MasukPelabuhan itu gelap, hanya diterangi lampu sodium yang membuat bayangan bergerak seperti hantu di antara kontainer. Hujan sudah berhenti, menyisakan udara asin yang melekat di paru paru.Mobil hitam itu berhenti mendadak.Aluna terlempar ke depan, bonekanya jatuh ke lantai. Tangannya gemetar. Nafasnya pendek pendek.“Papa Daniel,” panggilnya lirih. Suaranya hampir hilang ditelan mesin.Pintu terbuka kasar. Salah satu anak buah Maria menariknya keluar.“Jangan,” bisik Aluna. “Aku baik baik saja. Aku janji.”Tidak ada yang menjawab.Di kejauhan, suara langkah kaki terdengar cepat.Seseorang berlari.Seseorang yang tidak lagi peduli apakah ia hidup atau mati.Bumi muncul dari balik kontainer.Wajahnya basah oleh darah kering dan keringat. Kemejanya robek. Tangannya menggenggam pistol yang entah dari mana ia ambil. Nafasnya berat, tapi langkahnya mantap.“Hentikan,” katanya lantang.Dua pria menoleh. Terkejut. Tembakan terdengar.Peluru menghantam besi. Percikan api menyala singkat.Bumi b
Hujan mengguyur dermaga seperti ingin menghapus jejak darah yang tertinggal di lantai gudang. Lampu polisi memantul ke permukaan air laut, menciptakan kilatan merah biru yang terasa terlalu terang bagi mata yang sudah kelelahan menangis.Elena sadar di atas tandu.Dada terasa sesak, kepalanya berdenyut hebat. Suara sirene masuk dan keluar dari kesadarannya seperti ombak. Tangannya bergerak panik, mencari sesuatu yang tidak ada di sana.“Anak anakku,” gumamnya lirih. “Di mana anak anakku.”Daniel menggenggam tangannya dengan erat. Wajahnya pucat. Matanya merah.“Elena,” katanya dengan suara bergetar. “Tenang dulu. Dengarkan aku.”Elena membuka mata penuh. Tatapannya liar, seperti binatang yang baru saja kehilangan sarangnya.“Di mana Aluna,” katanya cepat. “Daniel, di mana Aluna.”Daniel menunduk. Rahangnya mengencang. Ia tidak langsung menjawab, dan keheningan itu lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.Elena menjerit.Tubuhnya mencoba bangkit. Perawat menahan bahunya. Daniel ikut
Tembakan itu memecah udara seperti kaca yang dilempar ke laut.Satu peluru menghantam tiang besi di dekat pintu, memercikkan api kecil dan serpihan karat. Anak buah Maria tersentak. Suara langkah kaki berhamburan. Gudang yang tadinya sunyi berubah menjadi kekacauan yang berdenyut.Daniel menahan tubuh Elena yang terkulai. Ia menekan dadanya agar tetap bernapas. Tangannya gemetar.“Elena,” bisiknya panik. “Bertahanlah.”Bumi sudah bergerak.Ia tidak berlari. Ia melangkah dengan kecepatan yang terukur, tubuhnya condong ke depan, tatapannya terkunci pada satu titik.Aluna.Anak itu ditarik kasar oleh salah satu pria. Kakinya hampir terseret. Tangannya terlepas dari udara kosong yang sebelumnya mencoba melindungi si kembar.“Papa Daniel,” teriak Aluna lagi. Suaranya pecah.Bumi tidak berpikir.Ia menghantam pria pertama dengan bahunya. Tubuh pria itu terlempar ke samping, menghantam peti besi dan jatuh dengan suara keras. Pisau yang dipegangnya terlepas.Pria kedua mengangkat senjata.Ter
Gudang itu berbau besi dan air laut. Lampu kuning menggantung rendah, berkedip pelan seperti napas yang hampir habis. Suara ombak terdengar samar dari kejauhan, menghantam dermaga dengan ritme yang tidak peduli pada nyawa siapa pun.Elena berlari tanpa merasa kakinya menyentuh lantai. Napasnya terengah. Matanya hanya mencari satu hal.Anak anaknya.“Luca,” panggilnya dengan suara pecah.“Sofia.”Nama itu keluar seperti doa yang terlambat.Bumi tiba beberapa detik kemudian. Ia melihat pemandangan itu dalam satu tarikan napas.Maria berdiri di tengah gudang. Mantel gelapnya terbuka. Wajahnya tenang, hampir puas. Di belakangnya, dua pria berdiri berjaga. Di depan mereka, tiga anak kecil.Luca dan Sofia berpegangan erat. Wajah mereka pucat. Mata mereka mencari ibunya.Aluna berdiri sedikit di depan. Tubuhnya kecil, tapi punggungnya lurus. Tangannya terbentang samar, seolah ia benar benar percaya bisa melindungi mereka.“Elena,” kata Maria pelan. “Akhirnya.”Elena berhenti beberapa langkah
Pagi datang dengan cara yang kejam di Osaka.Tidak ada transisi lembut dari malam ke siang. Tidak ada jeda untuk bernapas. Ketika Elena membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukan cahaya matahari, melainkan kehampaan.Tangannya menyentuh kasur di sisi kiri.Kosong.“Elena.”Suara Daniel terdengar dari ruang tengah. Nada suaranya salah. Terlalu rendah. Terlalu tertahan.Elena bangkit seketika. Jantungnya berdentum keras saat ia melihat ke ranjang.Luca tidak ada.Sofia tidak ada.Aluna tidak ada.“Daniel,” suaranya keluar seperti sobekan. “Di mana mereka.”Daniel berdiri di dekat meja. Ponsel di tangannya bergetar tanpa henti. Wajahnya pucat seperti tidak tidur semalam.“Kamera,” katanya pendek. “Aku lihat kamera.”Elena tidak mendengar kata berikutnya. Ia sudah berlari ke arah Daniel, merebut ponsel itu dengan tangan gemetar.Rekaman malam tadi muncul.Lorong hotel.Satu bayangan.Lalu dua.Pintu kamar terbuka.Daniel terlihat berusaha menahan.Sebuah tangan lain datang dari belak
Lorong hotel yang biasanya sunyi berubah menjadi ruang napas yang tegang. Lampu dinding menyala redup, menciptakan bayangan panjang yang bergerak setiap kali seseorang melangkah. Di sisi barat lantai itu, dua sosok hitam bergerak cepat namun terukur. Mereka tidak terburu buru. Orang yang tahu apa yang mereka lakukan tidak pernah berlari.Staf keamanan Bumi muncul dari ujung lorong. Ia mengangkat tangan memberi isyarat pelan.“Berhenti,” ucapnya rendah.Salah satu sosok menoleh. Terlambat.Dalam hitungan detik, suasana pecah. Satu tangan menghantam. Tubuh terhuyung. Tidak ada teriakan. Tidak ada suara keras. Hanya napas yang terputus dan tubuh yang terjatuh ke lantai berkarpet.Di penthouse, Bumi melihat semuanya lewat layar.“Naikkan level,” perintahnya singkat.Max sudah bergerak. “Tim tiga menuju lantai Elena. Kunci semua akses.”Namun orang orang Maria tidak datang untuk bertahan lama.Mereka datang untuk mengambil.***Di kamar Elena, detik terasa berjalan lebih lambat.Elena berd
Kegelapan dan keheningan yang tiba-tiba memaksa semua orang untuk mengemas barang dan pulang lebih awal. Suasana chaos itu memberikan kesempatan sempurna bagi Gilea. Hatinya masih berdebar kencang, dipenuhi oleh rasa penasaran yang membara dan sedikit ketakutan. Dia tidak langsung menuju basement.
Semua berjalan seperti biasanya di keesokan harinya. Saat Gilea akan pulang, .Klik. Klak. Klik.Suara heels Gilea berdetak tak beraturan di atas karpet tebal, sebuah irama nervous yang memecah kesunyian ruang kerjanya yang nyaris kosong. Senja mulai merayap, melukis dinding dengan warna jingga dan
Ruangan Natasha adalah sebuah benteng. Dindingnya yang kedap suara menelan setiap getaran suara, dan tirai-tirai tebal menutupi jendela, menyembunyikan aktivitas di dalamnya dari dunia luar. Di dalamnya, udara terasa pengap, berbau parfum mahal yang bercampur dengan aroma kopi pahit dan ambisi yang
Ketenangan yang menyelimuti mereka terasa seperti sebuah dunia baru. Di bawah selimut lembut, dengan tubuh masih terjerat, Gilea merasakan sebuah kelegaan dan kekuatan yang belum pernah dia rasakan sejak memimpin tim baru itu. Bumi membelai punggungnya dengan gerakan lambat dan menenangkan.“Aku ta







