LOGINAlya berdiri di depan lemari, handuk melilit tubuhnya, rambutnya masih setengah basah. Tetes-tetes air masih mengalir pelan dari ujung helainya ke pundak. Tangannya sibuk memilih-milih baju, tapi pikirannya penuh tanya.
Sebenarnya ini mau ke mana, sih? gumamnya dalam hati, sambil menyingkirkan beberapa pakaian. Kalau dia macam-macam lagi gimana? Tadi pagi aja udah berani megang-megang paha. Ia mendesah pelan, lalu mengambil blouse berwarna krem dan celana bahan warna gelap, sederhana, tapi cukup sopan. Baru saja ia hendak melepas handuknya, suara ketukan terdengar dari balik pintu. Tok. Tok. Tok. Belum sempat ia membuka, kenop pintu sudah diputar dari luar. Pintu terbuka lebar, dan Revan melangkah masuk seperti tak terjadi apa-apa. Alya sontak membalikkan badan dan menjerit, “Revan! Kamu dua kali ya masuk kamar orang tanpa izin?!” Tubuhnya buru-buru berbalik, membelakangi Revan, tangan mencengkeram erat bagian atas handuk agar tidak melorot. Wajahnya merah, bukan hanya karena malu, tapi juga karena marah dan panik. Revan menutup pintu pelan di belakangnya, lalu bersandar santai sambil memperhatikan punggung Alya. “Yang penting kan ada orangnya di dalam,” ucapnya datar, dengan nada malas yang terdengar sengaja dibuat acuh, padahal matanya tak lepas dari lekuk bahu yang terpampang di balik helaian handuk basah. Alya mendengus tajam. “Tapi aku belum kasih kamu izin!” Revan menaikkan satu alis. Tatapannya tenang, tapi menyimpan sesuatu yang menyebalkan dan licin. “Dengan kamu nggak langsung ngusir aku, itu udah nunjukin kamu ngasih izin.” “Ih, sana keluar!” bentak Alya tanpa menoleh. “Aku belum pakai baju!” Revan melangkah pelan, suaranya rendah tapi terdengar jelas. “Ganti, tinggal ganti. Sibuk banget sih.” Alya menggeram pelan. “Gimana mau ganti kalau kamu masih di sini?!” Revan semakin mendekat, namun berhenti di jarak yang membuat napas terasa lebih berat. Tangannya bersedekap, tubuhnya condong sedikit ke depan. Matanya menelusuri punggung Alya, lalu turun ke lipatan kecil handuk di pinggangnya. Tatapannya seperti memainkan imajinasi yang terlalu nyata untuk dianggap sekadar iseng. “Emang kenapa?” bisiknya pelan, nyaris menggoda. Alya mendesah panjang, suara napasnya bergetar menahan malu. “Ya malu lah… Astaga… Aku belum pakai apa-apa!” Revan menyeringai, lebih lebar dari sebelumnya. Pandangannya berubah, bukan lagi sekedar nakal, tapi lapar. “Malam itu kamu pakai baju kurang bahan aja nggak malu.” Alya menoleh sedikit, cukup untuk memperlihatkan separuh wajah yang masih dibakar amarah dan malu. “Itu kan masih pakai baju. Sekarang aku nggak pakai sama sekali.” Tanpa pikir panjang, ia berbalik dengan cepat, tangan kiri menahan erat ujung handuk di dada, tangan kanan mendorong dada Revan dengan kesal. “Udah, sana keluar!” Dorongannya tak keras, hanya membuat Revan mundur selangkah. Tapi pria itu tidak bergeming, ia hanya diam, berdiri mematung, matanya menatap Alya dengan sorot yang mengunci. Pandangan itu turun pelan-pelan. Dari mata, ke leher, lalu ke belahan dada yang tersingkap sedikit oleh tarikan gerakan barusan. Revan menahan napasnya sejenak, lalu tersenyum miring. Senyum nakal yang tidak hanya melihat, tapi membayangkan. Matanya tak seperti sebelumnya. Kini lebih tajam, melekat, dan menelanjangi dalam diam. Ia tidak bicara, hanya menatap dan dalam tatapan itu, ada hasrat yang disimpan. “Kamu pikir aku bakal keluar setelah lihat kamu kayak gini?” suaranya rendah, dalam, dan penuh nada bermain. Alya terhenyak. Ia menangkap ke mana arah mata itu tertuju, dan tanpa sadar segera menutup belahan dadanya dengan satu tangan, wajahnya meledak merah, bibirnya mengatup erat. Namun Revan tak kunjung berbalik. Ia berdiri di sana, seperti pria yang baru saja menemukan pemandangan yang terlalu berharga untuk ditinggalkan. Dan matanya yang nakal masih menjelajah, seolah mengingat setiap detail yang barusan sempat terlihat dan belum ingin melupakannya. Alya menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya. Tangan kirinya mencengkeram handuk lebih erat, dan tangan kanannya kini menekan dadanya sendiri, seolah mencoba membentengi dirinya dari tatapan yang terlalu tajam itu. Napasnya belum stabil, tapi suaranya berusaha terdengar tegas, meski sedikit bergetar. “Revan…” katanya pelan, namun menggigit di akhir, “…jangan macem-macem ya kamu.” Revan tidak menjawab. Langkahnya justru semakin mendekat membuat Alya merasa jantungnya berpindah ke tenggorokan. Mata pria itu masih menatap lurus ke arahnya, tajam dan tak berkedip. Alya mundur selangkah, punggungnya nyaris menyentuh lemari di belakang. Ia tak bisa mundur lagi. Handuk di tubuhnya sudah hampir lepas dari gerakan itu, dan tangannya buru-buru menyesuaikan pegangan. Revan berhenti tepat di depannya. Napasnya kini bisa dirasakan Alya di permukaan kulit, hangat dan dekat. Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya menelusuri wajah Alya, turun ke bibir, lalu ke leher yang masih basah oleh sisa-sisa air dari kamar mandi. “Revan…” suaranya pelan, tapi penuh tekanan. Matanya menatap tangan Revan dengan campuran cemas dan waspada. “Kamu mau ngapain?”Enam tahun berlalu begitu saja, seolah waktu berlari tanpa pernah menoleh ke belakang. Rumah yang dulu sering terasa terlalu besar dan sunyi kini nyaris tak pernah benar-benar diam. Tawa, tangis, dan suara langkah kaki kecil berkejaran memenuhi setiap sudutnya. Mainan berserakan di ruang keluarga, dinding kulkas penuh coretan krayon, dan jam tidur tak lagi teratur sejak dua anak kembar mereka hadir ke dunia. Alya sering berdiri di ambang pintu kamar, memandangi pemandangan itu dengan perasaan yang masih terasa asing, asing namun hangat. Dua anaknya tertidur saling berhadapan, napas mereka teratur, wajah polos mereka begitu mirip ayahnya. Di momen-momen seperti itulah dadanya kerap terasa sesak oleh rasa syukur yang terlalu besar untuk diucapkan. Tak pernah terlintas di benaknya, hidupnya akan berakhir atau justru bermula, seperti ini. Dulu, Alya hanyalah seorang perempuan yang kehadirannya nyaris tak diinginkan. Revan, pria yang kini menjadi suaminya, pernah memandangnya
Pesta resepsi akhirnya usai. Tamu terakhir telah pulang, menyisakan keheningan yang melegakan di lobi gedung yang mulai dibersihkan. Arman berdiri di dekat pintu mobilnya, wajahnya tampak lelah namun senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Revan dan Alya mengantarnya sampai ke parkiran. “Alya, Revan, Papa pulang dulu, ya,” pamit Arman sambil menepuk bahu menantunya. Alya menatap ayahnya cemas. “Papa nggak mau istirahat dulu di sini? Di kamar tamu ada kok, Pa. Udah malem banget ini.” Arman menggeleng pelan sambil terkekeh. “Nggak usah, Sayang. Papa istirahat di rumah aja. Takut ganggu pengantin baru. Nanti Papa malah jadi nyamuk.” Wajah Alya seketika merona merah mendengar godaan ayahnya. Ia menunduk malu, mencubit pelan lengan Revan. Namun Revan justru tertawa kecil, merangkul pinggang Alya. “Papa pengertian banget, sih. Tahu aja kalau kita butuh privasi.” Arman tertawa renyah. “Hahaha, Papa juga pernah muda, pernah nikah kali, Van. Tahu rasanya gimana malam pertam
Sosok itu semakin mendekat, menaiki undakan pelaminan dengan langkah pelan dan ragu. Cahaya lampu kristal kini menerangi wajahnya dengan jelas.Itu Maya.Namun, Maya yang kini berdiri di hadapan mereka sangat berbeda dengan Maya yang diusir Arman kemarin. Tak ada gaun mewah, tak ada riasan tebal, dan tak ada dagu yang terangkat angkuh.Ia mengenakan terusan batik sederhana berwarna cokelat kusam. Wajahnya tampak lelah, matanya bengkak, dan rambutnya hanya digelung seadanya.Revan yang menyadari siapa tamu tak diundang itu seketika menegang. Rahangnya mengeras, kilatan amarah kembali menyala di matanya.Tangannya bergerak cepat, hendak memanggil petugas keamanan yang berjaga di sudut ruangan.“Mau ngapain lagi dia ke sini?” desis Revan tajam. “Belum puas ngerusak semuanya?”Namun sebelum Revan sempat mengangkat tangan memberi kode, Alya menahannya. Jemari Alya mencengkeram lengan jas suaminya dengan erat.“Jangan, Van,” bisik Alya memohon. Matanya menatap Revan lekat. “Tolong,
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, mobil yang membawa Alya dan Revan sudah memasuki pelataran gedung. Kabut pagi masih menggantung tipis, udara dingin merayap ke kulit, tapi semua itu tak berarti apa-apa dibandingkan debaran jantung Alya yang berlari tanpa kendali. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah ia sedang berdiri di ambang kehidupan yang sama sekali baru. Di ruang rias, Alya duduk diam, nyaris tak bergerak. Jemari perias bekerja lincah di wajahnya, memoles, merapikan, menyempurnakan. Namun pikiran Alya melayang jauh. Di cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri, seorang perempuan dalam kebaya putih yang sederhana, pengganti gaun impian yang pernah ia bayangkan dengan penuh harap. Kebaya itu bukan yang ia rencanakan sejak awal. Ia hadir sebagai pengganti dari sesuatu yang direnggut paksa. Namun entah mengapa, justru kain putih itu kini terasa jauh lebih jujur. Lebih sakral. Seolah menandai bahwa hari ini bukan tent
Setelah urusan gaun selesai dan hati Alya sedikit lebih lega, mobil kembali melaju membelah jalanan sore. Sesuai rencana awal, mereka langsung menuju gedung pernikahan untuk pengecekan terakhir.Begitu sampai di sana, Alya terpaku di ambang pintu masuk.Gedung itu sudah disulap. Lampu-lampu kristal menggantung megah, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Ribuan bunga segar, kombinasi mawar putih, lili, dan anggrek telah tertata rapi memenuhi ruangan, menebarkan aroma harum yang menenangkan.Dekorasinya begitu elegan, mewah, namun tetap terasa sakral. Jauh melampaui bayangan Alya selama ini.Matanya kembali memanas. Jika tadi ia menangis karena sedih gaunnya rusak, kini air matanya jatuh karena rasa haru yang membuncah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, tak menyangka hari bahagianya akan seindah ini, seolah semesta sedang membayarnya lunas atas semua kesedihan yang ia alami.Revan yang melihat Alya terpaku, melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia tersenyum tipis melihat
Maya terisak keras, suaranya pecah dan berantakan.“Ng-nggak, Mas… aku nggak mau cerai,” katanya sambil menggeleng berulang kali, lututnya bergeser mendekat. “Tolong… kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji bakal perbaiki semuanya. Aku bisa berubah, Mas. Aku bisa jadi istri yang baik.”Arman menatapnya lama. Terlalu lama. Tatapan itu bukan lagi tatapan suami pada istri, melainkan tatapan seorang lelaki yang akhirnya sadar bahwa ia hidup dalam kebohongan bertahun-tahun.“Aku nggak mau berumah tangga sama orang yang hidupnya penuh kepalsuan, Maya,” ucap Arman datar namun menghujam. “Dan sekarang sudah cukup. Sudah terlalu lama aku hidup sama kamu.”Maya terdiam, napasnya tersendat.“Aku kira kamu benar-benar ibu yang baik buat Alya,” lanjut Arman, suaranya mengeras menahan amarah dan kecewa yang menumpuk. Arman mengangkat gaun robek itu sedikit, matanya basah.“Ternyata kamu cuma manfaatin dia. Kamu pura-pura sayang, pura-pura peduli, padahal di belakang kamu tanam racun ke an







