เข้าสู่ระบบMelihat Raja Maut bertarung dengan seorang wanita cantik namun berkesan galak itu, Baraka tak bisa tinggal diam. Apalagi pelayaran perahunya harus melintasi tempat itu. Pada mulanya Baraka tidak mengenal perempuan yang bertarung dengan Raja Maut.
Tetapi prajurit yang menyertainya dalam perahu itu berkata, "Perempuan itulah yang bernama Nyai Demang Ronggeng, penguasa Pulau Blacan yang tampak dari sini itu."
"Ooo... ya, ya, ya... aku mengerti sekarang," kata Baraka sambil manggut-
Ayunda menambah penjelasannya lagi. "Dulu anak itu dibuang bersama ibunya karena anak itu berupa manusia biasa, berbadan kurus, tidak seperti ayahnya. Tapi belakangan ini rupanya Gandapura sadar bahwa anak itu bagaimanapun juga adalah anaknya. Satu-satunya anak lelakinya adalah Ranggu Pura. Karenanya, ia mencari anak itu untuk menurunkan seluruh ilmunya. Jika Ranggu Pura sudah mendapat warisan ilmu dari Gandapura, maka ia pun akan menjadi manusia pemakan daging manusia."Pendekar Kera Sakti tertegun membayangkan wajah Ranggu Pura yang tampan dan punya sikap berjiwa ksatria. Dalam bicaranya pun penuh nada kejantanan dan mampu bersikap lemah lembut. Dalam hati Pendekar Kera Sakti pun berkata, "Jika Ranggu Pura mendapat warisan ilmunya Gandapura, maka sudah pasti dia akan menjadi manusia terkutuk dan membahayakan bagi keselamatan orang banyak, ia harus dimusnahkan jika sampai kembali kepada ayah kandungnya, sebab itu berarti dia sudah menerima warisan ilmu sang Ayah."Ayunda memecah kesu
"Kusarankan, batalkan niatmu datang ke Pulau Jelaga, Kisanak. Sebab orang-orang yang mengungsi kemari menceritakan kengerian yang terjadi di sana.""Kengerian apa itu, Paman?" tanya Baraka dengan dahi berkerut."Apakah kau belum mendengar kabar bahwa Penguasa Pantai Ajal yang bernama Gandapura itu sekarang ada di Pulau Jelaga!""Gandapura...!" Baraka menggumam lirih, kemudian teringat keterangan Putri Malu tentang Gandapura, manusia titisan raksasa yang gemar memakan daging manusia itu."Maksud Paman, Gandapura si pemakan manusia itu?" tanya Baraka minta dipertegas lagi."Benar, Anak muda! Gandapura sekarang sedang berusaha menguasai Pulau Jelaga, karena ia ingin mengambil alih pulau itu untuk pusat kekuasaannya. Kira-kira begitu cerita yang kuterima dari para pengungsi itu."Pendekar Kera Sakti jadi termenung memikirkan hal itu. Ia biarkan nelayan itu menurunkan barang-barang dari atas perahunya. Diamnya Baraka bukan berarti ia menuruti sar
"Begitulah aku meninggalkan dia," kata Baraka mengakhiri kisahnya kepada Ranggu Pura. Agaknya rasa sakit Ranggu Pura telah lenyap dan luka di bagian lambungnya telah sembuh. Ranggu Pura mampu berdiri dengan tegak, badannya terasa lebih segar dari sebelumnya."Jadi dia bersama Kunta Aji? Hmmm... kukira bersama pria lain.""Siapa Kunta Aji itu? Apakah kekasihnya?""Dia kakak seperguruannya.""O, jadi Kunta Aji juga murid Ki Buyut Gerang?""Benar. Kismi kurang akur dengan Kunta Aji. Sesekali mereka sering cekcok, tapi kadang-kadang kelihatan akur juga."Baraka menggumam dan manggut-manggut. Setelah itu ia bertanya kepada Ranggu Pura."Lantas, mengapa Ki Buyut Gerang menyangka kau yang membawa lari Cumbu Bayangan, muridnya itu?""Karena hubunganku dengan Kismi tidak direstui."Pendekar Kera Sakti sedikit kerutkan dahinya. "Kau dan Kismi ada hubungan cinta?""Benar. Kami saling jatuh cinta. Tapi guru kami tidak saling
"Kalau tidak memakan korban nyawa, apakah aku harus memakan dia bulat-bulat!" ketus Buyut Gerang."Percayalah, aku akan mengusahakan muridmu kembali," bujuk Baraka dengan tetap tenang. "Terserah apa maumu! Yang jelas aku menunggu sampai batas matahari tenggelam. Kalau muridku belum dikembalikan, kucari dia dan kuhancurkan perguruannya!"Setelah berkata begitu, Buyut Gerang melesat pergi bagaikan angin berhembus. Weesss...!Baraka hanya geleng-geleng kepala dan bicara pelan pada diri sendiri, "Galak juga orangtua itu! Ilmunya cukup tinggi, tapi menahan amarah masih belum bisa."Setelah mendekati Ranggu Pura, Baraka menggunakan hawa ‘Kristal Bening’ miliknya untuk mengobatinya.Setelah selesai mengobati Ranggu Pura, Baraka bertanya kepada Ranggu Pura sambil masih jongkok di depannya, "Siapa nama murid Ki Buyut Gerang itu?""Kismi, atau sering disebut Cumbu Bayangan?""Ooo...," Baraka manggut-manggut sambil berdiri,
Puiih...!Wuuuss...!Angin kencang terlepas dari mulutnya. Hembusannya begitu besar dan membadai. Tubuh yang dihembus angin kencang itu adalah tubuh Ranggu Pura. Dan anak muda yang terbakar itu terhempas dalam keadaan api birunya padam seketika.Blabb...!Baraka ingin lakukan sesuatu, namun gerakannya tertahan karena ia melihat keadaan Ranggu Pura sudah tak terbungkus api. Bahkan kulitnya tidak mengalami luka bakar sedikit pun. Pendekar Kera Sakti segera menyadari bahwa Buyut Gerang tadi melakukan penyelamatan dengan semburan napas dari mulutnya.Namun keadaan Ranggu Pura masih tak bisa berdiri karena luka tendangan tadi. Kini si jubah abu-abu memandang Baraka dengan wajah garang karena masih memendam kemarahan kepada Ranggu Pura."Apa maksudmu mencampuri urusanku, Pendekar Kera Sakti!""Kakek tahu namaku, rupanya?""rajah naga yang ada dipunggung lenganmu menjadi ciri dari nama dan gelarmu sebagai Pendekar Kera Sakti. Bagiku t
"Tentu. Tapi suling bukan sembarang suling. Harus suling mustika. Jadi jika kau ingin bisa begitu, kau harus punya suling mustika seperti yang kumiliki ini."Baraka berkata begitu sambil menunjukkan suling mustikanya yang dipegangnya. Dan pada saat itulah seberkas sinar merah melesat dari balik sebuah pohon di belakang Cumbu Bayangan. Sinar itu tidak ditujukan untuk Cumbu Bayangan, namun ada seseorang yang dengan sengaja ingin menghantam Baraka menggunakan sinar merahnya itu.Weeess...!Tentu saja Pendekar Kera Sakti mudah menangkisnya karena saat itu sedang memegang Suling Naga Krishna. Dengan badan sedikit melompat seperti kera, suling mustika itu digunakan untuk menangkis sinar merah tersebut.Deeb...!Wwuusss...! Sinar merah itu membalik arah dengan lebih cepat dan lebih besar. Akibatnya sebuah pohon menjadi sasaran sinar merah besar itu.Blegeerr...!Pohon itu hancur lebur menjadi serpihan-serpihan kecil. Sampai akarnya pun tak t
Ternyata harapan Baraka terkabul. Ia berhasil bertemu dengan kakek penyerang Wiratmoko. Mata Baraka memperhatikan dengan seksama. Kakek itu mengenakan jubah putih lusuh dan menggenggam tongkat berkelokkelok seperti seekor ular warnanya hitam. Rambutnya yang panjang sepunggung tidak diikat apa pun
Tiba-tiba ia menggerakkan pedang dengan sangat cepat, menebas kanan, kiri, depan, belakang, memutar, dan begitu seterusnya sehingga tubuhnya sendiri mulai dibungkus asap putih. Makin lama asap itu semakin tebal dan sepenuhnya raga Wiratmoko berubah menjadi asap.Baraka mencoba melepaskan p
KALAU bukan karena demi menyelamatkan Angon Luwak, Ki Bwana Sekarat tak mungkin menyerah kepada orang-orang Gunung Sesat, dua dari tujuh orang yang menangkap Ki Bwana Sekarat sudah berhasil dilumpuhkan. Satu orang dilumpuhkan oleh Raja Maut, satu lagi dilumpuhkan oleh Ki Bwana Sekarat sendiri. Teta
BOCAH berkulit hitam tertidur di samping Ki Bwana Sekarat. Dalam tidurnya ia bermimpi sedang dilatih ilmu kanuragan oleh Ki Bwana Sekarat."Namamu siapa, Nak?""Angon Luwak, Kek.""Angon Luwak? Lho, apakah tidak keliru? Setahuku kau angon kambing, alias menggembala kambing."







