MasukLucy tampak menatap anak buah Daddynya itu dengan tatapan mencebik tak suka. "Daddy!" Rengeknya. Gabriel hanya menghela. Tatap tajamnya kembali terlempar pada Brian. "Permen rosie." Ucapnya mengingat Ia pernah menaruh beberapa bungkus permen bernama "rosie" tersebut di tas sekolah putrinya. "Temukan benda itu di sini." Perintahnya. Sedangkan Brian hanya bergeming, otaknya sednag memproses. Dan saat ia mendapat jawabannya lelaki dengan tinggi di bawah Gabriel itu menghela lelah. Apa kah ada permen tersebut di Amerika. Setahunya itu permen khas italia. Dan memang beberapa kali Gabriel selalu membawa beberapa di sakunya. Padahal menurut Brian permen tersebut sangat tidak enak. Sangat asam dan aga pahit. Dan sekarang nona kecilnya menyukai makanan tersebut! Wahh benar-benar anak seorang Gabriel Matteow sekali. "Tapi jika tidak ada," "Kau ambil di italia dan kembali lagi kesini." Dengan entengnya kalimat itu meluncur. Istimewa sekali dirinya harus rela bulak balik hanya demi sebun
"Hm, "Dan tut. Akhirnya panggilan itu terputus juga. Alexandra berbalik, dengan tatap kembali terlempar pada lelaki tampan yang lebih tertarik dengan Ipadnya dari pada meladeni wanita cantik nan sexy di hadapannya."By the way, dia tampaknya... tetap sama." Seutas senyum tersungging di bibi kala tampaknya berhasil menarik perhatian sang adam."Aku mendengar kau menemuinya?" Pertanyaan terlepar dari bibi Gabriel, tatapnya tampak tak suka.Alexandra hanya terkekek samar dengan gelengan kepala. "Lebih tetapnya tidak sengaja. Tapi kayanya dia tidak menyadari aku.""Jangan macam-macam Alexandra." Peringatan itu begitu menekan."Harusnya kau tak perlu mengkhawatirkanku tapi Sheril— kau tau tunanganmu itu bagaimana."Dan Gabriel amat tak suka mendengar itu.***Abby terus menatap jam di dinding yang menunjuk 12.45. Ada lima jam lagi sebelum memulai pekerjaannya.Meraih tasnya untuk ia sampirkan di bahu kiri. Abby langsung bergegas pergi. Rencananya tentu menemui si berengsek itu.Abby tida
Membuka matanya kemudian bangkit dalam sekejap mata, Abby meringis kala kepalanya berputar kencang setelahnya. Tapi tidak dia hiraukan karena ada yang lebih penting.Yea, Lucyana. Dimana putrinya? "Lucy?"Tidak ada sahutan.Bergerak bangkit dengan tergesa wanita itu keluar dari kamarnya dan hanya di sapa oleh keheningan."Lucyana?"Masih tidak ada sahutan.Ini benar? Bukan mimpi?Astaga, Abby harus bagaimana?Tadi malam setelah keributan yang terjadi di rumah sakit, permohonannya pada Gabriel, pemberontakannya pada bodyguart lelaki itu, lalu setelahnya tengkuknya terasa di pukul dan setelahnya dia tak ingat apa pun lagi.Dan lelaki itu tadi malam menyuruh bodyguartnya memulangkannya setelah membuatnya pingsan.Astaga. Dasar gila!Menatap sekeliling Abby berlari ke kamar putrinya, mencoba berharap kendati hanya kekosongan yang menyapa.Terduduk lemas di ranjang mini putrinya, Abby memeras kepalanya supaya berpikir—langkah apa yang harus di ambilnya.Tentu saja dia akan mengambil putri
"Damn!" Menatap stik mini di antara jarinya, Abbyana yang kala itu masih berusia sembilan belas tahun terbelalak. Rasa panik, takut dan marah menyerbunya kala mendapati dua garis merah terpang-pang nyata. "Bagaimana bisa?" Lirih dengan kepala penuh. Ternyata tanda-tanda mual, pusing, mood sawing yang menyebalkan beberapa hari lalu itu ini penyebabnya? Dan bagaimana bisa? TENTU SAJA KARENA DIA BERSETUBUH DENGAN MAKHLUK HIDUP! Dan kecebong si MAKHLUK HIDUP ITU mendapatkan sel telurnya. SIALAN ABBYANA!Dia masih sembilan belas tahun, amat sangat belum siap terlebih keadaan saat ini sangat kacau. Dan bajingan itu... Ini semua kesalahan BAJINGAN itu! "GABRIEL METTEOW SIALAN!" Jeritnya memenuhi kamar mandi. Melempar stik di tangannya ke sembarang arah, mengacau rambutnya dengan perasaan campur aduk, dengan berutal juga melempar benda apa saja yang bisa di jangkau tangan kecil kurusnya sampai berhamburan. Rasanya dia ingin merubuhkan kamar mandi ini!BRAK BRAKKKKPRANKK"Abby?"Tok
Gabriel melirik Brian dengan bengis setelah mendengar alasan dari keberhasilannya membawa istrinya itu.Sedangkan yang di tatap hanya bisa meringis. "Kata tuan apa pun alasannya yang penting bisa membawa madam kesini.""Tapi tidak dengan mengatakan—damn! sudah lah, pergi sana!" Gabriel yang akhirnya mendengus dan tak memperpanjang lagi protesannya mengusir Brian yang langsung mendengus samar."Kebiasaan seenaknya terima kasih saja tidak, cih.""Apa katamu?"Deg Ah mati dia! Sepertinya ucapannya tadi bukan dari batin."Brian?!""Ahh tidak tidak. Saya undur diri saja. Selamat menimati reuni nya, dan jangan berantem. Malu sama anak kecil." Tunjuknya pada Lucy yang tengah menyandarkan tubuh mungilnya pada sisi perut kiri Daddynya yang tidak terluka. Dan sebelum kembali di semprot lelaki iti lebih dulu kabur meninggalkan umpatan nyaring Gabriel."Heh mulut!" Yang langsung di protes Abby.Wanita itu hanya bisa mengelus dada karena contoh buruk putrinya sepertinya bertambah. Dan pula tanpa
Sudah berpindah ke rumah sakit terdekat dari bandara. Gabriel yang tengah bersandar di berangkarnya, tampak serius melihat berlembar-lembar foto jepretan di tangan kanannya, padahal ada luka yang sekarang telah di perban di area bahunya, tapi seakan tidak merasakan rasa sakit pria itu bergerak luas membolak balik foto tersebut.Lembaran foto yang di tangkap cctv, pelaku-pelaku yang beberapa waktu lalu menyerangnya. Wajah orang-orang berpakaian serba hitam itu tertutup topi dan masker, yang mungkin beberapa dari mereka telah menjadi mayat karena baku tembak tadi, apa lagi Gabriel yang saat itu tidak pandang bulu menembak mati kepala sang lawan."Oh, oke. Terus cari infomasinya lebih detail."Gabriel melirik sang ajudannya—Brian, yang tengah bertelepon. Sampai lelaki itu selesai, lalu melaporkan informasi yang baru di dengarnya."Dari beberapa yang kita dapatkan, dari yang telah tewas atau masih hidup adalah— sebagian besar pembunuh bayaran," ucap Brian sambil menyerahkan ipadnya setela
Kurang satu minggu menginjakan kaki di tanah Amerika, Gabriel yang di haruskan kembali karena kabar yang mengejutkan dan begitu mendadak. Padahal urusannya di sini dalam meninjau projek baru belum selesai, terlebih-Jika di pikir-pikir urusannya pun di kota ini akan semakin bertambah dan otamatis a
"Gila!" Menyentak dengan tenaga penuh akhirnya Abby terlepas dari dekapan yang membuat sesak itu.Sorotnya yang tajam dan tersirat kebenciaan begitu menghunas pada sepasang mata biru langit di hadapannya.Tidak habis pikir dengan kerja otak lelaki itu, sangat tidak memiliki perasaan, bisa-bisanya
Kring Kring "Ohhh shit!" Umpatan itu lancar sekali terlontar dari bibir mungil seorang gadis kecil. Putri dari Abbyana yang dalam satu bulan kedepan akan menginjak usia 7 tahun— Mendapati jam yang telah menunjukan angka tujuh lebih dua puluh lima pagi.Telat.Tentu saja!Setelah mematikan alarmn
Wynnn vegas, Amerika. 08.45 PM.Langkah kaki yang terbalut flat shoes itu tampak meliuk-liuk dan tergesa di antara puluhan kaki-kaki yang tengah sibuk kesana-kemari. Kedua tangannya pun tampak sibuk dengan nampan yang berisi beberapa gelas minuman. ABBYANA—Perempuan berusia 29 tahun itu—dengan waj







