홈 / Romansa / Pemuas Nafsu Sang CEO / Bab 34 Tamparan Harga Diri

공유

Bab 34 Tamparan Harga Diri

작가: Lia Safitri
last update 게시일: 2025-09-19 11:40:50

Langkah Nathan dan Vira langsung terhenti. Nathan menoleh perlahan, rahangnya mengeras saat melihat Andi masih berdiri di tempat yang sama.

"Kau masih belum tahu diri rupanya," ucap Nathan pelan, namun penuh penekanan.

Andi maju selangkah, sorot matanya liar.

"Kau tidak bisa membawanya pergi begitu saja!" seru Andi.

"Aku belum selesai berurusan dengannya!"

Nathan mendorong Vira perlahan ke belakang tubuhnya, seolah menjadi tameng. Tatapannya tajam menantang.

"Kau sudah selesai sejak kau memi
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Pemuas Nafsu Sang CEO    Bab 47 Gadis dalam Foto

    Jari-jari Vira seketika berhenti di atas papan ketik. Ia menoleh cepat, menatap Nathan dengan wajah tak percaya."Cemburu? Sama siapa, Pak?"Nathan mengangkat sebelah alisnya. "Denganku, mungkin."Vira mendengus pelan. "Jangan terlalu percaya diri, Pak. Saya tidak punya alasan untuk cemburu!"Nathan hanya tersenyum tipis. Ia kemudian melangkah mendekat hingga berdiri di hadapan Vira. Dengan lembut, ia mengangkat dagu perempuan itu agar tatapan mereka bertemu."Kalau memang tidak cemburu, kenapa sejak tadi kamu bersikap ketus padaku?" tanyanya pelan.Nathan perlahan mendekatkan wajahnya. Vira sempat terpaku, tetapi ketika jarak di antara mereka semakin menipis, bayangan Clarissa beserta peringatannya kembali terlintas di benak Vira. Ia pun segera memalingkan wajahnya. Nathan menghentikan gerakannya, lalu mengernyit. "Kenapa?"Vira melepaskan diri dari sentuhannya, lalu menatap pria itu dengan ragu."Bukankah

  • Pemuas Nafsu Sang CEO    Bab 46 Antara Kesal dan Cemburu

    Vira menghempaskan tubuhnya di atas kursi begitu tiba di ruang kerja lamanya. Wajahnya tampak kesal saat mengingat bagaimana Nathan menyuruhnya keluar hanya karena ingin berbicara berdua dengan Clarissa."Apa maksudnya menyuruhku keluar begitu saja?" gumamnya.Vira menyilangkan tangan di depan dada. Entah mengapa, sikap Nathan tadi membuat suasana hatinya memburuk.Apa Nathan sengaja mengusirnya agar dia bisa lebih leluasa melepas rindu dengan perempuan itu?Pikiran itu membuat Vira mendengus pelan. Ia segera menggelengkan kepala, berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba muncul."Bodoh! Kenapa juga aku harus peduli?" gerutunya.Bagaimanapun, hubungan mereka hanya sebatas perjanjian. Nathan bebas melakukan apa pun dengan tunangannya, dan Vira tidak punya hak untuk ikut campur.Namun, semakin ia berusaha menyakinkan dirinya sendiri, semakin sulit pula mengabaikan rasa kesal yang telanjur mengusik hatinya.---

  • Pemuas Nafsu Sang CEO    Bab 45 Peringatan dari Sang Tunangan

    Pagi itu, Vira sibuk dengan beberapa dokumen di meja kerjanya. Sesekali, ia melirik Nathan yang tengah membaca berkas di hadapannya. "Vira, siapkan dokumen kerja sama dengan PT Mahardika. Siang ini aku ada janji bertemu dengan mereka," ujar Nathan tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya."Baik, Pak. Apakah saya perlu ikut mendampingi Bapak?""Tidak perlu. Aku hanya ingin membahas beberapa hal. Kau tetap di kantor dan selesaikan laporan kemarin.""Baik, Pak."Vira segera menyiapkan dokumen yang diminta. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia menyerahkannya kepada Nathan sebelum pria itu berangkat menemui kliennya. Menjelang siang, Nathan meninggalkan kantor seorang diri. Vira pun bisa bekerja lebih leluasa tanpa harus merasa gugup setiap kali pria itu berada di dekatnya.Ia kembali fokus menyelesaikan laporan yang masih tertunda. Sesekali, matanya melirik jam tangan, berharap pekerjaannya selesai sebelum waktu

  • Pemuas Nafsu Sang CEO    Bab 44 Jangan Sampai Ibu Tahu

    Setibanya di apartemen, Vira langsung masuk ke dalam kamar untuk meletakkan barang-barang yang dibelinya bersama Nathan.Sementara itu, Nathan masih berada di ruang tengah. Entah mengapa, pikirannya terus tertuju pada Vira. Ia teringat bagaimana wanita itu terlihat begitu cantik saat mengenakan gaun pilihannya tadi.Nathan menghela napas pelan, lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar menyusul Vira. Dari balik pintu kamar mandi, terdengar suara air mengalir. Nathan berhenti sejenak, tetapi alih-alih kembali ke ruang tengah, ia justru membuka pintunya."Pak Nathan?!"Vira sontak terkejut saat melihat atasannya itu masuk. Ia segera meraih handuk untuk menutupi lekuk tubuhnya."Kenapa Anda masuk begitu saja? Saya sedang mandi!"Nathan menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah mendekat."Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa Anda—"Vira menghentikan ucapannya saat Nathan mendekat. Tatapan pria

  • Pemuas Nafsu Sang CEO    Bab 43 Gaun Mahal untuk Sang Asisten

    Nathan menghentikan laju mobilnya di depan sebuah butik mewah yang cukup terkenal di pusat kota.Bangunannya tampak elegan dengan kaca-kaca besar yang memperlihatkan berbagai koleksi pakaian di dalamnya. Butik itu dikenal memiliki koleksi eksklusif yang dirancang oleh para desainer ternama.Vira menatap ke luar jendela dengan bingung."Pak, kenapa Anda berhenti di sini? Untuk apa kita kemari?"Nathan melepaskan sabuk pengamannya tanpa banyak bicara."Turun saja dan ikut aku!"Vira mengernyit bingung."Ha? Tapi—""Vira," Nada Nathan membuatnya mengurungkan pertanyaan.Dengan wajah masih penuh tanda tanya, Vira akhirnya turun dan mengikuti atasannya itu. Ia membiarkan Nathan berjalan di depan, sementara dirinya mengekor beberapa langkah di belakang. Nathan yang menyadarinya tiba-tiba berhenti."Brugh!"Vira yang berjalan sambil menunduk langsung menabrak punggung pria itu.

  • Pemuas Nafsu Sang CEO    Bab 42 Ancaman dari Saudara Tiri

    Nathan mengetukkan ujung jarinya di atas meja, berusaha menenangkan gejolak yang berputar di dadanya. "Cukup basa-basinya," ucapnya dingin. "Katakan saja apa maksud dan tujuanmu datang ke sini?" Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar di sela ketegangan yang menggantung. Danu tidak langsung menjawab. Ia justru menyandarkan tubuhnya lebih santai, seolah menikmati suasana yang jelas tidak nyaman bagi Nathan. "Kamu masih sama seperti dulu," gumamnya pelan. "Selalu ingin langsung ke inti." Nathan tidak merespons. Tatapannya tetap tajam, menunggu. Danu akhirnya menghela napas pendek. "Baiklah, aku memang tidak datang hanya untuk menengokmu." Ia berhenti sejenak, memastikan perhatian Nathan sepenuhnya tertuju padanya. "Aku datang karena ada sesuatu yang perlu kita bicarakan… sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan!" Alis Nathan sedikit berkerut, namun ekspresinya tetap dingin. Danu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Sikap sant

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status