Share

Bab 4

Author: Gracey
Sinar matahari terasa hangat. Yang lebih baik lagi, aku tidak mengganggu mereka.

Aku masih ingat dua bulan lalu, Hector menemani Raelyn berbelanja, sementara aku sedang memilihkan hadiah ulang tahun untuknya.

Di mal yang sama, kami bertemu tanpa sengaja. Aku panik sampai tidak tahu harus berbuat apa, tetapi Raelyn justru tenang dan anggun, hanya Hector yang langsung murka.

Di depan umum dia memarahiku, menuduhku menguntitnya, dan mengganggu urusannya dengan klien. Pada akhirnya, aku berjongkok di depan pintu mal dan menangis seharian penuh.

Jadi kali ini, aku memilih menjauh dari mereka.

Perjanjian perceraian disusun dengan cepat. Caleb masih ada urusan mendesak, jadi setelah mengingatkanku beberapa detail klausul terakhir, dia pun pergi.

Aku menghadap matahari sambil minum kopi, bersenandung kecil, dan mengedit sisa klausul.

"Lorraine, aku antar kamu kembali ke firma ya?" Hector berdiri di depan meja. Ada sedikit senyuman di wajahnya. Anehnya, Raelyn tidak ada di sampingnya.

Aku meliriknya sekilas, mengerucutkan bibir. "Kamu dan pacar kecilmu mainnya cukup heboh."

Di kerah jasnya, ada bekas lipstik yang mencolok. Hector menunduk melihatnya. Dia agak panik dan buru-buru mengusapnya dengan tangan. "Tadi waktu bayar, dia sempat menyentuhku sebentar, mungkin nggak sengaja ...."

Jawabannya hati-hati, tetapi aku tidak terlalu peduli.

"Aku antar kamu ke firma ya?" Hector bertanya lagi.

Aku menatap layar laptop. Surat perjanjian perceraian hampir selesai direvisi. Aku mengangguk, lalu berkata dengan agak sungkan, "Maaf, sebentar lagi aku selesai. Tunggu sebentar."

Dia tampak senang, lalu menjulurkan leher dan melirik layar. "Ini apa?"

Sambil mengetik, aku menjawabnya dengan santai, "Surat perjanjian perceraian. Lagi direvisi."

Adegan ini terasa agak asing bagiku. Dulu selama Hector mau mengantarku, aku tidak pernah berani membuatnya menunggu, sekalipun ada urusan yang sangat mendesak. Kalau tidak, wajahnya langsung dipenuhi amarah.

Ini pertama kalinya aku membuatnya menungguku.

Begitu mendengar kata "surat perjanjian perceraian", raut wajah Hector berubah sedikit. Aku agak bingung saat mengedit, jadi bertanya padanya, "Klausulnya harus ditulis gimana supaya setelah cerai, kedua belah pihak nggak boleh saling mengganggu?"

"Hah? Apa?" Hector, pengacara besar yang terkenal secara nasional, malah tersendat di bidang profesionalnya sendiri. Dia bahkan mengalihkan topik. "Kamu pengacara pidana, kenapa selalu tertarik dengan perjanjian perceraian?"

Aku baru hendak berbicara terus terang, tetapi ponsel Hector tiba-tiba berdering. Panggilan dari Raelyn.

Saat dia mengangkat telepon, aku juga tidak diam. Setelah menyimpan draf surat perjanjian perceraian yang sudah direvisi, aku masuk dan meminjam printer dari pemilik restoran. Setelah melihat surat perjanjian perceraian selesai dicetak,, aku mengambilnya dan merasa cukup senang.

Hector masih di luar pintu. Dia menelepon dan berjalan mondar-mandir dengan agak tidak sabar. Sesekali, dia menoleh ke dalam lewat kaca.

"Maaf membuatmu lama menunggu," ucapku pada Hector dengan nada meminta maaf.

Memang cukup lama. Printer-nya tidak terlalu bagus. Aku mengutak-atiknya belasan menit. Ini mungkin adalah waktu terlama Hector menungguku dalam beberapa tahun terakhir.

Dia buru-buru menutup telepon dan berkata, "Nggak apa-apa."

Aku sangat puas dengan percakapan yang agak formal dan berjarak seperti ini. Setelah bercerai pun harus tetap begitu. Tidak, lebih baik sama sekali tidak berhubungan sampai tua dan mati.

Kelak, jika saat itu tiba, aku akan mengundurkan diri dan pindah ke firma hukum lain. Kalau bisa, sekalian pindah kota.

Memikirkan itu, senyuman pun muncul di wajahku. Hector melihat senyumanku yang cerah dan mengira mungkin suasana hatiku sudah membaik. Dia ikut tersenyum dengan agak canggung.

Aku meletakkan surat perjanjian perceraian di atas meja, lalu berkata pelan, "Daripada menunggu hari lain, gimana kalau hari ini saja kita tandatangani surat perjanjian ini? Tenang, klausul pembagian harta sangat menguntungkan buatmu."

Senyuman di wajah Hector ... tiba-tiba menghilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 10

    Pernikahanku dengannya sejak awal memang tidak pernah penuh gairah. Semuanya berjalan begitu saja mengikuti arus. Ketika sampai di ujung jalan, tentu seharusnya berpisah dengan baik-baik.Hector tahu bahwa dia telah mengabaikanku. Dia seorang pengacara. Dunianya hitam putih. Segala sesuatu harus punya sebab yang terencana.Ketidaktahuannya di masa lalu hanyalah kebohongan yang dia ceritakan pada dirinya sendiri. Setelah aku membongkarnya, dia pun tidak bisa lagi menutup mata terhadap keburukannya sendiri.Begini justru lebih baik. Kalau dia masih bersikeras terus mengikatku, menurutku itu malah terasa palsu. Dia bukan orang seperti itu. Aku pun bukan."Kamu juga nggak perlu setiap hari ke sini. Aku akan berdandan, kamu nggak akan tahan."Namun, Hector tetap saja memperlakukanku dengan penuh perhatian. Ini di luar dugaanku. Selama aku menangani kasus Raelyn, itulah masa ketika Hector paling perhatian padaku sepanjang lima tahun pernikahan kami. Untuk sesaat aku bahkan tidak tahu, apakah

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 9

    Hector tidak menghiraukannya dan hanya menatapku.Sebenarnya dia tidak sepenuhnya yakin. Sejak aku menyerahkan surat pengunduran diri itu, dia sudah kehilangan kendali atasku. Dia tahu hal itu. Hanya saja, dia tidak mau memercayainya.Dia selalu mengatakan agar aku tidak membawa urusan pribadi ke tempat kerja, padahal justru dialah orang yang paling sering bertindak emosional. Dia selalu menggunakan pelampiasan emosi semacam ini untuk memaksaku tunduk. Dia tahu, selama dia bersikap cukup keras, aku pasti akan mengalah.Bertahun-tahun ini, aku memang selalu begitu. Kali ini pun seharusnya bisa.Aku menatapnya, menarik napas dalam-dalam. "Bisa saja."Aku merasakan Fabian yang berada di sampingku seketika memancarkan hawa dingin. "Lorraine.""Asalkan kamu tandatangani surat perjanjian perceraian itu, aku akan menuruti permintaanmu."Hector mendadak berdiri, menatapku dengan wajah tak percaya. Baru saat itulah dia menyadari bahwa perceraian dan pengunduran diriku sama sekali bukan lelucon.

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 8

    Pada akhirnya, dia hanya bisa memberi perintah seperti mengeluarkan titah."Aku nggak peduli. Keluarga Raelyn sedang kena masalah, orang di firma hukum kurang. Pokoknya kamu harus kembali."Pantas saja Hector tiba-tiba teringat padaku. Pada akhirnya, semuanya demi pacar kesayangannya itu.Setelah menyampaikan itu, dia langsung menutup telepon, tanpa sedikit pun rasa enggan. Aku memegang ponsel, hanya merasa bingung. Apa hubungannya urusan Raelyn denganku?Dia tidak mungkin mengira dengan bersikap seolah-olah kewalahan dan menjual rasa kasihan, aku akan menanggapinya, 'kan?Aku melempar ponsel ke samping, lalu menjelaskan kepada Fabian, "Nggak usah dihiraukan. Sekarang aku sudah sepenuhnya milik firma hukum kita. Pesan dari mantan anggap saja angin lalu."Setelah berkata begitu, aku menarik satu berkas dan mulai mengerjakannya.Namun, Fabian justru mengambil berkas itu dari tanganku. "Pergi saja. Kenapa harus menolak?"Ketika duduk di kereta cepat untuk kembali, aku tetap tidak mengerti

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 7

    Aku curiga Fabian hanya ingin memanggilku ke sana untuk mentertawakanku habis-habisan. Aku sudah menyiapkan mental, berulang kali menyusun skenario dalam hati tentang bagaimana menghadapi rangkaian sindiran tajam Fabian.Namun, yang mengejutkanku, saat wawancara aku sama sekali tidak bertemu Fabian. Orang yang mewawancariku adalah murid Fabian. Dia bilang Fabian sedang dinas luar kota selama seminggu ini,tetapi secara khusus berpesan agar dia lebih memperhatikanku, melihat apakah kemampuan kerjaku dalam beberapa tahun ini ada peningkatan.Proses wawancara berjalan dengan sangat lancar. Setelah murid itu berkomunikasi jarak jauh dengan Fabian, gajiku pun ditetapkan.Aku tidak bisa bilang hal ini tak terduga. Ini benar-benar seperti durian runtuh. Mungkin Fabian hanya ingin menampungku untuk membuat Hector jengkel? Apa motifnya yang sebenarnya, aku pun tidak tahu. Bagaimanapun, menunggu dia kembali juga masih satu minggu lagi.Selama minggu pertamaku masuk perusahaan, rekan-rekan kerja

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 6

    Ekspresi seperti ini cukup jarang terlihat di wajah dingin Hector yang sepuluh tahun tak berubah seperti gunung es. Pada detik berikutnya, dia menunjukku dan berkata bahwa karena aku tidak ingin bekerja, aku harus segera angkat kaki dari firma hukum saat itu juga.Aku memang menunggu kata-kata itu. Dengan senyuman lebar, aku mengiakan, lalu berbalik dan keluar untuk membereskan meja kerjaku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sangat lega.Saat membereskan barang, orang-orang di sekitarku tidak ada yang berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku dibawa masuk oleh Hector. Di firma ini, semua orang memandangku sebagai muridnya. Karena itu, sikapnya yang paling keras padaku pun seolah-olah dianggap wajar oleh semua orang.Ketika aku membuat keributan sebesar itu di kantornya, tak seorang pun berani menanyakan alasannya. Hanya Caleb yang menunduk, tampak serius menangani dokumen. Padahal sebenarnya di jendela obrolan denganku, jari-jarinya sudah mengetik sampai hamp

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 5

    "Apa maksudmu?" Hector duduk berhadapan denganku, mengerutkan alis. Wajahnya penuh kebingungan."Ngambek sebentar sudah cukup. Kalau kebanyakan jadi nggak ada artinya. Kamu sudah bukan gadis kecil yang bagaimanapun ulahnya tetap terlihat manis."Tentu saja aku bukan. Kalau bukan karena saat ini dia masih menyisakan sedikit rasa bersalah saat menghadapiku, dia bahkan tidak akan meluangkan kesabaran sekecil ini untukku. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya menunggu hanyalah Raelyn."Tenang saja, aku juga nggak punya niat untuk bertengkar denganmu." Aku kembali mendorong surat perjanjian perceraian itu ke depannya.Dengan ragu, dia membuka dan membaca surat perjanjian itu. Ekspresinya perlahan menjadi serius.Aku agak tidak mengerti. Seharusnya dia sangat paham bahwa syarat-syarat yang kutawarkan sepenuhnya menguntungkannya, tanpa satu pun kerugian. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya ragu.Dia bahkan membanting perjanjian itu dengan marah ke hadapanku. "Sudah kubilang berkali-kali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status