Share

Bab 2

Author: Gracey
Dia menatapku dalam-dalam untuk sesaat, lalu tidak berkata apa-apa lagi.

Menjelang jam pulang kerja, aku menerima pesan dari Hector berupa notifikasi reservasi sebuah restoran kelas atas. Aku tahu, itu adalah kompensasi yang ingin dia berikan padaku.

Aku merapikan surat perjanjian perceraian yang baru saja keluar dari printer, memasukkannya ke tas, lalu bersiap memenuhi janji. Saat keluar dari kantor, aku berpapasan dengan Raelyn.

Sebagai pacar Hector yang sudah terkenal seantero kota, Raelyn memang cantik. Di depan mataku, dia naik ke mobil Hector begitu saja.

Hector mengemudikan mobil dan pergi. Tak lama kemudian, dia mengirimiku pesan. Isinya tak lain hanya menyuruhku menunggunya di firma hukum.

Aku tidak menunggu dan pergi sendiri ke restoran. Di restoran, aku memesan banyak makanan dan minuman. Bebek panggang di tempat ini memang favoritku. Aku makan dua porsi sekaligus.

Dulu, aku selalu menunggu Hector datang dulu baru mulai makan. Lama-lama, dari lapar menjadi kenyang. Aku sudah terbiasa.

Hector tetap tidak datang pada akhirnya. Aku juga tidak marah. Lima tahun menunggunya, di hatinya tetap tidak ada aku. Selama surat perjanjian perceraian bisa ditandatangani, menunggu satu malam lagi tidak ada artinya.

Dia tidak tahu, surat perjanjian perceraian yang dia lihat itu ditulis untuk kami berdua.

Setelah makan, aku berkeliling pasar malam cukup lama. Saat kembali ke rumah, malam sudah sangat larut.

Lampu ruang tamu menyala. Hector ternyata sedang menungguku. Alasan aku bilang "ternyata" adalah karena selama lima tahun menikah, sering kali justru dia yang baru pulang tengah malam, sementara aku selalu membatalkan semua undangan dan janji dengan sahabat, menunggunya di rumah.

Aku takut dia minum terlalu banyak dan tak ada yang mengurusnya, juga takut dia pulang terlalu malam dan belum makan malam. Karena itu, obat pereda mabuk selalu tersedia, makanan hangat juga selalu siap.

Hector sangat tidak menyukai kebiasaanku ini. Katanya, aku seperti ibu rumah tangga yang sudah tua.

Aku menggeleng, tersadar dari kenangan itu.

Tatapan Hector agak dingin. Suaranya juga sama sekali tidak hangat. "Lorraine, kamu hampir nggak pulang semalaman lagi."

Aku menjawab, "Oh."

Mungkin di rumah ini, tidak pulang semalaman adalah hak istimewa miliknya. Untung sebentar lagi kami akan pisah rumah.

Hector menyipitkan mata, seolah-olah heran dengan reaksiku. "Kamu tahu nggak hari ini hari apa?"

Aku tertegun sejenak. Tanganku refleks meraba tas. Di dalamnya ada hadiah yang sebelumnya kusiapkan untuk Hector. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Tahun-tahun sebelumnya, aku selalu menghabiskan banyak usaha untuk itu. Namun, kali ini aku tidak mengeluarkan hadiahnya. Toh kami akan bercerai. Menjalani upacara yang semu seperti ini benar-benar tidak perlu.

Di mata Hector tampak sedikit kekesalan. Dia menyerahkan sebuah kotak hadiah padaku. "Sudah kusiapkan sebelumnya. Buka sendiri dan lihat."

Aku tidak terlalu terkejut. Bagaimanapun, setelah beberapa kali membatalkan janji, dia pasti harus memberiku kompensasi. Begitulah Hector. Setiap kali berbuat salah, dia selalu memberiku sedikit rasa manis setelahnya.

Sementara aku selalu menunggu dengan gelisah, berharap kompensasinya lebih banyak, paling tidak dia mau menemaniku lebih lama.

Aku menerima kotak hadiah itu, lalu melemparkannya dengan santai ke sofa.

"Kamu terlalu sungkan," kataku dengan sopan.

Tatapannya membeku, seolah-olah sama sekali tidak bisa memahami kesopananku. "Malam ini aku nggak datang karena Raelyn ada urusan mendesak ...."

Aku memotongnya, "Nggak apa-apa, nggak perlu dijelaskan. Aku ngerti."

Aku benar-benar mengerti, tetapi Hector justru kesal. "Jangan setiap hari cemburu buta. Kasus keluarga Raelyn itu yang aku tangani. Aku harus bertanggung jawab sampai selesai."

Aku menunduk membongkar tas, mencari surat perjanjian perceraian. Mulutku juga tidak berhenti. "Oh? Menangani kasus sampai ke konser? Penyelidikanmu memang sangat menyeluruh."

Alis Hector terangkat, wajahnya langsung meredup. Ini adalah hal yang tidak bisa dia jelaskan, jadi dia hanya bisa menatapku dengan wajah muram.

Kalau dulu, kemungkinan besar aku sudah ketakutan oleh ekspresi itu, lalu mulai gelisah, menangis tanpa henti, bahkan meminta maaf.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 10

    Pernikahanku dengannya sejak awal memang tidak pernah penuh gairah. Semuanya berjalan begitu saja mengikuti arus. Ketika sampai di ujung jalan, tentu seharusnya berpisah dengan baik-baik.Hector tahu bahwa dia telah mengabaikanku. Dia seorang pengacara. Dunianya hitam putih. Segala sesuatu harus punya sebab yang terencana.Ketidaktahuannya di masa lalu hanyalah kebohongan yang dia ceritakan pada dirinya sendiri. Setelah aku membongkarnya, dia pun tidak bisa lagi menutup mata terhadap keburukannya sendiri.Begini justru lebih baik. Kalau dia masih bersikeras terus mengikatku, menurutku itu malah terasa palsu. Dia bukan orang seperti itu. Aku pun bukan."Kamu juga nggak perlu setiap hari ke sini. Aku akan berdandan, kamu nggak akan tahan."Namun, Hector tetap saja memperlakukanku dengan penuh perhatian. Ini di luar dugaanku. Selama aku menangani kasus Raelyn, itulah masa ketika Hector paling perhatian padaku sepanjang lima tahun pernikahan kami. Untuk sesaat aku bahkan tidak tahu, apakah

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 9

    Hector tidak menghiraukannya dan hanya menatapku.Sebenarnya dia tidak sepenuhnya yakin. Sejak aku menyerahkan surat pengunduran diri itu, dia sudah kehilangan kendali atasku. Dia tahu hal itu. Hanya saja, dia tidak mau memercayainya.Dia selalu mengatakan agar aku tidak membawa urusan pribadi ke tempat kerja, padahal justru dialah orang yang paling sering bertindak emosional. Dia selalu menggunakan pelampiasan emosi semacam ini untuk memaksaku tunduk. Dia tahu, selama dia bersikap cukup keras, aku pasti akan mengalah.Bertahun-tahun ini, aku memang selalu begitu. Kali ini pun seharusnya bisa.Aku menatapnya, menarik napas dalam-dalam. "Bisa saja."Aku merasakan Fabian yang berada di sampingku seketika memancarkan hawa dingin. "Lorraine.""Asalkan kamu tandatangani surat perjanjian perceraian itu, aku akan menuruti permintaanmu."Hector mendadak berdiri, menatapku dengan wajah tak percaya. Baru saat itulah dia menyadari bahwa perceraian dan pengunduran diriku sama sekali bukan lelucon.

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 8

    Pada akhirnya, dia hanya bisa memberi perintah seperti mengeluarkan titah."Aku nggak peduli. Keluarga Raelyn sedang kena masalah, orang di firma hukum kurang. Pokoknya kamu harus kembali."Pantas saja Hector tiba-tiba teringat padaku. Pada akhirnya, semuanya demi pacar kesayangannya itu.Setelah menyampaikan itu, dia langsung menutup telepon, tanpa sedikit pun rasa enggan. Aku memegang ponsel, hanya merasa bingung. Apa hubungannya urusan Raelyn denganku?Dia tidak mungkin mengira dengan bersikap seolah-olah kewalahan dan menjual rasa kasihan, aku akan menanggapinya, 'kan?Aku melempar ponsel ke samping, lalu menjelaskan kepada Fabian, "Nggak usah dihiraukan. Sekarang aku sudah sepenuhnya milik firma hukum kita. Pesan dari mantan anggap saja angin lalu."Setelah berkata begitu, aku menarik satu berkas dan mulai mengerjakannya.Namun, Fabian justru mengambil berkas itu dari tanganku. "Pergi saja. Kenapa harus menolak?"Ketika duduk di kereta cepat untuk kembali, aku tetap tidak mengerti

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 7

    Aku curiga Fabian hanya ingin memanggilku ke sana untuk mentertawakanku habis-habisan. Aku sudah menyiapkan mental, berulang kali menyusun skenario dalam hati tentang bagaimana menghadapi rangkaian sindiran tajam Fabian.Namun, yang mengejutkanku, saat wawancara aku sama sekali tidak bertemu Fabian. Orang yang mewawancariku adalah murid Fabian. Dia bilang Fabian sedang dinas luar kota selama seminggu ini,tetapi secara khusus berpesan agar dia lebih memperhatikanku, melihat apakah kemampuan kerjaku dalam beberapa tahun ini ada peningkatan.Proses wawancara berjalan dengan sangat lancar. Setelah murid itu berkomunikasi jarak jauh dengan Fabian, gajiku pun ditetapkan.Aku tidak bisa bilang hal ini tak terduga. Ini benar-benar seperti durian runtuh. Mungkin Fabian hanya ingin menampungku untuk membuat Hector jengkel? Apa motifnya yang sebenarnya, aku pun tidak tahu. Bagaimanapun, menunggu dia kembali juga masih satu minggu lagi.Selama minggu pertamaku masuk perusahaan, rekan-rekan kerja

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 6

    Ekspresi seperti ini cukup jarang terlihat di wajah dingin Hector yang sepuluh tahun tak berubah seperti gunung es. Pada detik berikutnya, dia menunjukku dan berkata bahwa karena aku tidak ingin bekerja, aku harus segera angkat kaki dari firma hukum saat itu juga.Aku memang menunggu kata-kata itu. Dengan senyuman lebar, aku mengiakan, lalu berbalik dan keluar untuk membereskan meja kerjaku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sangat lega.Saat membereskan barang, orang-orang di sekitarku tidak ada yang berani bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Aku dibawa masuk oleh Hector. Di firma ini, semua orang memandangku sebagai muridnya. Karena itu, sikapnya yang paling keras padaku pun seolah-olah dianggap wajar oleh semua orang.Ketika aku membuat keributan sebesar itu di kantornya, tak seorang pun berani menanyakan alasannya. Hanya Caleb yang menunduk, tampak serius menangani dokumen. Padahal sebenarnya di jendela obrolan denganku, jari-jarinya sudah mengetik sampai hamp

  • Penantian Sia-sia, Aku Bukan Orangnya   Bab 5

    "Apa maksudmu?" Hector duduk berhadapan denganku, mengerutkan alis. Wajahnya penuh kebingungan."Ngambek sebentar sudah cukup. Kalau kebanyakan jadi nggak ada artinya. Kamu sudah bukan gadis kecil yang bagaimanapun ulahnya tetap terlihat manis."Tentu saja aku bukan. Kalau bukan karena saat ini dia masih menyisakan sedikit rasa bersalah saat menghadapiku, dia bahkan tidak akan meluangkan kesabaran sekecil ini untukku. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya menunggu hanyalah Raelyn."Tenang saja, aku juga nggak punya niat untuk bertengkar denganmu." Aku kembali mendorong surat perjanjian perceraian itu ke depannya.Dengan ragu, dia membuka dan membaca surat perjanjian itu. Ekspresinya perlahan menjadi serius.Aku agak tidak mengerti. Seharusnya dia sangat paham bahwa syarat-syarat yang kutawarkan sepenuhnya menguntungkannya, tanpa satu pun kerugian. Aku tidak mengerti apa yang membuatnya ragu.Dia bahkan membanting perjanjian itu dengan marah ke hadapanku. "Sudah kubilang berkali-kali,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status