Share

Bab 3

Author: Gracey
Ya, selama dia memasang ekspresi seperti itu, yang salah pasti aku. Namun sekarang, aku hanya menunduk, mencari surat perjanjian perceraian.

Pada akhirnya tetap tidak ketemu, kemungkinan besar tertinggal di restoran.

"Kamu cari apa lagi?" Hector sedikit memiringkan badan, mendekat ke arahku.

Aku menggumamkan "hmm", tetapi tidak menjelaskan lebih jauh. Aku tidak suka dia terlalu dekat.

Setelah itu, aku tidak masuk ke kamar utama, langsung tidur di kamar tamu. Malam itu, aku tidur dengan sangat nyenyak.

Mempertimbangkan dua hari ini frekuensiku bertemu Hector agak terlalu sering, aku ingin mengubah isi surat perjanjian perceraian itu.

Aku duduk di meja kerja dan sedang memikirkannya. Tiba-tiba, Hector menelepon, memintaku ke kantornya untuk menyerahkan beberapa berkas.

Setelah kupikir-pikir, ada baiknya aku tidak dulu membicarakan tentang perceraian itu sekarang. Bagaimanapun, Hector sangat membenci membahas urusan pribadi di kantornya, terutama kalau itu ada kaitannya denganku.

Namun, setelah membuka pintu kantornya, aku tidak menyangka akan bertemu Raelyn di dalam sana. Gadis itu adalah putri seorang klien, sekaligus seorang streamer yang cukup terkenal. Sekarang dia sedang duduk di kursi kerja Hector, menghadap cermin sambil berdandan.

"Kak Lorraine, kamu datang." Tatapan Raelyn padaku mengandung sedikit provokasi.

Aku memberinya senyuman ramah. Wanita murahan cocok dengan pria berengsek. Semoga mereka langgeng selamanya. Toh dia dan Hector memang serasi.

Aku meletakkan berkas, baru hendak pergi, tetapi Hector memanggilku. "Lorraine, ambilkan obatku."

Aku melirik Raelyn dan langsung mengerti. Hector dibesarkan di keluarga terpandang. Tubuhnya sangat sensitif, gampang terkena alergi, bahkan terhadap beberapa produk kosmetik.

Karena itu, setelah menikah aku selalu berdandan tipis. Sesekali membeli kosmetik baru pun, aku akan dimarahi habis-habisan olehnya, "Apa aku masih suamimu di hatimu?"

Lama-kelamaan, aku sudah tidak lagi membawa kosmetik dan membawa obat anti-alergi Hector pun sudah menjadi kebiasaanku. Soal penampilan, sebenarnya wajahku cukup cantik, jadi tidak berdandan pun tidak menjadi masalah.

"Nggak bawa." Mulutku berkata begitu, sementara mataku menatap kosmetik Raelyn.

Bukan karena ingin menirunya, hanya saja kosmetik-kosmetik itu bisa memicu alergi Hector. Setelah bercerai, seharusnya aku bisa memakainya dengan bebas.

Di mata Hector muncul sedikit kegelisahan dan ketidakpercayaan. "Mana mungkin nggak bawa? Kamu 'kan tahu kondisi tubuhku ...."

Raelyn menimpali dengan nada manja, "Kak Lorraine, nggak boleh begitu dong. Gimana bisa kamu mengabaikan kesehatan Kak Hector?"

Hector terdiam, mungkin merasa tak bisa terlalu menyalahkanku. Bagaimanapun, aku hanya lupa membawa obat. Yang benar-benar membuatnya alergi bukan aku.

"Kalau begitu, aku antar kamu pulang ambil obat." Begitu ucapan itu keluar, Hector sendiri tampak canggung. Yang butuh minum obat adalah dia. Mengantarku pulang jelas tidak perlu.

"Kamu pulang sendiri saja. Aku sudah ada janji siang ini."

Aku memang ada janji. Pengacara di meja sebelah adalah orang kedua di firma ini setelah Hector, yang paling jago menangani kasus perceraian. Karena ingin mengubah surat perjanjian perceraian, tentu aku harus meminta pendapatnya. Masa aku meminta Hector membantuku mengoreksinya?

Aku janjian dengan Caleb di restoran di sebelah kantor. Sambil makan, aku bertanya padanya tentang detail-detail perjanjian.

"Kamu benar-benar ingin cerai?" Caleb menatapku dengan rasa iba.

Dia tidak tahu hubunganku dengan Hector. Seharusnya seluruh firma memang tidak tahu. Bagaimanapun, Hector paling benci urusan pribadi dibawa ke tempat kerja.

"Ya. Suamiku selingkuh. Tapi nggak apa-apa, aku juga ingin cerai."

Aku sedang berbicara ketika melihat Hector dan Raelyn masuk sambil bergandengan tangan. Begitu melihatku, Hector refleks melepaskan tangan Raelyn.

Aku tersenyum sopan ke arah mereka berdua, lalu memanggil pelayan untuk memindahkan tempat dudukku dan Caleb ke ruang luar yang terkena sinar matahari.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 10

    Pernikahanku dengannya sejak awal memang tidak pernah penuh gairah. Semuanya berjalan begitu saja mengikuti arus. Ketika sampai di ujung jalan, tentu seharusnya berpisah dengan baik-baik.Hector tahu bahwa dia telah mengabaikanku. Dia seorang pengacara. Dunianya hitam putih. Segala sesuatu harus punya sebab yang terencana.Ketidaktahuannya di masa lalu hanyalah kebohongan yang dia ceritakan pada dirinya sendiri. Setelah aku membongkarnya, dia pun tidak bisa lagi menutup mata terhadap keburukannya sendiri.Begini justru lebih baik. Kalau dia masih bersikeras terus mengikatku, menurutku itu malah terasa palsu. Dia bukan orang seperti itu. Aku pun bukan."Kamu juga nggak perlu setiap hari ke sini. Aku akan berdandan, kamu nggak akan tahan."Namun, Hector tetap saja memperlakukanku dengan penuh perhatian. Ini di luar dugaanku. Selama aku menangani kasus Raelyn, itulah masa ketika Hector paling perhatian padaku sepanjang lima tahun pernikahan kami. Untuk sesaat aku bahkan tidak tahu, apakah

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 9

    Hector tidak menghiraukannya dan hanya menatapku.Sebenarnya dia tidak sepenuhnya yakin. Sejak aku menyerahkan surat pengunduran diri itu, dia sudah kehilangan kendali atasku. Dia tahu hal itu. Hanya saja, dia tidak mau memercayainya.Dia selalu mengatakan agar aku tidak membawa urusan pribadi ke tempat kerja, padahal justru dialah orang yang paling sering bertindak emosional. Dia selalu menggunakan pelampiasan emosi semacam ini untuk memaksaku tunduk. Dia tahu, selama dia bersikap cukup keras, aku pasti akan mengalah.Bertahun-tahun ini, aku memang selalu begitu. Kali ini pun seharusnya bisa.Aku menatapnya, menarik napas dalam-dalam. "Bisa saja."Aku merasakan Fabian yang berada di sampingku seketika memancarkan hawa dingin. "Lorraine.""Asalkan kamu tandatangani surat perjanjian perceraian itu, aku akan menuruti permintaanmu."Hector mendadak berdiri, menatapku dengan wajah tak percaya. Baru saat itulah dia menyadari bahwa perceraian dan pengunduran diriku sama sekali bukan lelucon.

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 8

    Pada akhirnya, dia hanya bisa memberi perintah seperti mengeluarkan titah."Aku nggak peduli. Keluarga Raelyn sedang kena masalah, orang di firma hukum kurang. Pokoknya kamu harus kembali."Pantas saja Hector tiba-tiba teringat padaku. Pada akhirnya, semuanya demi pacar kesayangannya itu.Setelah menyampaikan itu, dia langsung menutup telepon, tanpa sedikit pun rasa enggan. Aku memegang ponsel, hanya merasa bingung. Apa hubungannya urusan Raelyn denganku?Dia tidak mungkin mengira dengan bersikap seolah-olah kewalahan dan menjual rasa kasihan, aku akan menanggapinya, 'kan?Aku melempar ponsel ke samping, lalu menjelaskan kepada Fabian, "Nggak usah dihiraukan. Sekarang aku sudah sepenuhnya milik firma hukum kita. Pesan dari mantan anggap saja angin lalu."Setelah berkata begitu, aku menarik satu berkas dan mulai mengerjakannya.Namun, Fabian justru mengambil berkas itu dari tanganku. "Pergi saja. Kenapa harus menolak?"Ketika duduk di kereta cepat untuk kembali, aku tetap tidak mengerti

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 7

    Aku curiga Fabian hanya ingin memanggilku ke sana untuk mentertawakanku habis-habisan. Aku sudah menyiapkan mental, berulang kali menyusun skenario dalam hati tentang bagaimana menghadapi rangkaian sindiran tajam Fabian.Namun, yang mengejutkanku, saat wawancara aku sama sekali tidak bertemu Fabian. Orang yang mewawancariku adalah murid Fabian. Dia bilang Fabian sedang dinas luar kota selama seminggu ini,tetapi secara khusus berpesan agar dia lebih memperhatikanku, melihat apakah kemampuan kerjaku dalam beberapa tahun ini ada peningkatan.Proses wawancara berjalan dengan sangat lancar. Setelah murid itu berkomunikasi jarak jauh dengan Fabian, gajiku pun ditetapkan.Aku tidak bisa bilang hal ini tak terduga. Ini benar-benar seperti durian runtuh. Mungkin Fabian hanya ingin menampungku untuk membuat Hector jengkel? Apa motifnya yang sebenarnya, aku pun tidak tahu. Bagaimanapun, menunggu dia kembali juga masih satu minggu lagi.Selama minggu pertamaku masuk perusahaan, rekan-rekan kerja

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 6

    Ekspresi seperti ini cukup jarang terlihat di wajah dingin Hector yang sepuluh tahun tak berubah seperti gunung es. Pada detik berikutnya, dia menunjukku dan berkata bahwa karena aku tidak ingin bekerja, aku harus segera angkat kaki dari firma hukum saat itu juga.Aku memang menunggu kata-kata itu. Dengan senyuman lebar, aku mengiakan, lalu berbalik dan keluar untuk membereskan meja kerjaku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sangat lega.Saat membereskan barang, orang-orang di sekitarku tidak ada yang berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku dibawa masuk oleh Hector. Di firma ini, semua orang memandangku sebagai muridnya. Karena itu, sikapnya yang paling keras padaku pun seolah-olah dianggap wajar oleh semua orang.Ketika aku membuat keributan sebesar itu di kantornya, tak seorang pun berani menanyakan alasannya. Hanya Caleb yang menunduk, tampak serius menangani dokumen. Padahal sebenarnya di jendela obrolan denganku, jari-jarinya sudah mengetik sampai hamp

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 5

    "Apa maksudmu?" Hector duduk berhadapan denganku, mengerutkan alis. Wajahnya penuh kebingungan."Ngambek sebentar sudah cukup. Kalau kebanyakan jadi nggak ada artinya. Kamu sudah bukan gadis kecil yang bagaimanapun ulahnya tetap terlihat manis."Tentu saja aku bukan. Kalau bukan karena saat ini dia masih menyisakan sedikit rasa bersalah saat menghadapiku, dia bahkan tidak akan meluangkan kesabaran sekecil ini untukku. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya menunggu hanyalah Raelyn."Tenang saja, aku juga nggak punya niat untuk bertengkar denganmu." Aku kembali mendorong surat perjanjian perceraian itu ke depannya.Dengan ragu, dia membuka dan membaca surat perjanjian itu. Ekspresinya perlahan menjadi serius.Aku agak tidak mengerti. Seharusnya dia sangat paham bahwa syarat-syarat yang kutawarkan sepenuhnya menguntungkannya, tanpa satu pun kerugian. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya ragu.Dia bahkan membanting perjanjian itu dengan marah ke hadapanku. "Sudah kubilang berkali-kali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status