terima kasih, majikan."

Aditya mengangkat wajahnya dari leherku. Aku mengira dia akan langsung menciumku dengan tidak sabar untuk meredakan rasa laparnya, tapi ternyata dia malah mencium daguku terlebih dahulu. Lalu menjulurkan ujung lidahnya dan menjilatku seperti anak hewan kecil. Gerakannya perlahan-lahan, seolah sedang membujuk.

Dalam keadaan setengah sadar, aku berpikir, 'Masuk akal juga. Iblis laki-laki memang makhluk yang suka menempel.'

Hanya saja rasa lembap di daguku membuatku tanpa sadar mengangkat jari untuk mengusapnya. Secara alami, jariku bertemu dengan bibir Aditya. Dia pun mulai mencium jariku dengan mulus.

Sambil mencium, dia menatapku. Sorot matanya hitam pekat.

Huh. Semakin mirip anjing saja.

Aku sudah tidak tahan lagi, sehingga terpaksa menggunakan tangan yang lain untuk menarik ekornya pelan. Sambil mendesak aku berkata, "Aditya, cepat cium bibirku saja, jangan main-main. Aku izinkan kamu mencium lebih lama, nggak apa-apa, 'kan?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 10

    Saat ini, dia menatapku dengan tajam, seperti arwah yang menyeramkan."Yuri, berani-beraninya kamu menelantarkanku?"Gawat. Ketahuan.Aku buru-buru ingin menutup pintu dan berpura-pura sedang berjalan sambil tidur, tetapi Aditya langsung mengangkat kakinya dan masuk.Dia tidak mengerahkan banyak tenaga, tetapi langsung menekanku ke dinding."Mau lari ke mana? Menelantarkanku saja sudah keterlaluan, masih berani membeli iblis laki-laki lain? Yuri, waktu aku pergi, seharusnya aku mengikat majikan berhati hitam sepertimu dengan tali anjing dan membawamu pergi."Dia mengancam dengan dingin. Satu tangannya mencekik leherku, seolah-olah sedang mengukur berapa panjang tali anjing yang dibutuhkan untuk mengikatku.Hanya saja .... Gur ... gur .... Di tengah ancaman ganas iblis laki-laki itu, terselip bunyi yang sulit ditahan. Panjang dan terasa familier.Aku yang tadinya mengernyit dan hampir berlutut memohon ampun, langsung menatapnya dengan tak percaya.Dia berbunyi, artinya dia lapar. Itu ju

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 9

    Ekspresiku menegang. Seketika, aku menyadari sesuatu.Kalau setelah memulihkan ingatannya, Aditya merasa bahwa mencuci kaus kaki, mencuci celana dalam, plus mengerjakan segala macam pekerjaan rumah adalah sebuah penghinaan, apakah dia akan datang mencariku untuk menuntut balas dendam?Jawabannya adalah ... iya.Kemungkinan besar dia akan mencincangku, si manusia tak berguna ini, lalu memberikannya kepada anjing untuk melampiaskan amarah.Aku langsung menghubungi pemilik kontrakan. Untuk apa? Tentu saja mengakhiri sewa dan kabur! Kalau tidak, mau menunggu digigit Aditya sampai mati?Aku pindah dari rumah lamaku dengan pontang-panting. Untungnya, dulu saat Aditya tinggal bersamaku, aku hanya sibuk menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah atau bermesraan dengannya, tidak pernah memberi tahu lokasi tempat kerjaku secara detail. Jadi dalam waktu singkat, dia seharusnya tidak bisa menemukanku.Setelah bersembunyi dan bertahan hidup beberapa waktu, tetap tidak ada yang datang mencariku untuk m

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 8

    "Baik."Aditya melepas atasannya dengan patuh. Di bawah lampu kamar tidur berwarna kuning hangat, tubuhnya yang bagus terlihat sepenuhnya.Perut six pack dan pinggang ramping. Garis V memanjang masuk ke bagian tersembunyi celana tidur…Aku menelan ludah. Jantungku berdegup begitu keras. Untuk sesaat, suaraku bahkan lebih keras daripada suara Aditya yang biasanya."Sudah.""Celana ... celananya juga dilepas. Iblis laki-laki yang baik harus tahu diri, ngerti?""Yuri."Dia tidak bergerak, malah mengangkat pandangan dan menatapku lekat-lekat. Kemudian, dia menarik tanganku dan meletakkannya di tali serut celananya."Kamu yang lepaskan, karena segala sesuatu tentangku adalah milikmu.""Tuanku."Satu panggilan yang melambangkan penyerahan diri itu langsung membuat kakiku lemas. Dengan gemetar, aku mengulurkan tangan.....Permainan gila berlangsung sepanjang malam. Untungnya, keesokan harinya hari Sabtu, jadi aku tidak perlu khawatir bangun kesiangan dan dipotong uang kehadiran.Namun, saat

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 7

    Aditya setampan itu, mana tega aku membiarkannya menjalani hari-hari susah bersamaku.Datanglah rezeki. Datanglah rezeki besar buatku!Sambil terus merapal doa agar cepat kaya, aku pulang ke rumah. Namun, saat aku tiba, aku mendapati rumah gelap gulita. Lampu tidak menyala.Iblis laki-lakiku pergi beli sayur? Bukannya sudah kubilang agar dia patuh di rumah dan jangan keluyuran?Aku berbalik hendak pergi ke pasar di depan kompleks untuk mencarinya, tetapi begitu menoleh, aku tepat berpapasan dengan Aditya yang sedang naik ke lantai atas. Saat melihatku, ekspresinya tampak agak aneh."Kamu sudah pulang?"Aku mengangguk, lalu bertanya dengan santai, "Kamu ke mana? Kok nggak di rumah?""Aku keluar beli sayur.""Hah? Terus sayurnya?"Aku menatap iblis laki-laki itu dengan curiga. Kedua tangannya kosong.Aditya terdiam sejenak, lalu meminta maaf, "Maaf, aku akan pergi beli lagi."Sambil berkata begitu, dia berbalik, hendak turun tangga dan keluar lagi. Aku menariknya dan berkata dengan lembu

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 6

    Tentu saja tidak akan ditelantarkan. Kalau harus memakai satu jenis hewan untuk menggambarkan Aditya, pria ini seperti kucing tabi. Dingin, punya pendirian sendiri. Untung dia tidak berniat meninggalkanku.Manusia berpenampilan biasa dan miskin sepertiku bisa ditemani iblis laki-laki setampan ini …. Jelas sangat beruntung.Keesokan harinya sebelum berangkat kerja, aku tiba-tiba merasa enggan meninggalkan ranjang yang hangat. Sebelumnya mungkin aku hanya menganggap Aditya sebagai rekan yang membantu pekerjaan rumah.Namun, sejak semalam aku berciuman dengannya, perasaan itu jelas berubah. Bertambah satu rasa posesif yang tak terlukiskan."Aditya, akhir-akhir ini di luar agak kacau. Jangan keluyuran. Iblis laki-laki setampan kamu pasti akan ditangkap manusia jahat dan dijual ke orang lain. Aku sudah nggak punya uang lagi untuk membelimu.""Oke.""Untuk bahan makanan, aku saja yang beli sepulang kerja atau aku temani kamu belanja.""Oke."Aditya menanggapi dengan wajah dingin seperti bias

  • Pembantu Tampan Tak Kasat Mata   Bab 5

    Akibat memanjakan iblis laki-laki, bibirku dicium sampai bengkak, bahkan lidahku juga terluka sedikit. Tidak bicara saja sudah terasa sakit. Sementara pelaku utamanya memegang kantong es untuk membantuku mengempiskan bengkaknya.Aditya yang sudah kenyang kembali ke sikapnya yang dingin dan pendiam. "Masih sakit?""Nggak." Aku menggeleng sambil tersipu. Tanganku masih mencubit ringan ekornya. Lagi pula, aku yang tidak tahu malu ini barusan juga menikmati ciumannya sampai puas.Iblis laki-laki memang mengerikan, terlalu pandai membuat manusia kehilangan akal sehat. Sungguh menggoda jiwa, membuat orang ingin menyingkirkan segalanya, sampai pikiran hanya dipenuhi keinginan untuk bermesraan dan bermain bersama mereka.Mengingat adegan barusan yang menegangkan dan membuat jantung berdebar, aku terbatuk pelan, memulihkan kewarasanku dengan susah payah. Harus yang polos dulu. Kalau tidak, aku takut tidak bisa menahan diri untuk bertindak tak senonoh."Aditya, kalian para iblis laki-laki begitu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status