Short
Nyawaku Untuk Obatmu

Nyawaku Untuk Obatmu

By:  Hanami SenjaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
15.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat suamiku mengancam akan menceraikanku untuk keseratus kalinya, demi memintaku berkorban demi adikku... Aku tidak menangis atau membuat keributan dan menandatangani surat cerai tanpa banyak bicara. Aku menyerahkan pria yang telah kucintai selama sepuluh tahun kepada adikku. Beberapa hari kemudian, adikku membuat pernyataan keterlaluan di sebuah pesta, dan menyinggung keluarga yang berpengaruh. Aku sekali lagi dengan sukarela memikul tanggung jawab itu, menanggung semua konsekuensinya demi adikku. Bahkan ketika mereka kemudian memintaku menjadi subjek uji coba obat untuk penelitian adikku, aku pun menerimanya tanpa ragu. Ayah dan ibu berkata, akhirnya aku menjadi anak yang penurut dan pengertian. Bahkan suamiku yang biasanya dingin pun berdiri di samping ranjang rumah sakit, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, membelai pipiku dengan lembut dan berkata, "Jangan takut, eksperimennya tidak akan membahayakan nyawamu. Setelah kamu keluar, akan kubuatkan makanan enak untukmu." Tapi dia tidak tahu, mau eksperimennya berbahaya atau tidak, dia tidak akan pernah bisa menungguku lagi. Karena aku mengidap penyakit mematikan, dan sebentar lagi aku akan mati.

View More

Chapter 1

Bab 1

Suamiku selalu mengancam akan menceraikanku agar aku berkorban demi adikku. Orang tuaku juga mengancamku dengan hak waris agar aku memberikan semua yang terbaik untuk adikku. Dulu, aku akan menangis dan mengamuk. Tapi saat suamiku mengancamku untuk yang keseratus kalinya dan memintaku untuk mencoba obat itu demi adikku, aku setuju.

Bahkan setelahnya aku memperlakukan adikku dengan sangat baik. Semua orang memujiku karena aku akhirnya menjadi dewasa. Namun, mereka tidak tahu, sebenarnya aku sedang sekarat dan semuanya jadi tidak penting lagi.

Di hari aku didiagnosis kanker, Yuda menyodorkan surat cerai ke hadapanku untuk yang keseratus kalinya.

“Citra, kondisi tubuh adikmu makin memburuk. Dia sudah tidak mampu lagi mencoba obat itu. Jika kita tidak bisa mengembangkan obatnya dalam sebulan, nyawanya bisa dalam bahaya.”

“Kamu dan Yulia adalah saudara kembar dengan gen yang mirip. Dokter bilang kamu bisa menggantikan dia untuk mencoba obat itu. Kalau kamu tidak setuju, ayo kita cerai saja. Lagi pula, adikmu tidak akan hidup lama dan dia ingin aku membantunya untuk mewujudkan harapan terakhirnya.”

Aku mendengarkan dalam diam dan melihatnya dengan serius mengatakan hal-hal konyol.

Sebenarnya sejak awal, saat mereka melihat adikku berkeringat deras saat pengobatan, mereka ingin aku mencoba obat itu untuknya.

Orang tuaku dan suamiku, ketiganya bergantian membujukku.

Itu lebih mirip ancaman daripada bujukan.

Orang tuaku mengancamku, jika aku tidak mencoba obat itu untuknya, aku akan kehilangan hak warisku.

Sedangkan suamiku, dia sudah mengajukan perceraian hampir seratus kali.

Waktu itu, aku belum tahu kalau aku menderita kanker, tapi tubuhku terlihat semakin lemah dari hari ke hari.

Jadi, aku menolaknya.

Saat aku mengatakan ‘tidak’, semua orang sangat kecewa. Mereka bilang bahwa aku tidak punya hati nurani dan tidak tahu diri.

“Adikmu hampir sekarat. Jika saja kamu mau mencoba obat itu, dia bisa selamat, tapi kamu malah menolak!”

“Iya, adikmu sudah mencoba obat itu hampir setengah tahun. Kamu hanya perlu menyelesaikan beberapa bulan terakhir. Meski begitu, kamu tetap tidak mau melakukannya! Aku sangat kecewa padamu. Karena kamu tidak mau menyelamatkan Yulia, maka anggap saja kami tidak punya anak perempuan sepertimu!”

Saat mengingat perkataan pedas itu, hatiku masih terasa sangat sakit.

Tapi itu semua sudah berlalu. Sekarang aku hampir sekarat, semua itu tidak penting lagi.

Bagaimanapun juga, itu adalah kematian. Baik mati di rumah atau saat percobaan obat, tidak ada bedanya, dan tidak ada yang peduli.

Alis Yuda semakin berkerut, seperti masih ingin terus mengancamku.

Namun, aku menatapnya sambil tersenyum dan bilang, "Baiklah."

“Aku setuju membantu adikku untuk mencoba obatnya.”

Yuda tercengang dan menatapku dengan takjub.

“Benarkah? Itu bagus! Akhirnya Yulia bisa diselamatkan!”

Dia buru-buru ke balkon dan menelepon orang tuaku untuk memberi tahu berita baik ini.

Aku melihatnya yang tampak bahagia dari belakang dan tersenyum getir menyindir diri sendiri.

Pandanganku jatuh pada surat cerai yang ada di atas meja, lalu aku meraih dan mengambilnya.

Aku mengeluarkan pena dari dalam tas dan tanpa ragu menandatangani namaku sendiri.

Saat Yuda kembali, dia sempat melihatku meletakkan surat cerai itu.

Dia tertegun dan berkata, “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Aku tersenyum sambil berkata, “Bukan apa-apa.”

Melihatku tampak sedih, seberkas penyesalan terlihat di mata Yuda, dan dia terburu-buru memasukkan surat cerai itu ke dalam tasnya.

“Aku hanya bercanda. Aku tidak akan bercerai denganmu.”

Aku menggumam pelan, tanpa ada emosi yang terlihat di wajahku.

Yuda menatapku dalam, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Di perjalanan pulang, dia mulai memperhatikan makananku, pakaianku, tempat tinggalku, dan transportasiku, bahkan membelikanku banyak suplemen.

Tapi semua perhatian itu kemungkinan besar hanya untuk menjaga kesehatanku sebagai persiapan uji coba obat untuk adikku.

Aku melemparkan suplemen itu begitu saja ke kursi belakang dan menatap keluar jendela.

Sinar mataharinya begitu cerah. Sayangnya, tidak lama lagi aku tidak akan bisa melihatnya lagi.

Begitu aku melangkah masuk ke dalam rumah, aku mendengar suara orang tuaku yang penuh kegembiraan. Ibuku sedang memeluk adikku sambil menangis.

“Yulia, kamu sudah tertolong. Kamu tidak akan meninggalkan ibu …”

Ayah takut aku akan berubah pikiran, jadi dia menyerahkan surat persetujuan untuk uji coba obat segera setelah aku masuk.

Setelah mereka melihat aku menandatangani surat persetujuan itu, barulah mereka tersenyum lega.

“Citra, akhirnya kamu sudah dewasa dan mulai memikirkan adik serta keluarga kita.”

“Jangan salahkan kami, karena terlalu lama saat melahirkanmu, adikmu jadi lahir dengan kondisi yang kurang sehat. Dia lebih membutuhkan kami daripada kamu yang sehat.”

“Tapi, kami tidak akan memperlakukanmu dengan tidak adil. Kamu dan adikmu akan mendapatkan masing-masing separuh harta warisan. Kamu tidak akan kehilangan satu sen pun.”

Aku menggelengkan kepala, menahan rasa pahit di dalam hatiku.

“Berikan semuanya untuk adikku. Aku tidak membutuhkannya lagi.”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status