Share

Bab 7

Author: Liyusa_
last update Huling Na-update: 2025-08-02 09:36:54

Setelah sarapan selesai. Arman beranjak lebih dulu. Ia melirik ke arah Revan sebentar, lalu menepuk pundaknya pelan sebelum berjalan meninggalkan ruang makan.

Revan bangkit menyusul beberapa detik kemudian, tak berkata apa pun, ia hanya melirik sekilas ke arah Alya sebelum benar-benar berlalu.

Maya masih duduk di kursinya. Tatapannya tajam mengarah ke Alya yang kini mulai bangkit dari duduknya untuk membereskan meja makan.

Tanpa menunggu aba-aba. Tanpa instruksi Alya sudah tau perannya.

Dengan langkah ringan namun cepat, ia mulai mengambil piring-piring kotor, sendok, sisa roti, cangkir yang belum di cuci, lalu menumpuknya dengan rapi di atas nampan. Bukan karena senang melakukannya, tapi karena sudah terlatih dari kecil untuk bergerak sebelum dipanggil, sebelum disuruh.

Di tengah gerakannya yang sibuk, sambil mengambil cangkir yang kosong, Maya membuka mulutnya pelan, namun cukup terdengar di telinga Alya.

"Alya, awas ya kamu nerima tawaran kuliah dari Papa kamu," bisik Maya tajam. "Buang-buang uang. Nggak usah sok-sokan, kamu di rumah ini cuma numpang aja."

Alya yang sedang mengambil cangkir-cangkir kosong hanya terdiam, wajahnya tegang. Tapi sebelum ia sempat membalas, Revan muncul dari balik pintu dapur.

“Re-revan… ada yang ketinggalan?” tanya Maya sambil menyentuh ujung gelasnya, seolah menutupi kegugupan yang di alaminya.

Ketegangan Maya begitu nyata, sampai-sampai matanya terus mencuri pandang ke arah Revan, khawatir kalimat barusan tadi sempat terdengar olehnya.

Revan tak menjawab. Ia membuka pintu kulkas dan mengambil minuman dingin, tatapan matanya lurus pada Alya yang saat itu masih berdiri sambil membawa nampan berisi piring kotor.

Tatapan itu bukan sekadar tatapan biasa. Bukan sekadar interaksi antar penghuni rumah. Itu tatapan yang menyelidik, menguji, dan mendesak dalam waktu bersamaan. Alya mengalihkan pandang cepat-cepat, namun gerak tubuhnya mengaku, ia gugup.

Ia mengangkat alis. “Kok kamu yang beresin?” suaranya terdengar datar, Matanya berpindah menatap Maya “Bukannya ini tugas istri, ya?”

Alya yang masih memegang cangkir di tangannya langsung membeku. “H-hm… ini kemauan aku sendiri kok. Kasihan Mama, tadi kan sudah cape masak,” katanya gugup.

Revan memiringkan kepala, matanya tetap menyorot Maya.

Maya langsung menimpali cepat, suaranya canggung. “I-iya, Revan… Tante udah larang tadi, tapi dia maksa. Katanya biar Tante bisa istirahat.”

Revan tersenyum tipis, tidak menjawab, lalu meneguk minuman dinginnya. Tatapan matanya menajam, mengarah pada Maya dan hanya Maya yang bisa merasakannya sebagai ancaman samar.

Ia melirik Alya sekali lagi sebelum berjalan kembali ke arah tangga. Tapi sebelum naik, ia sempat berkata pelan, "Nanti sore kamu ikut aku"

Alya membeku, cangkir yang tadi ia genggam kini terasa begitu berat di tangan. Kalimat Revan barusan terngiang-ngiang di pikirannya, “Nanti sore kamu ikut aku.” Ucapannya tidak keras, tapi cukup jelas membuat alya merasa canggung karena tatapannya.

Revan sudah berbalik dan mulai menaiki tangga. Alya akhirnya memberanikan diri bertanya dengan suara pelan, nyaris seperti bisikan. “Bu-bukannya kamu harus kerja…?”

Langkah Revan terhenti. Ia memutar kepalanya setengah, memandang ke arah Alya di bawah dengan sorot mata yang sulit ditebak, antara geli, heran, atau mungkin sedikit terhibur.

“Kamu pikun apa gimana, sih?” jawab Revan sedikit datar. “Hari ini kan hari libur.”

Aya langsung menunduk, merasa bodoh telah bertanya. Pikirannya masih dipenuhi dengan suara Maya yang terdengar menusuk beberapa menit lalu.

“E-mang mau ke mana?” tanyanya lagi, berusaha menyembunyikan nada gemetar di suaranya.

Revan tersenyum samar. Bukan senyum hangat, tapi semacam senyum penuh teka-teki, membuat bulu kuduk Alya meremang.

“Ke suatu tempat,” jawabnya pendek, lalu kembali melangkah naik tanpa menjelaskan lebih jauh.

Alya masih berdiri di tempat yang sama ketika suara Maya memotong, sinis dan menyengat.

“Kamu nggak malu, Van, jalan sama Alya?” nada Maya dibuat setenang mungkin, tapi tidak berhasil menyembunyikan rasa kesal yang mencuat di ujung katanya. “Apa kata orang nanti, anak Papa jalan sama cewe kayak Alya?”

Langkah Revan kembali terhenti. Kali ini ia benar-benar menoleh, menatap Maya tanpa senyum.

“Aku lebih malu ada kamu di sini,” ucapnya dingin.

Maya membeku. Wajahnya memucat. Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Sorot matanya goyah, namun ia tetap berusaha mempertahankan wibawa palsu yang dari tadi perlahan terkikis.

Alya masih diam, berusaha memahami makna dari percakapan yang baru saja terjadi. Jantungnya berdebar cepat, entah karena cemas, takut, atau ada rasa lain yang belum bisa ia beri nama.

Maya menatap tangga yang sudah ditinggalkan Revan. Wajahnya masih pucat, tapi kemarahan dalam dirinya mulai kembali mendidih. Sorot matanya tajam seperti silet saat menoleh ke arah Alya yang masih berdiri canggung di dekat meja makan, tangan masih menggenggam sendok yang sama sejak tadi.

“Heh, Alya,” desisnya pelan, tapi tajam. “Awas aja ya, kalau kamu berani ngomong macem-macem ke Revan.”

Alya mengangkat wajahnya pelan, tubuhnya menegang.

“Jangan sok manis, jangan sok deket. Kamu pikir dia peduli? Jangan mimpi.” Maya melangkah mendekat, suaranya nyaris tak terdengar tapi mengandung ancaman tajam.

“Kalau sampe kamu cerita soal omongan tadi, atau sok ngadu-ngadu ke Revan, aku bakal bikin kamu nyesel tinggal di rumah ini.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 255

    Enam tahun berlalu begitu saja, seolah waktu berlari tanpa pernah menoleh ke belakang. Rumah yang dulu sering terasa terlalu besar dan sunyi kini nyaris tak pernah benar-benar diam. Tawa, tangis, dan suara langkah kaki kecil berkejaran memenuhi setiap sudutnya. Mainan berserakan di ruang keluarga, dinding kulkas penuh coretan krayon, dan jam tidur tak lagi teratur sejak dua anak kembar mereka hadir ke dunia. Alya sering berdiri di ambang pintu kamar, memandangi pemandangan itu dengan perasaan yang masih terasa asing, asing namun hangat. Dua anaknya tertidur saling berhadapan, napas mereka teratur, wajah polos mereka begitu mirip ayahnya. Di momen-momen seperti itulah dadanya kerap terasa sesak oleh rasa syukur yang terlalu besar untuk diucapkan. Tak pernah terlintas di benaknya, hidupnya akan berakhir atau justru bermula, seperti ini. Dulu, Alya hanyalah seorang perempuan yang kehadirannya nyaris tak diinginkan. Revan, pria yang kini menjadi suaminya, pernah memandangnya

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 254

    Pesta resepsi akhirnya usai. Tamu terakhir telah pulang, menyisakan keheningan yang melegakan di lobi gedung yang mulai dibersihkan. ​Arman berdiri di dekat pintu mobilnya, wajahnya tampak lelah namun senyum bahagia tak lepas dari bibirnya. Revan dan Alya mengantarnya sampai ke parkiran. ​“Alya, Revan, Papa pulang dulu, ya,” pamit Arman sambil menepuk bahu menantunya. ​Alya menatap ayahnya cemas. “Papa nggak mau istirahat dulu di sini? Di kamar tamu ada kok, Pa. Udah malem banget ini.” ​Arman menggeleng pelan sambil terkekeh. “Nggak usah, Sayang. Papa istirahat di rumah aja. Takut ganggu pengantin baru. Nanti Papa malah jadi nyamuk.” ​Wajah Alya seketika merona merah mendengar godaan ayahnya. Ia menunduk malu, mencubit pelan lengan Revan. ​Namun Revan justru tertawa kecil, merangkul pinggang Alya. “Papa pengertian banget, sih. Tahu aja kalau kita butuh privasi.” ​Arman tertawa renyah. “Hahaha, Papa juga pernah muda, pernah nikah kali, Van. Tahu rasanya gimana malam pertam

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 253

    Sosok itu semakin mendekat, menaiki undakan pelaminan dengan langkah pelan dan ragu. Cahaya lampu kristal kini menerangi wajahnya dengan jelas.​Itu Maya.​Namun, Maya yang kini berdiri di hadapan mereka sangat berbeda dengan Maya yang diusir Arman kemarin. Tak ada gaun mewah, tak ada riasan tebal, dan tak ada dagu yang terangkat angkuh.​Ia mengenakan terusan batik sederhana berwarna cokelat kusam. Wajahnya tampak lelah, matanya bengkak, dan rambutnya hanya digelung seadanya.​Revan yang menyadari siapa tamu tak diundang itu seketika menegang. Rahangnya mengeras, kilatan amarah kembali menyala di matanya.​Tangannya bergerak cepat, hendak memanggil petugas keamanan yang berjaga di sudut ruangan.​“Mau ngapain lagi dia ke sini?” desis Revan tajam. “Belum puas ngerusak semuanya?”​Namun sebelum Revan sempat mengangkat tangan memberi kode, Alya menahannya. Jemari Alya mencengkeram lengan jas suaminya dengan erat.​“Jangan, Van,” bisik Alya memohon. Matanya menatap Revan lekat. “Tolong,

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 252

    Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, mobil yang membawa Alya dan Revan sudah memasuki pelataran gedung. Kabut pagi masih menggantung tipis, udara dingin merayap ke kulit, tapi semua itu tak berarti apa-apa dibandingkan debaran jantung Alya yang berlari tanpa kendali. Setiap tarikan napas terasa berat, seolah ia sedang berdiri di ambang kehidupan yang sama sekali baru. Di ruang rias, Alya duduk diam, nyaris tak bergerak. Jemari perias bekerja lincah di wajahnya, memoles, merapikan, menyempurnakan. Namun pikiran Alya melayang jauh. Di cermin, ia menatap pantulan dirinya sendiri, seorang perempuan dalam kebaya putih yang sederhana, pengganti gaun impian yang pernah ia bayangkan dengan penuh harap. Kebaya itu bukan yang ia rencanakan sejak awal. Ia hadir sebagai pengganti dari sesuatu yang direnggut paksa. Namun entah mengapa, justru kain putih itu kini terasa jauh lebih jujur. Lebih sakral. Seolah menandai bahwa hari ini bukan tent

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 251

    Setelah urusan gaun selesai dan hati Alya sedikit lebih lega, mobil kembali melaju membelah jalanan sore. Sesuai rencana awal, mereka langsung menuju gedung pernikahan untuk pengecekan terakhir.Begitu sampai di sana, Alya terpaku di ambang pintu masuk.Gedung itu sudah disulap. Lampu-lampu kristal menggantung megah, memantulkan cahaya keemasan yang hangat. Ribuan bunga segar, kombinasi mawar putih, lili, dan anggrek telah tertata rapi memenuhi ruangan, menebarkan aroma harum yang menenangkan.Dekorasinya begitu elegan, mewah, namun tetap terasa sakral. Jauh melampaui bayangan Alya selama ini.Matanya kembali memanas. Jika tadi ia menangis karena sedih gaunnya rusak, kini air matanya jatuh karena rasa haru yang membuncah.Ia menutup mulutnya dengan tangan, tak menyangka hari bahagianya akan seindah ini, seolah semesta sedang membayarnya lunas atas semua kesedihan yang ia alami.Revan yang melihat Alya terpaku, melangkah mendekat dan berdiri di sampingnya. Ia tersenyum tipis melihat

  • Pemuas Nafsu Kakak Tiri   Bab 250

    Maya terisak keras, suaranya pecah dan berantakan.“Ng-nggak, Mas… aku nggak mau cerai,” katanya sambil menggeleng berulang kali, lututnya bergeser mendekat. “Tolong… kasih aku kesempatan satu kali lagi. Aku janji bakal perbaiki semuanya. Aku bisa berubah, Mas. Aku bisa jadi istri yang baik.”Arman menatapnya lama. Terlalu lama. Tatapan itu bukan lagi tatapan suami pada istri, melainkan tatapan seorang lelaki yang akhirnya sadar bahwa ia hidup dalam kebohongan bertahun-tahun.“Aku nggak mau berumah tangga sama orang yang hidupnya penuh kepalsuan, Maya,” ucap Arman datar namun menghujam. “Dan sekarang sudah cukup. Sudah terlalu lama aku hidup sama kamu.”Maya terdiam, napasnya tersendat.“Aku kira kamu benar-benar ibu yang baik buat Alya,” lanjut Arman, suaranya mengeras menahan amarah dan kecewa yang menumpuk. Arman mengangkat gaun robek itu sedikit, matanya basah.“Ternyata kamu cuma manfaatin dia. Kamu pura-pura sayang, pura-pura peduli, padahal di belakang kamu tanam racun ke an

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status