Mag-log inPagi itu, Vira sibuk dengan beberapa dokumen di meja kerjanya. Sesekali, ia melirik Nathan yang tengah membaca berkas di hadapannya. "Vira, siapkan dokumen kerja sama dengan PT Mahardika. Siang ini aku ada janji bertemu dengan mereka," ujar Nathan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya."Baik, Pak. Apakah saya perlu ikut mendampingi Bapak?""Tidak perlu. Aku hanya ingin membahas beberapa hal. Kau tetap di kantor dan selesaikan laporan kemarin.""Baik, Pak."Vira segera menyiapkan dokumen yang diminta. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia menyerahkannya kepada Nathan sebelum pria itu berangkat menemui kliennya. Menjelang siang, Nathan meninggalkan kantor seorang diri. Vira pun bisa bekerja lebih leluasa tanpa harus merasa gugup setiap kali pria itu berada di dekatnya.Ia kembali fokus menyelesaikan laporan yang masih tertunda. Sesekali, matanya melirik jam tangan, berharap pekerjaannya selesai sebelum waktu
Setibanya di apartemen, Vira langsung masuk ke dalam kamar untuk meletakkan barang-barang yang dibelinya bersama Nathan.Sementara itu, Nathan masih berada di ruang tengah. Entah mengapa, pikirannya terus tertuju pada Vira. Ia teringat bagaimana wanita itu terlihat begitu cantik saat mengenakan gaun pilihannya tadi.Nathan menghela napas pelan, lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar menyusul Vira. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air mengalir. Nathan berhenti sejenak, tetapi alih-alih kembali ke ruang tengah, ia justru membuka pintunya."Pak Nathan?!"Vira sontak terkejut saat melihat atasannya itu masuk. Ia segera meraih handuk untuk menutupi lekuk tubuhnya."Kenapa Anda masuk begitu saja? Saya sedang mandi!"Nathan menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah mendekat."Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa Anda—"Vira menghentikan ucapannya saat Nathan mendekat. Tatapan pria
Nathan menghentikan laju mobilnya di depan sebuah butik mewah yang cukup terkenal di pusat kota.Bangunannya tampak elegan dengan kaca-kaca besar yang memperlihatkan berbagai koleksi pakaian di dalamnya. Butik itu dikenal memiliki koleksi eksklusif yang dirancang oleh para desainer ternama.Vira menatap ke luar jendela dengan bingung."Pak, kenapa Anda berhenti di sini? Untuk apa kita kemari?"Nathan melepaskan sabuk pengamannya tanpa banyak bicara."Turun saja dan ikut aku!"Vira mengernyit bingung."Ha? Tapi—""Vira," Nada Nathan membuatnya mengurungkan pertanyaan.Dengan wajah masih penuh tanda tanya, Vira akhirnya turun dan mengikuti atasannya itu. Ia membiarkan Nathan berjalan di depan, sementara dirinya mengekor beberapa langkah di belakang. Nathan yang menyadarinya tiba-tiba berhenti."Brugh!"Vira yang berjalan sambil menunduk langsung menabrak punggung pria itu.
Nathan mengetukkan ujung jarinya di atas meja, berusaha menenangkan gejolak yang berputar di dadanya. "Cukup basa-basinya," ucapnya dingin. "Katakan saja apa maksud dan tujuanmu datang ke sini?" Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di sela ketegangan yang menggantung. Danu tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan tubuhnya lebih santai, seolah menikmati suasana yang jelas tidak nyaman bagi Nathan. "Kamu masih sama seperti dulu," gumamnya pelan. "Selalu ingin langsung ke inti." Nathan tidak merespons. Tatapannya tetap tajam, menunggu. Danu akhirnya menghela napas pendek. "Baiklah, aku memang tidak datang hanya untuk menengokmu." Ia berhenti sejenak, memastikan perhatian Nathan sepenuhnya tertuju padanya. "Aku datang karena ada sesuatu yang perlu kita bicarakan… sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan!" Alis Nathan sedikit berkerut, namun ekspresinya tetap dingin. Danu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Sikap sant
Pintu lift terbuka dengan bunyi pelan. Vira segera melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Perutnya yang sejak tadi keroncongan membuatnya tak lagi memikirkan hal lain selain mencari sesuatu untuk dimakan.Sejak pagi ia bahkan belum sempat menyentuh makanan dengan benar. Pekerjaan yang menumpuk ditambah kejadian bersama Nathan barusan membuat tubuhnya terasa semakin lelah.Ia berjalan cepat melewati lobi gedung kantor.Namun karena terlalu terburu-buru, Vira tidak menyadari seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.Bruk!Tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras.Vira terkejut hingga hampir kehilangan keseimbangan, namun orang itu dengan sigap menahan lengannya agar tidak jatuh."Maaf! Maaf, saya tidak sengaja!" ucap Vira panik. Ia langsung menundukkan kepala dengan rasa bersalah sebelum akhirnya mengangkat wajahnya.Seorang pria berdiri di hadapannya.Usianya tampak sekitar awal tiga puluhan. Penampilannya rapi dengan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya. Sorot matanya taja
Kemarahan masih menyala di dada Nathan. Setiap kata ayahnya terasa seperti duri yang menusuk semakin dalam. Ia menatap meja yang baru saja ia gebrak, rahangnya menegang, seluruh tubuhnya bergetar menahan ledakan emosi."Cukup! Aku tidak ingin mendengar apapun lagi!" teriak Nathan, suaranya memecah keheningan ruangan yang tegang.Nathan menundukkan wajahnya. Napasnya masih tersengal, sementara matanya menyimpan kobaran emosi yang sulit dipadamkan. Setiap kata ayahnya tentang ibu kandungnya menusuk hatinya lebih dalam daripada apa pun yang pernah ia rasakan. Ada rasa rindu dan sakit yang bercampur menjadi satu, rindu akan sosok yang melahirkannya, namun benci pada kenyataan bahwa ia meninggalkannya begitu saja.Bram menatap Nathan dengan tatapan tajam, "Sekarang kau tahu, kan? Sarah jauh lebih baik daripada ibumu itu!"Ia menekan ucapannya dengan nada dingin."Minggu depan kau harus datang ke acara ulang tahun pernikahan Papa dan Sarah. Tidak ada alasan dan jangan menolak!" ucap Bram te







