Share

Bab 4

Penulis: Yuranda
Teresa berdiri tidak jauh dari sana. Dia mendengarkan semuanya dalam diam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Felly melangkah mendekat dengan wajah penuh kemenangan sambil menatap Teresa dengan sorot mata meremehkan. "Jamuan yang kamu siapkan cukup bagus, tapi tetap ada sedikit masalah. Di aula nggak ada karpet, gaunku jadi kotor. Sebagai ganti atas kelalaian ini, kamu bantu aku angkat ujung gaunku."

Teresa menundukkan kepala, suaranya tenang dan tidak merendahkan diri. "Silakan tunggu sebentar. Di belakang masih ada karpet, saya akan segera minta orang untuk memasangnya."

Melihat dia masih berani menolak, wajah Felly langsung menggelap. Kebetulan Alex masuk. Melihat Felly tampak tidak senang, dia segera menghampirinya. "Ada apa?"

"Alex, aku nggak ingin gaunku kotor, jadi aku minta sekretarismu bantu aku mengangkat gaun, tapi dia nggak mau. Apa dia masih menyimpan dendam padaku gara-gara kejadian sebelumnya?"

Melihat ekspresi Felly yang seolah terluka, Alex segera memeluknya, lalu menatap Teresa dengan sorot mata dingin. "Cuma angkat gaun saja. Itu memang bagian dari tugasmu. Kamu juga bukan baru hari pertama jadi sekretaris. Masalah sekecil ini saja nggak bisa kamu tangani?"

Para tamu di sekitar pun ikut berkomentar dengan nada sinis.

"Cuma sekretaris saja berani bersikap sombong sama Nona Felly? Nggak tahu diri benar."

"Nasib orang memang beda. Nona besar memang terlahir untuk dimanjakan. Ada orang yang disuruh mengangkat gaun di pesta saja sudah harusnya bersyukur, jangan nggak tahu diri."

Mendengar ejekan-ejekan itu, sorot mata Teresa meredup. Dia menahan rasa malu dan perih di dadanya, lalu membungkuk untuk mengangkat ujung gaun itu.

Felly menarik Alex berkeliling naik turun tangga untuk sengaja menyiksanya.

Ujung gaun itu dihiasi banyak mutiara. Tangan Teresa sampai pegal dan mati rasa karena terus mengangkatnya, tetapi dia hanya bisa menahan diri.

Felly masih belum puas. Dia menyuruh orang menuangkan banyak gelas anggur, lalu mengaitkan jarinya ke arah Teresa.

"Hari ini aku nggak ingin minum alkohol, tapi teman-teman sudah datang jauh-jauh ke pesta ini, nggak enak kalau menolak. Kamu gantikan aku minum semua ini."

"Aku alergi alkohol ...."

"Alex, lihat dia!"

Teresa baru saja hendak menjelaskan, ketika Felly lebih dulu bersikap manja.

Alex sebenarnya tahu bahwa Teresa alergi alkohol, tetapi demi menyenangkan hati Felly, dia hanya bisa mengalah. "Kamu 'kan selalu bawa obat alergi. Minum obatnya dulu, lalu minum anggur. Seharusnya nggak akan terjadi apa-apa."

Nada bicaranya yang tidak memberi ruang penolakan membuat hati Teresa mencelos. Wajahnya makin pucat. Dalam diam, dia mengeluarkan obat dan menelan beberapa butir.

Tak lama kemudian, sekelompok orang datang untuk bersulang. Teresa pun mengangkat gelas dan menuangkan isinya ke tenggorokan.

Segelas demi segelas diminumnya. Perutnya terasa mual hingga tak tertahankan. Kepalanya terasa berat dan pusing. Pandangannya pun semakin kabur.

Di tengah rasa pusing, Teresa mendengar teriakan Felly, "Alex, kalung yang kamu hadiahkan padaku hilang! Tadi cuma sekretarismu ini yang mendekatiku. Pasti dia yang mencurinya!"

Mendengar tuduhan tanpa bukti itu, kesadaran Teresa sempat kembali sesaat. "Pak Alex, bukan aku."

Alex menatap mata Felly yang memerah, lalu melihat Teresa yang sudah mabuk berat. Wajahnya menjadi lebih serius. "Tadi ada banyak orang dan situasinya ramai. Bisa jadi cuma terjatuh. Kita cari dulu, ya?"

Namun, Felly tidak mau mengalah. Dia menepis tangan Alex dengan keras. "Kalau bukan dia, siapa lagi? Itu kalung pemberianmu, makanya aku panik. Kamu malah membelanya. Kalau kamu nggak mau menggeledahnya, jangan pernah mencariku lagi!"

Sambil berkata demikian, dia berbalik hendak pergi. Alex buru-buru memeluknya, lalu memanggil para pengawal dengan nada dingin. Detik berikutnya, beberapa pengawal langsung menekan Teresa ke lantai dan mulai merobek pakaiannya.

Kepala Teresa berdengung keras. Dia meronta sekuat tenaga, tetapi sama sekali tidak sanggup melawan kekuatan kasar mereka. Kemejanya tercabik menjadi sobekan kain, roknya pun robek. Kulitnya dicakar hingga lebam dan memerah, darah bercucuran di mana-mana.

Rasa hina yang tak tertahankan membanjiri dadanya, membuatnya menangis sambil berteriak meminta tolong. "Aku nggak mencurinya, benaran bukan aku!"

Namun, jeritannya hanya dibalas dengan perlakuan yang makin kasar. Beberapa pengawal sudah menarik pakaian dalamnya. Tinggal selangkah lagi akan mereka lepaskan.

Alex tak tega menatap pemandangan itu. Dia hendak menghentikannya, ketika beberapa pelayan berlari menghampiri. "Ketemu, kalungnya jatuh di tangga!"

Dalam sekejap, seluruh pandangan di aula tertuju pada kalung berlian yang berkilauan di tangan mereka. Kening Alex yang semula berkerut akhirnya sedikit mengendur. Dia mengibaskan tangan, memberi isyarat agar para pengawal mundur.

Lalu, dia mengambil kalung itu dan memasangkannya sendiri di leher Felly, nadanya pun melunak, "Kalungnya sudah ketemu. Jangan marah lagi, ya?"

Felly akhirnya tersenyum sambil menyeka air mata. Dia menatap Teresa yang tergeletak di lantai dalam keadaan sangat mengenaskan, lalu memeluk lengan Alex dan kembali bersikap manja.

"Untung saja ketemu. Kalau nggak, aku pasti sedih sekali. Tapi sekretarismu sudah menderita gara-gara masalah ini. Apa aku perlu minta maaf padanya?"

Dalam sekejap, seluruh perhatian di ruangan itu kembali tertuju pada Teresa yang pakaiannya berantakan. Menghadapi tatapan-tatapan yang penuh niat buruk itu, dia hanya bisa meringkuk dan memeluk tubuhnya sendiri sekuat tenaga.

Di tengah rasa sakit yang tak berujung, dia mendengar suara Alex yang dingin, "Nggak perlu minta maaf. Dia cuma sekretaris. Cuma sedikit menderita, bukan masalah besar."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 23

    Setahun kemudian, Ivy menerima pesan singkat dari Teresa. Sahabatnya akan menikah dan mengundangnya menjadi pendamping pengantin!Ivy begitu senang sampai tak bisa menahan diri. Dia langsung mengesampingkan semua pekerjaannya dan membeli tiket untuk terbang ke sana. Tentu saja, Alex juga mengetahui kabar ini dari adiknya.Tangannya membeku sejenak, lalu dia menundukkan pandangan, berpura-pura tidak peduli saat bertanya, "Cepat sekali sudah mau nikah?"Selama setahun ini, dia sering mengetahui kabar terbaru Teresa dari adiknya, juga tahu bahwa Teresa memiliki seorang pacar yang sangat mencintainya. Namun, dia tidak menyangka bahwa Teresa akan segera menikah.Tak jelas perasaan apa yang ada di hatinya. Alex hanya merasa pandangannya menjadi kabur, tak bisa melihat jelas tulisan di bawah pena. Dia mendengar suara Teresa dari ponsel Ivy yang disetel pengeras suara. Terdengar lembut dan hangat."Ya, memang sudah saatnya nikah. Aku akhirnya bertemu orang yang cocok dan nggak ingin menunggu l

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 22

    Selama periode ini, Felly disiksa dengan sangat menyedihkan. Dia tidak makan dengan cukup dan tidak tidur dengan layak. Semua hal yang dulu pernah dia lakukan pada Teresa kini kembali menimpanya berlipat ganda.Di ruang bawah tanah, dia gemetar ketakutan. Saat melihat pintu terbuka dan cahaya masuk, dia sempat tidak bereaksi, sampai Alex melangkah masuk. Barulah dia tersadar, lalu merangkak cepat dan memeluknya erat seperti melihat jerami penyelamat."Alex, aku salah! Maafkan aku! Aku nggak akan pernah lagi mengganggumu dan Teresa! Aku akan pergi sejauh mungkin, nggak akan lagi mengganggu kalian. Lepaskan aku! Aku benar-benar tahu aku salah!"Sambil memohon, wanita itu menangis tersedu-sedu. Keadaannya tampak sangat menyedihkan.Alex tidak berbicara. Dia menatap wajah itu dengan saksama. Kemurnian dan kecantikannya telah hilang, yang tersisa hanyalah hasrat dan keserakahan tanpa akhir. Mengapa dirinya bisa kehilangan orang terpenting demi wanita seperti ini?Memikirkan hal itu membuat

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 21

    Tak lama kemudian, Ivy datang. Begitu menerima telepon dari Teresa, dia langsung bergegas ke sana. Sudah sebulan mereka tidak bertemu. Begitu Ivy tiba, dia langsung menerjang ke pelukan sahabatnya."Ivy!"Ekspresi Teresa pun melunak. Dia memeluk Ivy."Ivy, kamu datang."Mereka duduk bersama dan berbincang sebentar. Saat tiba waktunya berpisah, Ivy tak kuasa merasa bersalah."Maaf, aku seharusnya nggak luluh dan membiarkan kakakku mencarimu. Aku malah merepotkanmu dengan begitu banyak masalah."Teresa mencubit pipinya pelan. "Nggak apa-apa. Meskipun kamu nggak bilang apa-apa, Alex tetap akan mencari cara sendiri. Daripada sakit berkepanjangan, lebih baik sakit sebentar dan semuanya diperjelas."Meskipun begitu, Ivy tetap merasa sangat tidak enak hati. Dia sendiri tidak menyangka kakaknya bisa segila itu sampai nekat kehujanan semalaman tanpa peduli nyawanya. Dia menoleh ke arah Alex yang tidak jauh dari mereka. Alex menatap ke arah mereka dengan penuh kerinduan tertahan.Akhirnya, Ivy t

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 20

    Dia terus duduk terpaku di kafe itu. Hingga tempat itu tutup, barulah dia pergi.Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hatinya dipenuhi rasa sakit. Justru karena itulah, dia semakin jelas menyadari betapa pentingnya Teresa baginya. Dia benar-benar telah kehilangan Teresa!Seandainya Felly tidak kembali .... Seandainya dia lebih cepat menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta pada Teresa .... Seandainya dia tidak mengecewakan Teresa ....Kemungkinan-kemungkinan yang tak terhitung jumlahnya melintas di benak Alex, tetapi dia sudah tidak memiliki jalan untuk kembali.Dengan perasaan linglung, dia berjalan di jalanan luar negeri. Tiba-tiba, kilat menyambar, disusul hujan deras. Orang-orang di jalan berlarian pulang untuk berteduh, tetapi Alex tidak tahu harus pergi ke mana.Dia berjalan di tengah hujan sambil melafalkan nama Teresa. Seluruh tubuhnya basah kuyup. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dengan penuh harap, dia mengambil ponselnya. Pesan dari Ivy.[ Kak, pulanglah. ]Menatap kalimat itu,

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 19

    Tempat yang mereka sepakati adalah sebuah kafe. Saat Alex mendorong pintu dan masuk, lonceng angin berbunyi pelan. Begitu melangkah ke dalam, dia langsung melihat Teresa yang duduk di sudut.Baru satu bulan tidak bertemu, tetapi rasanya seperti setahun penuh penderitaan. Hingga saat ini, ketika akhirnya benar-benar melihatnya, Alex justru diliputi perasaan linglung. Teresa berubah banyak.Saat masih di sisinya, karena berstatus sebagai sekretaris, pakaian yang paling sering dia kenakan adalah busana kerja. Bahkan setelah pulang kantor, meskipun mereka melakukan berbagai hal di rumah, Teresa selalu memberinya kesan serius.Namun sekarang, dia mengenakan pakaian kasual. Rambutnya disanggul, memperlihatkan lehernya yang putih dan ramping. Pemandangan itu membuat Alex merasa seolah-olah kembali ke masa lalu, saat awal-awal Teresa yang masih polos diam-diam menyukainya.Dia terdiam beberapa saat sebelum melangkah mendekat, lalu menyapa sambil tersenyum, "Teresa, sudah lama nggak ketemu."Al

  • Penantian yang Tak Kunjung Datang   Bab 18

    Ivy mengirim pesan kepada Teresa, tetapi karena ada selisih beberapa jam antara dalam negeri dan luar negeri, Ivy menyarankan agar Alex pulang lebih dulu. Katanya, begitu ada kabar, dia pasti akan segera memberi tahu. Namun, Alex sama sekali tidak mau pergi.Dia bersikeras tinggal di tempat tinggal adiknya, tidur di sofa. Sedikit saja ada suara, dia langsung terbangun, berharap itu adalah pesan dari Teresa.Baru pada malam hari keesokan harinya, Ivy menerima balasan.[ Oke, aku akan bertemu dengannya. ]Hanya beberapa kata singkat, tetapi itu sudah membawa harapan besar bagi Alex. Teresa masih mau menemuinya! Itu berarti masih ada kemungkinan di antara mereka!Dengan perasaan berdebar penuh kegembiraan, Alex tidak sabar membeli tiket pesawat paling cepat. Ivy menariknya, mengerutkan kening tanda tidak setuju."Kak, istirahatlah satu hari dulu baru berangkat. Kamu sudah beberapa hari nggak istirahat, 'kan? Karena Teresa sudah bilang mau bertemu, dia pasti nggak akan ingkar janji."Alex

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status